
...🍀🍀🍀...
Sakesfir? Dimana aku pernah mendengar nama itu?
"Nona Liliana? Kenapa.." Aiden tertegun melihat Liliana tiba-tiba saja melamun. Ia cemas dengan keadaan Liliana.
"Aku baik-baik saja, ayo kita pergi ke taman itu tuan Aiden." Ucap gadis itu sambil tersenyum.
Mereka berdua pun berjalan bersama-sama menuju ke taman yang akan dituju. Disepanjang perjalanan, tak hentinya Aiden bersyukur. Atas nikmat Tuhan yang diberikan kepadanya, bersama dengan gadis yang dia cintai meski cara untuk bersamanya memakai cara ekstrim.
Jika suatu saat nanti Liliana tahu tentang kebusukannya. Apakah mereka masih bisa sedekat ini? Namun, Aiden tidak ingin memikirkan hal buruk yang akan menimpa pada hubungan mereka. Baginya, semua momen ini berhak untuk dinikmati. Dia tidak mau merusak moodnya dengan memikirkan hal-hal negatif yang tidak mungkin terjadi.
Beberapa hal selalu ia garis bawahi dan selalu dia ingat. Yang pertama adalah Liliana hilang ingatan dan tidak akan pernah ingat masa lalunya, kedua Max tidak akan mengingkari janjinya untuk menjauh dari Liliana. Dan meskipun Max akan mengingkari janjinya, maka ia akan menggunakan segala cara agar Max menjauh dari Liliana dengan sendirinya.
Satu hal yang tidak Aiden ketahui, taman Sakesfir adalah taman yang bersejarah untuk Max dan Liliana. Dan artinya pilihan Aiden untuk membawanya ke tempat itu adalah sebuah kesalahan besar.
Beberapa saat setelah Aiden dan Liliana sampai ke taman yang letaknya berada didekat danau itu. Terlihat banyak orang berkumpul disana, ada pedagang, keluarga, pasangan kekasih yang berkencan, anak-anak muda dan beberapa pengemis juga berada disana.
Lampu disana terlihat berkelap-kelip menghiasi gelapnya malam, tampak indah saat Liliana melihatnya. "Disini indah sekali ya?"
"Benar, banyak orang disini." Aiden melihat seorang tukang aromanis disana, ia untuk memberikan Liliana harum manis. Akhirnya, Aiden meminta gadis itu untuk duduk sebentar dan menunggunya.
Liliana mengangguk setuju, di tengah ramainya orang disana dia duduk di sebuah kursi panjang. Tiba-tiba hatinya terhenyak melihat kursi yang dia duduki itu. Terlihat didalam kepalanya bayang-bayang seorang pria yang tidak terlihat jelas bagaimana wajahnya. Dia dan pria berambut hitam itu duduk di kursi yang sedang didudukinya saat ini.
"Uhh..." Liliana memegang kepalanya yang tiba-tiba saja berdenyut sakit.
Laki-laki itu? Siapa?
Kepala Liliana semakin sakit ketika dia melihat pemandangan sepasang kasih yang tampak begitu intim didepan matanya.
"Kau ini...sakit tau!" Pekik si pria sambil memegang tangannya.
"Apanya yang sakit? Pukulanku tidak keras!" kata si wanita itu cuek.
"Tapi ini benar-benar sakit, tanganku sakit." Rintih si pria itu manja sambil bersandar di bahu kekasihnya.
"Ya sudah obati saja!" Ujar si wanita dengan memasang wajah cemberut.
"Aku tidak butuh obat!" Seru Pria itu tegas. "Aku butuh kau, kaulah obatku."
__ADS_1
"Apa yang harus aku lakukan?"
"Elus... tanganku, maka aku akan sembuh."
"Dasar kau benar-benar manja sekali!" Walaupun si wanita itu marah-marah kepada kekasihnya, dia tetap melakukan apa yang diinginkan oleh si pria dan mengelus tangannya dengan lembut penuh kasih sayang.
Mendengar perbincangan pasangan kekasih itu, sontak saja membuat Liliana merasa bingung dan kepalanya semakin sakit. Terlintas lagi beberapa ingatan yang tidak ia yakin.
#FLASHBACK
Max memegang tangan Liliana.
"Kenapa kau selalu menyentuhku sembarangan?" ucap Liliana sembari menepis tangan Max. "Dan aku yakin kau tidak hanya bicara padanya. Apa kau memukuli dia?"
"Kau benar, seharusnya aku memukuli dia juga. Mematahkan lengannya saja tidak cukup!" Max menjentikkan jari, terlihat senyum jahat dibibirnya itu. "Harusnya aku membunuhnya juga," gumam Max pelan.
Pletak!
Liliana memukul kepala Max dengan kesal. "Apa kau sudah gila? Membunuh? Wah...otakmu benar-benar kriminal ya?" gadis itu menegur Max dengan kesal.
Hanya kau yang berani memperlakukan putra mahkota calon raja kerajaan Istvan, dengan tidak hormat. Hanya kau Liliana.
Max terlihat sedih karena kepalanya baru saja di pukul oleh Liliana. "A-aduh.. sakit.." Max memegang kepalanya sambil merintih kesakitan.
"I-ini benar-benar sakit, aduh.. pukulan mu itu. Arrggghh..." Max jatuh terduduk sambil memang kepalanya.
Melihat Max berguling-guling di tanah dan merintih kesakitan, membuat Liliana tercekat. Apa pria itu benar-benar kesakitan karena pukulan darinya?
"Hei, apa kau benar-benar sakit?" ucap Liliana seraya bertanya dengan tatapan cemas pada Max.
Apa aku memukulnya terlalu keras?
"Ugghhh.. ini sakit sekali," Max memegang tangan Liliana. Hingga gadis itu berada di atas pahanya.
"Kyaaaakkk!!" Pekik Liliana kaget begitu Max memegang tangannya begitu erat. Kini gadis itu berada di pangkuan Max. "Tenagamu begitu kuat barusan, bagaimana bisa kau masih tetap kesakitan? Kau pasti menipuku ya kan?" Liliana menaikkan alisnya, dia melihat pria yang masih menunjukkan kesakitannya itu.
"Aku benar-benar sakit, ugghh.. kau jangan diam saja, lakukan sesuatu!" pinta Max menggerutu pada gadis itu.
"Aku harus berbuat apa?" tanya Liliana panik, dia cemas karena Max terus merintih kesakitan.
__ADS_1
"Kau harus membuat sakit kepalaku menghilang," jawab Max sambil meringis.
"A-aku.. apa aku beli obat saja ya?"
"Bodoh, aku tak butuh obat." jawab Max.
"Lalu?" Liliana terperangah, dia kesal dipanggil bodoh. Namun dia memaafkan Max karena pria itu sedang terluka karenanya.
"Elus kepalaku saja, coba elus dulu, siapa tau sakitnya bisa hilang?"
"Masa begitu?" Liliana tak percaya.
"Elus dulu!" Ujar Max pada gadis itu sambil mengambil tangan Liliana dan meletakkan tangan itu diatas kepalanya.
Max cekikikan di dalam hatinya, melihat raut wajah cemas yang sedang memandanginya itu. Dia senang karena Liliana ternyata mulai membuka hati untuk dirinya.
#ENDFLASHBACK
"Ughhh.... aarrgghh..." Gadis itu memegang kepalanya, lalu tubuhnya jatuh terduduk ambruk ke tanah.
Siapa? Siapa pria itu? Mengapa dia begitu intim denganku.
DUARR...
DUARR..
Terdengar suara kembang api yang keras, terlihat juga kembang api yang langit malam seperti bintang.
Bayangan sosok pria misterius di dalam kepalanya itu terus terngiang. Liliana bisa mengingat siapa pria yang ada di dalam kepalanya itu. Namun dia kesulitan dan akhirnya kepalanya sakit.
BRUGH!!
Aku tidak kuat lagi...
Tubuh gadis itu oleng, tak lama kemudian ada seseorang yang menangkap tubuhnya. "Lily..."
"Kau...kau...." Mata Liliana terbuka dan terpejam. Kepalanya berdenyut denyut dia menatap pria yang ada di depannya itu. Pria berambut hitam dan dia yakin itu bukan Aiden karena Aiden memiliki rambut pirang.
"Lily, apa kau baik-baik saja? Apa kau terluka?" Max menggendong tubuh gadis itu, dia terlihat mencemaskan Liliana.
__ADS_1
"Kenapa kau...ada didalam...kepala--ku??" Tanya Liliana terbata-bata.
...*****...