
Warning! π€«π₯π₯΅
...πππ...
Tanpa peduli dengan semua tamu yang hadir disana, Max membawa Liliana pergi dengan tak sabar. Dengan mata yang berapi-api.
Liliana tidak mengerti kenapa Max seperti itu. Gilanya, karena dia harus menahan malu didepan semua orang. "Maxim, apa yang kau lakukan? Semua tamu masih menunggu kita disana, masih ada pesta resepsi pernikahan kita ,mengapa kau---hmphh--"
Max membungkam bibir Liliana dengan ciuman basah, tak peduli bila ada orang yang melihatnya. "Maximilian, apa kau sudah gila? Apa kau tidak takut kalau ada yang lihat?!"
"Lalu kau juga tidak malu, dilihat seperti ini oleh orang banyak seperti obralan!" protes Max padanya.
Wanita itu melihat ada kilatan marah di mata suaminya, terlihat dari tatapan matanya yang sinis. Tatapan sang suami mengarah pada belahan dada Liliana yang terlihat.
Oh! Astaga! Aku lupa, Max kan tidak suka Aku memakai pakaian seperti ini. Gawat! Apa aku akan dimakannya habis kali?
Kedua mata berwarna hijau itu terlihat membulat panik, manakala ia merasakan kapan suaminya yang dipenuhi oleh kabut gairah yang memburu. Gairah yang dipenuhi oleh amarah, cinta dan n\*fsu bercampur menjadi satu
"A-aku...aku bisa jelaskan...i-ini.. " Liliana tergagap, dia seperti ketahuan selingkuh saja. Dia menyadari kesalahannya kali ini, Max tidak suka dirinya memakai pakaian terbuka.
Max tidak mendengar apa yang dikatakan oleh Liliana, dia cuek dan berjalan ke lorong entah mau kemana. Akhirnya dia bertanya pada seorang dayang istana, dimana kamar pengantinnya yang berada. Dayang itu pun menunjukkan kamarnya, bahkan mengantarkan pengantin baru tersebut ke kamar itu.
Sebuah kamar dengan pintu yang besar dan mewah. Kamar itu adalah kamar yang ditempati oleh Liliana. "Maxim, ini masih siang! Apa kau akan mengajakku ke kamar siang-siang begini?!" gadis itu tak percaya bahwa suaminya akan mengajak dirinya bergumul di siang hari.
"Memangnya apa yang akan aku lakukan? Kenapa kau terlihat takut?" senyuman pria itu tampak menyeramkan namun manis. Bibir sensual penuh dengan pesona yang memikat semua wanita yang melihatnya ,termasuk Liliana.
"Maxim...aku bisa merasakan deru nafasmu, aku bisa merasakan tubuhmu yang memanas." ucapnya tanpa melihat ke wajah suaminya karena malu.
__ADS_1
Ya, dia memang merasakan adanya kabut gairah yang membara di situ. Dirasakannya tubuh kekar sang suami yang memanas, pertanda bahwa dia sudah berada di ujung.
"Lalu? Kalau begitu?" tanyanya seraya menggoda Liliana, gadis itu masih berada di dalam gendongan tangan kekarnya.
"Kau...ini masih siang, kau tidak bisa---hmphh--"
Entah ke berapa kalinya Max membungkam Liliana dengan ciuman basah. Dengan mahir tanpa melepaskan pagutan bibirnya, dia menutup pintu kamar itu dengan sebelah kakinya. Dia membawa Liliana dengan posisi masih berciuman.
Liliana kesulitan bernafas, manakala Max mengabsen satu persatu gigi di dalam rongga mulut istrinya itu. Ciuman yang tadinya lembut, kini berubah menjadi ciuman intens, liar dan menuntut. Sungguh membuat Liliana tak bisa menolaknya dan tergerak untuk membalasnya karena reaksi alami dari tubuh.
Tangannya mengalung di leher Max, entah bagaimana ceritanya, Liliana sudah berada di atas meja panjang di kamar itu. "Haahh...tunggu, aku tak bisa bernafas...huhh...Haahhh...." Liliana mendorong pelan tubuh suaminya, dia ingin mengambil nafas lebih dulu.
Deru nafas mereka berdua saling berlomba, namun Max tidak tahan. Dia mulai menelusuri leher jenjang istrinya dengan bibirnya yang panas. Memberinya kecupan kecupan kecil di sana dengan hasrat. "Eungh..." tanpa sadar gadis itu melenguh, merasakan nikmat yang tiada tara dengan sentuhan suaminya. Tangannya bergerak meremass rambut dari kepala sang suami lebih dalam kedalam pelukannya.
Max mulai mengatakan apa yang membuat dia marah dan resah, tentu saja dengan tangan yang menjelajah kemana-mana tak mau diam. Tangan kekarnya meraba paha mulus Liliana , kemudian dia menciumnya lagi.
Dengan sekali tarikan, Max melorotkan segitiga berenda yang melindungi bagian sensual dari tubuh istrinya.
Ah! Kenapa dia meraba kesitu? Pekik Liliana dalam hatinya, begitu merasakan jari-jari menyentuh inti tubuhnya.
Penuh hasrat dan gairah, setiap inci dari tubuh gadis itu tidak terlewatkan dari sentuhan bibir panasnya. Tak peduli dengan matahari yang masih ada, dengan bulan yang belum terbit. Kapanpun waktunya, Max tidak peduli.
__ADS_1
Setelah keduanya sama-sama tanpa sehelai benang di tubuh mereka, barulah mereka memulai penyatuan tubuh. "Ke-kenapahhh harus di meja?!" tanya Liliana sambil menahan hujaman suaminya dari depan.
"Dari dulu aku ingin mencoba gaya seperti ini, baru sekarang aku bisa melakukannya. Bosan kan kalau di lakukan di ranjang terus?" Max masih terus menghujam tubuh istrinya dengan rudal kebanggaannya.
Peluh keringat membasahi tubuh mereka , terutama bagian wajah. "Ta-tapi---hmph--"
Kembali dia membenamkan bibirnya pada bibir cantik Liliana yang sudah menjadi candu itu. "Sayang, aku mencintaimu.." lirihnya dengan tatapan sendu.
"Aku juga..." jawab Liliana sambil tersenyum.
Keduanya mencapai puncak surga duniawi bersamaan, Max menanamkan benihnya di dalam rahim sang istri berkali-kali. Hingga sampai malam harinya, mereka masih lanjut ronde yang entah ronde ke berapa. Pergumulan itu bagai gempuran hebat untuk Liliana dan kepuasan untuk Max uang selama ini tersiksa rindu. Dia puas dan bahagia karena bisa memiliki Liliana, dan ia aku yakinkan dalam hatinya bahwa kisahnya kali ini akan panjang.
Malamnya, setelah pergumulan hebat itu. Liliana tertidur lelap dalam balutan selimut, tubuhnya tanpa sehelai benang kecuali selimut itu. Sementara Max masih bertenaga, terlihat dari dirinya yang sudah membersihkan dirinya.
"Kita sudah pernah melakukan malam pertama di masa lalu, tapi entah kenapa setiap kali bersamamu... semuanya terasa seperti malam pertama. Aku terus mencintai dan mencintaimu, Aku bahkan tidak pernah bosan denganmu. Meski dalam kehidupan kali ini maupun kehidupan yang lalu atau kehidupan selanjutnya, sepertinya kau sudah menjadi canduku, entah hatiku atau tubuhku, Lily.." ucap Max seraya mengecup kening Liliana dengan lembut. Gadis itu masih terpejam dalam tidur lelapnya, dia tampak lelah karena pergumulan yang terjadi beberapa ronde itu.
Namun dia merasa kasihan pada istrinya yang belum makan dari tadi siang, dia jadi merasa berdosa karena telah menggagahi istrinya di saat istrinya belum makan apa-apa dari tadi siang. Akhirnya dia memutuskan untuk pergi keluar dari kamarnya dan pergi mencari makanan.
"Yang mulia, anda mau kemana? Apa anda perlu sesuatu?" tanya seorang dayang pada Max seraya menundukkan kepalanya dengan hormat.
"Aku mau pergi ke dapur istana, antar aku kesana!"
"Yang mulia, bila anda membutuhkan makanan...saya bisa memberitahu pada koki istana dan mengantarkannya kepada yang mulia."
"Tidak, aku akan pergi sendiri ke dapur. Kau antarkan aku saja!" titahnya pada dayang itu.
Aku akan membuat masakan yang lezat untuk Liliana.
__ADS_1
...****...
Hai Readers! UDAH ini episode bulan madu yang penuh keuwuan ya, βΊοΈ π burung irian burung cendrawasih, cukup sekian dan terimakasih.