Second Life Liliana

Second Life Liliana
Bab 88. Gelang giok


__ADS_3

...🍀🍀🍀...


Salivanya naik turun, ketika dia melihat Liliana terbaring tak berdaya dengan tubuh dinginnya itu. Bibirnya yang merah, kimi berwarna putih pucat, tidak ada kehangatan yang terasa ditubuhnya.


"Lily.." suara Max terdengar berat saat dia mengucapkan nama wanita itu. "Aku..aku..."


Max yang tidak pernah merasa gugup atau sedih karena seorang wanita. Kini dia merasakan semua itu. Terakhir kali dia merasakan perasaan sedih dan gundah, adalah saat mendiang permaisuri meninggal dunia.


"Bagaimana bisa aku hidup kalau kau seperti ini? Bagaimana bisa aku hidup di dunia yang tidak ada kau didalamnya?" Max menangis didepan Liliana sambil memegang punggung tangannya. "Aku tidak bisa bernafas, jantungku seperti berhenti berdetak! Aku mohon....kembalilah. Kalau kau kembali, aku akan melakukan apapun untukmu, apapun yang kau minta akan aku lakukan! Aku janji, tapi kau harus kembali...kau harus baik-baik saja. Aku ingin menghirup udara yang sama denganmu, memegang tanganmu, jalan denganmu, hidup denganmu sampai hari tua kita, aku mohon...kau harus kembali.. kembalilah..." ucap Max dengan bulir air mata yang terus jatuh membasahi tangan Liliana.


Sling...


Tanpa sengaja dia melihat cahaya dari tangan Liliana yang berasal dari gelang giok yang terpasang ditangannya. Gelang itu memiliki cahaya hijau yang terang.


"Gelang ini? Kenapa Lily bisa memilikinya? Seingatku dia tidak punya gelang seperti ini?" Max terperangah melihat gelang yang masih memancarkan cahaya terang itu.


Tak lama kemudian gelang itu kembali meredup. Max yang penasaran dengan gelang itu, berusaha melepaskan gelangnya. Namun dia tidak bisa melepaskan gelang itu dari tangan Liliana. Seolah gelang itu memang tercipta untuk tangan gadis itu.


"Lily, kau tunggulah disini.. aku akan segera kembali!" ucap Max pada gadis itu. Kemudian dia mengecup kening Liliana dengan lembut.


Dia yang merasa aneh karena cahaya itu masih ada pada diri Liliana, langsung pergi menemui Brietta yang dia sembunyikan di istana. Seorang peramal yang mungkin tau tentang gelang giok milik Liliana.


"Eugene, dimana wanita tua itu?" Tanya Max pada Eugene yang sedang berjaga di depan tembok rahasia Max. Max melihat wajah Eugene yang resah.


"Yang mulia peramal itu-"


"Saya disini yang mulia putra mahkota. Apa yang mulia mencari saya?" tanya Brietta sambil menghampiri Max dan Eugene. Brietta memapah seorang wanita yang terluka parah.


"Nyonya Brietta, anda darimana saja? Saya dan Sir Adrian mencari anda kemana-mana?!" Tanya Eugene sedikit kesal karena Brietta yang tiba-tiba menghilang dari persembunyiannya.


"Maafkan aku, aku hanya mencium bau busuk disekitar sini. Haahh.. ternyata wanita itu masih sama," ucap Brietta sambil memapah wanita yang tidak sadarkan diri itu. "Sir Eugene, apa kau bisa membantuku? Dia sangat berat," Brietta meminta bantuan pada Max.


"Siapa wanita yang kau bawa itu?" Tanya Max sambil melihat wanita itu.

__ADS_1


"Yang mulia, kita akan tau siapa wanita ini dan apa hubungannya dengan Ratu."


Deg!


Eugene dan Max langsung tercengang mendengar kata Ratu disebutkan oleh Brietta. Apa hubungannya Ratu dengan wanita terluka yang dibawa Brietta?


Eugene, Max dan Brietta membawa wanita itu ke dalam tempat persembunyian Max tanpa ada seorang pun yang tahu. Max memasang lingkaran sihir disana, agar orang biasa tidak ada yang bisa melihat tempat persembunyiannya itu.


Brietta membantu dayang yang terluka itu dengan tenaganya. "Dia sekarat, tapi syukurlah dia masih bisa selamat.." ucap Brietta lega saat dia memeriksa denyut nadinya.


"Kau yakin bahwa wanita ini dibunuh oleh ksatria Ratu?" Tanya Max pada Brietta dengan pandangan tajam.


"Saya yang melihatnya sendiri yang mulia dan bila anda tidak percaya. Silahkan anda tanyakan pada dayang ini jika dia sadar nanti," ucap Brietta pada Max.


Eugene memperhatikan wajah wanita itu, "Yang mulia...saya sepertinya pernah melihat wanita ini."


Max tercekat, "Siapa dia?"


"Dayang.. wanita ini adalah dayang di istana Ratu," jawab Eugene yakin bahwa wanita yang tidak sadarkan diri itu adalah dayang di istana Ratu.


"Yang mulia, sebaiknya anda jangan gegabah. Kita sudah tau pelakunya adalah baginda Ratu. Daripada bermain dengannya didepan, lebih baik menusuknya dari belakang? Kita bongkar rahasianya didepan semua orang!" Seru Brietta memberi ide.


"Saya setuju dengan ide ini, yang mulia.."


"Ratu, sudah cukup! Kau bahkan berani menyakiti wanita yang kucintai, aku tidak akan membiarkanmu begitu saja!" Seru Max sambil mengepalkan tangannya penuh amarah.


Setelah itu Max memerintahkan Eugene untuk menjaga sampai dayang itu. Sementara dia pergi bersama Brietta ke ruangan tempat Liliana berada.


Cahaya gelang giok itu masih ada dan hampir padam. Brietta terperangah melihatnya. "Astaga.. gelang ini..gelang ini.."


"Gelang apa?"


"Gelang ini diberikan pada orang yang terpilih, kekasihmu adalah orang terpilih!"

__ADS_1


"Hah? Apa maksudmu?" Max tidak paham apa yang dikatakan oleh Brietta padanya.


"Apa kau tidak tau gelang ini milik siapa?" tanya Brietta sambil menatap putra mahkota kerajaan Istvan itu dengan tajam.


"Aku tidak tahu,"


"Gelang ini milik pendeta agung. Astaga! Jadi ramalan itu benar?" Brietta tersenyum sambil memandang ke arah Liliana.


"Milik pendeta agung?!" Max tersentak kaget mendengarnya.


"Benar, dalam ramalan nenek moyangku dulu. Pendeta agung akan memberkati dan memilih seseorang sebagai pemilik gelang ini. Dan gelang ini sudah menemukan pemiliknya,"


"Terpilih? Pendeta agung? Aku akan bertanya tentang itu nanti! Sekarang aku ingin kau memberitahuku bagaimana caranya agar Lily bisa kembali? Apa dia masih bisa diselamatkan?" tanya Max pada Brietta dengan penuh harapan.


Brietta menatap Liliana dalam-dalam tanpa ekspresi. Dia mengeluarkan sihirnya dan mencoba melihat kondisi Liliana. Wanita tua itu menutup mata, tangannya mengeluarkan cahaya. Dan cahaya itu mengaliri tubuh Liliana yang sudah tak bernyawa.


Disisi lain Max sedang menunggu pemeriksaan Brietta pada tubuh Liliana.


Tak lama kemudian Brietta membuka matanya, dia melepaskan sihir itu dari tubuh Liliana.


"Bagaimana? Apa dia masih bisa selamat?"


"Bukan selamat, tapi kembali. Jiwanya sedang pergi ke suatu tempat, nanti dia akan segera kembali." Jelas Brietta sambil tersenyum.


"Jadi, maksudmu.. Liliana ku akan kembali hidup? Dia..."


"Benar, jiwanya hanya sedang pergi. Pergi kemana, aku juga tidak tahu. Tapi, dia akan kembali.. kau tenang saja.." ucap Brietta sambil tersenyum menenangkan Max.


Pria itu memegang dadanya, dia mengatur nafas. "Syukurlah.. syukurlah... ternyata kau masih bisa kembali," Max memegang tangan Liliana dengan erat, dia merasa lega karena Liliana bisa kembali padanya.


"Tapi, jika pendeta agung belum ditemukan dalam waktu 3 hari. Maka jiwa nona Liliana tidak akan bisa kembali ke tubuhnya.." ucap Brietta lagi.


Deg!

__ADS_1


Baru saja Max merasa bersyukur, sekarang dia kembali berdebar karena ucapan Brietta. Sementara pendeta agung tidak tahu dimana keberadaannya.


...----****----...


__ADS_2