
...🍁🍁🍁...
"Gardan, kau masih lapar kan? Ayo, masih ada empat daging lezat di sana dan kau bisa memakannya." Kata Max sambil hilangkan kedua tangan di dada, sementara orang-orang yang berada di dalam sel penjara itu bergidik ketakutan.
Mereka mengerang meminta di selamatkan, memohon ampunan pada Max. Namun Max acuh dan tidak mendengarkan. Hingga salah satu dari mereka pun menjadi korban keganasan Gardan dan kakinya patah. Dengan kondisi tubuh yang berdarah darah, bawahan Alejandro itu masih sempat menyelamatkan diri dibantu oleh kedua temannya yang lain.
"Yang mulia, kami mohon ampuni kami!"
"Kami akan lakukan apa saja agar yang mulia dapat mengampuni kami!"
Mereka bertiga sudah menyerah dan memohon kepada Max untuk melepaskan mereka. "Apa kalian benar-benar ingin dibebaskan dari sini?"
"Iya yang mulia," jawab mereka bertiga sembari menganggukkan kepala.
"Baiklah, kalau begitu kalian harus membuat bos kalian bertekuk lutut di depanku! Menjilat kakiku dan kalian juga harus memberikanku bukti-bukti tentang semua kesalahan Alejandro!"
Dengan cepat, ketiga pria itu menemukan kepala.Pikiran mereka hanya satu, ya itu bebas dari sana hidup-hidup. Alejandro tersenyum sinis, dia tidak menyangka bahwa ketika anak buahnya akan menghianatinya. "Kalian! Dasar pengkhianat!!" Kata Alejandro.
"Tuan, kami sudah kehilangan satu teman kami! Jadi anda harus bersedia untuk mengorbankan diri Anda!" Kata seorang pria tegas.
"Cuihhh... aku tidak sudi berlutut di bawah kaki seorang raja yang memiliki darah iblis!" Kata Alejandro keras kepala.
"Oh, baiklah kalau begitu. Nikmati penyiksaan kalian di dalam penjara, karena aku akan membuat kalian semua hidup segan, mati pun tak mau!" Seru Max tegas.
Max dan Adrian pergi meninggalkan sel penjara itu begitu saja, tanpa mempedulikan orang-orang yang berada di sana. Gardan, si buaya itu dia tinggalkan di sana untuk menyiksa Alejandro dan ketiga anak buahnya.
Hingga malam tiba, Max berada di ruangan kerjanya. Dia mengurus beberapa daerah yang harus direformasi, karena ulah iblis yang menyerang kerajaan itu.
Usai mengurus beberapa dokumen, Max memanggil Eugene dan Laura lewat Adrian. Entah apa yang dibicarakan oleh Max kepada mereka berdua.
"Eugene? Kenapa kau ada disini?" Tanya Laura begitu dia sampai didepan ruang kerja istana Raja. Dia melihat sosok kekasihnya di sana.
"Yang mulia, bukankah wajar bila saya berada disini. Saya kan bawahan yang mulia Raja, justru harusnya itu pertanyaan saya kepada yang mulia."
Laura tersenyum, "Iya ya, kau benar juga. Kakak memanggilku, apa dia memanggilmu juga?"
"Benar, pasti masalah pekerjaan." ucap Eugene yakin. Karena Max emang selalu memanggilnya ketika urusan pekerjaan.
"Oh begitu ya?"
CEKLET!
Pintu ruangan kerja itu terbuka lebar, Laura dan Eugene masuk berdekatan. Posisi Laura didepan dan Eugene berada di belakang.
Pasangan kekasih yang beda status sosial itu memberi hormat kepada sang raja secara bersamaan. "Hormat kami yang mulia."
"Duduklah!" Max tersenyum ramah, dia membawa secarik kertas ditangannya.
Laura dan Max duduk di sofa sementara Eugene yang hanya seorang pengawal. Berdiri di belakang Laura dengan tegap.
"Hey! Apa aku menyuruhmu berdiri?" atensi pria itu menatap tajam ke arah Eugene.
"Mohon maaf yang mulia, saya kan sudah terbiasa seperti ini." Kata Eugene menjawab.
"Eugene, aku memerintahkanmu untuk duduk!" ujar Max tegas. "Duduklah disamping putri Laura."
Eugene dan Laura sama-sama tercengang mendengar ucapan Max yang meminta mereka untuk duduk bersampingan. Lalu Max sendiri yang mendudukkan pasangan itu di sofa.
"Eugene, aku perintahkan kau menikah dengan putri Laura!" Kata Max yang membuat Eugene dan Laura tersentak kaget.
"A-apa maksud kakak?"
Apa kakak tau tentang hubunganku dan Eugene?
"Yang mulia...." Eugene tercengang .
"Kalian tidak perlu kaget seperti itu, aku tau kalian memiliki hubungan cinta." Max menatap kedua pasangan itu. "Aku tau semuanya dari masa lalu," ucap Max pada Laura dan Eugene yang semakin membuat mereka tak mengerti.
"Dari masa lalu?" Eugene dan Laura menatap ke arah sang Raja.
"Baik, akan ku ceritakan kisah kalian di masa lalu."
Max memulai ceritanya tentang masa lalu.
#FLASHBACK
__ADS_1
"Eugene... kumohon, kau mencintaiku kan? Lakukan ini untukku? Kumohon.." Laura membelai dada bidang Eugene dengan jari jemarinya yang lentik itu.
"Tidak yang mulia, kita harus menghentikan semua ini. Anda harus segera kembali ke istana anda, Baginda Ratu akan-"
Laura mencuri bibir Eugene dengan agresif, entah apa yang dia inginkan dengan melakukan itu berkali-kali. Padahal dirinya sudah tampak lelah karena tak bisa mengimbangi stamina Eugene.
Tubuhnya saja sudah berkeringat, napasnya terengah-engah. Tapi dia masih meminta Eugene menjamah tubuhnya dan menghujani dirinya dengan banyak cinta.
"Yang mulia, maafkan saya.. kita harus berhenti," Eugene kembali memakai bajunya, dia menolak Laura yang bergerak agresif mengajak pergulatan itu lagi.
Aku tidak bisa menahan ini lagi, jika aku terus melakukannya. Mungkin putri Laura akan mengandung.
"Eugene.. aku mohon, jangan pergi sekarang. Aku mohon Eugene.." Laura memeluk tubuh kekar itu dengan lembut, seraya memohon pada Eugene untuk tidak pergi dari sana.
Tubuh Laura tanpa sehelai benang, rambut peraknya menjuntai panjang dan indah. Siapapun yang melihatnya pasti akan tergoda. Termasuk kaum Adam seperti Eugene.
"Tuan putri...saya mohon," Eugene mendesah, dia berusaha menahan hasrat didalam jiwanya untuk menyentuh Laura. Hasrat terlarang yang bahkan belum pernah dia rasakan.
Laura mendorong pria itu kembali ke ranjang, kini dia terbaring dibawah tubuh Laura. "Yang mulia!"
"Eugene, diamlah...kumohon.. jangan bergerak,"
"Yang mulia, jika anda melakukan ini.. anda akan-"
"Tenang saja, ini bukan masa subur ku. Kau tidak usah cemaskan itu. Lakukanlah sepuasnya malam ini," ucap Laura memotong kata-kata Eugene.
Maafkan aku Eugene, hanya ini satu-satunya cara agar kita bersama. Aku harus memiliki bayi darimu.
Pada akhirnya mereka sama-sama tenggelam dalam cinta tanpa tau waktu dan tempat. Sampai fajar, barulah Eugene sadar sepenuhnya bahwa dia telah bersalah dengan menodai kesucian Laura.
"Yang mulia, apa yang kita lakukan ini..." Eugene tampak linglung.
"Eugene, tenanglah. Kau tidak bersalah, kita kan melakukannya atas persetujuan masing-masing. Dan lagipula aku lah yang menggoda mu," ucap Laura sambil memakai kembali gaun yang dia pakai semalam. "Kita sama-sama menyukai nya,"
"Yang mulia, anda harus meminum obat pencegah ke..." Eugene tidak sanggup meneruskan ucapannya karena malu.
"Tidak usah khawatir, aku akan baik-baik saja Eugene.." ucap Laura sambil tersenyum dan memeluk Eugene.
Maafkan aku karena membohongimu Eugene.
"Yang mulia, beritahu saya jika yang mulia mengalami sakit atau-"
Cup!
Laura mengecup bibir Eugene. "Sudah cukup, aku akan baik-baik saja. Aku hanya pegal," ucap Laura seraya menenangkan Eugene.
"Saya akan kembali, anda beristirahatlah.." ucap Eugene perhatian.
Kali ini aku tidak akan mundur yang mulia, aku akan memperjuangkanmu.
"Kau juga," ucap Laura sambil tersenyum.
Eugene kembali ke istana putra mahkota setelah mengantarkan Laura ke istananya. Penampilannya acak-acakan, terutama baju dan rambut.
"Darimana saja kau Eugene?" tanya Max yang tiba-tiba sudah berdiri di belakang Eugene.
"Astaga! Yang mulia anda mengagetkan saya," ucap Eugene sambil mengelus dada.
"Dimana kau semalam saat aku mencarimu?".
"Sa-saya tidak kemana-mana. Saya berada di istana, yang mulia yang tidak ada."
"Oh begitu ya? Aku heran, siapa yang sudah membuatmu berani membohongiku, Eugene? Beraninya kau membohongiku!" Max terlihat sinis dan lebih tajam dari biasanya.
Enak saja dia tidak ada waktu aku sedang sedih, dan sekarang dia terlihat senang.
"Yang mulia saya-"
"Hentikan!" Max meminta agar Eugene berbicara. Dia mendekati Eugene, mengendus-endus tubuh kstaria pengawalnya itu. "Kau bau parfum wanita! Dan juga..." Max melirik ke arah leher Eugene. "Astaga! Apa akhirnya kau sudah tidak perjaka lagi?"
Kedua mata Eugene yang berwarna hitam itu melebar. "Ke-kenapa yang mulia bertanya seperti itu?"
"Rambut acak acakan, baju berantakan, ada banyak jejak merah di lehermu. Kau juga terlihat bertenaga, aku bisa tebak yang dengan melihatmu sekilas...bahwa kau habis bercinta!" Kata Max menganalisa.
Eugene gemetar ketakutan mendengar analisa dari Max tentang dirinya yang memang semuanya benar. Malam tadi dia habis bercinta dengan seorang wanita.
__ADS_1
"Dengan siapa kau melepas keperjakaanmu itu?" tanya Max sambil tersenyum menyeringai dan tatapan tajam.
Glup!
Eugene kenalan salivanya, dia menahan rasa gugupnya. Bibirnya kaku tak bisa menjawab. Max masih dengan tatapan tajamnya.
Tidak mungkin kan dengan Putri si nenek sihir itu? Jika dia tidak takut mati.. haha.
Blackey pun muncul dia membantu Max mengendus bau tubuh Eugene. Karena Blackey sangat peka dengan bebauan. Apalagi bau tubuh manusia. "Yang mulia, ini bau putri Laura!" kata Blackey yakin.
Max terpana, dia tak percaya bahwa Eugene dan Laura sudah melakukan hubungan itu. "Blackey, apa kau serius?"
"Yang mulia, anda bisa melihat dari wajah sir Eugene saat ini." Kata Blackey sambil melirik ke arah Eugene.
Wajah pria itu pucat pasi, dia gugup dan gemetar. Mengatakan bahwa semua itu benar.
"Hahaha.. ini benar-benar gila. Bagaimana bisa kau mengkhianatiku seperti ini?" Max tertawa sinis. "Eugene kau curi start duluan?
"Yang mulia, mohon ampuni saya. Saya dan putri Laura kebablasan!" Eugene langsung memohon ampun sambil membungkukkan badannya didepan Max.
"Aku tidak masalah kau mau kebablasan atau melakukannya dengan siapapun. Tapi yang membuatku marah, mengapa kau yang duluan dan kenapa kau mendahuluiku dan Liliana!" bentak Max kesal karena merasa Eugene mengkhianatinya. Dia masih perjaka, sedangkan Eugene sudah buka perjaka lagi.
Padahal dia dan Liliana ingin lebih dulu melakukannya. "Oh...bagaimana bisa ini terjadi? Kau mengkhianatiku seperti ini?" kata Max dengan gaya lebaynya. Seolah dia sakit hati dan tersakiti oleh kstaria pengawalnya itu.
Eugene langsung menengadah melihat si putra mahkota itu. "Yang mulia, anda tidak marah karena saya melakukan itu bersama putri Laura.. tapi anda marah karena saya mendahului anda?"
"Hey! Untuk apa aku marah, aku yakin suatu saat nanti kau tidak akan tahan dengan Putri si nenek sihir itu. Tapi aku tidak percaya kau melakukan ini lebih dulu dari pada aku, kau sungguh membuatku kecewa!" Max menggeleng-geleng, mendesah kecewa dengan Eugene.
Tunggu,tunggu.. bukankah harusnya yang mulia putra mahkota marah karena...
"Tapi Eugene, sepertinya kau cari mati ya? Bagaimana bisa kau dan Putri si nenek sihir itu memiliki hubungan bahkan kalian sudah melakukan itu. Kalau si nenek sihir itu tau, dia pasti akan-" Max khawatir akan keselamatan Eugene.
"Saya sudah tidak peduli dengan semua itu, saya hanya ingin memperjuangkan cinta saya yang mulia. Saya mencintai putri Laura dan saya tidak bisa menahannya lagi." Kata Eugene penuh tekad untuk bertahan bersama Laura.
"Aku memang tidak bisa ikut campur dalam masalah hati. Tapi kau tenang saja, aku tidak akan memberitahukan ini pada siapapun. Jagalah hubungan kalian baik-baik, karena rintangan kalian tidak akan mudah!" Kata Max menasehati. Bagaimana pun juga hubungan pengawal dan seorang putri pasti akan melalui pertentangan yang sulit
Dan jika terjadi sesuatu padamu, aku akan melindungimu Eugene. Aku bersumpah!
"Saya akan ingat nasehat anda baik-baik yang mulia, tolong dukung saya," ucap Eugene seraya meminta dukungan pada Max.
"Baiklah, aku akan selalu mendukungmu," ucap Max sambil tersenyum bijaksana.
"Terimakasih yang mulia," ucap Eugene dengan senyuman bahagia. Max merestui hubungan keduanya karena dia merasa kalau Eugene dan Laura memang berjodoh.
Tak lama setelah itu, Laura dinyatakan hamil dan mereka pun menikah atas persetujuan Max walau ditentang oleh Ratu.
#END FLASHBACK
"Yang mulia? Apa anda tidak mengarang cerita? Saya dan Putri Laura melakukan itu?"
"Kakak! Apa kau sedang membuat naskah drama?" Laura juga tak percaya begitu saja dengan ucapan Max.
"Aku sudah tau kalian tidak akan percaya, kalau kalian tak percaya. Besok ibumu akan merencanakan sesuatu, dia akan mencelakai Eugene tepat saat kompetisi memanah ksatria black knight."
Eugene dan Laura saling bertatapan tak percaya. Mereka mengiyakannya lalu pergi dari sana setelah Eugene mendapatkan gelar sebagai Duke dari Max.
"Tuan putri, apa itu semua masuk akal? Saya dan tuan putri melakukan itu sampai tuan putri--"
Laura meletakkan jarinya di bibir Eugene
"Ssstt...itu bisa saja. Mendengar dari cerita kakak, ibuku sangat menentang hubungan kita, wajar jika aku menggodamu lebih dulu..."
"Yang mulia, apa kita harus buktikan ucapan yang mulia Raja?"
"Iya, kenapa tidak mencoba? Tidak ada salahnya, kan? Kita lihat saja besok, apakah ucapan kakakku itu benar atau salah." Laura tersenyum, lalu dia mengecup pipi Eugene sekilas. Dia pun meninggalkan Eugene sendirian dari sana.
Eugene tersipu malu dan memegang pipinya, tanpa dia sadari ada Kyle. Pengawal setia Freya yang melihat itu semua.
*****
Malam itu, adalah malam ketiga Max dan Liliana terpisah oleh jarak. Setelah ini dia akan mengirim lamaran ke Gallahan ingin Liliana. Max memandangi langit tanpa bintang, dia terlihat kesepian tanpa Liliana di sampingnya. "Semoga saja dia belum tidur."
Max pun memutuskan untuk menyalakan bola sihirnya. Bola sihir yang menghubungkan mereka berdua. Bola itu menyala dan menunjukkan suasana kamar mandi. Max melotot melihatnya, dia melihat Liliana sedang berendam di bak mandi.
"Ahhhhh!?! Dasar mesum!!"
__ADS_1
...****...