
POV Max
...🍀🍀🍀...
Beberapa jam sebelum aku memasuki club' diamond.
Aku dan Eugene masih berada didalam kapal, kami bahkan belum sampai dari setengah perjalanan. Tiba-tiba terlintas di kepalaku sebuah ingatan bahwa mungkin Liliana saat ini mungkin sedang berada di tempat pelacuran itu. Aku yang tidak sabar, meminta laju kapal itu di percepat saja!
Jika dimintai bayaran berapapun juga, aku pasti akan membayarnya. "Eugene, apa kau sudah minta kepada kapten kapal untuk melajukan kapalnya lebih cepat lagi?!" tanyaku kepada kstaria setiaku.
"Yang mulia, saya sudah memintanya dan kapten kapal itu mengatakan bahwa ini sudah kecepatan maksimal." Jelas Eugene kepadaku yang membuatku semakin resah saja.
"Ahhh!! Shittt!!" Umpatku gusar sambil menggaruk-garuk kepala. Bagaimanapun juga aku harus cepat sampai di sana sebelum hari esok, karena seingatku Liliana akan dibawa besok ke tempat pelacuran itu.
"Yang mulia, kalau yang mulia memang terburu-buru dan harus segera pergi ke sana saat ini juga. Bagaimana kalau yang mulia memakai gulungan sihir saja?"
Benar! Gulungan sihir, mengapa tidak terpikirkan olehku sebelumnya tentang gulungan sihir teleportasi itu?
"Eugene! Kenapa kau tidak memberitahuku dari tadi?" Aku jadi marah pada Eugene yang baru memberitahuku tentang gulungan sihir.
"Ma-af yang mulia, saya juga baru teringat soal itu sekarang." Kata Eugene seraya menundukkan kepalanya di depanku, ia mohon maaf karena lupa mengingatkanku tentang gulungan sihir.
Ya, aku juga sendiri yang salah. Aku lupa bahwa aku punya satu gulungan sihir yang bisa membawaku cepat sampai ke sana.
"Tidak apa! Aku akan pergi dengan gulungan sihir dan kau menyusulku menggunakan kapal ini. Kita bertemu di sana saja." Ucapku pada Eugene dengan tegas.
Eugene mengatakan ya yang mulia, sambil menganggukan kepalanya dengan hormat. Kemudian, aku pun mengambil gulungan sihir yang ada di dalam saku bajuku. Aku memanggil Blackey, burung peliharaan sihirku yang setia.
"Blackey!"
"Ya, yang mulia?" Burung berwarna hitam itu sudah keluar dari pedangku.
"Kau pergilah ke rumah Robert Arkanza dan awasi dia juga anak perempuannya, aku tidak perlu memberitahumu kan di mana tempatnya?" Titahku pada Blackey, untuk pergi lebih dulu ke sana sebelum aku menggunakan gulungan sihir teleportasi.
"Saya mengerti yang mulia!" Blackey tidak bertanya lagi, dia langsung menghilang dalam sekejap mata.
Aku tau dia lebih cepat dariku, makanya aku meminta ia untuk pergi lebih dulu. Tak lama setelah kepergiannya, aku membuka gulungan sihir teleportasi lalu menggunakannya untuk sampai ke tempat Robert Arkanza, ayah dari Liliana. Aku meninggalkan Eugene di kapal karena sihir teleportasi ini hanya bisa mencakup satu orang.
Wush~~
Lalu tibalah aku di sebuah jalanan yang banyak pertokoan tidak seperti jalanan di rumah Robert Arkanza. Disana juga ada Blackey yang sudah menungguku. "Blackey, mengapa disini? Bukankah sudah kubilang kalau kita bertemu di rumah Robert?"Tanyaku heran heran sebab Blackey menunjukkan jalan bukan ke rumah Robert tapi ke tempat yang lain.
"Maaf yang mulia, tapi pria yang bernama Robert itu ada disini dan tidak ada siapapun di rumahnya, saya mengikuti pria itu kesini." Jelas Blackey padaku.
Kemudian aku melihat Robert masuk ke dalam sebuah toko perhiasan, dengan jelas aku melihat kalung berbentuk hati berwarna merah yang baru saja dia keluarkan dari saku bajunya.
Seketika aku terkejut melihat kalung yang dipegangnya itu! Ya, kalung itu adalah kalung pemberianku untuk Lily, kalung yang seharusnya berada dalam masa depan dan tidak pernah ada di masa lalu. Kenapa kalung itu ada sekarang dan disini?
Apa benar aku telah mengubah masa lalu dengan memutar waktu mengubah takdir? Kenapa berubah sebanyak ini? Dari mulai tidak adanya sosok Adaire Charise Geraldine, lalu waktu pun berubah banyak. Apakah ini buruk?
Namun aku kesampingkan dulu tentang itu, sekarang yang terpenting adalah keberadaan wanita yang kucintai. Memastikan dia dalam keadaan baik-baik saja dan hidup bahagia.
Aku berjalan mengikuti Robert ke dalam toko perhiasan itu, tanpa basa-basi tanpa pikir panjang aku langsung mengambil kalung yang baru saja mau dia jual. Ya, benar bahwa kalung ini adalah kalung yang aku berikan pada Liliana.
"Heh! Siapa kau? Kenapa kau mengambil kalungku, hah?" Pria bernama Robert itu membentakku dengan marah.
Tercium aroma alkohol yang menyengat dari tubuhnya. Sudah kuduga, dia memang tidak berubah dari dulu. Orang yang melihatnya sekilas akan tau bahwa Robert ini brengsek!
"Ini bukan kalungmu." Kataku sambil menatapnya dengan melotot. Kutunjukkan tatapan mematikan padanya.
__ADS_1
Kulihat tubuhnya yang kurus itu sedikit bergetar karena serangan tekanan batin yang kuarahkan padanya. "Ini kalungku!! Berikan padaku?!"
Robert masih saja menyangkal. Baiklah aku juga tidak mau berbasa-basi, aku harus memastikan dimana Liliana dan bagaimana keadaannya. "Apa kau tau bahwa mencuri kalung milik keluarga kerajaan, adalah hukuman mati?" Tanyaku menakuti Robert.
Dan tentu saja Robert tidak percaya begitu saja dengan apa yang aku katakan. Dia tetap bersikeras bahwa kalung itu adalah miliknya, untung saja saat itu Adrian dan pasukan kerajaan lainnya datang. Mereka menjelaskan dan benarkan bahwa kalung itu adalah kalung milik kerajaan.
Karena tidak mau dituduh sebagai pencuri, akhirnya Robert mengatakan bahwa Liliana yang mencuri kalung itu. Aku tau karena dia adalah pria brengsek yang menyiksa anaknya, Liliana yang asli. Dan bodohnya aku, kenapa aku baru tau kalau Liliana ku berada bersamanya, aku pikir dia menjadi Adaire putri Duke Geraldine.
"Ampuni saya, saya tidak tahu kalau putri saya mencuri kalung itu!"
Aku benar-benar jijik pada ayah brengsek seperti ini. Mengingatkanku pada ayahku.
"Lalu dimana putrimu sekarang?" Tanyaku tegas.
"Di-dia..ada berada di club' diamond Madam Morena..." ucapnya tergagap.
Sudah kuduga! Masa lalu telah berubah banyak, aku harap ini bukan petaka untuk masa depan.
Setelah itu aku langsung pergi bersama Adrian dan para prajurit lainnya ke tempat yang bernama club diamond itu. Ya, aku paham betul jalannya sampai Adrian saja heran padaku. Katanya seperti aku sudah pernah kesini saja.
Memang, jawabku dalam hati saja. Aku memang pernah pergi ke klub diamond ini, tempatku bertemu dengan Adaire yang berada didalam tubuh Liliana. Dan aku merasa Dejavu saat ini karena harus kembali kesana.
Aku berhasil masuk ke dalam club berdua bersama Adrian' dengan memakai topeng menutupi bagian mata dan hidungku saja. Aku juga menyamarkan penampilanku dengan rambut putih. Aku sudah datang disana dari sore, kulihat banyak pria hidung belang disana. Sambil menunggu, aku dan Adrian minum-minum disana terlebih dahulu.
"Yang mulia, maaf saya menanyakan ini. Tapi kenapa yang mulia mencari pencuri kalung itu?"
Aku sudah tau bahwa Adrian akan menanyakan itu, dari tadi raut wajahnya menunjukkan rasa penasaran. "Tentu saja aku harus menangkap pencuri itu dan menghukum nya." Jawabku sambil menyeruput minuman di dalam cangkir.
Adrian menatapku dengan kening yang berkerut, tentulah dia heran mengapa aku bersikeras menangkap pencuri kalung. Namun aku tak peduli, mau dia percaya atau tidak. Tujuanku hanya satu, bertemu dengan Liliana.
Tak terasa malam pun tiba, tempat itu menjadi semakin ramai saja. Dan sumpah! Hal itu membuatku sangat takut, mereka menatap para wanita disana dengan tatapan mesum. Lalu apa yang akan terjadi pada Lily? Dia kan cantik, pasti banyak pria yang menginginkannya. Hal itu membuatku sangat cemas dan kesal sendiri.
Aku yang sudah tak sabar, akhirnya memutuskan untuk mencari Liliana sendiri ke setiap sudut ruangan di gedung laknat itu! Kalau perlu aku akan membakar semuanya, mencari ke setiap lubang tikus yang ada. Aku ingin menemukannya! Aku takut dia di ganggu para pria disana.
"Perkenalkan, ini adalah anak baru madam. Miss L namanya, dia tidak akan melayani pelayanan malam dan hanya mengobrol saja." Kata wanita menor itu memperkenalkan Liliana pada semua orang.
Kulihat semua orang bersorak-sorai, menatap Liliana dengan tatapan nanar dan mesum mereka. Sumpah demi apapun! Aku ingin sekali rasanya mencongkel mata mereka satu persatu, menghujam hati mereka yang busuk itu sampai mati. Sampai mereka tidak bisa melihat indahnya dunia dan tidak bisa bernafas lagi.
Beraninya mereka menatap wanitaku seperti itu. "Yang mulia, apa sekarang waktunya bergerak?" Tanya Adrian padaku, dia mulai tak sabar ingin menumpas club diamond itu. Namun, aku ingin bermain dengan tempo yang lambat lebih dulu. Rasanya, terlalu mudah untuk mereka kalau langsung ditangkap begitu saja.
"Tenang dulu. Kau hanya bisa bergerak saat sudah kuperintahkan!" Ujarku tegas.
Adrian langsung paham dan menganggukan kepalanya dengan patuh. "Ya, yang mulia."
Kudengar lagi sorak sorai itu, rasanya ingin aku merobek mulut mereka satu persatu.
"Aku mau! Aku mau mengobrol dengannya semalaman!"
"Aku juga! Aku juga mau!"
Para pria itu berantusias ingin bersama Liliana. Kulihat Liliana hanya diam saja dibalik cadar merahnya. Setelah kupikir-pikir lagi, ternyata meski waktu telah berlalu. Tapi aku masih bisa mengenalinya walau dibalik cadar itu.
"Aku ingin tidur dengannya!" Ucap seorang pria sambil mengacungkan tangannya ke atas. Kulihat pria itu menyeringai, penuh n*fsu yang membara, menatap Liliana dengan tatapan nanar.
Sumpah! Aku ingin membunuhnya saat itu juga, namun aku tahan. Aku pun berbisik pada Adrian, guna memberitahunya, bahwa semua pria yang ada di club' diamond harus ditahan. Terutama pria yang mengatakan dia ingin tidur dengan Liliana, aku ingin Adrian menyisakan pria itu untuk jadi yang terakhir. Mau aku apakah pria itu? Entahlah! Setelah ini aku akan berurusan dengannuya.
Akhirnya, aku memberanikan diriku untuk mengangkat tangan ke atas. Saat itu aku berada di barisan paling belakang. "Aku mau membelinya! Apa dia dijual????"
Sontak saja semua orang melihat ke arahku, pria gila yang katanya ingin membeli Liliana. Kulihat Liliana mendongak, dia tercekat mendengar suaraku. Dibalik cadar tipis itu aku bisa melihat sepasang matanya yang indah mencari keberadaanku
__ADS_1
Oh Tuhan! Sungguh hatiku terhenyak melihat Lilliana ada didepan mataku. Ingin aku memeluknya saat itu juga, karena terakhir aku melihat dia berada di pelukanku dan tidak bernyawa. Dan sekarang dia masih hidup, aku tak percaya bahwa aku mengulang waktu.
Kenapa ada rasa tidak ingin melepaskannya lagi saat aku melihatnya?
"Membeli?" kudengar decak Madam Morena, dia menatapku dengan kening berkerut. Lalu dia berkata padaku. "Maaf, tapi disini bukan tempat jual beli manusia. Miss L, hanya menemani kalian mengobrol saja dan tidak lebih. Siapa yang ingin mengobrol dengan di malam ini, silakan berikan penawaran yang terbesar dan terbaik!" Ujar wanita itu tegas.
Tak kusangka, bahwa seorang germo saja bisa memiliki peraturan dengan melindungi anak buahnya. Lalu semua orang mulai melelang Liliana, tentu saja aku ikut didalamnya. Ketika orang sudah menyerah dengan harga yang semakin meninggi, hanya aku dan seorang pria yang duduk di depan sana yang masih menawar.
"200 koin emas!"
"300!"
"350..."timpal pria itu padaku, dia berusaha ingin menang dariku.
"500 koin emas." Ucapku lagi dengan suara lantang.
Harga yang sangat mahal dan membuat semua orang ternganga, 500 koin bisa membeli rumah mewah dan isinya. Siapa yang tidak akan kaget. Kulihat pria menyebalkan itu mulai kebingungan. "600!"
Ini benar-benar gila? 600 koin emas untuk satu malam? Rasanya aku ingin membunuh si bajingan yang menginginkan Lily! Tapi aku masih menahannya.
"Seribu!" tanpa pikir panjang aku mengajukan harga satu malam, seribu koin. Tak peduli menghabiskan uang berapapun itu, Liliana harus aman.
Semua terdiam, termasuk pria yang daritadi bersaing denganku. Akhirnya aku pemenangnya, tidak ada lagi yang menawar Liliana lebih tinggi daripada aku.
Kulihat senyum kebahagiaan di wajah wanita menor yang bernama madam Morena itu, tapi tunggu saja. Tak lama lagi, senyuman itu akan menghilang bersama hancurnya club' diamond.
"Silahkan tuan bertopeng! Majulah kemari, bawa juga uangnya ya. Miss L milikmu malam ini." Kata wanita menor itu padaku sambil tersenyum.
Aku pun berdiri, lalu berbisik pada Adrian untuk menunggu sekitar setengah jam untuk memulai misi penumpasan. "Yang mulia, apa anda akan bersenang-senang dulu? Tapi bukankah setengah jam itu waktu yang sedikit?"
"Apa kau mengejekku, hah?" Tanyaku kesal dengan Adrian yang menggodaku.
Ya, memang di masa sekarang aku masih terkenal suka bermain wanita. Tak heran jika Adrian mengiraku akan bersenang-senang dengan Liliana.
Aku pun maju ke depan dengan membawa kantong berisi uang seribu koin yang aku janjikan. Lalu madam Morena mengantar kami ke sebuah kamar yang cukup mewah. Aku dan Liliana masuk ke dalam sana, sesampainya disana Liliana hanya duduk diam diatas ranjang.
"Hey! Buka cadarmu itu," ucapku padanya.
"Tuan tidak akan macam-macam pada saya kan? Saya--hanya teman mengobrol saja! Tuan tolong jangan lupakan itu." Katanya memperingatiku dengan suara canggung.
Sungguh mendengar suaranya lagi seperti mimpi bagiku, darahku berdesir hebat, jantungku berdegup kencang. Benar! Wanita yang ada didepan ku ini adalah Liliana.
"Aku janji tidak akan macam-macam padamu. Kita hanya akan bicara."
"Benarkah? Kau membeliku dengan harga yang fantastis, bukankah kau mau--"
"Aku hanya ingin bicara denganmu, aku janji!"
Kulihat tangan Liliana perlahan-lahan membuka cadar yang menutupi wajahnya. Kini kulihat cantiknya wajah itu, sedikit tercengang aku melihatnya. Tak percaya bahwa Liliana benar-benar hidup kembali. Dia ada di depanku dan menatapku dengan mata indahnya.
Dalam hati aku berkata, 'Kau harus bahagia Lily. Kali ini kau harus bahagia' ku yakinkan pada diriku seperti itu.
"Tuan, kenapa tuan menangis?"
Pertanyaan Liliana sontak saja membuatku tercekat, aku melihat ia menatapku dengan cemas. Apa katanya? Aku menangis? Ya, ada air mata mengalir pipiku.
Entah apa yang terjadi padaku, mungkin aku terbawa suasana. Tanganku meraih wajahnya, entah bagaimana tatapanku padanya saat ini. Kulihat matanya membulat melihatku saat itu.
"Tuan..." lirihnya seraya menatapku.
__ADS_1
"Syukurlah..."
...*****...