Second Life Liliana

Second Life Liliana
Bab 125. Segel


__ADS_3

...🍁🍁🍁...


Duke Geraldine menghampiri anaknya yang sedang duduk diatas kursi sambil menangis.


"Lily, jangan menangis nak. Kau tidak berhasil menangisi yang mulia putra mahkota. Pria yang sudah melukai hatimu."


"Ayah...tolong jangan memprovokasiku. Aku yakin, yang mulia punya alasan kenapa dia memutuskan hubungan dengan ku." Liliana tetap membela Max yang kini sudah menjadi orang asing, bukan suaminya lagi.


"Apapun alasannya, tidak seharusnya dia melukai hatimu Lily! Dia mengkhianati kepercayaan ayah padanya, untuk menjaga dan selalu membuatmu bahagia. Dia mengingkarinya dan ayah tidak bisa memaafkannya. Apapun itu alasannya!!"


"Ayah..." Liliana menatap ayahnya yang terlihat marah. Gadis itu mengusap air mata di pipinya sendiri.


"Ayah tidak akan menerima yang mulia putra mahkota menjadi menantu ayah lagi, jika suatu saat nanti dia memintaku kembali padanya." Duke Geraldine sakit hati. Terlalu dalam luka yang ditorehkan Max pada Liliana, walau dia tau alasan kenapa Max melakukannya. Tidak seharusnya Max menceraikan Liliana.


Padahal mereka bisa melaluinya bersama. Tapi putra mahkota memilih jalannya sendiri. Dia sudah melukai Lily.


Ketika Liliana sibuk mengobati orang yang terluka dan menolong orang-orang. Max, Raja dan Duke Geraldine kembali ke medan pertempuran yang masih berlangsung.


Berada didalam hati yang galau, Max berusaha menguatkan dirinya untuk melawan saudaranya sendiri. Kekuatan Max bertambah banyak setelah dia mendapatkan setengah kekuatan Raja.


Sebelum berduel dengan saudaranya, Max bicara dengan pendeta agung dan Raja. "Yang mulia, anda harus tau sesuatu tentang Raja iblis."


"Apa itu? Katakan!"


"Iblis adalah mahluk ciptaan Tuhan juga, dia tidak akan musnah sampai hari kiamat tiba. Sama halnya seperti manusia, kehidupan mereka akan berakhir ketika hari kiamat. Jadi, yang mulia tidak akan bisa memusnahkannya." jelas pendeta agung pada Max.


"Lalu, apa yang harus aku lakukan untuk menghentikannya jika aku tidak bisa memusnahkannya?" Max bertanya dengan kening berkerut.


"Kau bisa menyegelnya. Putra mahkota, aku punya sesuatu yang mungkin bisa membantumu." Raja tiba-tiba teringat sesuatu.


"Apa itu?"


Raja menyerahkan sebuah permata kecil berwarna putih pada Max. Raja mendapatkan permata itu dari Brietta. Dan Brietta mengatakan bahwa permata itu bisa membantunya menyegel Lucifer. Max mengerti, dia akan mencoba sebisa mungkin untuk menyegel Lucifer walau dia harus musnah bersama Lucifer.


Max menemui Lucifer sendirian ditengah kota yang sudah hancur bak antah berantah itu dengan berani. Dia mengajak saudara kembarnya berduel.


"Lucifer, sebelum aku memusnahkanmu. Aku akan memberimu pilihan! Menyerah lalu kembali ke tempat asalmu, atau aku sendiri yang akan mengusirmu dari sini." Jelas Max dengan tegas kepada saudaranya itu.


"Sombong sekali kau. Hanya manusia rendahan saja, berani membuat negosiasi denganku?" Lucifer meremehkan Max.


"Kau lupa ya? Aku bukan hanya manusia biasa, didalam tubuhku mengalir darahmu juga. Julukan ku adalah iblis medan perang....."


Max menyerang Lucifer dengan api yang ada didalam tubuhnya. Dia membuat Lucifer terjatuh oleh api itu. Lucifer mendengus marah, dia melawan balik serangan dari Max.


"Kau akan kalah dariku yang mulia putra mahkota yang terhormat! Manusia tetaplah manusia dan mereka akan tetap lemah!!" Lucifer tersenyum menyeringai, tangannya masih menyerang Max dengan kekuatan iblisnya.


Sayap hitam dan tanduk merah yang muncul di tubuhnya, membuat Lucifer semakin kuat. Dia membuat langit itu hujan dengan darah.


Semua orang di kerajaan itu panik dengan hujan darah yang terjadi pada dini hari itu. Langit juga masih gelap gulita oleh kekuatan kegelapan Lucifer.


"Aku tidak akan membiarkan kalian para manusia matahari terbit lagi! Hiduplah dalam kegelapan selamanya.. Hahaha.." Lucifer tertawa lepas dengan keadaan disekitarnya.


Mata Max berubah memerah dan menyala, dia mengarahkan kekuatan paling maksimal untuk menyerang Lucifer, "Tidak, Lucifer. Kau lah yang tidak akan terbit lagi! Binasalah kau wahai iblis terkutuk!"

__ADS_1


Kedua pria kuat dan bersaudara itu saling adu kekuatan. Raja dan yang lainnya melihat pertarungan sengit itu.


Liliana juga melihat pertarungan itu dari jauh. Dia hanya bisa mendoakan agar Max baik-baik saja dan bisa mengalahkan Lucifer.


Cahaya terang berada ditengah-tengah pertarungan itu yang entah datang darimana. Tubuh Max penuh dengan luka-luka, tangannya yang dipakai untuk menggunakan sihir juga terbakar. Wajahnya penuh keringat karena tenaganya sudah hampir terkuras habis.


Di dalam cahaya itu muncul seorang wanita cantik berambut pirang dan panjang. Wanita cantik itu memiliki mata berwarna biru. "Maximilian putraku.." wanita itu memanggil Max, bibirnya tersenyum tipis.


Deg!


Lucifer dan Max tersentak kaget mendengar suara wanita cantik itu. Dia menatap Max penuh kasih sayang.


Lucifer tercengang melihat sosok wanita yang berada dalam cahaya. Wanita yang berada disamping Max.


"Ibu..." Max memanggil wanita cantik itu dengan nama ibu. Dia menatapnya dengan mata berkaca-kaca.


Ibu?. Batin Lucifer terluka. Dia tak pernah merasakan kasih sayang seorang ibu.


Rosabella?. Batin Raja terkejut melihat sosok istri pertamanya yang sudah tiada. Air matanya mengalir deras.


"Maximilian anakku. Ibu akan membantumu," bisik Rosabella pada Max.


Roh Rosabella mendekati Lucifer, wanita itu tersenyum dan meraih pipi Lucifer. Mata si iblis itu melebar menatap Rosabella. "Apa kabar anakku?" tanya Rosabella penuh kelembutan.


Tangan Lucifer perlahan terkulai, dia tidak berdaya di depan kelembutan wanita itu. "Maukah kau ikut dengan ibu?"


"Kau..." Lucifer terpana hatinya melihat Rosabella.


"Kita belum pernah bertemu sebelumnya, kan?" tanya Rosabella sambil tersenyum.


Sayangnya!


Lucifer kembali fokus dan menyerang balik Max dengan kekuatan terbesar yang diiringi dengan amarah. "Brengsek!!"


"Tidak!" Teriak Liliana, Raja tercengang melihat sinar merah itu mendekati Max.


Wushhh~~


Raja berdiri didepan dan melindungi Max dengan tubuhnya. "Ayah!!" sang Raja berada dipangkuan ayahnya.


"Maximilian!" Liliana tidak tahan lagi, dia berlari dari tempat persembunyian dan menghampiri Max.


Raja mengatakan pada Max untuk menyegelnya sekarang. "Baik ayah, ayah tunggu disini.." ucap Max sambil membaringkan ayahnya di atas tanah. Dia kembali menyegel Lucifer dibantu oleh pendeta agung.


Sang Raja terbaring tidak berdaya, setengah tubuhnya sudah menjadi abu. Hanya tinggal badan atasnya saja. "Rosabella.."


"Yang mulia.." Roh Rosabella menatap Raja dan duduk disampingnya yang sedang sekarat.


"Rosabella... istriku. Apa kau datang kemari untuk menjemputku?" tanya Raja dengan air mata membasahi pipinya.


Rosabella hanya tersenyum lembut, dia memegang tangan Raja dengan erat.


"Bawa aku bersamamu.. Rose..." lirih sang Raja pada wanita yang bukan manusia itu.

__ADS_1


Liliana dan Duke Geraldine didekat Raja, dan mereka duduk disamping Raja. "Yang mulia Raja!"


"Putri mahkota, kau ada disini?" Raja memegang tangan Liliana.


"Yang mulia!" Duke Geraldine cemas melihat keadaan Raja.


"Yang mulia, saya akan panggilkan tabib untuk menolong anda." ucap Liliana sambil beranjak berdiri. Tapi Raja menahan tangannya.


"Tidak....jangan pergi, waktuku sudah dekat. Aku ingin kau dengarkan aku baik-baik,"


"Ya yang mulia.."


"Putri mahkota.." lirih sang Raja memanggil Liliana.


"Saya bukan putri mahkota lagi, yang mulia." perih hati wanita itu karena dirinya bukanlah putri mahkota ataupun istri dari Maximilian. Dia yang sekarang hanyalah Liliana Eissa Geraldine.


"Aku mohon padamu, setelah aku tiada.. tolong jaga putraku. Hanya kau satu-satunya yang bisa mengendalikan Maximilian, dia mencintaimu..sangat....dia punya alasan kenapa dia melakukan semua ini. Anak itu dia tidak bermaksud untuk menyakitimu. Kumohon....jagalah dia.. baik-baik, jaga juga Laura dan kstaria itu dari Ratu. Aku ingin cucu pertamaku lahir dengan selamat, tolong bantu aku mewujudkannya putri mahkota." pinta Raja sambil menatap Liliana penuh harapan.


Liliana dan Duke Geraldine tersentak kaget mendengarnya. Raja tau bahwa Laura sedang hamil dan dia ingin bersama dengan Eugene.


Disisi lain Max sudah berhasil menyegel Lucifer didalam batu permata berwarna putih itu. Hingga batu permata berubah warna menjadi merah. "Yang mulia, anda harus menyimpan ini baik-baik."


"Pendeta agung, aku tidak bisa menyimpannya. Lebih baik kau saja yang simpan, aku titipkan batu segel permata ini padamu." ucap Max sambil menyerahkan batu pertama itu pada pendeta agung.


"Saya akan menerima titah yang mulia," jawab pendeta agung sambil menyimpan batu permata yang kecil itu di dalam kantungnya.


Langit kembali cerah, hari itu sudah pagi. Matahari kembali bersinar menyambut hari yang baru di kerajaan itu. Para iblis menghilang bersamaan dengan hilangnya Lucifer. Semuanya telah usai.


Kemudian Max menghampiri Raja yang sedang sekarat. Sebelum raja menutup mata, dia menyatukan tangan Liliana dan Max tanpa bicara sepatah katapun.


Raja telah meninggalkan dunia ini. Jenazahnya dibawa ke istana. Max terlihat sedih karena sang ayah meninggal demi menyelamatkannya. Liliana masih berada di istana karena dia berencana menjalankan amanat Raja.


Semua orang belum tau jika Liliana dan Max sudah bercerai. Setelah perceraian itu hubungan Max dan Liliana menjadi dingin. "Lily, terimakasih kau sudah membantuku."


"Yang mulia jangan salah paham, saya tidak membantu anda. Saya hanya menjalankan amanat dari mendiang Raja. Setelah ini saya akan segera meninggalkan istana," ucap Liliana dengan bahasa yang formal, tanpa menatap ke arah Max.


"Putri mahkota kenapa kau seperti ini?"


"Yang mulia, tolong jangan melemparkan pertanyaan pada saya seperti ini. Karena anda sudah tau jawabannya." Liliana masih menundukkan kepalanya didepan Max.


"Liliana..."


"Jangan panggil saya seperti itu. Karena hati saya terluka, ketika anda memangil nama saya." ucap Liliana sambil tersenyum pahit. Wanita itu memakai pakaian serba hitam, tentu saja karena hari itu adalah hari pemakaman Raja.


Hari berkabung untuk semua rakyat kerajaan Istvan yang kehilangan Raja mereka, kehilangan keluarga mereka.


"Yang mulia, semua orang sudah menunggu anda." Ucap Eugene sambil menundukkan kepalanya. Dia melirik sekilas ke arah Liliana yang terlihat sedih.


Katanya putra mahkota dan putri mahkota sudah bercerai. Lalu aku harus memanggil putri mahkota dengan panggilan apa?


"Kau sedang terluka, tidak baik banyak bergerak. Aku akan segera pergi kesana, putri mahkota.. ayo.." saat Max akan memegang tangan Liliana.


Wanita itu menghindar, wajahnya terlihat dingin. "Saya bisa jalan sendiri, yang mulia."

__ADS_1


...----*****----...


__ADS_2