Second Life Liliana

Second Life Liliana
Bab 93. Nikah dadakan


__ADS_3

...πŸ€πŸ€πŸ€...


Izin sudah didapat dari Duke Geraldine untuk pernikahan putrinya. Waktu hanya tinggal beberapa jam lagi menuju matahari terbenam.


Duke Geraldine tak menyangka bahwa dia akan menyerahkan putrinya pada seorang pria dengan cara seperti ini. Itu pun dengan pria yang tidak dia sukai. Setelah pernikahan sudah diputuskan, Raja dan Ratu juga setuju dengan pernikahan dadakan itu.


Dengan serba mendadak dan seadanya, Max berganti pakaian dengan setelan jas putih. Liliana juga didandani memakai gaun putih yang melambangkan sucinya pernikahan.


Beberapa menit sebelum pernikahan akan dilangsungkan, Duke Geraldine mengatakan bahwa dia ingin bicara berdua dengan Max di tempat Liliana berada. Kini pria paruh baya itu berhadapan dengan putra mahkota kerajaan Istvan. Dia menatap tajam ke arah calon menantunya itu.


"Tuan Duke, apa yang ingin anda bicarakan pada saya?"


"Seharusnya itu pertanyaan saya pada anda yang mulia. Apa tidak ada yang ingin Anda sampaikan kepada saya? Tidak lama lagi anda akan menjadi suami dari putri saya dan menantu saya," ucap Duke Geraldine dengan menajamkan pandangannya pada Max.


Max tercekat mendengar ucapan Duke Geraldine kepadanya. Apa maksud dari pertanyaan ini adalah persetujuan Duke Geraldine terhadap hubungannya dan Liliana?


Putra mahkota itu tersenyum, "Saya akan menjadi suami yang baik untuk putri anda dan juga menjadi menantu terbaik untuk tuan Duke. Saya berjanji, saya tidak akan memiliki wanita lain disamping saya. Hanya ada Liliana yang akan menjadi istri dan putri mahkota di kerajaan ini. Saya bersumpah demi dewa matahari!" Max berkata dengan sungguh-sungguh sambil mengangkat tangannya ke atas.


Dan tentu saja, hanya Liliana satu-satunya ratu di hatiku.


Duke Geraldine menghela nafas,"Yang mulia.. anda tau kan bahwa sebenarnya saya tidak setuju dengan pernikahan ini. Saya melakukannya demi menyelamatkan anak saya, tapi karena anda akan menjadi menantu saya.. maka anda harus mengikuti aturan saya. Saya menginginkan menantu yang setia dan hanya mencintai anak saya seumur hidupnya. Saya ingin menantu yang bisa melindungi anak saya. Dan tentunya yang mulia harus berjanji didepan dewa matahari dan sang dewi cinta untuk janji sehidup semati ketika menikahi anak saya, jika anda tidak sanggup...anda bisa mundur sekarang,"


Duke Geraldine memperingatkan Max aturan dan janji apa saja yang harus dilakukan olehnya. Max tentu saja setuju, dia akan melakukan semua keinginan Duke Geraldine. Bahkan dengan janji darah sekalipun, janji yang tidak bisa diingkari dan tetap terikat sampai mati.


Ketika pasangannya berselingkuh, maka yang berselingkuh akan merasakan kematian menyakitkan karena melanggar sumpah pada dewa.


"Tuan Duke, saya akan melakukan sumpahnya. Apapun yang anda inginkan.." ucap Max sambil tersenyum tipis, matanya terlihat tajam penuh tekad. Dia ingin menikahi Liliana, baginya hal ini seperti jalan pintas.


"Aku ingin kau menepati janjimu, jika kau membuat Lily ku menangis. Kau akan menerima akibatnya," ucap Duke Geraldine mengancam calon menantunya itu.


"Baik tuan duke, jika suatu saat nanti saya membuat putri anda menangis. Saya siap menyerahkan kepala saya," ucap Max sopan pada Duke Geraldine.

__ADS_1


Setidaknya tuan Duke sudah mulai memercayai ku. Tenang saja, aku tidak akan mengecewakanmu. Aku pasti akan menjaga Liliana sesuai janjiku.


Duke Geraldine menatap pria itu dalam dalam. "Semoga saya tidak salah memilih yang mulia sebagai suami putriku," ucap Duke Geraldine.


"Aku tidak akan membiarkan anda mengeluh tuan Duke," ucap Max sambil tersenyum penuh percaya diri. Bahwa dia akan membuat Liliana bahagia setelah dia kembali.


Setelah pembicaraan mendalam itu, pendeta agung beserta Raja, Ratu dan Laura masuk ke ruangan itu untuk menyaksikan pernikahan Max dan Liliana.


Dalam hatinya Max merasa sayang karena harus menikah dengan Liliana dengan cara seperti ini dan pernikahannya diadakan secara tertutup juga sederhana. Max berjanji dalam hatinya, setelah Liliana sadar dia akan mengadakan pesta pernikahan megah untuk gadis itu.


Tubuh Liliana yang tidak bernyawa dan memakai gaun pengantin itu, di dudukkan pada ujung ranjang. Duke Geraldine memeganginya.


"Baiklah, saya akan memulai prosesi pernikahan ini. Yang mulia putra mahkota, Maximilian Gallan Istvan... apa anda bersedia menjadi suami dari Liliana Eissa Geraldine?" pendeta agung langsung bertanya pada intinya


tanpa berbasa-basi.


Max mengambil napas dalam-dalam dia langsung menjawab Ya dengan cepat dan penuh percaya diri.


"Apa yang mulia putra mahkota berjanji akan selalu mencintai, menjaga dan setia kepada nona Liliana?" tanya pendeta agung selanjutnya.


Duke Geraldine, Raja dan Ratu melihat ke arah pria yang baru saja mengucap sumpah pernikahan itu. Tiba-tiba saja sebuah cahaya muncul dari tubuh Liliana.


Semua orang disana tercengang melihatnya. Cahaya dari tubuh itu tak berlangsung lama dan langsung menghilang setelah sumpah pernikahan selesai. Cahaya itu seolah menandakan bahwa Liliana setuju dengan pernikahan ini.


Jadi kakak sudah resmi menikah dengan nona Liliana?. Laura menatap kedua pasangan yang baru saja menjalani sumpah pernikahan.


Walaupun pernikahan itu dijalani dengan hambar dan tidak meriah, hanya dihadiri beberapa orang saja. Tapi, pernikahan itu tenang dan sakral.


Tidak kusangka, aku akan menikah denganmu, dengan cara seperti ini.


Setelah itu Max mengambil belati, dia mengiris sedikit jarinya hingga keluar darah. Dia meneteskan darah itu ke dalam baskom. Disisi lain Duke Geraldine juga mengiris sedikit jari anaknya. Dia meneteskan darah Liliana pada baskom, baskom yang sama berisi darah Max didalamnya.

__ADS_1


Kedua darah itu telah bersatu. Max dan Liliana telah menjadi suami istri, juga satu keluarga.


Tidak kusangka, si anak sombong ini berani melakukan sumpah darah. Dasar anak bodoh, kalau kau melakukan sumpah seperti ini...dimasa depan kau tidak akan bisa menikah lagi atau bahkan berselingkuh sekalipun. Batin Ratu sambil melirik sinis ke arah Max.


"Yang mulia, sekarang gunakan Mana anda untuk melakukan meditasi. Sebelum itu berbaringlah disebelah nona Liliana." Titah pendeta agung pada Max.


Max patuh, dia langsung berbaring disamping istrinya. Kemudian pendeta agung meminta semua orang pergi dari ruangan itu, karena dia akan mengunakan kekuatannya untuk membawa Liliana kembali.


"Apa saya juga harus pergi keluar?' Tanya Duke Geraldine yang masih tetap ingin berada disana.


"Maafkan saya tuan Duke, anda juga harus pergi dari sini." Kata pendeta agung dengan berat hati.


"Baiklah. Yang mulia putra mahkota.."


"Anda bis memanggil saya menantu," Max memotong ucapan ayah mertuanya.


"Me-menantuku, tolong bawa Liliana kembali dengan selamat. Aku mohon kepadamu.." ucap Duke Geraldine seraya memohon pada menantunya itu.


Max tercekat bahagia mendengar Duke Geraldine memanggilnya dengan menantu, "Tenang saja ayah mertua, saya akan membawa istri saya kembali.." ucap Max sambil tersenyum.


"Lily, anakku.. cepatlah kembali. Ayah menunggumu, nak." Duke Geraldine mengecup kening Liliana dengan penuh kasih sayang.


Kemudian pria paruh baya itu keluar dari sana. Hanya tinggal pendeta agung, Max dan Liliana di ruangan itu.


"Yang mulia, saya akan membawa anda ke ruang dimensi. Saya akan menuntun anda dengan suara dan disana anda akan menemukan nona Liliana. Bawalah dia kembali dengan selamat dari ruang dimensi lain itu.."


"Baik, aku mengerti." Max mengangguk.


"Fokus..dan tutup..mata anda yang mulia.." Pendeta agung itu menyentuh tangan Max dan Liliana lalu menyatukannya.


Max menutup matanya.

__ADS_1


...----*****----...


Dan apa yang terjadi selanjutnya? Oh bersambung dulu ya πŸ₯ΊπŸ˜‚


__ADS_2