
...🍂🍂🍂...
Liliana menepis tangan Max yang memegang bahunya. Dia menolak menjawab pertanyaan Max, malah dia bertanya balik pada Max tentang sosoknya dimasa lalu. "Kenapa kau bisa mengenal nona Adaire?" tanyanya dengan tatapan tajam pada Max.
"Aku sedang bertanya padamu, tapi kau malah bertanya balik kepadaku," ucap Max kesal.
"Kalau tidak mau jawab, ya sudah!" Liliana kembali melangkah pergi meninggalkan Max. Lagi-lagi pembicaraan mereka harus terputus karena Liliana menolak untuk membuka hatinya.
Sebenarnya apa yang kau sembunyikan?
Menurut dirinya, percaya kepada seseorang sama dengan berjalan diatas bara api. Tidak tahu kapan api itu akan menghanguskan tubuhnya, yang jelas akan selalu merasa panas.
"Baiklah.. baiklah, mari kita lupakan apa yang baru saja terjadi. Kau tidak suka tempat ini ataupun pertanyaan ku, lalu kau suka apa?"
"Kalau aku bilang apa yang aku sukai, apa kau akan membawakannya kepadaku atau membawaku kesana?" tanya Liliana mulai tersenyum menyeringai.
"Tentu," Max patuh.
"Kebetulan ada tempat yang ingin aku kunjungi," jawab Liliana sambil tersenyum tipis.
Max tersenyum bahagia melihat Liliana tersenyum walau hanya senyuman tipis. "Baiklah terserah kau saja," ucap Max menurut.
"Kalau begitu kau ikut aku. Sekalian aku akan membayar hutang terimakasih ku padamu karena sudah menyelamatkan ku," Liliana memikirkan sebuah tempat yang sangat bermanfaat untuknya.
Liliana berjalan didepan lebih dulu dari pada Max. Eugene dan Blackey muncul kehadapan Max, mereka langsung memberikan hormat pada putra mahkota kerajaan Istvan itu. Dibelakang Max selalu ada Eugene dan Blackey yang menjadi bayangan dan menjaga keamanan Max selama diluar istana.
"Ada apa? Aku kan sudah bilang, kalau kalian tidak boleh terlihat!" Seru Max dengan wajah dinginnya.
"Maafkan kami yang mulia, tapi daritadi saya melihat seseorang mencurigakan mengikuti yang mulia dan nona Liliana," ucap Eugene menjelaskan.
"Siapa?" Max mendongak terkejut. Dia berfikir mungkinkah ada orang lain lagi yang ingin mencelakai Liliana.
"Saya sudah menangkapnya yang mulia," ucap Blackey yang masih berwujud burung elang itu.
__ADS_1
"Aku akan mengintrogasinya nanti, jangan biarkan dia kabur. Kalian pergilah, jangan sampai terlihat olehku atau kucing galak ku. Aku tidak mau diganggu," Max menyuruh kedua orang terdekatnya untuk pergi dari sana dan kembali bersembunyi.
"Baik yang mulia," jawab Eugene dan Blackey patuh. Mereka kembali pada tempat yang mungkin tidak terlihat oleh siapapun. Max melihat mereka berdua sudah menghilang, kemudian dia menyusul Liliana yang berjalan sudah lumayan jauh darinya.
Liliana dan Max sampai di sebuah kasino, tempat judi dan taruhan terbesar yang ada disana. Dan tempat itu juga ilegal. Mereka berdua dalam penyamaran, rambut Liliana diubah menjadi warna coklat dan Max juga mengubah rambutnya menjadi warna putih.
"Kenapa kau mengajakku ke tempat seperti ini?" tanya Max setengah berbisik. Pasalnya, tempat yang mereka datangi cukup berbahaya dan tidak pantas didatangi oleh seorang wanita cantik seperti Liliana. Max memandang Liliana dengan curiga.
Tempat taruhan ilegal, mengapa gadis ini bisa tau tempat seperti ini?
"Tentu saja untuk menyenangkan hatiku," jawab Liliana sambil tersenyum melihat orang-orang berjudi dan memasang taruhan ditempat itu.
Aku ingin melihat, benarkah Arsen selalu kesini setiap minggu siang seperti apa kata salah satu kstaria ku saat itu.
"Menyenangkan hati ditempat seperti ini? Tempat ini bukanlah tempat untuk seorang gadis," oceh Max kesal karena Liliana datang ketempat seperti itu. Tempat dimana banyak pria hidung belang disana.
"Kau bisa diam saja tidak! Lebih baik kau berikan saja aku uang, aku ingin masuk ke dalam sana!" Seru Liliana sambil tersenyum semangat.
"Uang? Jangan bilang kau akan bergabung dengan mereka?" Max terperangah mendengar ucapan Liliana.
"Tidak mau!" Liliana menolak tegas.
Aku tidak boleh pergi sebelum melihat Arsen.
Saat dia masih hidup sebagai Adaire berstatus istri Arsen, dia pernah mendapatkan informasi dari salah satu kstaria nya bahwa Arsen memiliki bisnis rahasia disebuah kasino. Saat itu Adaire tidak percaya karena dia dibutakan oleh cintanya pada Arsen. Kini dia ingin mengkonfirmasi kebenaran itu, mumpung dia keluar dari rumah.
"Bagaimana jika aku membawamu ke tempat lainnya yang menyenangkan? Kau mau kan?" tanya Max membujuk Liliana untuk pergi dari sana.
Liliana menepis tangan Max, dia langsung berlari masuk ke depan pintu masuk tempat judi ilegal itu. Max gusar dengan sikap keras kepala Liliana yang tidak bisa diganggu gugat."Tidak ada wanita seperti dirimu, sungguh.. kau ini benar-benar tidak bisa ku mengerti. Kau seperti kucing galak yang kabur," ucap Max sambil menepuk jidatnya dengan gusar.
Gadis itu sampai didepan pintu menuju tempat judi, disana berdiri dua pria kekar yang berdiri didepan pintu. "Maaf nona, anda tidak bisa masuk!" sergah seorang pria yang berada disana.
Liliana terdiam disana, dia terlihat seperti sedang berfikir.
__ADS_1
Ya Tuhan! Aku lupa dengan apa yang dikatakan kstaria ku tentang kode rahasia untuk masuk ketempat ini. Apa ya?
Liliana membuka penutup kepalanya, dia menunjukkan senyum manis. Dia berniat memanfaatkan kecantikannya untuk masuk kedalam sana. "Ayolah tuan, kasihani aku..aku tidak punya uang, aku kemari untuk mengadu nasib dan peruntungan." Liliana mengibaskan rambut palsunya yang berwarna perak itu, dia mengedipkan mata dan tersenyum manis seraya menggoda kedua pria itu dengan parasnya yang cantik.
Menjijikkan sekali, kenapa aku harus melakukan ini?
Liliana merutuki dirinya sendiri dalam hatinya.
Kedua pria itu menelan salivanya kuat-kuat, mereka terpana melihat kecantikan Liliana. Mereka mulai tergoda oleh kecantikan Liliana, "Ehem, maafkan kami nona..tempat ini tidak cocok untuk seorang wanita seperti nona," salah seorang pria itu berdehem, mereka tetap tidak mengizinkan Liliana untuk masuk ke dalam tempat itu.
"Kumohon tuan, kasihanilah aku.." Liliana mengatupkan kedua tangannya seraya memohon pada kedua pria itu untuk mengizinkannya masuk kedalam sana.
Kedua pria bertubuh besar itu saling melirik kemudian mereka berbisik-bisik. "Baiklah nona, anda boleh mas-"
Tiba-tiba saja kedua pria bertubuh besar itu gemetar ketakutan tanpa sebab, mereka juga tidak menyelesaikan perkataannya.
"Aku boleh masuk kan tuan?" tanya Liliana dengan mata berbinar-binar penuh harapan.
"No..nona.."
Aura pria ini sangat menyeramkan.
"Anda tidak boleh masuk, pergilah dari sini!" Teriak pria itu tiba-tiba marah pada Liliana.
"Tapi!"
Sepasang mata merah mengancam mereka, berdiri dibelakang Liliana. Kedua pria kekar itu ketakutan melihatnya. Siapa lagi kalau bukan Max?
Berani memandangi wanitaku dengan tatapan seperti itu. Sepertinya mereka sudah bosan hidup. Dan wanita ini kenapa dia selalu membuatku kesal?
Panas hati Max melihat tatapan kedua pria itu sebelumnya kepada Liliana.
Liliana melihat ke arah Max dengan kesal, "Kau!!"
__ADS_1
Max menggandeng tangan Liliana dengan paksa, mereka keluar dari wilayah itu dan pergi jauh dari sana.
...----*****----...