Second Life Liliana

Second Life Liliana
Bab 226. 5 tahun kemudian


__ADS_3

...🍀🍀🍀...


Tentang nama, ya mereka belum memikirkan nama untuk ketiga anak mereka. Malam itu sambil menyusui anaknya, Liliana dan Max mengobrol tentang nama untuk anak mereka.


"Anak kita diibaratkan dengan matahari, jadi namanya harus ada mataharinya bukan?" tanya Max sambil menggendong anak keduanya.


"Raiden." ucap Liliana.


"Hah? Kenapa kau menyebut namanya?" Max mendoakan kepalanya ke arah Liliana, kenapa tiba-tiba saja istrinya menyebutkan tentang Aiden.


"Yang mulia...jangan marah dulu. Aku hanya sekedar memberikan saran kepadamu, bagaimana kalau kita memberikan nama Raiden kepada anak pertama kita?"


Raiden, alias Aiden adalah nama pria yang telah memberikan kehidupan kepada Liliana. Jika bukan karena Aiden, Liliana dan Max pasti akan berpisah selamanya. Pria itu memiliki jiwa yang besar, dia sudah berkorban untuk kedua pasangan itu agar bersatu selamanya.


Max menghela nafas panjang. "Baiklah...Raiden, aku setuju."


"Maxim, apa kau tidak bertanya kepadaku apa alasannya?" tanya Liliana yang heran karena suaminya setuju sebegitu saja tanpa bertanya padanya.


"Aku sudah tau apa isi hatimu, jadi aku tidak akan bertanya lagi. Aku juga berharap bahwa anak kita kelak akan menjadi matahari untuk kerajaan Gallahan." tutur Max sambil melihat anak pertamanya yang sedang berada dalam pelukan Liliana.


Mata Liliana melebar, dia terkejut lagi dengan ucapan suaminya. "Apa maksudmu?"


"Kita akan menjadikan Raiden, sebagai Raja Gallahan." ucap Max.


Memang sebelumnya Liliana dan Max sudah sepakat untuk menyerahkan salah satu anak mereka, agar bisa dijadikan pewaris kerajaan Gallahan. "Lalu apa kau rela?"


"Demi kebaikannya juga, aku rela...lagipula jika suatu saat nanti kedua anak laki-laki kita berada dalam perebutan tahta di kerajaan ini. Bukankah itu akan buruk untuk persaudaraan mereka?"


"Kau benar juga, bahkan aku tidak petang kepikiran sampai kesana."


"Raiden Ellenio Gallahan, artinya matahari yang bersinar terang. Lily, kau setuju?" tanya Max pada istrinya.


"Nama yang indah," jawab Liliana setuju.


"Ngomong-ngomong nanti setelah pesta syukuran anak kita, aku ingin kita mengadakan resepsi pernikahan." tiba-tiba saja Max membahas tentang resepsi pernikahan.


"Resepsi?"


"Iya, apa kau lupa didalam kehidupan pertama kita... bagaimana kita menikah? Saat itu kau berada dalam hidup dan mati, kau bahkan tidak mendengarkan ku mengucapkan janji suci." tutur Max sambil membaringkan putranya yang sudah tertidur diatas ranjang bayi.


Tiba-tiba saja Max teringat dengan masa lalunya dulu saat menikahi Liliana dengan keadaan gadis itu yang koma.


#Flashback


Janji suci Liliana dan Max di masa lalu...


Izin sudah didapat dari Duke Geraldine untuk pernikahan putrinya. Waktu hanya tinggal beberapa jam lagi menuju matahari terbenam.


Duke Geraldine tak menyangka bahwa dia akan menyerahkan putrinya pada seorang pria dengan cara seperti ini. Itu pun dengan pria yang tidak dia sukai. Setelah pernikahan sudah diputuskan, Raja dan Ratu juga setuju dengan pernikahan dadakan itu.


Dengan serba mendadak dan seadanya, Max berganti pakaian dengan setelan jas putih. Liliana juga didandani memakai gaun putih yang melambangkan sucinya pernikahan.


Beberapa menit sebelum pernikahan akan dilangsungkan, Duke Geraldine mengatakan bahwa dia ingin bicara berdua dengan Max di tempat Liliana berada. Kini pria paruh baya itu berhadapan dengan putra mahkota kerajaan Istvan. Dia menatap tajam ke arah calon menantunya itu.


"Tuan Duke, apa yang ingin anda bicarakan pada saya?"


"Seharusnya itu pertanyaan saya pada anda yang mulia. Apa tidak ada yang ingin Anda sampaikan kepada saya? Tidak lama lagi anda akan menjadi suami dari putri saya dan menantu saya," ucap Duke Geraldine dengan menajamkan pandangannya pada Max.


Max tercekat mendengar ucapan Duke Geraldine kepadanya. Apa maksud dari pertanyaan ini adalah persetujuan Duke Geraldine terhadap hubungannya dan Liliana?


Putra mahkota itu tersenyum, "Saya akan menjadi suami yang baik untuk putri anda dan juga menjadi menantu terbaik untuk tuan Duke. Saya berjanji, saya tidak akan memiliki wanita lain disamping saya. Hanya ada Liliana yang akan menjadi istri dan putri mahkota di kerajaan ini. Saya bersumpah demi dewa matahari!" Max berkata dengan sungguh-sungguh sambil mengangkat tangannya ke atas.


Dan tentu saja, hanya Liliana satu-satunya ratu di hatiku.


Duke Geraldine menghela nafas,"Yang mulia.. anda tau kan bahwa sebenarnya saya tidak setuju dengan pernikahan ini. Saya melakukannya demi menyelamatkan anak saya, tapi karena anda akan menjadi menantu saya.. maka anda harus mengikuti aturan saya. Saya menginginkan menantu yang setia dan hanya mencintai anak saya seumur hidupnya. Saya ingin menantu yang bisa melindungi anak saya. Dan tentunya yang mulia harus berjanji didepan dewa matahari dan sang dewi cinta untuk janji sehidup semati ketika menikahi anak saya, jika anda tidak sanggup...anda bisa mundur sekarang,"


Duke Geraldine memperingatkan Max aturan dan janji apa saja yang harus dilakukan olehnya. Max tentu saja setuju, dia akan melakukan semua keinginan Duke Geraldine. Bahkan dengan janji darah sekalipun, janji yang tidak bisa diingkari dan tetap terikat sampai mati.


Ketika pasangannya berselingkuh, maka yang berselingkuh akan merasakan kematian menyakitkan karena melanggar sumpah pada dewa.


"Tuan Duke, saya akan melakukan sumpahnya. Apapun yang anda inginkan.." ucap Max sambil tersenyum tipis, matanya terlihat tajam penuh tekad. Dia ingin menikahi Liliana, baginya hal ini seperti jalan pintas.


"Aku ingin kau menepati janjimu, jika kau membuat Lily ku menangis. Kau akan menerima akibatnya," ucap Duke Geraldine mengancam calon menantunya itu.

__ADS_1


"Baik tuan duke, jika suatu saat nanti saya membuat putri anda menangis. Saya siap menyerahkan kepala saya," ucap Max sopan pada Duke Geraldine.


Setidaknya tuan Duke sudah mulai memercayai ku. Tenang saja, aku tidak akan mengecewakanmu. Aku pasti akan menjaga Liliana sesuai janjiku.


Duke Geraldine menatap pria itu dalam dalam. "Semoga saya tidak salah memilih yang mulia sebagai suami putriku," ucap Duke Geraldine.


"Aku tidak akan membiarkan anda mengeluh tuan Duke," ucap Max sambil tersenyum penuh percaya diri. Bahwa dia akan membuat Liliana bahagia setelah dia kembali.


Setelah pembicaraan mendalam itu, pendeta agung beserta Raja, Ratu dan Laura masuk ke ruangan itu untuk menyaksikan pernikahan Max dan Liliana.


Dalam hatinya Max merasa sayang karena harus menikah dengan Liliana dengan cara seperti ini dan pernikahannya diadakan secara tertutup juga sederhana. Max berjanji dalam hatinya, setelah Liliana sadar dia akan mengadakan pesta pernikahan megah untuk gadis itu.


Tubuh Liliana yang tidak bernyawa dan memakai gaun pengantin itu, di dudukkan pada ujung ranjang. Duke Geraldine memeganginya.


"Baiklah, saya akan memulai prosesi pernikahan ini. Yang mulia putra mahkota, Maximilian Gallan Istvan... apa anda bersedia menjadi suami dari Liliana Eissa Geraldine?" pendeta agung langsung bertanya pada intinya


tanpa berbasa-basi.


Max mengambil napas dalam-dalam dia langsung menjawab Ya dengan cepat dan penuh percaya diri.


"Apa yang mulia putra mahkota berjanji akan selalu mencintai, menjaga dan setia kepada nona Liliana?" tanya pendeta agung selanjutnya.


"Saya bersedia, sumpah demi dewa matahari dan Dewi cinta.. saya akan menjaga cinta ini sampai mau memisahkan!" Max menatap Liliana dengan penuh tekad dan kesungguhan.


Duke Geraldine, Raja dan Ratu melihat ke arah pria yang baru saja mengucap sumpah pernikahan itu. Tiba-tiba saja sebuah cahaya muncul dari tubuh Liliana.


Semua orang disana tercengang melihatnya. Cahaya dari tubuh itu tak berlangsung lama dan langsung menghilang setelah sumpah pernikahan selesai. Cahaya itu seolah menandakan bahwa Liliana setuju dengan pernikahan ini.


Jadi kakak sudah resmi menikah dengan nona Liliana?. Laura menatap kedua pasangan yang baru saja menjalani sumpah pernikahan.


Walaupun pernikahan itu dijalani dengan hambar dan tidak meriah, hanya dihadiri beberapa orang saja. Tapi, pernikahan itu tenang dan sakral.


Tidak kusangka, aku akan menikah denganmu, dengan cara seperti ini.


Setelah itu Max mengambil belati, dia mengiris sedikit jarinya hingga keluar darah. Dia meneteskan darah itu ke dalam baskom. Disisi lain Duke Geraldine juga mengiris sedikit jari anaknya. Dia meneteskan darah Liliana pada baskom, baskom yang sama berisi darah Max didalamnya.


Kedua darah itu telah bersatu. Max dan Liliana telah menjadi suami istri, juga satu keluarga.


Tidak kusangka, si anak sombong ini berani melakukan sumpah darah. Dasar anak bodoh, kalau kau melakukan sumpah seperti ini...dimasa depan kau tidak akan bisa menikah lagi atau bahkan berselingkuh sekalipun. Batin Ratu sambil melirik sinis ke arah Max.


Max patuh, dia langsung berbaring disamping istrinya. Kemudian pendeta agung meminta semua orang pergi dari ruangan itu, karena dia akan mengunakan kekuatannya untuk membawa Liliana kembali.


"Apa saya juga harus pergi keluar?' Tanya Duke Geraldine yang masih tetap ingin berada disana.


"Maafkan saya tuan Duke, anda juga harus pergi dari sini." Kata pendeta agung dengan berat hati.


"Baiklah. Yang mulia putra mahkota.."


"Anda bis memanggil saya menantu," Max memotong ucapan ayah mertuanya.


"Me-menantuku, tolong bawa Liliana kembali dengan selamat. Aku mohon kepadamu.." ucap Duke Geraldine seraya memohon pada menantunya itu.


Max tercekat bahagia mendengar Duke Geraldine memanggilnya dengan menantu, "Tenang saja ayah mertua, saya akan membawa istri saya kembali.." ucap Max sambil tersenyum.


"Lily, anakku.. cepatlah kembali. Ayah menunggumu, nak." Duke Geraldine mengecup kening Liliana dengan penuh kasih sayang.


Kemudian pria paruh baya itu keluar dari sana. Hanya tinggal pendeta agung, Max dan Liliana di ruangan itu.


"Yang mulia, saya akan membawa anda ke ruang dimensi. Saya akan menuntun anda dengan suara dan disana anda akan menemukan nona Liliana. Bawalah dia kembali dengan selamat dari ruang dimensi lain itu.."


"Baik, aku mengerti." Max mengangguk.


"Fokus..dan tutup..mata anda yang mulia.." Pendeta agung itu menyentuh tangan Max dan Liliana lalu menyatukannya.


Max menutup matanya.


#End Flashback


Wanita bergelar Ratu Istvan itu tersenyum lembut. "Jadi kau mau kitaA resepsi pernikahan kita lagi?"


"Iya, aku mau... menciptakan resepsi sekali lagi. Rasanya momen itu tidak


"Tapi kita sudah melakukannya dalam kehidupan kedua." kata Liliana menolak.

__ADS_1


"Aku mohon...kali ini akan berbeda." Max memelas pada wanita itu. Entah kenapa dia ingin sekali mengadakan resepsi pernikahan mereka lagi.


"Baiklah, tapi kita tunggu 5 tahun lagi." ucap Liliana seraya tersenyum.


"Kenapa tunggu 5 tahun lagi?" Kening pria itu berkerut


"Sekarang aku harus fokus pada anak-anak kita dulu, mengertilah..." ucap Liliana seraya tersenyum lembut pada suaminya.


Max paham, dia pun tersenyum lembut. Mereka berdua pun berpelukan, mereka memutuskan untuk fokus dulu pada perawatan si kembar lebih dulu.


*****


5 tahun kemudian, terlihat seorang anak laki-laki sedang memandang ke atas pohon dengan raut wajah marah. Anak itu terlihat tampan dan memiliki bola mata berwarna hijau emerald seperti Liliana.


"Hey! Jangan bersembunyi disana, turun kemari dan hadapi aku!" tantangnya kepada seseorang yang berada di atas pohon.


"Kenapa kau terus menggangguku? Pergi saja ganggu kak Aiden!" titah gadis kecil berambut hitam itu dengan senyuman juteknya.


"Kau yang menggangguku, kenapa aku harus menganggu kak Aiden?" tanya si anak laki-laki itu dengan wajah polosnya.


BUGH!


Gadis kecil yang tadinya berada di atas pohon tiba-tiba saja dia melompat, dia melakukan pendaratan sempurna ke rerumputan. "Selena, ayah dan ibu akan marah... kalau mereka tahu kau memanjat pohon lagi."


"Oh...kak Derek, apa kau sedang mengancamku?" tanya gadis kecil bernama Selena itu.


Selena Eilen Aurella Istvan, adalah nama putri bungsu kerajaan Istvan. Memiliki arti cahaya bulan, wajahnya yang tenang, rambut hitam lebat mirip sang ayah dan jangan lupakan matanya yang hitam kelam. Persis seperti Max.


"Aku tidak mengancam, aku hanya--"


Asteor Derek Istvan, dialah putra kedua dari Liliana dan Max, nama Asteorope mengibaratkan bintang.


"Pangeran Derek, putri Selena, apa kalian bertengkar lagi?" tanya seorang wanita cantik dengan gaunnya yang berwarna merah dan rambut merah yang panjang.


"Salam kepada ibunda..." Selena, gadis kecil itu membungkukkan badannya dengan sopan didepan sang ibu.


"Salam untuk ibunda." ucap Derek mengikuti adiknya memberi salam pada sang ibu.


Wanita cantik itu mengulum senyum, matanya menatap gaun Selena yang kotor. "Selena, apa kau memanjat pohon lagi?"


"Tidak ibu," jawabnya dengan tenang tanpa rasa ragu.


Derek langsung berdecih dan melirik ke arah adiknya yang bisa berbohong dengan mudahnya tanpa menunjukkan wajah bersalah. "Bisa-bisanya kau tenang seperti itu, di saat kau sedang berbohong Selena?" sindir Derek.


"Aku tidak berbohong." jawab Selena dingin.


Liliana menggeleng-gelengkan kepalanya seraya mengulas senyum, melihat kelakuan Selena putrinya yang tenang namun tidak bisa berhenti bergerak, alias aktif. Sedari kecil Selena memang seperti itu.


"Ibu dan ayah sudah pernah mengatakannya kepada kalian, kalian tidak boleh berbohong." Liliana mendekati putrinya lalu membersihkan noda debu, kotoran dan sehelai daun yang ada di gaun Selena.


Selena langsung terperanjat, matanya membulat, dia sudah ketahuan berbohong oleh ibunya. "Jangan diulangi lagi ya Selena, kau harus bersikap jujur!"


"Iya Bu, Selena memang suka berbohong." celetuk Derek.


"Tidak lagi, aku tidak akan berbohong." Selena mencebikkan bibirnya, ia sebal sekali pada Kakak keduanya ini.


"Benarkah? Tapi kenapa aku tidak percaya?" tanya Derek dengan alis terangkat ke atas.


"Kalau kakak tidak percaya, ya sudah!"


Akhirnya kedua anak itu malah berdebat, padahal namanya bulan dan bintang. Saling berdampingan dalam kegelapan malam, tapi mengapa mereka selalu berdebat.


"Sudah sudah! Jangan bertengkar lagi, dimana kakak kalian?" tanya Liliana pada kedua anaknya, dia menanyakan keberadaan Raiden.


"Oh, Kak Aiden sedang berada di rumah kaca bersama--" Derek tidak menyelesaikan ucapannya.


"Bersama siapa?" tanya Liliana.


"Kak Rose," jawab Selena.


Rose? Dia bersama Rose lagi? Sepertinya dia lebih akrab dengan Rose daripada dengan kedua saudaranya.


Liliana pun berjalan pergi menuju ke rumah kaca untuk menemui anaknya. Dia berencana memberitahu anaknya tentang kepindahannya ke kerajaan Gallahan.

__ADS_1


...*****...


Satu bab lagi menuju tamat, mau sekarang apa besok nih 🤧🤧 komennya dong....terus mau ada side story' nya kah?


__ADS_2