
...🍀🍀🍀...
Lapangan Ksatria black knight kerajaan Istvan. Hari itu adalah hari yang sibuk untuk para calon kstaria baru yang akan melalui seleksi ketat untuk masuk dalam anggota ksatria istana.
Eugene dan Adrian ksatria paling hebat di sana yang akan melakukan seleksi tersebut. Sebelum acara seleksi di mulai, Eugene terlihat sedang berbicara dengan Laura. "Eugene, apa kita harus percaya ucapan kakak?"
"Tidak ada salahnya membuktikan apa yang dikatakan oleh yang mulia raja." Eugene tersenyum lembut seperti biasanya.
"Baiklah, tapi kau harus hati-hati."
"Memangnya saya bisa terluka? Saya adalah ksatria paling hebat di kerajaan ini," Eugene memamerkan dirinya sebagai ksatria hebat di negeri itu.
"Hahaha...baiklah, aku paham. Kau memang yang terhebat, bahkan di hatiku." Laura melihat kekasihnya dengan tatapan penuh kasih dan cinta.
Eugene menanggapinya dengan tersenyum. "Sir Eugene, maksud saya...Duke Rhodes!" Adrian memanggil Eugene yang kini sudah memiliki gelar Duke. Pria itu bukan teman yang memilik status sama dengannya lagi, tapi kini statusnya sudah di atasnya.
Adrian menghampiri Eugene dan Laura di sana. Begitu menyadari kehadiran Laura, Adrian langsung memberikan hormat padanya. "Yang mulia putri, salam."
Laura hanya tersenyum, lalu dia pun pergi meninggalkan Eugene dan Adrian di sana. "Duke, acaranya sudah mau di mulai."
__ADS_1
"Baik. Tapi sir Adrian, kau bisa memanggilku seperti biasa, tak usah sungkan begitu."
"Hehe, tidak mungkin! Tuan sekarang adalah seorang Duke, yang harus saya hormati."
Memang sudah seharusnya jika yang memilik status rendah ingin menghormati status yang lebih tinggi. Adrian hanya melakukan sesuai dengan adat.
"Sayang sekali, padahal aku masih ingin berteman denganmu." Kata Eugene dengan wajah memelas.
"Kita masih berteman," Adrian menganggukan kepalanya.
"Kalau begitu, panggil aku seperti biasanya jangan panggil aku tuan!" Eugene benar-benar tidak nyaman dengan perubahan sikap orang-orang di sekitarnya karena status yang diberikan oleh Max padanya. Status itu yang akan mempermudahnya menikahi Laura.
"Ya sudah, aku paham. Tapi aku ingin kau memanggil namaku seperti biasa saat kita sedang berdua saja.. Bagaimana?" tanya Eugene penuh harap.
"Halaahhhh....baiklah tuan " jawab Adrian sambil menghela nafas panjang. "Maksudku Eugene,"
Setelah itu Eugene dan Adrian pergi ke kompetisi para ksatria baru itu, ada kompetisi berkuda, sparing pedang, memanah dan lainnya.
Kini tiba saatnya giliran kompetisi memanah. Kompetisi yang katanya akan membuat Eugene celaka. Di sana juga ada Laura dan Max yang memantau dari kejauhan.
__ADS_1
"Kakak..." Laura menatap cemas ke arah kakaknya, ia takut terjadi apa-apa dengan kekasihnya.
"Saat Eugene melepas panahnya untuk menunjukkan pada ksatria itu, akan ada--" Max masih fokus menatap Eugene yang akan melepaskan anak panah, sebagai contoh kepada para kstaria baru di sana.
SLING!
Tepat saat Eugene melepas anak panahnya, tepat saat itu juga Max melemparkan pedang ke arah sebuah panah yang muncul entah dari mana. "Eugene!" Laura terkejut, manakala dia melihat anak panah nyasar itu hampir saja mengenai Eugene, jika bukan karena Max. Pasti Eugene sudah terluka.
Benar-benar terjadi, jadi kakak benar-benar memutar waktu? Astaga!
Semua orang terkejut dan melihat ke arah Eugene dan menanyakan bagaimana keadaannya. "Duke, apa kau baik-baik saja? Apa kau terluka?"
"Tidak apa-apa, aku tidak terluka."
"Wah! Ini parah beracun!" Kata Adrian yang melihat panas beracun tertancap di tembok.
Yang mulia Raja, ternyata benar. Anda berasal dari masa lalu.
...*****...
__ADS_1