Second Life Liliana

Second Life Liliana
Bab 196. Dia Raja


__ADS_3

...🍁🍁🍁...


Cemburu, rindu, dengan cinta dan hasrat yang menggebu. Keduanya bertemu pandang, menatap penuh cinta. Berpelukan dalam alunan melodi yang indah, yang bernama rindu.


Liliana mengalungkan tangannya di leher pria itu. Ditatapnya pria itu dengan kasih sayang. "Kenapa kau sudah datang? Bukankah harusnya kau datang besok?"


"Jadi--kau tidak mau aku datang sekarang? Kau tidak suka? Apa kau tidak mau aku mengganggu kesenanganmu dengan pria itu?"


"Astaga! Jadi si raja cemburu Ini masih saja cemburu?" Liliana tersenyum tipis.


"Huh!" Max memalingkan mukanya dari Liliana. Dia masih kesal ingat kejadian yang belum lama terjadi, dimana Liliana jalan berdampingan dengan pria itu.


Liliana memegang tangan pria itu, kemudian mengajaknya untuk duduk. "Maxim, dengarkan dulu penjelasanku! Aku dan pangeran William tidak ada apa-apa, aku mengantarnya keluar hanya untuk menunjukkan keadaan istana ini. Tidak lebih dari itu,"


"Lalu, kenapa kau memakai baju seperti ini? Apa kau sengaja menggodanya?"


Pria itu mempermasalahkan baju yang dipakai Liliana. Dia tidak suka bila wanitanya memakai pakaian yang terbuka, apalagi di depan pria lain. Dia tidak suka pria lain menatap Liliana dengan tatapan membara. Dia ingin hanya dirinya saja yang melihat kecantikan Liliana. Apalagi melihat kemolekan tubuhnya itu.


"Astaga... baiklah untuk masalah baju aku minta maaf. Baju ini diberikan oleh ibuku dan aku tidak enak karena ibu yang meminta aku memakainya. Aku minta maaf kalau kau marah, tapi aku akan segera mengganti bajunya kalau kau tak suka."


"Hem... sebenarnya aku suka kau memakai pakaian seperti ini. Tapi pakaian ini tidak boleh dipertontonkan kepada pria lain, artinya harus aku saja yang melihatnya." Tangan Max menarik Liliana, ke atas pangkuannya.


Dessah nafas pria itu membuat hangat di tengkuk leher Liliana. Max menyunggingkan senyuman di bibirnya, manakala eksistensinya melihat ke arah kalung yang dikenakan Liliana. Kalung yang diberikannya sebagai tanda cinta, kalung yang hanya ada satu di dunia. Dibuat khusus, hanya tercipta untuk gadis itu.


"Aku tidak sengaja mempertontonkan diriku, aku memakai gaun ini karena permintaan dari ibu. Dan kebetulan para kandidat calon suamiku datang, aku pun tak sempat berganti baju." Katanya menjelaskan dengan bibir mengerucut.


"Baiklah, aku mengampuni kali ini. Tapi tidak ada lain kali ya. Sekarang, lebih baik kau ganti bajumu...lalu aku akan bertemu dengan ibu mertuaku," ucap pria itu sambil menciumi tengkuk Liliana dengan lembut.


"Ibu mertua? Hey! Ibuku belum resmi jadi ibu mertuamu," protes Liliana.


"Hanya tinggal menunggu waktu, sampai aku memanggilnya ibu, hehe."


"Dasar! Ya sudah baiklah, aku akan ganti baju dulu. Kau temuilah ibuku dengan resmi," ucap Liliana lalu beranjak dari pangkuan pria itu.


"Ya,"


"Ets...tapi kenapa kau bisa datang kemari? Apa kau datang sendirian? Bagaimana kondisi kerajaanmu? Lalu...apa kau datang bersama dengan pengawal?" gadis itu mencecar Max dengan berbagai macam pertanyaan, pasalnya bagaimana bisa seorang Raja dari kerajaan besar meninggalkan singgasananya?


"Aku datang sendiri."


"Apa? Lalu bagaimana dengan singgasana mu? Kau tidak boleh meninggalkan tanggung jawabmu sebagai seorang raja!" Protes gadis itu, seraya mengingatkan kekasihnya. Bahwa Max memiliki tanggung jawab yang besar sebagai seorang raja dari sebuah negeri yang besar.


"Sayang, kau tenang saja. Urusanku sudah ada yang menghandle di sana. Hanya saja dalam satu minggu, aku harus bisa membawamu ke Istvan."


"Hem...kalau begitu kau harus berjuang, karena kau harus berkompetisi." Liliana tersenyum, lalu dia mencubit gemas hidung Max.


"Aku pasti menang, karena dari awal...aku adalah suamimu, pemilik hatimu." Max meraih tangan Liliana, lalu dia mengecup punggung tangan yang mulus itu.


Kemudian setelah itu, Liliana pergi untuk berganti baju. Sedangkan Max pergi menemui ibu suri Gallahan yang bernama Annalise.


Namun usahanya untuk menemui Ibu suri tidaklah mudah, lantaran dia harus melewati beberapa penjagaan yang ketat. Belum lagi pengawal yang tadi di depan itu, kembali menghadang jalannya. Dia sangat geram, tapi dia menahannya dan ingat bahwa dirinya sedang berada di negeri orang.


"Sudah kubilang! Aku adalah salah satu kandidat calon suami Sang Putri, mengapa kalian tidak percaya?" Max mengangkat alisnya ke atas dengan marah.


"Maaf tuan, tapi kami tidak bisa percaya padamu. Kau harus menyerahkan surat undangan itu, barulah kami akan percaya." kata seorang pengawal ngotot.


"Benar, anda harus menyerahkan surat undangan itu!" seorang pengawal lainnya menandakan tangan kepada Max.


"Surat undangan itu, ketinggalan di istanaku!" dengus Max marah.


Keributan itu akhirnya berhenti, manakala semua orang membeli hormat kepada sang Ibu suri. "Ada apa ini?!"


"Hormat kami pada yang mulia Ibu suri," ucap semua pengawal di sana seraya membungkukkan setengah badan mereka.


"Hormat saya yang mulia, saya Raja Maximillian dari kerajaan Gallahan." Max memperkenalkan dirinya dengan sopan dan elegan kepada Ibu suri.

__ADS_1


"Oh...kau." Ibu suri memasang wajah dingin. Dia memperhatikan Max dari ujung kepala sampai ujung kaki. Penampilan Max sama sekali tidak menunjukkan bahwa dia adalah seorang raja, ia tidak seperti para kandidat lainnya yang menggunakan baju besaran mereka dan menunjukkan kemewahan mereka di depan sang Ibu suri.


Max terlihat sederhana dengan pakaian seperti seorang bangsawan biasa, pria itu juga terkesan dengan penampilan yang buru-buru. Tentu saja buru-buru, pergi dari istananya saja dia diam-diam.


Dia pasti datang kemari dengan buru-buru, demi cinta dia rela meninggalkan semuanya.Berpakaian apa adanya, tidak menunjukkan kemewahan. Bagus, dia sudah mendapat satu nilai plus dariku. Dalam hati ibu suri memuji kesederhanaan dan kebijaksanaan yang dimiliki oleh raja Istvan itu.


"Kau adalah salah satu kandidat calon suami Putriku, selamat datang di istana ini."


"Ya, yang mulia." sahut Max sopan dengan suara rendah.


"Dan kalian, beraninya kalian bersikap tidak sopan kepada Raja Istvan!" Titah ibu suri seraya menata para pengawal itu dengan tajam.


Mereka langsung berlutut di depan Max, dengan tubuh yang gemetar dan kedua tangan yang terkatup. "Ampuni kami yang mulia...kami tidak tau, maafkan kami..."


"Tolong ampuni nyawa kami yang mulia..." ucap seorang pengawal dengan keringat dingin dan tangan gemetar. Takut kehilangan nyawanya.


"Yang mulia Raja, saya tidak akan meminta yang mulia untuk memaafkan mereka. Karena saya tau, kalau mereka bersalah. Maka dari itu, hukuman yang diberikan itu tergantung anda yang mulia." Ibu suri menyerahkan otoritas sepenuhnya persoalan hukuman kepada Max.


Aku akan menguji bagaimana sikapmu yang mulia raja Maximillian.


Max menatap para pengawal menyebalkan itu dengan tajam, niat dalam hati ingin sekali dia membunuh mereka semua. Namun, dia merasa setiap orang mempunyai dan membutuhkan kesempatan kedua.


"Bangunlah!" titah Max pada ketiga pengawal itu.


"Tidak yang mulia, kami tidak akan berdiri sebelum yang mulia mengampuni kami!"


"Iya yang mulia, kami pantas mati!" pengawal itu tidak berani untuk mendongakkan kepala, mereka terlalu malu dan takut menghadapi Max.


"Kalian tidak akan mati semudah itu, kalian harus membayar rasa sakit hatiku. Jadi, bangunlah... sebelum aku benar-benar membunuh kalian." ancam Max pada ketiga pengawal itu.


Takut dengan ancaman Max, mereka bertiga pun kembali berdiri meski dalam keadaan kepala yang tertunduk. "Kalian... benar-benar menyesali perbuatan kalian? Apa maaf kalian itu tulus?" Tanya Max pada ketiga orang itu.


"Iya yang mulia, kami benar-benar menyesali perbuatan kami." ucap seorang pengawal mewakili kedua temannya yang menunduk ketakutan.


"Perbuatan kalian memang salah, tapi kesalahan kalian tidak membuat kalian dibunuh. Aku tidak memaafkan kesalahan kalian."


"Aku akan menghukum kalian, jangan harap kalian bisa bebas dariku untuk waktu seminggu ini!"


Ibu suri di sana hanya menonton dan dengarkan apa yang diucapkan oleh Max. Dia ingin melihat kebijakan calon menantunya itu.


"Yang mulia, apa maksudnya?" Tanya seorang pengawal pada Max tak mengerti apa yang dimaksud oleh pria itu.


"Jadilah orangku selama satu minggu ini, jangan pernah kalian menghianatiku! Atau Aku tidak akan mengampuni kalian, jadilah orang baik dan setia!"


Ketiga pengawal itu tercekat dengan hukuman yang diberikan oleh Max. Hukuman itu berupa dengan pendisiplinan diri. Ibu suri tersenyum mendengar hukuman yang diberikan oleh Max kepada ketiga pengawal yang sudah bersikap tidak sopan kepadanya.


Bijak dalam menilai situasi, nilai satu poin lagi. Batin ibu suri.


"Kemurahan hati yang mulia, sungguh tiada tara!"


"Terima kasih yang mulia!"


Ketiga pengawal itu terharu, mereka berterima kasih kepada Max yang telah membebaskan mereka dari hukuman berat. Mereka berjanji akan selalu setia kepadanya.


Setelah itu ibu suri meminta ketiga pengawal untuk mengantar Max ke kamar yang akan ditempatinya selama dia berada di kerajaan Gallahan.


Malam itu semua kandidat calon suami Putri Liliana berjalan menuju ke aula istana karena mereka mendapat undangan dari ibu suri untuk makan malam bersama.


Max melihat ada 3 kandidat lainnya berjalan berdampingan dengan dirinya. Diantara mereka semua hanya ada satu pangeran dan satu raja, sedangkan dua lainnya adalah seorang Duke dengan status sosial yang tinggi dan berasal dari keluarga paling berpengaruh.


"Kau kan pengemis yang tadi pagi?" ejek pangeran William kepada Max, yang tadi mengenakan pakaian lusuh dan ditahan oleh ketiga pengawal istana.


"Terserah kau saja." Pria itu malas menanggapi orang yang nyinyir padanya, daripada menanggapi mereka. Lebih baik dia memikirkan cara untuk mendapatkan permaisuri hatinya dengan cepat. Ia sudah tak sabar untuk melalui malam pertama lagi bersama Liliana, memeluknya setiap saat, mengagumi setiap keindahan dan kecantikan wajahnya. Menghirup aroma yang sejuk pada tubuhnya.


Pangeran William, terlihat mengejek Max. Dari tatapan dan sikapnya, dia merasa bahwa dirinya paling tinggi diantara mereka semua. Dia tak tahu saja bahwa Max adalah seorang raja.

__ADS_1


CEKLET!


Pintu aula kerajaan yang besar itu terbuka lebar, sosok ibu suri, Liliana, beberapa pengawal berada disana dan menyambut pada kandidat calon suami Liliana.


Semua mata tertuju pada Liliana, gadis cantik yang mengenakan gaun berwarna merah sama seperti rambutnya yang berwarna merah. Di tambah dengan kalung merah dan anting merah, membuat wanita itu semakin cantik.


Wanitaku memang cantik. Tapi kenapa mereka menatap Lily seperti itu?. Max cemburu, ketika para pria itu menatap ke arah Liliana dengan terpesona.


"Silahkan duduk semuanya," ucap ibu suri sopan pada semua pria calon menantunya.


Keempat calon kandidat itu bersama dengan Max, duduk menempati kursi masing-masing. Namun dengan jahil, orang yang menjadi ajudan William. Menggeser kursi yang akan Max duduki, hingga Max terjatuh ke lantai.


"PFut..."


"Bahkan kursi saja tau, siapa yang bisa mendudukinya dan siapa yang tidak bisa." William tersenyum senang melihat Max terjatuh, dia mengejek pria itu.


Benar-benar pria sialan! Bedebah!. Maki Max dalam hatinya.


Liliana terkejut melihat Max yang terjatuh, sedangkan pada kandidat calon suami Lilliana malah menertawakan Max. Buru-buru gadis itu menghampiri Max, dia membantunya secara langsung dihadapan semua orang tak peduli dengan statusnya dan pandangan orang lain.


"Yang mulia Raja, apa kau baik-baik saja?" Tanya Liliana yang tampaknya sengaja meninggikan suaranya.


Hingga semua orang mendengar status Max, termasuk William. Kini semuanya tau bahwa ia adalah seorang raja.


"Raja? Benarkah? Dia raja dari kerajaan mana?" bisik-bisik pria yang ada di sana.


Liliana membantu Max berdiri. "Maxim, apa kau baik-baik saja?" bisik gadis itu padanya.


"Sayang, kenapa kau membantuku? Aku bisa mengatasinya sendiri." bisik pria itu.


"Aku khawatir padamu," ucap gadis itu cemas.


"Lily, aku bukan orang yang harus kau khawatirkan. Tenanglah dan kembali ke tempat dudukmu." Max tersenyum.


"Maxim..."


"Percayalah..."


Liliana kembali ke tempat duduknya yang berada di samping ibu suri. Wajahnya masih terlihat cemas, namun ia menatap marah pada William.


"Woah... terima kasih pangeran William, saya merasa sangat terharu karena ajudan pangeran William menggeser kursi untuk saya." Max menahan tajam ke arah ajudan William yang kepalanya menunduk. Mungkin dia takut setelah mendengar Liliana memanggilnya Raja.


"Silahkan duduk yang mulia Raja. Oh ya,yang mulia pangeran, Duke Theron dan Duke Roan...maaf saya belum memperkenalkan yang mulia Raja kepada kalian semua. Karena beliau datang terlambat, yang mulia Raja Maximillian Gallan Istvan adalah salah satu kandidat calon suami Putriku." Ibu suri bicara dan membuat semua orang bungkam karenanya.


Terima kasih yang mulia ibu suri. Max menatap ini suri, lalu dia tersenyum.


Bungkam karena terkejut, mengetahui bahwa Max adalah seorang Raja. Raja yang terkenal kuat dan tersohor di seluruh benua.


Mendadak nyali mereka menciut saat mengetahui hal itu. Pasalnya, seorang putri kerajaan akan memilih Raja yang statusnya lebih tinggi dari mereka. Apalagi Raja itu adalah Raja yang hebat. Namun pangeran William tidak insecure, tidak peduli Max seorang Raja sekalipun, ia tidak akan menyerah untuk mendapatkan Liliana.


Mereka semua pun makan malam bersama, di sana ada Dorman dan orang kepercayaan ibu suri yang menilai tata Krama para calon suami Liliana.


Usai makan malam, Liliana tengah berjalan di lorong bersama seorang dayang mereka berdua mengobrol. Namun tiba-tiba saja seseorang menarik tangannya.


"Maximilian!" pekik Liliana terkejut melihat Max di sana.


"Ssstt...." Max meletakkan jari telunjuknya di bibir Liliana, seraya memintanya untuk diam. Dia pun tersenyum lalu menunjukkan bungkusan yang ada ditangannya.


...*****...


Hai Readers! Sambil nunggu up novelku, mampir ke sini ya😍😍🙏



Rekomendasi author

__ADS_1


Napen : M Anha


Judul : Aku Juga Ingin Bahagia.


__ADS_2