
...🍁🍁🍁...
"Apa maksudmu aku harus mengaku?" tanya Adara sambil menatap suaminya dengan tajam.
"Iya, ini satu-satunya cara agar kita bebas dari hukuman," ucap Arsen.
"Kau saja yang ingin bebas sendiri dan aku akan tetap mendekam disini!" Teriak Adara, merasa dirinya dikhianati oleh sang suami.
"Adara! Apa kau tidak sadar? Kau lah yang sudah membunuh kakakmu, aku tidak membunuhnya." Arsen menyangkal bahwa dirinya terlibat dalam pembunuhan Adaire.
Adara tercengang mengetahui suaminya ingin lari meninggalkan dirinya, "Arsen, apa kau pura-pura lupa? Kaulah yang memintaku membunuh kakakku! Kau adalah otak dibalik semuanya, lalu kau mau membuatku menjadi pelakunya sendiri?"
"Adara, aku akan membantumu meringankan hukuman. Tapi aku tidak boleh terlibat, posisiku sebagai kepala keluarga Count dan naik sebagai seorang Duke.. akan terancam. Posisiku demi dirimu juga Adara, setelah aku menjadi Duke.. aku akan mencoba untuk mengeluarkan mu,"
"Hah! Dengan cara apa kau akan menjadi Duke? Apakah kau akan menyingkirkan ayahku?" Adara mulai berfikiran jelek pada suaminya.
"Jika itu diperlukan maka aku akan melakukannya," ucap Arsen dengan mata tajam menunjukkan keseriusan dalam ucapannya.
Deg!
Jantung Adara seakan berhenti disana. Mendengar Arsen memiliki rencana untuk menyingkirkan ayahnya.
"Arsen.. jangan gila," Adara menghela napas.
"Pikirkan saja baik-baik Adara! Apakah ayahmu akan membebaskanmu dari sini? Dia juga tidak pernah menyayangimu dengan tulus kan? Jika aku jadi Duke, aku akan mengeluarkan mu dari sini!" Arsen berusaha membujuk Adara agar setuju dengan sarannya untuk tutup mulut dan menyingkirkan Duke Geraldine.
Adara terdiam mendengar ucapan Arsen, di dalam hati dia membenarkan ucapan Arsen namun disisi hatinya yang lain. Dia tidak mungkin setega itu membiarkan ayahnya terbunuh, tapi dia sudah terlanjur terjerumus dalam kesesatan saat membunuh Adaire.
"Kau harus janji untuk membebaskan ku dari sini secepatnya. Jika kau tidak melakukan itu, aku akan membongkar semua kejahatanmu pada semua orang!" Adara mengancam suaminya, meski dia tak ingin melakukannya. Namun saat ini tak bisa percaya pada siapapun, setelah tau sisi licik suaminya.
"Aku janji, kau tunggullah aku sayang!" Arsen menatap Adara penuh cinta, dia memegang tangan Adara.
Walaupun kau sudah tidak berguna menjadi batu loncatan untukku mendapatkan posisi Duke. Tapi, aku mencintaimu Adara.
Setelah Arsen menemui Adara, dia berjalan kembali ke mansion dan keluar dari istana. Namun saat diperjalanan, Arsen di cegat oleh kstaria duke Geraldine dan ksatria istana.
"Maaf tuan Count, anda harus ikut dengan kami sekarang!" kata seorang kstaria istana.
Tanpa takut dan gemetar, Arsen hanya tersenyum menghadapi semua itu dengan tenang. "Ada apa ini?"
"Maafkan aku Arsen tapi kau akan diperiksa sebagai saksi," ucap Duke Geraldine. "Hasil pemeriksaan Adaire sudah keluar dan dia dibunuh,"
"Benarkah itu ayah? Istriku dibunuh? Bagaimana bisa?" Arsen tercengang mendengar penjelasan Duke Geraldine. Dia menutup mulutnya yang ternganga.
"Iyah, bukannya aku mencurigai mu. Tapi, jika kau tidak bersalah.. kau tidak usah takut kan?" tanya Duke Geraldine sambil menatap mata menantunya itu dalam-dalam.
"Tentu saja ayah, aku akan ikuti perintah ayah!" kata Arsen dengan senang hati mengikuti perintah ayah mertuanya untuk menjalani pemeriksaan petugas.
...****...
Keesokan harinya di kediaman mansion Geraldine, Liliana hanya sendirian disana bersama para pengawal dan pelayan. Karena Duke Geraldine dan Arsen masih berada di istana.
__ADS_1
"Jadi yang mulia Duke tidak kembali?" tanya Liliana pada Jackson. Dia juga sedang duduk di meja makan sendirian.
"Benar nona Liliana, tuan Count juga tidak kembali. Mereka masih berada di istana untuk mengurus pemeriksaan yang terkait dengan kematian nona Adaire," jelas Jackson pada Liliana.
Liliana terdiam mendengar penjelasan Jackson, hatinya ikut sedih karena ini adalah pemeriksaan yang berkaitan dengan kematian dirinya alias Adaire.
Karena memikirkan Eugene, maksudku karena putra mahkota. Aku sempat melupakan rencana balas dendam ku. Aku harus fokus untuk balas dendam saja, jangan fokus pada perasaan yang bisa berubah suatu saat nanti.
Setelah selesai sarapan pagi, seperti biasanya Liliana berlatih pedang bersama para kstaria. Saat Lilian berlatih pedang, Adrian berada disana untuk melindunginya.
"Sir Adrian, kenapa kau ada disini? Bukankah aku sudah mengatakan padamu, untuk tidak datang kemari lagi?" tanya Liliana sinis, sambil bermain pedang dengan gerakan lincahnya.
"Maafkan saya nona Liliana, tapi saya hanya mematuhi perintah yang mulia putra mahkota." Adrian tersenyum patuh.
"Kau memang sangat setia pada yang mulia putra mahkota," ucap Liliana dengan nada ketus.
"Hehe, ya itulah saya nona."
"Aku tidak butuh kau, lebih baik kau pergi dari sini!"
"
Adrian hanya tersenyum mendengar ucapan Liliana. Tidak peduli dengan yang terjadi, atau apa yang dikatakan oleh Liliana kepadanya, dia tidak boleh mangkir dari tugasnya sebagai pengawal Liliana.
Apa salahku? Kenapa aku menerima perlakuan seperti ini dari nona Liliana? Yang mulia...ini semua karena anda. Adrian mengeluh didalam hati.
Terlihat dari kejauhan, seorang ksatria Duke Geraldine berlari menghampiri Liliana yang sedang latihan pedang. "Salam nona Liliana," ucap kstaria itu sambil membungkukkan setengah badannya dengan hormat.
"Nona, ada kiriman hadiah untuk nona!" kata ksatria itu heboh.
"Hadiah?" tanya Liliana. "Dari siapa?"
Liliana dan Adrian berjalan ke depan mansion untuk melihat hadiah yang dimaksud itu. Ternyata hadiahnya berada didalam 4 kereta berlapis emas. Ada perhiasan, baju-baju, sepatu dan barang-barang lainnya. Semua pelayan di mansion itu heboh dan takjub karena Liliana mendapatkan hadiah yang sangat indah.
Siapa orang bodoh yang melakukan ini?
"Wah nona, apa ini adalah lamaran? Siapa bangsawan yang melamar nona?" tanya Daisy sambil menatap Liliana dengan penasaran.
"Lihatlah berapa banyak yang dibelikan bangsawan itu untuk nona," kata seorang pelayan lainnya dengan mata terkagum-kagum.
"Maaf tuan, tapi saya tidak bisa menerima semua ini.. bawa lagi saja semuanya," ucap Liliana pada seorang pria yang bertugas membawa semua hadiah itu.
"Ma-maafkan saya nona, tapi bukannya saya bermaksud memaksa. Saya tidak bisa pergi dari sini sebelum nona menerima hadiahnya dan sebelum semua hadiah ini sampai di dalam rumah," kata pria paruh baya itu dengan tubuh gemetar.
Orang penting macam apa yang membuat tuan ini ketakutan?
Liliana menatap pria paruh baya itu dengan iba. "Kalau begitu, katakan siapa pengirimnya!"
Pria itu memberikan sepucuk surat pada Liliana. "Saya hanya menerima ini dari pengirimnya,"
Liliana mengambil surat itu dan membuka suratnya. Dia membaca surat itu dengan seksama, ada cap istana didalam suratnya.
__ADS_1
Cap istana? Jangan-jangan..
Gadis itu membuka matanya lebar-lebar, mulai membaca suratnya dari atas.
Salam, selamat pagi Lily si kucing galak. Ini aku Maximilian Gallan Istvan, nama asliku. Maaf aku baru memperkenalkan diriku pada kesempatan kali ini. Mulai sekarang kau bisa memanggilku Max. Maaf karena sudah membohongimu tentang identitasku sebelumnya.. semua hadiah untukmu permintaan maafku padamu, aku masih belum bisa membuktikan apa ingin aku buktikan. Aku masih sibuk dengan masalah di istana. Jadi aku masih belum bisa menemuimu.
"Bodoh amat, aku tidak peduli mau kau ada masalah atau tidak!" keluh Liliana sambil membaca suratnya. Semua pengawal disana menatap Liliana dengan bingung.
Liliana melanjutkan lagi membaca surat dari Max.
...Terimalah hadiah dariku, kalau kau tidak menerimanya. Maka orang yang menyerahkan surat ini dan membawa hadiah, akan menerima akibatnya....
...Salam cinta dari Maximilian ❤️...
"Cih! Dasar gila! Dasar pemaksa!" Liliana meremas surat itu dengan gemas. Wajahnya memerah, kedua alisnya terangkat. Dia sangat kesal dengan Max.
Disisi lain Daisy dan pelayan lainnya keheranan melihat Liliana yang terlihat marah. Mereka bertanya-tanya hadiah dari siapa yang membuatnya marah. Tapi Adrian malah senyum-senyum, sepertinya dia tau hadiah iy dari siapa.
"Nona.. bagaimana?" tanya si pria paruh baya itu pada Liliana yang sedang kesal itu.
Melihat tatapannya yang tidak berdaya. Mana mungkin aku membiarkan mereka jadi korban, maka aku akan berdosa.
Gadis itu menghela napas dan menariknya dalam-dalam, dengan pasrah Liliana meminta mereka memasukkan semua hadiah dari Max ke dalam rumah.
Lemari, sofa, perhiasan, baju-baju, sepatu dan barang-barang lainnya di angkut ke dalam rumah mewah itu oleh si pengirim barang dan beberapa pengawal di kediaman Duke Geraldine.
Hadiah itu membuat kegaduhan disana, para pelayan dan pengawal mulai bergosip tentang siapa yang mengirimkan hadiah pernikahan untuk nona mereka. Saat ditanya siapa orangnya, Liliana menjawab bahwa dia tidak tahu. Jika dia menjawab pengirimnya adalah putra mahkota yang semalam diketahui semua orang baru saja bertunangan, maka akan menjadi masalah besar.
Dan dikira sana, rumor dan juga gosip mulai berseliweran dimana-mana. Tentang putra mahkota dan Julia Amoria Norton yang akan melangsungkan pertunangan. Ada juga gosip yang mengatakan bahwa pemilihan putri mahkota akan dilaksanakan lebih dulu.
Liliana melihat dari surat kabar tentang Julia. Gadis yang dulu dia kenal dimasa lalu sebagai gadis sombong ratu sosialita. Sama seperti Adara.
"Kenapa hatiku tidak nyaman melihat berita ini? Jelas saja dia adalah wanita cantik, berbudi pekerti luhur, berasal dari keluarga Duke. Jika sudah ada berita seperti ini, dia pasti akan menikah dengannya bukan? Lagipula keluarga kerajaan identik dengan pernikahan politik untuk memperkuat kerajaan.. tapi kenapa hatiku.." Liliana memegang dadanya yang terasa sesak tanpa alasan jelas. Dia sakit hatinya melihat berita tentang pertunangan putra mahkota di dalam surat kabar, meski dia tau itu tidak benar.
Tanpa Liliana sadari ada sebuah sinar berwarna hitam dibelakang tubuhnya.
...*****...
Di istana kerajaan, Ratu Freya dan pengawal setianya sedang berbicara di lorong istana Ratu. Pengawal setia sang Ratu bernama Kyle.
"Apa yang kau temukan tentang putra mahkota? " tanya Ratu Freya.
"Ini informasinya yang mulia," Kyle langsung menyerahkan sebuah dokumen pada ratu.
Ratu Freya membuka dokumen itu, dia melihat isinya. Disana ada gambar Liliana juga informasi tentang dirinya. "Putri angkat Duke Geraldine? Apa kau yakin dia adalah orangnya?" tanya Ratu Freya sambil menatap tajam pada Kyle.
"Benar yang mulia. Bahkan hari ini ada yang melaporkan kalau yang mulia putra mahkota mengirim banyak hadiah ke mansion Duke Geraldine,"
"Heh! Kau sangat ceroboh Maximilian," ucap Ratu Freya dengan senyuman sinis dibibirnya.
...*****...
__ADS_1