Second Life Liliana

Second Life Liliana
Bab 218. Memilih jalan perang


__ADS_3

...🍀🍀🍀...


Liliana yang tadinya sedang menyeruput cangkir berisi susu, langsung meletakkan cangkir tersebut ke atas meja. Dia menatap lekat wajah suaminya dengan cemas.


"Lily, kau tau kan...sedang terjadi ketegangan di perbatasan negeri kita antara kerajaan kita dengan kerjaan Lostier."


"Ya, aku tau.Tapi bukankah kau sudah mengambil jalan damai bersama dengan raja kerajaan Lostier? Mengapa tiba-tiba bisa ada kata perang?" tanya Liliana tidak memahami ucapan suaminya tentang perang.


Padahal sebelumnya tidak ada perang di antara kedua kerajaan besar itu. Lantaran Max sudah mengambil jalan perdamaian. Setahunya begitu.


"Iya, aku dan juga perwakilan dari kerajaan ini sudah mendatangi raja Lostier untuk melakukan negosiasi perdamaian, akan tetapi mereka sama sekali tidak setuju Dengan perdamaian yang ditawarkan."


Wanita hamil itu tersentak kaget mendengarnya, "Mengapa bisa begitu? Apa mereka tidak setuju dengan negosiasi yang kita tawarkan?" tanyanya resah.


Tiba-tiba saja Liliana merasakan sesak di dadanya, seperti ada firasat buruk yang akan terjadi.


"Iya, mereka tidak puas dan masih ingin mengambil alih kerajaan kita! Enak saja! Padahal selama ini mereka telah mengambil bahkan mengeruk kekayaan tambang di wilayah kerajaan ini dan aku tidak bisa membiarkannya lebih lama lagi. Lily..."


"Lalu? Apakah perang adalah satu-satunya jalan?"


Max menganggukkan kepalanya, sepertinya memang tidak ada jalan lain selain perang. Ketika salah satu pihak tidak ada yang mau mengalah dan tidak mau menyerah. Max juga tidak mungkin menyerahkan tambang minyak yang menjadi pusat mata pencaharian penduduk kerajaan Istvan. Gila saja!


"Lily, kita pasti akan menang dalam peperangan ini dan aku percaya hal itu."


"Haahhhh..." wanita hamil itu menghela nafas berat.


"Lily, jika kau tidak mau aku pergi, maka aku akan tetap berada disini. Aku tidak mau kau sedih karena aku meninggalkanmu dan anak kita yang sebentar lagi akan melihat dunia."


"Pergilah dan pulang membawa kemenangan! Jangan biarkan orang-orang dari kerajaan Lostier menguasai mata pencaharian kita."


"Lily, aku tidak harus pergi ke sana. Aku tidak mungkin meninggalkanmu disini sendirian, aku bisa meminta pasukan dan kstaria terbaik di kekaisaran ini."


"Maxim,mana bisa mereka berperang tanpa rajanya? Jangan bercanda seperti itu, apalagi ini masalah negeri kita dan semua orang yang tinggal disini. Kau harus pergi!"


Bibirnya mengatakan Max harus pergi tapi tidak dengan hatinya.


"Sayang, aku tidak bisa meninggalkanmu sendirian disini."


"Maxim aku tak sendiri dan lagi pula kau tidak akan pergi sampai berbulan-bulan,kan?" tanyanya mencoba menjadi ratu yang bijak. Dia sadar bahwa dirinya tidak boleh egois, Maximillian bukanlah miliknya seorang tapi juga milik rakyatnya juga. Karena suaminya adalah seorang raja.


"Mungkin hanya satu Minggu,"jawabnya saya menatap sang istri dengan mata yang berkaca-kaca. Perang berkaitan dengan negeri, tapi Liliana tetap lebih penting baginya. Apalagi Liliana sedang hamil besar, dan waktunya untuk melahirkan sekitar 1 bulan lagi.


"Ya sudah kau pergilah, aku akan baik-baik saja."


"Lily," lirihnya tidak rela pergi berperang dan meninggalkan sang istri sendirian.


Wanita itu memegang tangan suaminya seraya menatapnya dengan lembut. "Aku akan baik-baik saja yang mulia dan disini aku tidak sendirian. Banyak orang yang bersamaku,"


"Tapi--"


Cup!


Liliana mengecup pipi sang suami dengan lembut penuh kasih. "Aku akan baik-baik saja, begitu pula denganmu...pergilah dan selamatkan kerajaan kita, pertahankan apa yang menjadi milik negri kita. Kau adalah seorang Raja dan juga anak-anak kita akan bangga pada ayahnya, jika ayahnya bisa menolong orang lain juga mengharumkan nama negara." tutur wanita itu seraya menasehati suaminya dengan lembut.


Sungguh Liliana adalah wanita yang bijaksana, sikapnya yang dewasa dan tidak egois. Membuatnya semakin dicintai semua orang, terutama oleh suaminya dan orang-orang terdekatnya.


"Baiklah, aku akan segera kembali...aku tidak akan lama. Anak-anakku, baik-baiklah disini bersama ibu kalian, jangan menyusahkan ibu kalian ya? Doakan ayah semoga ayah bisa cepat pulang, aku mencintai kalian bertiga..." Max mengecup kening istrinya, dia mengelus lembut perut buncit sang istri dengan penuh kasih sayang.


Liliana balas tersenyum lalu dia berkata. "Aku dan anak-anak kita akan baik-baik saja, kami akan selalu mendoakanmu. Berhati-hatilah...kami menunggumu." ucapnya lalu memeluk sang suami.


Maximilian membalas pelukan istrinya dengan lembut dan hati-hati karena takut menyakiti perut buncit istriku. "Aku janji akan segera kembali, tapi Ratuku aku ingin mengatakan sesuatu padamu."


"Ya, ada apa suamiku?"


"Jika...ini hanya jika terjadi sesuatu dengan kerajaan ini atau jika aku kalah dalam perang--"


"Tidak sayang, kau tidak akan kalah!"


"Lily, ini hanya jika aku kalah...jika itu terjadi, aku ingin kau melarikan diri. Adrian dan dua ksatria terbaikku akan berada di sini untuk menjagamu juga. Misalkan, seandainya kau menjadi sandera mereka...kau tanyakan apa yang mereka mau, dan katakan bahwa aku akan memberikan apa yang mereka."


Kedua mata wanita itu membulat, ia menyangka bahwa suaminya memiliki pikiran seperti itu. "Tolong jangan bicara hal buruk seperti itu, kau akan kembali dengan selamat dan kerajaan kita juga akan baik-baik saja! Aku percaya kau kuat!"


Cup!


Kening Liliana mendapatkan kecupan lembut penuh kasih lagi dari suaminya. "Aku tau aku kuat, tapi ini hanya jika saja. Aku mengatakan semua ini bukan karena aku tidak yakin dan percaya diri, tapi karena aku mengkhawatirkan keadaanmu dan anak kita. Aku takut mereka melakukan hal-hal yang tidak aku ketahui, jadi ini hanya untuk jaga-jaga saja." jelasnya pada Liliana.


Dia bukannya tidak percaya diri dengan kemampuannya dan kemampuan militer kerajaan itu, dia hanya takut akan terjadi hal-hal yang tidak terduga. Hal tidak terduga itu menyangkut istri dan anaknya.

__ADS_1


"Eungh...baiklah," Liliana menganggukan kepala, ia paham dengan ucapan suaminya.


*****


Sore itu juga Max bersiap akan berangkat bersama beberapa ribu orang pasukannya, Liliana mengantar suaminya sampai ke depan pintu gerbang istana.


Sebenarnya hati Lilliana berat untuk melepaskan suaminya pergi perang kali ini, padahal ini bukan pertama kalinya Max pergi berperang. Tapi kenapa hatinya resah gelisah begini seperti ada yang mengganjal? Aneh!


Melihat suaminya memakai pakaian lengkap berperang membuat hatinya semakin resah, namun sebisa mungkin dia menyembunyikan rasa gelisahnya itu didepan Max yang akan pergi untuk memperjuangkan hak-hak negerinya.


"Ratuku, aku berangkat ya?" Max menatap istrinya dengan mata yang sendu. Rasanya berat hati meninggalkan Liliana yang tengah hamil besar saat ini. Tapi mau tidak mau, ia harus pergi agar perangnya cepat selesai.


"Ya yang mulia, kau berhati-hatilah...kembalilah dengan selamat." Didepan semua orang Liliana mengecup lembut pipi dan kening suaminya.


Semua orang disana langsung mesem mesem melihat kemesraan pasangan itu apalagi yang melihatnya setiap hari. Rasanya cinta mereka tidak pernah habis dan tidak pernah ada rasa bosan sama sekali.


Beberapa prajurit bahkan berisik-bisik membicarakan keromantisan mereka.


"Romantis sekali yang mulia Raja dan yang mulia Ratu,"


"Seakan cinta mereka tak pernah pudar, bosan dan tak pernah layu."


"Kau benar..." ucap seorang prajurit tersenyum dan membenarkan perkataan kedua temannya.


Disisi lain, Eugene juga sama halnya seperti Max. Dia berpamitan kepada istrinya karena dia juga harus pergi berperang. Eugene menggendong putrinya yang kini sudah berusia 9 bulan. "Ayah pergi dulu ya Putri Rose..."


Roselia, itulah nama putri Eugene dan Laura. Memiliki kecantikan seperti ibunya dan mata indah seperti ayahnya. Seperti bunga mawar yang indah, dia memiliki pipi merah merona.


Di kecupnya pipi bayi yang menggemaskan itu dengan penuh kasih sayang. Kemudian Eugene menyerahkan kembali Roselia kepada ibunya. "Istriku, aku berangkat dulu. Jaga anak kita baik-baik dan dirimu juga tentunya." pesannya.


"Iya, pasti....berhati-hatilah, aku dan putri kita akan selalu mendoakanmu."


"Aku mencintaimu," Eugene mengecup kening Laura lembut.


Di sisi lainnya, Liliana memakaikan gelang yang terbuat dari benang pada pergelangan tangan suaminya. Gelang yang ia dapatkan dari pendeta agung ketika berdoa di kuil suci.


Gelang yang disebut sebagai gelang doa. "Semoga tuhan selalu melindungimu, Rajaku."


"Doa yang sama untuk Ratuku dan calon pemimpin negeri ini."


Setelah rombongan kerajaan itu menghilang dari pandangan. Laura, Liliana, Rose dan beberapa dayang juga pengawal istana kembali masuk ke dalam lingkungan istana.


Dalam hati, mereka berdoa untuk keselamatan semua orang yang saat ini akan pergi berperang dan kembali meraih kemenangan dalam keadaan baik-baik saja, tentunya.


*****


Hanya butuh waktu setengah hari bagi Max dan para pasukan kerajaan Istvan untuk sampai ke perbatasan kerajaannya dan kerajaan Lostier.


Dibandingkan dengan kerajaan Lostier, kerajaan Istvan memiliki lebih banyak kekuatan militer dan anggota pasukan mereka juga lebih unggul. Lalu mengapa mereka berani menyalakan bendera perang pada kerajaan besar itu?


Jawabannya satu!


Mereka cukup percaya diri lantaran mendapat banyak dukungan dari kerajaan-kerajaan lainnya, kerajaan yang pernah dikalahkan oleh Max sebelumnya di dalam peperangan. Bisa jadi karena dendam juga.


Kini pemimpin dari kedua kerajaan itu sudah berada dalam posisi saling berhadapan meski jarak masih jauh diantara mereka. Raja Lostier tidak sendirian karena dia bersama dua mantan Raja yang negerinya pernah ditaklukkan oleh Max.


"Yang mulia, ternyata Raja Lostier bersama dengan dua mantan pemimpin dari dua kerajaan yang telah hancur..." bisik Eugene pada rajanya.


Max menatap tajam pada Raja dan pasukan yang ada didepannya itu. "Ya, aku sudah menduganya...itu sebabnya dia berani mengibarkan bendera perang kepada kita. Tak heran!"


Disana ada si pangeran William juga? Sialan!


(Kalau ada yang lupa siapa pangeran William, dia adalah pria yang menjadi kandidat calon suami Liliana di Gallahan)


"Yang mulia, jumlah pasukan kita mungkin setara dengan jumlah pasukan yang sekarang."


"Kenapa pangeran Eugene? Apa kau takut?"


"Tidak yang mulia, bagaimana saya bisa takut jangan dengan jumlah mereka. Bukankah kita sudah pernah berperang melawan orang yang lebih banyak dari ini?"


"Kau benar, makanya kau jangan khawatir seperti itu. Kita pasti AKAN MENANG!" Max tersenyum menyeringai penuh percaya diri, bahwa kerajaannya akan menang.


"Hey Raja Istvan! Kemarilah!" teriak Raja Lostier pada Max.


Raja Istvan itu mendelik sinis, dia sangat tidak suka jika ada orang yang berteriak-teriak padanya. Ia pun mengambil anak panah lalu melepaskan anak panah itu ke arah Raja Lostier tanpa rasa takut.


"Woah!" teriak Raja Lostier terkejut dengan anak panah yang menuju ke arahnya.

__ADS_1


"Cih! Sayang sekali anak panahnya meleset," decak Raja Istvan itu menyayangkan anak panahnya yang meleset. Ya, padahal dia memang sengaja.


Harga diri Raja Lostier sungguh terluka dengan sikap Max yang dianggapnya sombong. Dia mengepalkan tangannya erat-erat, menahan rasa amarah.


"Yang mulia Raja, bagaimana bisa pria sombong itu mengejek yang mulia seperti ini? Apakah anda akan diam saja, yang mulia?" William membersihkan itu kepada raja Lostier, Mungkin dia bermaksud untuk memanasi pria itu.


"Pria sombong itu! Tunggu sampai dia kehilangan segalanya, aku akan buat dia bertekuk lutut didepanku!" Serunya marah.


"Benar yang mulia, memang harus seperti itu. Satu lagi yang mulia, kita harus memanfaatkan kelemahannya." bisik William dengan seringai di bibirnya.


"Iya, kita akan gunakan itu di saat-saat terakhir." balas Raja Lostier dengan mata yang memancarkan kabut emosi.


Max melempar lagi anak panah kali ini ke arah William. William terkejut bukan main ketika anak panah itu Hampp menyentuh tangannya. "Sialan!" umpat Willian kesal.


"Hey! Jangan berbisik-bisik seperti wanita dan mari kita bicara Raja Lostier."


Raja Lostier melangkah maju ke tengah-tengah perbatasan itu, Max juga melakukan hal yang sama. Kini dua raja itu saling berhadapan, keduanya sama-sama memiliki tubuh yang kekar. Namun Max jauh lebih muda dibandingkan dengan raja Lostier.


"Kita masih bisa menghentikan semua ini kalau kau menyerahkan atas tambah milik kerajaan kami!" Max berusaha untuk mengambil jalur damai lebih dulu sebelum berperang.


Raja Lostier tersenyum menyeringai, atensinya begitu tajam kepada pria itu. "Cih! Apa kau bilang? Tambang milik kerajaan mu? Kau salah besar, tambang itu adalah milik kerajaan Lostier!"


"Kau sangat keras kepala raja Lostier, kalau peperangan ini terjadi maka akan banyak orang yang menjadi korban. Lebih baik kita akhiri dengan damai."


Raja Lostier menepis tangan Max dengan kasar, dia menolak perdamaian yang ditawarkan oleh Max dan kerajaan Istvan. "Jadi maumu begitu? Baiklah, aku juga tidak mau menyerahkan tambang yang menjadi mata pencaharian pendudukku padamu yang bukan siapa-siapa."


"Iya, mari kita perang saja! Mari kita tumpahkan darah di sini, dan mari kita lihat siapa yang akan menang!"


Pria itu menantang Max lebih dulu, Max menghela nafas teringat saran istrinya terakhir kali dan dia mencobanya, tapi tak berhasil.


..."Sebisa mungkin, jangan sampai terjadi pertumpahan darah di antara kalian. Bujuk Raja Lostier lebih dulu, jika bisa diselesaikan baik-baik maka tidak harus ada perang yang nantinya akan menimbulkan banyak korban jiwa dan malah membuat kisah baru yang bernama dendam. Cobalah untuk membujuknya lebih dulu yang mulia,"...


Kata-kata sang istri terus terngiang di kepalanya, dia sudah mencoba saran yaitu tapi gagal. Raja Lostier yang tidak mau diajak bekerja sama.


Lily, maafkan aku sayang... tapi perang tidak dapat terhindarkan lagi.


Akhirnya genderang perang pun dimulai, kedua pasukan dari dua kerajaan besar itu maju ke depan dan saling menyerang satu sama lain.


"Serang!!"


"Pertahankan negeri KITA!" teriak seorang pria


Max memiliki Duke Geraldine sebagai master pedang dan Eugene sebagai ahli strateginya. Tentu saja mereka berdua sangatlah hebat kebanggaan Max dan juga semua orang di kerajaan itu.


Hanya dalam waktu 15 menit, kerajaan Lostier telah kehilangan banyak pasukannya.


"Menyerahlah Raja Lostier!" ujar Max pada raja Lostier yang sudah mulai panik melihat banyak pasukannya yang gugur disana.


"TIDAK AKAN!"


Namun harga dirinya masih begitu tinggi, dia tidak akan mengalah. Sebenarnya masalah tambang itu bukanlah alasan kuat untuk berperang, tapi ada alasan lain. Dia ingin mengalahkan Max, mendapatkan kepalanya lalu mendapatkan pengakuan dari semua orang bahwa dia bisa mengalahkan raja terkuat di benua itu.


Raja Lostier tidak sendirian menyerang Max, ada dua mantan raja dari kerajaan yang sudah hancur, ikut menyerang Max juga. Mereka memiliki dendam kesumat kepada raja itu.


"Seharusnya kau biarkan saja kami mati saat itu," ucap seorang pria dengan tatapan murka pada Max. Dia mantan raja yang kerajaannya hancur oleh Max.


"Tidak, memang sudah seharusnya aku membiarkan kalian berdua hidup. Karena kalian memang tidak pantas untuk mati semudah itu," Max beradu pedang dengan ketiga orang itu, dia masih belum mengeluarkan kekuatan sihirnya untuk saat ini.


"Dasar raja sombong! Akan kami pastikan, kepalamu yang terpenggal hari ini!"


"Coba saja, jangan banyak bicara!"


Ketiga pria itu melawan Max yang seorang diri, namun sayang ketiga pria itu malah kewalahan pada akhirnya. Mereka hanya melawan satu orang saja. Max benar-benar kuat, Padahal dia belum menggunakan tenaga dalamnya.


Saat prajurit Lostier mulai terdesak, Raja Lostier berbisik pada salah seorang prajuritnya ditengah medan perang. Entah apa yang dia bisikkan padanya. Yang jelas bukan hal yang baik, sebab ada seringai di bibirnya.


*****


Malam itu di kerajaan Istvan, Liliana berada di dalam kamarnya dan dia gelisah memikirkan Max. "Nak, semoga ayah kalian cepat kembali ya..." Liliana mengelus perut buncitnya.


BRAK!


Liliana terkejut manakala pintu kamarnya terbuka lebar dan dibuka paksa. "Kau..."


"Ternyata anda ada disini, Ratu Liliana." Pria itu membuat Liliana tercengang, dia menatap tajam ke arahnya.


...*****...

__ADS_1


__ADS_2