
"Biar ayah yang buka, kau naik saja ke kamarmu dan beristirahat." ucap Duke Geraldine pada Liliana yang sedang menaiki tangga menuju ke kamarnya.
"Baiklah ayah." Sahut Liliana sambil tersenyum.
Siapa yang mengetuk pintu malam-malam begini?
Duke Geraldine membuka pintunya, dia melihat Max berdiri didepannya. Pria paruh baya itu segera membungkuk hormat di depan Raja Istvan.
"Lily!" tanpa mempedulikan duke Geraldine yang memberi salam padanya, Max malah memanggil Liliana sambil menerobos masuk ke dalam rumah itu.
"Yang mulia-"
Max melihat Liliana sedang menaiki anak tangga, Max menyusulnya. "Yang mulia! Kenapa anda ada disini?" tanya Liliana dengan mata terbelalak.
"Aku ingin bicara denganmu."
Aku tidak bisa begitu saja membiarkan semua masalah ini terus berlarut-larut.
"Kita sudah bicara tadi, jadi apa lagi yang mau dibicarakan?" tanya Liliana yang masih berdiri di atas anak tangga.
"Masalah tidak akan selesai, jika kita tidak bicara dengan benar. Tadi kita bicara dalam keadaan yang panas, jadi kita harus bicara lagi."
Dia tidak akan berhenti sampai mendapatkan apa yang dia mau. Lebih baik aku bicara dengannya daripada dia disini sampai pagi.
"Haaahhh....hanya lima menit saja." Liliana menghela nafas, akhirnya dia mengizinkan Max untuk bicara dengannya.
Liliana dan Max berada di ruang tamu berdua, Duke Geraldine sengaja meninggalkan mereka berdua disana untuk bicara. "Yang mulia, apa yang ingin anda bicarakan lagi pada saya?"
"Jangan berbicara formal seperti itu Lily." ucap Max sambil tersenyum pahit memandangi wanita yang duduk didepannya itu.
"Saya akan dianggap tidak sopan kalau saya bicara tidak formal." jelasnya sopan.
"Tapi kita kan sedang berdua, tidak apa kalau kau bicara tidak formal padaku." Max tidak keberatan dan dia terlihat tak nyaman karena Liliana bicara formal padanya.
"Saya takut yang mulia tidak nyaman, jika saya bicara tidak formal."
Max menatap Liliana dengan tatapan mata sayu. "Benar, aku memang tidak nyaman dan kau juga tidak merasa nyaman. Bicara formal seperti ini membuat kita terasa seperti orang asing, padahal kita saling mencintai. Benar kan?"
"Anda sangat percaya diri, yang mulia. Mencintai anda hanyalah masa lalu saya." Liliana tidak berani bicara sambil menatap Max.
Deg!
Hati Max seperti tertusuk benda tajam, saat Liliana mengatakan bahwa dia tidak mencintai dirinya lagi. Walaupun dia tahu sebenarnya wanita itu berbohong, dia masih mencintainya.
"Baiklah, kita jangan bicarakan soal ini dulu. Kedatanganku kemari adalah untuk memulai hubungan kontrak denganmu." Max menatap serius kepada Liliana.
"Hubungan kontrak?" tanya Liliana pada Max.
Apa maksudnya?
"Ya, hubungan kontrak sebagai pasangan suami istri. Aku ingin kau menjadi Ratuku selama satu bulan." ucap Max tegas.
Jika aku memang tidak bisa memecahkan keras kepalamu itu dengan kelembutan, aku hanya bisa memaksa agar kau bisa berada disampingku lagi.
Kedua mata Liliana membulat. "Perkataan macam apa ini yang mulia? Apa anda sedang membuat lelucon dengan saya?!" tanya Liliana dengan suara meninggi.
"Beraninya kau meninggikan suaramu padaku! Aku, raja dari tempat kelahiranmu! Apa kau mau menentang otoritasku?!" Max menggunakan cara tegas untuk membuat Liliana kembali padanya.
__ADS_1
"Mohon maafkan saya yang mulia...karena saya sudah bersikap tidak sopan. Saya menolak permintaan yang mulia!" Liliana geram, dia pun menundukkan kepalanya seraya memohon maaf pada Max.
"Aku akan memaafkanmu kalau kau menandatangani surat pernikahan kontrak kita!" Max tersenyum menyeringai.
"Mengapa saya harus melakukan itu?" Liliana tidak paham apa maksud pria itu dengan menikah kontrak.
Kau tidak akan bisa memaksaku Maximilian.
"Hanya kau satu-satunya yang pantas menjadi ibu negara kerajaan Istvan, kau akrab dengan pekerjaan negara, tugas sosial dan yang lainnya. Dan kau juga...."
Kau juga adakah wanita yang sangat aku cintai. Kata ini hanya terucap didalam hati Max.
"Hahahaha...lucu sekali. Maafkan saya yang mulia, tapi saya merasa ini sangat lucu. Bagaimana bisa seorang wanita yang sudah diceraikan secara tidak hormat, kembali menikah dengan suaminya dan menjadi permaisuri? Apakah itu masuk akal?" Liliana tertawa getir, bagian dalam hatinya masih terluka karena Max yang menceraikannya dengan paksa dan keputusan sendiri.
Deg!
Max seperti termakan kata-katanya sendiri, dia seperti terkena Boomerang. Namun mendengar ucapan dan melihat raut wajah Liliana, dia jadi paham mengapa wanita itu menolak kembali. Max terdiam dan kehilangan kata-kata didepan Liliana.
Aku tidak paham bagaimana malu dan terhinanya Lily saat aku menceraikan dirinya. Aku memang salah karena mengambil keputusan sendiri saat itu, aku juga membawa wanita lain ke dalam istana...pantas dia salah paham padaku. Tapi, Lily... ini bukanlah mauku.
Liliana berhasil membuat Max bungkam, dia pun beranjak dari tempat duduknya. "Yang mulia, ini sudah malam... sepertinya anda harus kembali. Wanita anda pasti sudah menunggu anda di istana." Secara halus, Liliana mengusir Max.
"Hanya kau yang berani mengusir Raja," ucap Max sambil menundukkan kepalanya dengan kecewa.
"Dan hanya yang mulia, yang bisa mematahkan hati saya." ucap Liliana sambil tersenyum pahit.
Rasanya akan semakin sulit untuk kita kembali bersama.
"Aku akan membawamu kembali, setelah masalah wanita itu selesai. Dengan begitu, kak tidak akan menolakku lagi kan?" tanya Raja Istvan itu sambil menatap Liliana dengan mata berkaca-kaca.
"Setiap ucapanmu selalu bisa membuatku sakit hati, hebat sekali Liliana." Max terlihat kesal dengan ucapan Liliana yang selalu menyindirnya.
Liliana mengantar Max sampai ke depan pintu rumahnya, saat Max akan menunggangi kudanya. Dia kembali berbalik menghampiri Liliana. "Ada apa?"
"Bagaimana kau bisa kenal dengan raja Gallahan?" tanya Max penasaran karena Aiden mengatakan bahwa dia mengenal Liliana.
"Itu bukan urusan anda." jawab Liliana cuek.
"Aku tidak akan pergi sebelum kau mengatakannya padaku. Kau tau kan, aku adalah orang yang keras kepala sama sepertimu." Max menatap Liliana dengan tajam.
"Kami berteman," jawab Liliana pada akhirnya.
"Apa? Kau berteman dengannya?!" Max tidak percaya begitu saja dengan ucapan Liliana.
Berteman? Apa itu benar? Kenapa aku ragu?
"Cepatlah kembali yang mulia!" Ujar Liliana yang mulai kesal dengan kehadiran pria itu.
Max pun menunggang kudanya, dia kembali ke istana Gallahan tempat dimana dia menginap. Didepan istana tempatnya menginap, Julia ada disana dan terlihat seperti sedang menunggunya. Dia bersama dayangnya.
"Yang mulia, anda sudah datang? Saya sudah menunggu anda dari tadi." ucap Julia sambil tersenyum menyambut kedatangan Max.
Max tidak menjawab Julia, dia terlihat kesal karena sebelumnya dia dipaksa untuk berdansa dengan Julia didepan semua orang. Pria itu berjalan melewati Julia begitu saja.
Julia memegang tangan Max dan dengan cepat Max menepis tangannya. "Yang mulia, saya pikir kita sudah menjadi lebih dekat!"
"Kau benar-benar wanita tidak tahu malu, jika bukan karena ayahmu yang telah berjasa untuk negeri ini. Aku tidak akan mau dekat denganmu, aku jijik pada wanita sepertimu..." Max menatap tajam pada Julia.
__ADS_1
"Yang mulia, mengapa anda bicara seperti ini pada saya?" Julia terlihat seperti akan menangis.
Max semakin benci dan tidak suka dengan sikap Julia, yang selalu menggunakan air mata untuk membuatnya terpojok. Julia sama seperti ayahnya, mereka masih terobsesi menjadi anggota keluarga kerajaan. Dan karena dukungan Freya masih kuat, mereka berani seenaknya pada Max yang notabenenya adalah seorang Raja.
"Jangan menangis seperti itu, disini hanya ada aku saja. Tidak akan ada yang melihatmu seperti di pesta tadi!" kata Max tegas.
"Yang mulia...saya benar-benar tidak mengerti, kenapa anda memperlakukan saya seperti ini??" Julia memelas.
Max masuk ke istananya, dia meminta para pengawal agar tidak mengizinkan Julia masuk ke dalam sana. Julia berjalan kembali ke istana tempatnya menginap disana, dia bersama pelayannya.
"Heh! Dia masih saja jual mahal padaku, memangnya apa kelebihan wanita itu sampai yang mulia raja begitu tergila-gila kepadanya? Aku tidak mengerti." ucap Julia bergumam kesal.
"Mantan Putri mahkota tidak bisa dibandingkan dengan yang mulia!"
"Benar kan? Aku ini lebih dari segala hal, cantik, pintar, keturunan juga sudah jelas...tapi kenapa yang mulia raja selalu mengacuhkanku!" Gerutu Julia kesal.
****
Di istana Gallahan, Aiden sedang bersama ibunya di ruang istirahat. Keduanya masih mengobrol dengan hangat setelah pesta.
"Aiden, katakan pada ibu? Bagaimana bisa wanita itu pergi dari pesta sebelum ibu melihatnya? Dia malu-malu atau bagaimana?!" tanya Ibu suri yang sangat penasaran dengan sosok wanita yang selalu dibicarakan oleh Aiden.
"Ibu, bisakah Ibu kembali saja ke istana perak? Ini sudah malam bu, harusnya ibu sudah tidur sekarang." Aiden gusar karena ibunya malah berada disana dan terus bertanya tentang Liliana.
*Istana perak adalah tempat dimana ibu suri Gallahan tinggal*
"Tidak! Ibu tidak mau pergi sebelum kau memberikan ibu sebuah penjelasan! Wanita itu, apa dia pergi karena dia tahu tentang penyakitmu? Ataukah ada yang lain?" tanya Ibu suri sambil menatap curiga pada anaknya.
"Tidak begitu, ibu...bukan." jawab Aiden sambil memegang kepalanya.
"Lalu kenapa dia tidak datang?" tanya Ibu suri kepada anaknya.
"Ibu, dia datang ke pesta...hanya saja ibu tidak melihatnya. Saat dia datang, ibu sedang pergi entah kemana."
"Benarkah? Aku pikir dia tidak datang! Lalu kenapa dia pergi begitu saja? Apa ada yang kau lakukan padanya?"
"Ibu, tolong jangan berpikir macam-macam." Aiden terlihat sedih dan bermuram durja.
Ini benar-benar rumit, Liliana adalah mantan putri mahkota dan dia sebelumnya pernah menikah dengan Raja Istvan. Yang lebih rumit lagi adalah aku belum mengatakan perasaanku padanya.
"Melihat dari wajahmu, sepertinya kau sedang resah. Ada apa putraku? Ceritakan pada ibumu ini ya?" tanya ibu suri pada anaknya, dia ingin tau apa yang membuat anaknya resah.
"Ibu, bisakah ibu datang lagi nanti. Aku janji aku akan ceritakan semuanya besok, aku butuh sendirian sekarang." Aiden secara halus mengusir ibunya darisana, pikirannya sedang mumet.
"Haaahh...baiklah. Ibu akan kembali, kau segera beristirahat. Jangan tidur malam-malam, besok kau harus datang ke pertandingan persahabatan." Ibu suri mengingatkan Aiden tentang pertandingan persahabatan yang akan diselenggarakan antara kerajaan Gallahan dan Istvan esok hari.
Ibu suri pergi dari istana Raja, dia diantar oleh Dorman dan datang setianya. Ibu suri menanyakan pada Dorman tentang Liliana, namun Dorman tidak menjawabnya karena janji pada Aiden.
"Kalau kau tidak bisa menjawab pertanyaanku, bisakah kau menyampaikan undangan untuknya?" tanya ibu suri.
"Undangan?" Dorman terperangah.
...******...
Bab berikutnya : Anak siapa itu?
Hai Readers jangan lupa komennya ya❤️😘 yang mau kasih vote atau gift nya juga boleh.
__ADS_1