
Setelah itu Liliana melakukan perjalanan yang entah akan pergi kemana. Tapi yang jelas dia tak bisa kembali lagi ke club' diamond ataupun ke rumah ayahnya yang sudah menjual dirinya.
Liliana memutuskan menggunakan uang dari Max untuk membeli pakaian karena dia tidak punya pakaian lagi selain yang dipakainya saat ini. Liliana berjanji pada dirinya, bahwa dia akan mengembalikan uang Max jika mereka bertemu kembali.
"Maaf aku memakai uangmu, tapi aku janji kalau kita bertemu lagi...maka aku akan mengembalikan semuanya. Itu pun kalau kita bertemu lagi." Gumam gadis itu sambil menghela nafas.
Apa yang terjadi semalam tidak mudah dia lupakan? Terutama soal Max yang mencuri ciuman pertamanya dan tentang mereka yang hampir melakukan hubungan intim. Belum lagi tentang Max yang berlumuran darah membuat Liliana semakin merasa aneh.
"Ayo ayo! Kapal ke negeri Istvan akan segera berangkat 5 menit lagi!"
Terdengar suara pria dengan lantangnya dia mengatakan bahwa kapal laut ke negeri Istvan akan segera berangkat. Liliana tercenung sebentar, lalu dia pun mendongak ke arah pria itu. "Negri Istvan? Kenapa rasanya aku tidak asing dengan nama itu?"
"Hey nona cantik! Apa kau mau pergi ke Istvan?" Entah bagaimana datangnya, pria itu sudah berada di hadapan Liliana dan bertanya tentangnya.
"Negeri Istvan itu berada dimana ya?" Tanya Liliana sambil meletakkan tangannya di dagu.
"Nona, masa nona tidak tahu negeri Istvan? Negeri Istvan adalah negeri yang berada di seberang pulau ini dan itu adalah negeri yang sangat indah."
"Indah? Apa disana banyak lowongan pekerjaan?"
"Tentu saja! Istvan adalah negeri yang luas dan pusat kota, jadi pastilah banyak lowongan pekerjaan disana."
Hem, aku harus pergi dari sini, mencari pekerjaan lalu hidup bahagia.
"Sepertinya bagus...ya sudah, aku pergi ke Istvan saja!"
"Memang pilihan yang bagus nona. Biayanya perjalanannya 10 koin emas." Ucap pria itu sembari menadahkan tangannya didepan Liliana.
"Apa? Apa itu tidak terlalu mahal?" Liliana tidak merasa cocok dengan harga yang ditawarkan.
"Nona, ini sudah harga murah!"
"Ah...aku tidak jadi perginya, 10 koin emas terlalu mahal untukku." Liliana menolak dan melangkah pergi dari sana.
"Nona! Bagaimana kalau 9?"
Liliana menggeleng kepalanya. "8? 7?"
Gadis itu menggeleng lagi, tidak setuju dengan harga yang ditawarkan. "Ya ampun nona, kau mau harga berapa? Itu sudah murah!" Pria menghela nafas panjang.
"5, atau aku akan pergi? Hem... bagaimana?" Gadis itu bernegosiasi.
"Oke baiklah, lima koin emas saja. Kau bisa pergi ke negri Istvan! Tidak ada tawar menawar lagi ya nona?"
"Deal!" Liliana tersenyum lalu dia memberikan 5 koin emas dari kantong yang dibawanya pada pria penjual tiket kapal itu.
__ADS_1
Akhirnya Liliana sampai di dalam dek kapal, di menikmati pemandangan dan angin laut yang semilir ke arahnya. "Hum...begitu sejuk."
Ketika sedang asyik menikmati angin yang berhembus, Liliana mendengar suara yang kurang menyenangkan tak jauh darinya.
Uwekk... uwekkk....uwekkk...
"Yang mulia, saya mohon tahan sebentar ya!" Ucap seorang pria paruh baya yang berbisik padanya.
Liliana melihat seorang pria muda muntah-muntah, dia pikir pasti pria itu mabuk laut. Kemudian dengan rasa iba, Liliana menghampiri pria itu dan mengambil sesuatu dari kantongnya.
"Makan ini tuan, mungkin tuan akan merasa lebih baik kalau memakan yang manis-manis." Liliana menyodorkan beberapa bungkus permen ditangannya, permen rasa buah beragam.
Pria itu mendongakkan kepalanya dan menatap Liliana dengan terheran-heran. Dia sempat terdiam melihat Liliana. Pria itu adalah Aiden, Raja Gallahan.
"Maaf nona, tapi yang mu--maksud saya, tuan saya tidak akan menerima makanan sembarangan." kata Dorman tegas.
Yang mulia kan sangat pemilih, dia tidak akan memakan makanan sembarangan yang diberikan oleh orang dan juga dia tidak bisa berdekatan dengan wanita.
Aiden terdiam ketika melihat Liliana, dia bahkan sampai memegang dadanya. "Tuan, apa tuan baik-baik saja?" Liliana heran karena
Huh! Kenapa sekarang banyak orang asing yang tidak aku kenal menatapku dengan tatapan seperti itu? Bahkan pria yang semalam juga begitu. Apa wajahku ini pasaran?
"Berikan!" Aiden menadahkan tangannya pada Liliana.
"Tuan mau permennya?" Tanya Liliana sekali lagi.
"Ya, berikanlah!" Aiden menadahkan tangannya, dia tersenyum getir yang tidak bisa Liliana pahami kenapa dia begitu.
Gadis itu memberikan 3 biji permennya pada tangan Aiden. Dorman ternganga dibuatnya, Aiden Rajanya yang tidak pernah sembarangan tersenyum kini sedang tersenyum terlebih lagi pada seorang wanita.
"Semoga mual-mual nya segera menghilang, aku doakan semoga kau cepat sembuh." Dia menundukkan kepalanya, lalu melangkah pergi.
"Tunggu!"
Liliana terdiam ketika Aiden memanggilnya. "Tuan memanggil saya?"
"Namamu, siapa namamu?" Tanya Aiden pada Liliana.
"Nama saya Liliana."
Kedua mata Aiden membulat saat mendengar nama itu. Lalu dia pun menyunggingkan senyuman ramah dibibirnya teruntuk Liliana.
"Aku Aiden," ucapnya memberitahu.
"Iya."
__ADS_1
Liliana melangkah pergi dan menikmati suasana laut itu disisi yang lain. Gadis itu tersenyum lebar merasakan angin berhembus ke arahnya. Rambutnya yang panjang dengan satu ikatan itu melambai-lambai ke wajahnya.
"Mulailah hidup baru Liliana! Yuhuu!! Istvan aku datang!!" Teriak Liliana sambil tersenyum senang.
Dari kejauhan Aiden melihat Liliana, Dorman heran karena Aiden terlihat berbeda pada Liliana. "Yang mulia, apa anda serius akan memakan permen itu? Biar saya dulu yang mencobanya, saya takut kalau ada racun didalamnya."
"Tidak akan ada racun." Aiden membuka bungkus permen itu lalu memakan permen itu dan mengemutnya.
"Yang mulia! Kenapa anda memakannya begitu saja?" Dorman mendesah melihatnya.
"Rasa mangga." Gumam Aiden sambil tersenyum tipis. "Dorman, wanita itu cantik bukan?"
"Ja-jangan jangan yang mulia tertarik padanya?" Tanya Dorman pada Aiden. "Yang mulia, saya tahu anda tidak akan jatuh cinta pada seorang wanita hanya karena parasnya. Masih banyak yang lebih cantik dari wanita itu, yang mulia." Ucap Dorman lagi.
"Kau sangat tau diriku Dorman, aku memang tidak akan jatuh cinta pada sembarang wanita." Aiden masih menatap Liliana, kini matanya itu sedikit berair.
Dari dulu sampai sekarang, aku hanya mencintainya. Dan takdir kali ini pasti akan berpihak padaku. Buktinya kita kembali bertemu disini. Dalam kehidupan kali ini, aku akan memilikimu.
"Yang mulia, sejujurnya saya tidak paham kenapa kita harus naik kapal laut bersama dengan rakyat lainnya? Yang mulia juga kan suka mabuk laut."
Aneh sekali, yang mulia tiba-tiba saja ingin melakukan perjalanan ke pulau Gardian lalu yang mulia tiba-tiba ingin pergi ke kerajaan Istvan.
"Kau tidak akan paham, Dorman." Hanya itulah jawaban yang bisa diberikan oleh Aiden pada Dorman.
Dorman melihat Aiden terus menatap ke arah Liliana yang berdiri didepan dek kapal.
*****
Malam itu, Liliana masuk ke dalam kamarnya yang berada di kapal itu. Dia satu kamar bersama seorang ibu ibu dan juga anaknya yang akan pergi ke Istvan.
Dia mengobrol bersama ibu dan anak itu, malamnya Liliana tidak bisa tidur. Terngiang-ngiang suara Max didalam kepalanya, juga bayangan tentang Max tadi malam. "Bagaimana keadaan si pria bertopeng itu ya? Kenapa aku terus memikirkannya?"
Ia pun berjalan keluar dari kamarnya yang berada di dalam kapal itu dan pergi ke dek kapal untuk sekedar menghirup udara segar.
Saat dia berjalan kesana, dia melihat Aiden sedang muntah-muntah sendirian. "Apa kau masih mabuk laut?"
Aiden langsung terperanjat melihat Liliana ada disana. Dia mengusap sisa muntahan dibibirnya dengan air.
Ish...kenapa aku harus terlihat memalukan seperti ini dihadapannya?
"A-aku..."
"Apa permen tidak dapat meredakannya?" Tanya Liliana keheranan.
...*****...
__ADS_1