
...🍁🍁🍁...
Baru saja Max mendengar kabar bahagia berupa harapan tentang Liliana yang bisa selamat, lalu satu detik kemudian Brietta mengatakan hal yang membuatnya kembali sedih.
"Hei wanita tua! Apa kau sedang mempermainkanku?" tanya Max sambil menatap wanita tua bernama Brietta itu dengan tajam.
"Yang mulia, mana mungkin saya main-main tentang keselamatan nona. Kita berdoa saja supaya pendeta agung bisa segera ditemukan," ucap Brietta pada Max.
"Aku sudah mengerahkan semua orang untuk mencarinya. Semoga dia bisa cepat ditemukan,"
"Iya, percayalah yang mulia.. nona Liliana pasti akan kembali. Dia hanya sedang bingung menemukan jalan untuk pulang. Lalu...apa yang akan kita lakukan pada Baginda Ratu?" Tanya Brietta pada Max.
"Tentu saja dia akan mendapatkan ganjarannya, aku akan membuat dia mati segan hidup pun tak mau." Max terlihat marah ketika memikirkan ibu tirinya itu.
Setelah itu Brietta kembali ke tempat persembunyiannya bersama dayang yang masih belum sadarkan diri itu. Disisi lain Laura sedang duduk sendirian di dekat tembok istananya. Dia menangis sedih, mengingat Liliana yang sudah tiada.
Dia baru saja mendapatkan teman pertama yang baik hati dan sekarang dia harus kehilangan teman baik itu. Saat Laura sedang menangis, seseorang menyodorkan sapu tangan padanya.
"Eugene.." Laura menatap pria itu dengan mata berkaca-kaca.
"Yang mulia, anda cantik tapi kecantikan anda berkurang kalau anda menangis." Ucap Eugene seraya menenangkan Laura. Dia ingin mengusap air mata Laura dengan kedua tangannya, tapi dia takut ada yang melihat.
Laura memberanikan dirinya memeluk Eugene dan bersandar didalam dekapannya. "Yang mulia, nanti ada yang melihat.." Eugene melihat kesana-kemari, takutnya ada yang lewat disana.
"Tidak akan ada yang datang kemari, aku sudah menyuruh mereka pergi karena aku ingin sendirian.." ucap Laura pada Eugene, dia masih menangis.
"Saya akan membiarkannya untuk kali ini saja yang mulia," ucap Eugene sambil mengelus-elus rambut Laura dengan lembut.
"Eugene.. kenapa nona Liliana harus pergi seperti ini? Padahal aku baru saja menemukan teman yang baik, kenapa dia pergi begitu cepat? Hiks.. Kakak ku juga pasti sangat sedih sama sepertiku saat ini. Kenapa Eugene? Kenapa semua orang yang baik padaku meninggalkanku?"
Bagaimana bisa aku bisa menghibur putri Laura? Aku tidak pandai mengubur orang yang sedang sedih. Tapi aku harus bisa karena ini adalah putri Laura.
"Siapa yang bilang begitu? Buktinya saya masih berada disisi yang mulia.." Eugene tersenyum.
"Tapi dulu kau pernah meninggalkanku," ucap Laura sambil mendongakkan kepalanya menatap ke arah Eugene.
Bukan meninggalkanmu, lebih tepatnya aku dipaksa meninggalkanmu karena Ratu. Tapi aku tidak bisa mengatakannya padamu.
"Iya itu pernah terjadi, tapi saya kembali untuk anda. Karena saya mencintai yang mulia,"
__ADS_1
"Eugene, terimakasih..aku tau hal ini sulit untukmu. Tapi kau tetap berjuang untukku," Laura memeluk Eugene penuh kasih sayang.
"Karena anda juga berjuang untuk saya yang mulia," jawab Eugene sambil menaikkan Laura ke pangkuannya. Dia memeluk gadis itu dari belakang.
"Ehm..Eugene rasanya ada yang salah dan aku tidak nyaman,"
"Ada apa yang mulia?"
"Bisakah saat kita berdua kau jangan memanggilku yang mulia. Kita kan sudah menjadi pasangan kekasih, rasanya tidak nyaman kalau kau terus memanggilku dengan panggilan yang mulia.." Laura mengeluhkan bagaimana selama ini Eugene memangilnya.
Kita bahkan sudah tidur bersama, tapi Eugene masih saja memanggilku tuan putri.
"Lalu saya harus memanggil apa?" tanya Eugene.
"Panggil saja namaku, Laura.." jawab Laura sambil tersenyum.
"Sa-saya.. mana berani saya melakukan itu," jawab Eugene terbata-bata. Eugene ragu memanggil nama Laura karena status Laura jauh lebih tinggi dari pada dirinya yang berasal dari rakyat biasa. Jika dia ketahuan memanggil keluarga kerajaan dengan nama, maka hukuman gantung yang akan dia terima.
"Jadi kau tidak mau? Hanya memanggil namaku, saat kita berdua saja!" Laura bicara dengan bibir yang mengerucut dan kening berkerut. Laura memohon pada kekasihnya itu untuk memanggil namanya.
"Hanya saat kita berdua saja kan?" Tanya Eugene pada kekasihnya itu.
Laura mengangguk, "Iyah,"
Deg!
Hati Laura berbunga-bunga ketika Eugene memanggil namanya bukan dengan yang mulia atau tuan putri seperti biasanya. Dia amat bahagia karena namanya disebut oleh pria yang dia cintai.
"Bukankah ini sangat aneh? Yang mulia bahkan sampai diam begitu. Astaga! Mulut saya ini..."
Cup!
Laura mengecup bibir Eugene dengan cepat.
"Mulutmu sangat indah Eugene, aku bahkan tidak percaya mulut itu akan mengucapkan namaku. Aku selalu memimpikannya, tapi akhirnya semua itu terwujud.. aku mendengarnya dari bibirmu." Laura membelai pipi kekasihnya itu dengan penuh kasih sayang, dia memeluknya lagi.
"Laura, aku mencintaimu.."
"Aku juga Eugene, sangat mencintaimu.."
__ADS_1
Tanpa mereka berdua sadari ada seorang pria yang melihat Eugene dan Laura berpelukan disana.
Aku harus laporkan ini pada Baginda Ratu.
...****...
Keesokan harinya, belum ada kabar tentang keberadaan pendeta agung. Pria itu seolah menghilang ditelan bumi, tanpa ada kabar. Kstaria bayangan Raja sampai kstaria kekaisaran sampai dikerahkan untuk mencarinya.
Tidak ada yang bisa dilakukan saat ini selain menunggu, Liliana masih belum sadarkan diri. Max juga harus tetap mengurus urusan negaranya dan sang Raja memerintahkannya untuk segera pergi ke Lostier.
"Putra mahkota, kau tidak bisa mengabaikan tugasmu seperti ini!" Seru Raja pada pewarisnya itu.
"Saya bukannya mengabaikan tugas. Saya hanya menundanya, saya tidak akan pergi sebelum dia sadar!"
Reaksi Max pada Liliana membuat Raja menyadari bahwa Max memiliki perasaan berbeda pada gadis itu, "Maximilian , apa kau seperti ini karena kau pada putri Duke Geraldine..."
"Iya Ayahanda, saya tidak bisa menyembunyikannya lagi. Saya sudah jatuh cinta pada putri duke Geraldine," ucap Max bersungguh-sungguh.
"Baiklah aku paham. Setelah dia siuman, aku akan membuatnya menjadi milikmu." Ucap Raja sambil menghela nafas.
"Mengapa anda dengan mudahnya menyetujui hubungan ini? Apa anda ingin memanfaatkan ini untuk kepentingan politik?" Tanya Max pada ayahnya.
"Tidak sama sekali. Aku hanya ingin meminta maaf dan berharap apa yang aku lakukan bisa menebus kesalahanku."
"Kesalahan?" Max terperangah mendengarnya, dia tidak paham apa yang dimaksud dengan menebus kesalahan.
Ayah bersalah kepada siapa dan apa maksudnya menebus kesalahan?
"Sudahlah, kalau tidak ada yang ingin kau bicarakan lagi. Pergilah dari sini!" Titah Raja meminta anaknya untuk pergi.
"Baiklah, hamba mohon undur diri ayahanda.." ucap Max sambil bersikap formal pada ayahnya.
Max mendapatkan persetujuan dari ayahnya untuk menunda perjalanannya ke kerajaan Lostier sampai pendeta agung datang dan sampai Liliana sudah baikan.
Dua hari kemudian, pagi itu Max berencana untuk pergi ke ruangan Liliana. Sudah dua hati berlalu Max lewatkan tanpa tidur dan makan, wajahnya sangat pucat. Dia hanya sibuk mencari pendeta agung dan menjaga Liliana.
Saat sedang berjalan sendirian di lorong istana, samar-samar dia melihat Liliana sedang berdiri didepannya.
"Yang mulia," Liliana tersenyum sambil melambaikan tangannya pada Max.
__ADS_1
Max menghentikan langkahnya dan langsung membeku disana.
...*****...