Second Life Liliana

Second Life Liliana
Bab 178. Harus berjuang dulu


__ADS_3

...🍀🍀🍀...


Laura menatap pria yang ada di depannya itu dengan tajam, wajahnya nampak kesal. Sementara Eugene, dia hanya mengeluarkan ekspresi datar seperti biasanya.


Alasan yang menjadikan Laura marah adalah karena Eugene sudah menjadi kekasihnya, namun semenjak mereka saling menyatakan cinta satu sama lain. Eugene tidak pernah menemui lagi Laura sejak saat itu, dengan alasan sibuk. Ya, Laura tahu bahwa pekerjaan kekasihnya itu tidaklah enteng.


Dia mendapat kepercayaan untuk menjaga putra mahkota kerajaan Istvan, bahkan ia selalu mengikuti kakak tirinya ke manapun Kakak tirinya pergi. Awalnya Eugene adalah pengawal pribadi Laura, namun sang ratu tiba-tiba saja memindahkannya menjadi pengawal pribadi Maximilian. Ratu tau bahwa ada sesuatu diantara Putri tercintanya dengan pengawal setia, alias ketua dari Ksatria black night.


"Apa kau menganggap diriku ini begitu mudah untukmu? Kita sudah saling mengatakan perasaan kita satu sama lain, tapi kenapa kau seperti seolah menghindar dariku? Apa mungkin ada sesuatu yang mengganggumu?"


Laura adalah tipe orang yang blak-blakan dan mudah mengutarakan perasaannya atau apa yang ada di dalam pikirannya, entah itu berupa pertanyaan ataupun spekulasi yang ada di dalam pikirannya. Laura tidak suka memendam perasaan. Itulah Laura yang sekarang, karena Laura yang dulu lebih suka memendam perasaan.


Mendengar Laura melontarkan pertanyaan seperti itu kepadanya, membuat pria itu mendongak seraya menatap Laura. "Eugene! Aku memintamu datang kemari bukan sebagai ksatria pengawal kakakku, tapi sebagai kekasihku. Taukah kau? Betapa aku merindukanmu saat kau pergi jauh dariku, Aku khawatir terjadi sesuatu padamu di medan perang sana. Tapi... sepertinya kau tidak pernah memikirkanku apalagi merindukanku. Kau anggap apa aku ini?!" Laura mendesis kesal kepada Eugene yang selama di medan perang tidak pernah mengabarinya. Setiap surat yang dikirimkan Laura kepada Eugene tidak pernah mendapat balasan.


"Maafkan saya yang mulia, saya--"


~Chu


Eugene terdiam, manakala bibir Laura menyatu dengan bibirnya walau hanya sekilas. Eugene terpana melihat gadis itu. Disisi lain dia resah, takut ada yang melihat apa yang mereka lakukan di sana. "Yang mulia,"


"Eugene...kenapa kau tidak membalas semua surat yang aku kirimkan padamu? Apa kau ingin putus denganku setelah kita menjalin hubungan? Kau bilang, kau tidak akan menyerah padaku!" Laura menatap pria itu dengan mata berembun. Tangannya memegang baju Eugene dan menariknya.


"Surat? Maaf yang mulia, surat apa?" Tanya Eugene tidak paham.


"Kau benar-benar tidak tahu? Selama kau pergi ke medan perang bersama kakakku, aku selalu mengirimkan surat padamu. Tapi tidak ada satupun balasan suratku darimu!" Ungkap Laura menjelaskan bahwa selama ini dirinya selalu mengirimkan surat kepada Eugene.


Eugene terdiam sejenak, lalu dia melihat ke arah Laura.


Apa Ratu yang menahan semua surat itu?


"Eugene! Jawab aku, Kenapa kau tidak membalas semua suratku?"


"Bagaimana bisa saya membalas surat yang bahkan tidak pernah saya terima?"


Kening Laura mengerut, matanya memicing menatap Eugene seolah tak percaya dengan apa yang dikatakannya. "Kau... tidak pernah menerima surat dariku?" Tanya Laura mulai meragu. Padahal ia yakin bahwa surat itu telah sampai kepada Eugene lewat burung pengirim pesan.


Pria itu menggelengkan kepala dengan yakin. "Saya tidak pernah menerima suratnya yang mulia."


"Ibu...sudah pasti ibu yang melakukannya!" Gumam gadis itu kesal pada Freya, ibunya. Ratu penguasa kerajaan Istvan itu.


"Syukurlah," Terlihat senyuman mengembang indah di bibir Eugene.


"Kau bilang apa?"


"Syukurlah, karena selama 3 tahun kita bertemu...anda baik-baik saja." Tersirat Ada kerinduan di mata pria itu kepada Laura. Melihat tatapan Eugene kepadanya, membuat Laura yakin bahwa pria itu memang memiliki rasa yang sama dengannya.


Ya, mereka saling mencintai. Namun status sosial, derajat memisahkan mereka. Eugene berasal dari rakyat biasa yang tidak memiliki status apa-apa, sedangkan Laura posisinya adalah seorang putri kerajaan. Sungguh status yang bagaikan langit dan bumi.


"Kau...apa kau juga merindukanku sama seperti aku merindukanmu?" Tatap Laura penuh harap kepada pria itu.


"Bohong, kalau saya jawab tidak."


Laura tersenyum manis, kemudian dia memeluk Eugene dengan penuh kerinduan. Eugene belum membalas pelukannya, ia takut kalau ada seseorang yang memperhatikan mereka berdua. Apalagi orang dari fraksi Ratu.


"Yang mulia..." lirih Eugene yang ragu ketika akan membalas pelukan Laura.


"Eugene, aku mencintaimu...aku merindukanmu. Aku senang sekali bisa bertemu denganmu lagi, apalagi sekarang kau terlihat lebih tampan." Gadis itu terkekeh usai memuji ketampanan Eugene.


Tanpa sadar Eugene tersenyum, dia membiarkan gadis itu memeluknya.


Ya Tuhan, bagaimana nasib hubungan kami ke depannya? Aku rasa, aku dan tuan putri tidak ada masa depan.


Dalam hati Eugene meragukan dirinya sendiri, ia tau bahwa hubungannya dengan Laura adalah terlarang. Dalam hal status, kedudukan, mereka sebaiknya tidak bisa bersama. Tapi, akan tetapi cinta di antara mereka sudah tumbuh begitu kuat. Tentu saja kuat, karena Laura dan Eugene sudah saling mencintai sejak mereka masih kecil.


Namun sayangnya, Eugene diperintahkan oleh mendiang sang raja untuk pergi ke medan perang bersama Max. Sejak saat itu, Laura dan kekasihnya jarang bertemu.


"Eugene, apa kau tidak akan memelukku? Kau...tidak rindu padaku?" Laura mendongakkan kepalanya, ia menatap wajah Eugene yang terlihat bingung itu.


"Aku tau Eugene, aku tau kau seperti ini karena kau takut akan hubungan kita, seperti apa masa depannya dan apakah akhir untuk kita? Tapi, aku sama sekali tidak peduli akan hal itu Eugene. Yang aku tau, aku mencintaimu!"


Perkataan Laura yang berasal dari lubuk hatinya yang terdalam, membuat pertahanan di hati Eugene mulai runtuh karenanya. Padahal hari ini dia berencana untuk memutuskan hubungan cinta di antara mereka, karena ia tau akan bagaimana akhirnya hubungan mereka berdua.


Tidak, Eugene kau tidak boleh luluh. Kau harus tetap pada keputusanmu untuk berpisah dengan Putri Laura.


"Yang mulia, saya ingin membicarakan sesuatu dengan--"


Laura satu jari telunjuknya di bibir Eugene, gadis cantik rambut perak itu menggelengkan kepalanya. "Ssstt....tidak Eugene, Aku tidak mau mendengarmu bicara. Saat ini, biarkanlah aku yang bicara dan kau harus mendengarkannya!" Ujarnya tegas.

__ADS_1


Eugene... setiap melihat matamu yang seperti ini, aku tau kau ingin putus denganku. Tapi... aku tidak akan pernah mewujudkan semua keinginanmu itu.


"Yang mulia..."


"Eugene, aku minta kau untuk diam!" Laura melepaskan pelukannya dari Eugene.


Eugene menutup mulutnya rapat-rapat, ia emang selalu dibuat tak berdaya oleh gadis itu. "Eugene, aku akan selalu memperjuangkan cinta kita. Jadi, kumohon kau juga harus melakukan hal yang sama denganku. Jangan pernah menyerah atas diriku, aku... akan membicarakan hal ini kepada ibuku." Laura telah memikirkan hal ini sejak lama, agar hubungan ini tetap berlanjut. Maka Laura harus mengatakan kebenaran kepada ibunya, bahwa ia mencintai Eugene.


Sontak saja Eugene terbelalak mendengar ucapan Laura yang akan mengatakan hubungan mereka kepada sang ratu. "Yang mulia...apa yang akan anda lakukan? Mengapa yang mulia..."


Laura memegang tangan yujin seraya menatapnya dengan mata yang mengembun. "Eugene, ini sudah keputusan terakhirku. Aku... tidak bisa hidup tanpamu. Aku mohon, kau juga harus--"


Raut wajah cantik penuh harapan itu, kini terlihat kecewa. Ia melepas pegangan tangannya dari Laura. "Yang mulia, Saya sudah pernah mengatakannya kepada yang mulia. Bahwa hubungan kita ini tidak akan berakhir baik. Yang mulia tuan putri sendiri tahu itu kan? Bagaimana bisa saya yang seorang rakyat biasa mengharapkan cinta dan sebuah hubungan dengan seorang putri Raja?"


"Jadi... kau ingin menyerah dengan hubungan kita?" Tanya Laura kecewa.


"Yang mulia, sejak awal hubungan kita ini sudah salah. Mau berjuang seperti apapun, hasilnya kita tetap akan berpisah!" Kata Eugene tegas.


Maafkan aku putri Laura, aku harus melakukan ini.


Laura mendesah, bulir-bulir air mata mulai jatuh membasahi pipinya. Tangannya terkepal kuat. "Kau tidak akan tahu akhirnya sebelum kau berjuang!"


"Berjuang? Apa yang bisa saya perjuangkan untukmu, yang mulia? Uang? Status? Kekayaan? Saya tidak bisa memberikan semua itu untuk yang mulia! Saya, hanya seorang pria biasa yang ingin hidup dengan tenang. Jadi, tolong jangan ganggu saya lagi!"


Laura tidak bisa menahan tangisnya, sakit hatinya saat Eugene ternyata memilih menyerah. Walupun ia sudah tahu bahwa pria itu, berulang kali ingin mengatakan bahwa dia sudah menyerah dengan hubungan mereka. Tapi tetap saja hatinya sakit, seperti ada godam yang menghantam dadanya.


"Eugene..."


"Jika tidak ada lagi yang ingin yang mulia katakan kepada saya, saya pamit undur diri." Eugene membungkukan setengah badannya di depan putri kerajaan itu, ia bersikap formal.


Percayalah, bahwa hati pria itu juga sangat terluka mengatakan ini. Dia amat mencintai Laura, tapi dia tak mau jika cintanya ini akan menyakiti mereka berdua nantinya. Lebih baik putus dari sekarang, pada sudah berjuang namun akhirnya malah menyedihkan. Sungguh, hatinya juga sangat sakit melihat Laura menangis seperti ini. Ingin sekali ia menyeka air matanya, tapi apalah daya. Ia harus meneguhkan hati memutuskan hubungan ini.


Tanpa mereka sadari ada sepasang mata melihat dan mendengarkan mereka berbincang. Dia berdiri dibalik tiang tembok, tak jauh dari sana.


"Eugene..." Laura masih berharap dari Eugene.


Jadi mau memilih menyerah?


Eugene pergi begitu saja dari sana, meninggalkan Laura meski formatnya belum diterima oleh putri kerajaan itu. Sesuai adat dan tradisi di keluarga kerajaan, jika bawahan sedang memberikan hormat kepada keluarga raja. Dan keluarga Raja belum menerima hormat itu, maka akan ada konsekuensinya.


Suara lantang penuh kemarahan, memanggil nama lengkap ketua ksatria black night itu. Hingga membuat langkahnya terhenti.


"Kau benar-benar sangat tidak sopan kepada anggota keluarga kerajaan, aku... bahkan belum menerima hormatmu!" Tegasnya pada Eugene sambil menyeka air matanya yang sudah dari tadi terus mengalir.


Eugene membalikan badannya dan berjalan mendekat ke arah Laura. "Hormat saya yang mulia,"


Pria itu begitu formal dan dingin kepada kekasihnya, ya dia memang sengaja berlaku seperti ini karena dia ingin menegaskan hubungan di antara mereka berdua.


"Sir Eugene Ellenio Rhodes! Berdirilah di sini sambil memberikan hormat, jangan pernah duduk sampai aku menyuruhmu untuk berhenti!" Ditatapnya pria itu dengan pandangan yang tajam dan menusuk.


Kenapa kau menyakiti hatiku sampai seperti ini Eugene? Apa salahku kepadamu? Apakah sulit untuk berjuang denganku? Apa hanya aku saja yang mencintaimu dan kau tidak?


Gadis cantik itu mulai berpikir yang bukan bukan, bahwa hanya ia saja yang mencintai pria itu dan pria itu tak mencintainya.


Tak ada yang bisa Eugene lakukan selain pasrah akan keadaan, notaben ya dia memang seorang bawahan yang harus menurut kepada seorang atasan apalagi atasan itu adalah anggota keluarga kerajaan yang posisinya sangat tinggi, berbeda jauh dengan dirinya.


Ia patuh dan berdiri disana sambil menundukkan kepala seraya memberi hormat. "Bagus! Tetaplah berdiri disitu, berdiri sampai kau MATI! Ini tidak sebanding dengan rasa sakit di dalam hatiku."


Laura menunjukkan jarinya pada pria yang ia cintai, ia menangis dan marah padanya. Lalu ia pun pergi meninggalkan Eugene sendirian disana tanpa peduli pria itu masih berdiri disana atau tidak.


Eugene melirik sedikit, gadis itu ternyata benar-benar pergi meninggalkannya di sana. Dalam hati ia terus meminta maaf pada Laura karena sudah membuatnya menangis.


"Nona, keluarlah!" Ujar Eugene tiba-tiba dan mengagetkan wanita yang berada di balik tembok.


Akhirnya wanita itu keluar dari tempat persembunyiannya. Dia adalah Liliana, "Maafkan saya tuan pengawal, saya tidak sengaja melihat dan mendengar kalian bicara."


Eugene merasa tidak asing dengan suara itu. Ia mendongak sedikit ke arah Liliana. Gadis yang memakai gaun berwarna biru itu, berdiri didepannya. 'Wanita ini? Bukankah dia adalah wanita yang di kejar oleh yang mulia putra mahkota.'


"Tuan pengawal, cinta itu bukan hanya satu orang. Tapi dilakukan oleh dua orang, itulah yang namanya hubungan. Tanpa memulai usaha dan berjuang, kita tidak akan tau bagaimana akhirnya. Jangan menilai bagaimana akhir dari cinta, sebelum kau tau bagaimana rasanya berjuang."


Eugene tertohok mendengar ucapan Liliana, hatinya seperti di tusuk tusuk oleh sesuatu yang tajam.


...Jangan menilai bagaimana akhir dari cinta, sebelum kau tau bagaimana rasanya berjuang....


Itulah kata-kata yang membuat dia itu tak bisa berkata-kata. Memang dia tidak mau berjuang karena ia sudah tahu bagaimana akhir ceritanya. Tapi Liliana sepemikiran dengan Laura, bahwa yang namanya cinta harus diperjuangkan mau bagaimanapun hasil akhirnya. Yang penting sudah berjuang dan berusaha.


"Kau...apa kau kesini mencari yang mulia?" Tanya Eugene mengalihkan pembicaraan. Ia tak mau membicarakan masalah asmaranya dengan Laura pada Liliana.

__ADS_1


Kenapa wanita ini ada di sini? Apa dia kemari untuk menemui yang mulia putra mahkota?


"Yang mulia? Maksud tuan adalah Maximillian?"


"Nona, mohon jaga bicaramu! Disini istana! Jika kau memanggil yang mulia dengan panggilan seperti itu, yang ada kau akan dihukum berat." Eugene menatap tajam dan serius ke arah Liliana.


"Benarkah? Apa dia benar-benar seorang calon raja?" Gadis itu masih saja polos, tidak percaya bahwa Max adalah raja. "Ah...lupakan soal itu. Apa kau baik-baik saja tuan?" Tanya Liliana cemas melihat Eugene masih berdiri tegak.


"Aku baik-baik saja, lalu kenapa nona ada disini?!"


"Oh aku--"


"Liliana! Kau dari mana saja? Sudah dari tadi aku dan Keyra mencarimu." Kata Chloe sambil menghampiri Liliana.


"Wah... akhirnya kau menemukanku, maaf Chloe...aku tersesat. Hehe.." ucap gadis itu sambil terkekeh pelan.


"Ayo kita pergi! Kita harus segera mengikuti pelatihan dayang," ucap Chloe yang langsung menarik Liliana untuk segera pergi dari sana. Dia bahkan tak sempat menyapa Eugene yang masih stay berdiri disana.


"Tuan pengawal! Kau harus berjuang dengan cintamu, cinta tidak mengenal status seseorang. Kau dengar, aku kan?" Teriak Liliana pada Eugene sambil berjalan pergi bersama Chloe.


"Pelatihan dayang istana? Apa nona itu akan menjadi datang istana?" Gumam Eugene pelan. "Apa harus memberitahu yang mulia putra mahkota atau tidak ya?"


*****


Di sisi lain istana itu, Max dan Adrian sedang berjalan di lorong istana dan mencari Eugene.


"Kau yakin tidak tahu dia ada dimana?" Tanya Max pada Adrian.


"Maaf yang mulia, hamba tidak tahu."


"Ish...kemana dia?"


Max terus berjalan ke lorong, hingga atensinya tertuju pada beberapa wanita yang lewat di dekat taman istana. Salah satu dari wanita itu memiliki rambut merah.


"Lily??" Max menggumamkan nama Liliana.


Dia berjalan melangkah pergi ke arah wanita berambut merah itu. Ia yakin bahwa wanita itu adalah Liliana, pasalnya sangat jarang sekali wanita yang memiliki rambut merah. Bukan jarang, tapi langka.


Max melihat Liliana berada disana bersama 4 orang wanita dan seorang pria yang ia kenal, yaitu Gustaf. Orang kepercayaan mendiang ayahnya, Raja Alberto.


Itu benar-benar Liliana kan?


"Yang mulia tidak salah lihat, dia memang nona yang saat itu kita temui di club' diamond," ucap Adrian tiba-tiba.


Sontak saja Max menatap Adrian sekilas, seolah Adrian kau apa yang dipikirkannya saat ini. "Jadi, aku tidak berhalusinasi?"


Max menghela nafas, lalu ia berkata. "Sedang apa Gustaf dan para wanita itu di sana?"


"Saya dengar, bahwa hari ini ada pemilihan dayang istana."


"Untuk dimana?"


"Istana tuan putri Laura dan istana yang mulia putra mahkota,"


"Istanaku juga?!" Max terperangah mendengarnya.


Mengapa aku tidak tahu? Dan mengapa dia bisa berada disini?


Max dan Liliana tidak tahu bahwa takdir kembali mempertemukan mereka. Sejauh mana mereka pergi dan saling menghindar, mereka akan tetap bersama dan mereka akan tetap bertemu bagaimanapun caranya dan kapanpun waktunya.


Max yang tadinya berniat untuk mencari Eugene, malah memperhatikan gerak-gerik wanita itu yang sedang berjalan di dekat taman istana. "Yang mulia, maafkan saya...tapi kita harus segera pergi ke pusat kota, yang mulia."


"Ah ya, baiklah...aku paham. Kita pergi sekarang!"


Tidak apa-apa, mungkin inilah cara Tuhan untuk mempersatukan kita kembali. Aku masih bisa melihatmu berada di sisiku. Sejauh apapun diriku menjauh, tetap saja kita akan selalu mendekat. Apakah takdir kita memang bersama? Ataukah ini hanya fatamorgana semata?


Pria itu tersenyum mengembang di bibirnya, menatap Liliana di sana. Max menghela nafas berat, dia terpaksa harus meninggalkan istana terlebih dahulu karena urusan pekerjaannya di pusat kota. Namun, Max merasa lega karena sekarang Liliana berada di dekatnya dan mungkin kalau gadis itu terpilih menjadi dayang istana, mereka akan bertemu setiap hari.


"Kenapa aku merasa seperti ada seseorang yang memperhatikanku?" Gumam Liliana sambil melihat-lihat ke sekelilingnya.


"Nona Liliana, jangan melamun terus!" Kata Gustaf menegur Liliana yang tidak fokus saat ia menjelaskan tentang peraturan pemilihan dayang istana.


"Maafkan saya tuan Gustaf, saya lebih fokus lagi." Liliana menundukkan kepalanya seraya memohon maaf kepada pria paruh baya itu.


...*****...


Hai Readers, tinggalkan jejak like, komen kalian dong 🤧🤧🤧😍

__ADS_1


__ADS_2