
...🍁🍁🍁...
"Apa dia baik-baik saja?" gumam Liliana yang mulai cemas karena dia tidak tahu Max pergi kemana dalam keadaan seperti itu.
Liliana mencari-cari Max disekitar sana sambil membawa salep dan obat untuk pria yang sedang alergi itu. "Eugene, kau ada dimana?" Liliana terlihat bingung mencari keberadaan Max, dia takut terjadi sesuatu pada Eugene.
Bagaimana kalau terjadi sesuatu padanya? Tidak boleh! Aku harus terus mencarinya!
Liliana mencari Eugene alias Max ke tempat yang lumayan jauh dari tempat itu. Bahkan Liliana menanyakan Max kepada orang yang lewat, dia sangat cemas.
...****...
Sementara itu Max dan Eugene masih bersama Brieta. Mereka mengintrogasi Brieta, tentang hal-hal yang berhubungan dengan Adaire dan Liliana. Brieta tidak bicara banyak, dia hanya mengatakan bahwa didalam tubuh Liliana ada Adaire. "Apa maksudmu? Jelaskan semuanya dengan jelas! Bagaimana bisa hal yang tidak masuk akal itu terjadi?" tanya Max menyentak Brieta sambil menghunuskan pedangnya ke arah Brieta.
Adaire adalah Liliana, tidak.. Liliana adalah Adaire? Bagaimana bisa?
"Yang mulia tenanglah!" Ujar Eugene berusaha menenangkan amarah Max.
"Jika yang mulia menanyakan apa yang terjadi pada kedua wanita itu, saya tidak tau seperti apa jelasnya. Saya hanya melihat apa yang saya lihat dan meramal. Ketika saya melihat sosok jiwa yang berada didalam tubuh gadis berambut merah itu, saya penasaran.. maka dari itu saya mengikutinya. Baru kali ini saya menemukan sesuatu yang aneh, tubuh itu dirasuki jiwa yang lain. Dan saya ingin meramal dia, tapi rupanya ksatria putra mahkota menangkap saya," Brieta terdengar kesal saat berbicara.
Putra mahkota kerajaan Istvan itu terdiam mendengar penjelasan Brieta. Perlahan-lahan ingatan masa kecilnya kembali terlintas di kepalanya.
#Flashback
12 tahun yang lalu...
__ADS_1
Adaire kecil pergi bersama ayahnya ke Istana untuk memberikan selamat pada Raja karena dia sudah mempunyai Ratu baru. Saat sedang berjalan-jalan disekitar istana bersama ayahnya. Dia terpisah dari sang ayah dan pergi ke belakang istana. Tempat dimana istana terbengkalai. Saat kecil tubuh Adaire tidak gemuk dan dia memiliki tompel besar di wajahnya.
Dia terus berjalan kesana dengan kaki kecilnya, melihat istana terbengkalai itu membuat Adaire mengurungkan niatnya untuk pergi kesana. "Hiyyy.. istana ini begitu menyeramkan," Adaire bergidik ngeri melihat istana megah berwarna biru yang tampak menyeramkan dan tidak berpenghuni. "Ayah pernah bilang kalau istana ini sudah tidak berpenghuni dan katanya ada hantu di istana ini," gumam Adaire polos.
Adaire membalikkan badannya, dia melangkah pergi dari istana menyeramkan itu. Namun, langkahnya terhenti saat dia mendengar sesuatu yang tidak jauh dari istana terbengkalai itu.
"Huhhhuu... huhhhuu.."
Sepertinya ada suara orang menangis? Adaire membatin.
Adaire mendengar suara tangisan disana, dia membalikkan badannya kembali. Dengan penasaran yang disertai rasa takut, Adaire berjalan menuju ke asal suara tangisan itu. Akhirnya suara itu mengantarkan Adaire tiba disebuah taman, ditengah taman itu ada sebuah pohon tua yang besar. Dia yakin suara tangisan berasal dari sana.
"Suaranya dari sini," gumam si gadis kecil dengan suara pelan.
"Huuh... huhuuuhuuhuu.. ibu...ibu.. aku rindu ibu...hiks.."
Anak laki-laki itu memiliki mata merah, wajahnya kotor dengan lumpur. Adaire tidak dapat melihat jelas wajah anak laki-laki itu.
"A-aku tidak menangis!" Teriak anak laki-laki itu sambil berdiri tegap, dia menyeka air matanya. Dia adalah Maximilian yang belum lama kehilangan sang ibu, lalu ayahnya kembali menikah lagi dengan Freya.
"Jelas-jelas kau menangis," Adaire mengeluarkan sapu tangan dan mengusap wajah Max. Adaire melihat anak itu dengan iba.
"Hey! Apa yang kau lakukan? Apa kau tidak tahu aku siapa? Beraninya kau melakukan ini padaku?" Max memasang tampang kesal, dia tidak suka ada seseorang yang menyentuhnya.
"Jangan menangis, matamu terlalu indah untuk menangis," Adaire tersenyum ramah pada Max.
__ADS_1
"Dasar wanita tompel, wanita jelek!" Seru Max sambil berjalan pergi dari sana.
Adaire mengikuti Max dan mengatakan bahwa Max harus semangat. Walaupun hidup kadang tak seperti apa yang diinginkannya. Namun, Max tidak mau mendengar ocehan Adaire.
Kenapa si jelek ini terus mengikuti aku?
Max kesal karena Adaire terus mengekori nya dari belakang. Dan tiba-tiba saja Adaire bicara kepadanya, "Seperti yang kau lihat, aku jelek! Aku selalu di hina semua orang karena penampilan ku, tapi aku tetap semangat.. aku tetap bahagia dan aku tidak menangis, itu karena aku masih punya orang-orang yang mencintaiku dan menerimaku apa adanya. Aku tidak tau bagaimana dan seperti apa masalahmu, karena hidup memang tidak selalu seperti apa yang kita inginkan. Karena itu, kau harus tetap semangat.. hidup terus berjalan," Adaire tersenyum cerah, dia menyerahkan sapu tangannya pada Max.
Sejak saat itu Max tidak pernah melupakan gadis kecil ceria yang menyemangatinya dengan sapu tangan. Memintanya untuk semangat karena hidup terus berjalan.
#End Flashback
Jadi kau tidak mati? Kau berada didalam tubuh si kucing galak? Lalu kemana senyuman ceriamu itu?
Setelah itu Max meminta Brieta untuk tutup mulut tentang Adaire dan Liliana. Dia juga membawa paksa Brieta untuk menjadi salah satu orangnya dan bekerja di istana. Eugene membawa Brieta ke istana dengan paksa atas perintah Max, meski Brieta menolaknya.
Max pun kembali ke tempat tadi dengan langkah yang gontai, wajahnya terlihat sedih. Dia tidak percaya gadis bernama Liliana itu adalah Adaire, gadis kecil yang pernah menggetarkan hatinya. Mereka adalah orang yang sama, Max juga merasakan familiar saat pertama kali bertemu Liliana. Namun, Adaire alias Liliana sudah berubah dan kehilangan senyuman ceria. Hati gadis itu sudah ditutupi oleh dendam dan amarah.
Adaire dan Liliana mereka adalah orang yang sama? Aku tidak percaya hal seperti ini bisa terjadi.
Langkahnya terhenti ketika dia melihat Liliana sedang duduk disebuah kursi dekat pohon. Wajah gadis itu terlihat sangat lelah. "Kau! Eugene, kau ini!" Liliana menunjukkan jarinya ke arah Max dengan wajah bercampur kesal dan lega. "Kau ini darimana saja? Aku sudah mencari mu kemana-mana? Kau mau mati ya?"
Max berlari menghampiri Liliana, kemudian Max memeluk Liliana. "Hey apa yang kau lakukan? Kau...dasar mesum!" Liliana protes ketika Max mendekap tubuhnya dengan erat.
"Hiduplah sebagai Liliana, tapi hiduplah sebagai dirimu sendiri. Aku tau, kadang kehidupan tidak seperti apa yang kita inginkan... tapi kau harus tetap semangat," ucap Max sambil memeluk erat Liliana dengan mata yang berkaca-kaca.
__ADS_1
...----****----...