
Perceraian Liliana dan Maximilian menjadi berita bahagia untuk para bangsawan yang sebelumnya berharap pelengseran Liliana dan Duke Geraldine sebagai pemegang kekuasaan tertinggi sekarang tidak lagi. Karena Liliana akan segera dilengserkan dari posisinya.
"Ayah, berita baik ini tentu saja harus dirayakan!" Julia tersenyum bahagia.
"Benar anakku, mari kita rayakan.." ucap Duke Norton setuju.
Sementara itu di istana, Max terlihat sedang berjalan menelusuri lorong menuju ke kamarnya. Dia berniat berbicara dengan Liliana.
Gadis itu terlihat sedang bersama Daisy dan Bianca di dalam kamarnya. Terlihat juga beberapa orang pelayan sedang membereskan barang-barang di kamar itu.
Semua orang memberi hormat ketika putra mahkota datang ke kamar itu. Liliana juga memberi hormat padanya dengan wajah dingin.
"Salam kepada yang mulia putra mahkota," ucap Liliana sopan.
Max melihat beberapa barang-barang milik Liliana berserakan seperti akan dikemas. Max menatap wanita itu dengan kening berkerut. "Apa ini semua, putri mahkota?" tanya Max pada Liliana.
"Saya sedang berkemas," jawab Liliana singkat.
Apa kau tidak lihat kalau aku sedang berkemas?.
"Hah!" Max mendesis kesal, bibirnya menyunggingkan senyuman sinis.
Liliana sedang berkemas? Apa dia benar-benar ingin meninggalkan istana ini?
"Semuanya, keluar!" Ujar Max kepada orang yang berada didalam kamarnya.
Mereka semua pergi setelah memberi hormat pada Liliana dan Max. Liliana juga ikut memberi hormat pada Max, dia melangkahkan kakinya pergi dari sana.
"Siapa yang bilang kau boleh pergi?" Max menatap punggung Liliana yang membelakanginya.
Liliana berbalik, wajahnya terlihat tanpa ekspresi. Dia terlihat dingin dan tidak ceria seperti biasanya. Hati Max terluka melihat raut wajah dan tatapan Liliana padanya yang terlihat seperti sedang menatap orang asing.
"Apa anda memanggil saya, yang mulia?" Liliana bersikap formal bahkan tanpa bertatap muka dengan pria yang akan menjadi raja berikutnya itu.
"Kau... apa yang akan kau lakukan dengan semua barang itu? Kau akan pergi kemana?" tanya Max pada wanita itu dengan hati yang resah.
"Kenapa yang mulia menanyakan hal yang anda sendirilah sudah tahu jawabannya? Apa saya harus menjawabnya?" tanya Liliana dengan senyuman tipis dibibirnya. Dia tak berani menatap ke dalam mata Max, dia takut hatinya terluka lagi.
"Lily.."
"Nona Liliana Eissa Geraldine, itulah nama saya. Mohon panggil saya dengan benar," ucap Liliana meralat ucapan Max.
Tahan Liliana, kau tidak boleh menangis. Kau harus kuat tidak boleh terlihat lemah.
Hati Max terhenyak mendapatkan perlakuan dan ucapan seperti itu dari Liliana. Dia memegang tangan Liliana, menatap wanita itu dalam-dalam. "Aku tau kau masih marah soal perceraian kita yang mendadak. Tapi, kau tau kan alasannya kenapa aku melakukan semua itu. Sekarang semuanya sudah berakhir dan baik-baik saja, maka kita bisa kembali bersama.. Lily aku-"
Perlahan-lahan, Liliana menarik tangannya dari tangan pria itu. Terlihat resah bersatu dalam kesedihan di mata Max saat menatap Liliana.
"Tidak bisa bersama lagi, yang mulia." Liliana menatap pria itu dengan tatapan berkaca-kaca.
"Lily aku minta maaf, aku tau kau marah karena sikapku saat itu. Aku memutuskan hubungan kita karena sebuah alasan, aku masih mencintaimu dan akan selalu mencintaimu. Kita bisa menikah lagi dan-"
"Yang mulia, hubungan pernikahan bukan sesuatu yang bisa di putus dan disatukan dengan mudah. Saya memang marah dan sedih atas apa yang anda lakukan kepada saya, tapi...setelah saya pikir-pikir memang seharusnya kita berpisah."
"Lily...tidak, jangan katakan itu." Max menggeleng-geleng, dia merasa bersalah pada Liliana.
__ADS_1
"Jangan katakan bagaimana? Kita sudah berpisah, hanya tinggal menunggu surat resminya. Semua orang sudah tau semua itu, bahwa putri mahkota kerajaan ini telah diceraikan oleh suaminya!" Seru Liliana sakit hati.
Ya Tuhan, kenapa air mataku ini malah keluar terus? Aku tidak mau menangis didepannya.
Tangan Liliana menyeka air mata yang turun membasahi wajahnya itu. Ketika Max akan menyeka air mata Liliana, gadis itu menghindar. "Jangan sentuh saya yang mulia!"
"Liliana...aku akan membereskan semuanya. Kita akan kembali bersama sama seperti sebelumnya, kumohon jangan katakan perpisahan lagi.." pinta Max sambil memegang tangan Liliana.
"Tapi kita sudah berpisah dan yang mulia yang sudah memutuskan ikatan itu. Maafkan saya yang mulia, saya rasa lebih baik kita tidak bersama lagi." ucap Liliana dengan berat hati.
"Lily, kumohon...aku minta maaf karena sudah melakui hatimu. Aku minta maaf, kalau kau ingin aku bersujud.. aku akan bersujud di kakimu asal kau..."
Liliana memotong ucapan Max, "Yang mulia anda tidak paham apa maksud saya. Dengan mudahnya anda memutuskan hubungan kita seorang diri. Tanpa bertanya pada saya, meski saya tau anda melakukan ini demi kebaikan tapi ini tidak benar. Apa saya benar-benar wanita yang anda cintai? Saya meragukannya yang mulia... sepertinya semua ucapan anda selama ini hanya bualan saja!"
"Tidak! Aku mencintaimu! Semua ucapanku benar!" Sanggah Max yang mengatakan bahwa dia mencintai Liliana.
"Tidak, anda tidak mencintai saya. Kalau anda mencintai saya, kenapa anda tidak percaya pada saya? Kenapa dengan mudahnya anda mengatakan tidak mencintai saya lagi dan memutuskan hubungan kita begitu saja disaat saya menolak perpisahan! Tidak.... yang mulia..ini bukan cinta, cinta tanpa kepercayaan bukanlah cinta. Anda tidak pernah mencintai saya..."
Wanita itu menatap Max dengan kecewa. Air matanya masih mengalir deras, dia memegang dadanya. Semua emosinya telah meledak didepan putra mahkota kerajaan itu. Dia tidak bisa lagi mentolerir lagi dimana kepercayaan menjadi masalah dalam hubungan mereka.
Yang Liliana inginkan adalah kepercayaan dan kebersamaan. Tapi Max memutuskan segala hal sendirian, tanpa berdiskusi dengannya.
"Tidak Lily! Aku melakukan itu karena aku tidak ingin kau terluka jika terjadi sesuatu kepadaku! Bukannya aku tidak mencintaimu.." Max mengepalkan tangannya, matanya berkaca-kaca menatap Liliana.
Lily telah salah paham padaku begitu dalam. Mengapa semuanya jadi seperti ini?
"Yang mulia kita masih sama-sama egois, belum bisa menjalin hubungan bersama. Kepercayaan diantara kita juga sangat tipis, saya pikir keputusan anda memutuskan hubungan kita adalah hal yang benar." Liliana berusaha tegas didepan Max, walau hatinya sakit dan berat.
Perpisahan ini memang yang terbaik untuk kita.
Tidak, Lily.. aku tidak mau melepaskanmu. Jangan pergi.
Liliana membalikkan tubuhnya, dia melangkahkan kakinya keluar dari kamar itu. Namun, Max memegang tangan Liliana. Dia memeluk wanita itu kemudian mencium bibirnya.
"Hmphh!!"
Liliana terkejut dengan kedua mata melebar, saat dia menerima ciuman paksa dari Max. Kedua tangan Max mengunci tubuh wanita itu.
Aku akan membiarkanmu untuk terakhir kalinya.
Wanita itu merasakan ada yang basah di wajah Max, dia mendorong putra mahkota kerajaan Istvan. Kemudian dia melihat Max menangis,
"Lily..aku mohon jangan.." Max menatap Liliana dengan tatapan tidak berdaya.
"Tolong jangan seperti ini yang mulia. Anda tak boleh menangis karena seorang wanita, anda adalah calon raja berikutnya." Liliana tersenyum pahit.
"Lily...berikan aku kesempatan sekali lagi. Kita jangan berpisah!" Max memohon sambil menangis dan memegang tangan wanita itu.
"Maafkan saya yang mulia," Liliana menepis tangan Max kemudian dia membuka pintu ruangan itu.
Max menyusul Liliana keluar dari ruangan itu. Duke Geraldine sudah ada didepannya. "Nak, apa kau sudah siap?" tanya Duke Geraldine pada Liliana.
"Iya ayah."
Max berjalan mendekati Liliana dan Duke Geraldine. Dia memegang tangan wanita itu. "Lily, kau tidak boleh pergi!"
__ADS_1
"Yang mulia, putri saya sudah berpisah dengan anda." Duke Geraldine berani ikut campur dengan ucapan Max. Dia tidak mau anaknya terluka lagi.
"Duke Geraldine! Walaupun Liliana telah bercerai denganku, dia masihlah putri mahkota negeri ini hitam diatas putih. Jadi, putri mahkota tidak bisa pergi dari sini."
Duke Geraldine tidak bisa berkata-kata, Liliana telah berpisah dengan Max, tapi disisi lain memang benar Liliana masih putri mahkota dalam hitam diatas putih.
"Baiklah, anda memang benar yang mulia. Hari ini saya meminta kepada yang mulia sebagai seorang ayah yang putrinya baru saja bercerai dengan suaminya."
"Duke Geraldine..." lirih Max pada Duke Geraldine.
"Saya minta dengan kerendahan hati, kepada matahari kekaisaran ini agar yang mulia mengizinkan saya membawa anak saya kembali ke kediaman Geraldine." Duke Geraldine meminta pada Max untuk membiarkan Liliana kembali ke kediamannya.
"Aku tidak akan mengizinkannya!" Ujar Max tegas.
"Yang mulia, saya mohon.." Duke Geraldine memohon.
"Daisy, bawa putri mahkota kembali ke kamarnya!" Titah Max pada Daisy yang tengah berdiri tak jauh dari mereka.
Daisy langsung menghampiri Liliana dengan bingung. "Yang mulia, ayah saya sedang memohon kepada anda. Kenapa anda-"
"Pengawal! Dengarkan aku, mulai saat ini putri mahkota tidak diizinkan keluar dari istananya tanpa seizinku dia tidak boleh bertemu dengan siapapun!"
Maafkan aku ayah mertua, Liliana. Aku melakukan semua ini karena aku tidak mau kau pergi.
Max mengeluarkan perintahnya sebagai putra mahkota, penguasa tertinggi di kerajaan Istvan saat ini. Secara tidak langsung wanita itu mendapatkan kurungan istana.
"Yang mulia! Anda tidak bisa melakukan ini pada Putri saya!" Ujar Duke Geraldine tegas.
"Duke Geraldine! Anda juga, tidak diizinkan untuk bertemu dengan putri mahkota tanpa seizin ku! Jika kau melanggar, maka aku dengan terpaksa akan menjatuhkanmu hukuman!" Kata Max tegas tanpa ragu.
"Ayah...aku baik-baik saja. Ayah kembalilah," ucap Liliana dengan suara tenang.
"Baiklah, ayah akan pergi. Oh ya...yang mulia putra mahkota, saya akan segera memberikan dokumen pelengseran putri mahkota secepatnya.."
"Duke Geraldine!" Max membentak, dia tidak mau mendengar kata-kata sedikitpun tentang Liliana dan perceraian mereka.
Daisy dan pengawal istana mengantarkan Liliana kembali ke dalam kamarnya. Sementara duke Geraldine masih bersama Max diluar sana.
"Yang mulia, saya harap anda tidak lupa. Bahwa anda yang telah menceraikan putri saya. Anda sudah mengingkari semua janji anda pada saya dan Liliana. Saya akan segera mengurus semuanya, saya tidak mau putri saya terluka. Saya permisi, yang mulia." Duke Geraldine membungkukkan badannya seraya memberi hormat pada putra mahkota kerajaan Istvan itu.
Max terpaku, dia tenggelam dalam amarah. Jika waktu bisa diulang kembali, dia ingin mengulangnya sehingga tak akan ada masalah seperti ini.
"Adrian.." panggil Max pada Adrian yang sedang berjalan di lorong.
"Ya, yang mulia." sahut pria itu sambil tersenyum.
"Yang mulia, saya ingin melaporkan berita penting!" Pierre berlari menghampiri Max dengan nafas terengah-engah.
"Apa aku harus mengatur kelas etika lagi untukmu? Mengapa kau berlari seperti itu seperti orang yang tak tahu aturan?!" Max yang sedang marah, jadi berkata ketus dan dingin.
"Yang mulia, saya ingin menyampaikan petisi dari beberapa bangsawan yang mendukung pelengseran putri mahkota dan menunjuk putri mahkota baru!" Pierre menyerahkan salah satu dokumen yang dibawanya pada Max.
Max membaca isi dokumen itu, kemudian dia meremasnya. "Kurang ajar! Baru saja ayahku dimakamkan, mereka sudah membahas tentang ini!!"
...*****...
__ADS_1