
...🍁🍁🍁...
Setelah mencium pipi Liliana, Max menatap wanita itu dengan mata merah karena menangis. Liliana juga menatap Max, dia terlihat bingung.
Ibu pernah bilang, jika seorang pria sampai menangis untuk seorang wanita. Itu artinya perasaan pria itu lebih dari sekedar suka dan...tidak, tidak mungkin! Cinta itu tidak ada! Liliana menggelengkan kepalanya, memungkiri perasaan yang coba dia tebak
"Liliana, aku-"
Hup!
Liliana menutup mulut Max dengan cepat dengan tangannya. Dia tidak mau mendengar kata-kata Max. Seakan dia tau apa yang akan diucapkan pria itu kepadanya.
"Jangan katakan apa-apa! Jangan bilang!"
Max melepaskan tangan Liliana dari mulutnya dengan mudah, dia menggenggam tangan cantik itu. "Jadi kau sudah tau? Aku pikir kau tidak peka, ternyata kau hanya pura-pura tidak tau?"
"Apa yang aku pura-pura tidak tahu?" tanya gadis itu sambil menajamkan pandangannya pada Max.
"Kamu tau bahwa aku-"
Sekali lagi Liliana menahan Max untuk tidak bicara, dia membekap mulutnya. "Pergilah dari sini, jangan datang lagi!"
Aku tidak bisa, aku tidak mau mendengar kata cinta lagi. Hatiku hanya akan terluka saat mendengarnya.
"Apa kau menolak perasaanku?" Max memegang tangan Liliana.
Kenapa Liliana bersikap seperti ini? Apa dia tidak suka padaku?
Mata gadis itu mengerjap beberapa kali, dia tidak mau mendengar kata-kata cinta dari seorang pria untuknya. "Aku mohon, jangan katakan apa-apa!"
"Tidak, aku akan tetap mengatakannya sekarang juga! Mengapa aku melakukan semua ini? Kenapa aku menganggap dirimu spesial? Itu karena aku-"
"Eugene-"
Giliran Liliana yang tidak bisa bicara, ketika benda kenyal menyentuh bibir cantiknya.
__ADS_1
"Akhp!"
Liliana terkesiap, bibirnya dilahap oleh Max dengan cepat. Tangan Max meraih wajah Liliana, menggenggamnya dengan erat. Awalnya Liliana menolak apa yang dilakukan Max kepadanya dengan cara memukul-mukul dada yang bidang dan tubuh kekar Max, namun akhirnya dia menikmati ciuman itu dengan pasrah.
Deg!
Jantung kedua insan itu sama-sama berdegup dengan kencang.
Tak lama kemudian, Max melepaskan pagutan bibirnya, dia merasakan ada air yang jatuh membasahi pipinya. Dan itu adalah air mata dari gadis yang baru saja berciuman dengannya. "Lihat? Mulutmu berkata bohong, tapi tubuhmu berkata jujur. Aku tau kalau kau juga menc-"
"Hentikan! Aku tidak mau dengar!" Liliana mengusap basah dibibirnya akibat ulah Max, dia menangis.
"Kalau tidak dikatakan, bagaimana kau bisa tau dan yakin dengan perasaanku? Aku mencintaimu," Max mengutarakan perasaannya saat itu juga, dia tidak mau Liliana terus menutup mata dan telinganya. Dia harus melihat jelas perasannya pada Liliana.
"Cinta itu tidak ada Eugene, tidak ada yang namanya cinta! Dan aku tidak mencintai dirimu," sangkal wanita itu tentang cinta.
"Baiklah, mungkin untuk sekarang kau tidak percaya dengan cinta. Tapi, kau hanya harus tau aku mencintaimu.. aku tulus padamu. Mungkin aku memang terlalu terburu-buru. Liliana, aku tidak suka melihatmu terluka.. aku tidak suka melihatmu menangis dan kesulitan, aku ingin membantumu sebisaku. Aku tidak mau kau menyiksa dirimu dengan balas dendam," jelas Max yang ingin membuat Liliana lebih percaya dan terbuka padanya.
Liliana terdiam sambil menangis tanpa suara. Tangan Max menyeka air mata itu pelan-pelan, meski Liliana memalingkan wajahnya seolah memberikan penolakan.
Kenapa aku tidak menolak ciumannya? Apa aku mencintai Eugene? Liliana berfikir keras.
Gadis berambut merah itu menoleh dan mendongak ke arah Max tanpa kata.
"Izinkan aku bergabung dalam rencana balas dendam mu. Aku ingin membantumu." ucap Max tegas.
Aku tidak bisa membiarkanmu terluka sendirian lagi.
"Kau tidak bisa, ini tidak ada hubungannya denganmu," Liliana menolak dengan tegas.
"Oh, tentu saja ada. Itu karena aku mencintaimu dan aku adalah orang yang kau cintai," ucap Max percaya diri sambil mengoles salep di leher Liliana dengan lembut.
"Kau sangat narsis, hentikan semua ini! Aku akan mengobati diriku sendiri," ucap gadis itu ketus.
"Kau tidak bisa berdiri sendiri, kau membutuhkan seseorang untuk balas dendam pada count Wales dan si pirang itu. Aku bisa melakukannya untukmu, kau bisa memanfaatkan ku tanpa bersusah payah seperti ini,"
__ADS_1
"Aku bisa melakukannya sendiri, lebih baik kau jangan ikut campur,"
"Kau hampir mati bagaimana aku tidak bisa ikut campur? Kau tidak boleh mati tanpa seizinku Liliana, kali ini aku akan tetap ikut campur. Aku tidak mau wanitaku terluka,"
"Siapa yang kau bilang wanita mu?" Liliana terpana.
"Tentu saja itu kau, memangnya siapa lagi?" Max tersenyum sambil meletakkan kembali salepnya di atas meja. "Luka dipunggung mu, biar Daisy saja yang mengobatinya,"
Liliana sedikit terharu karena Max tidak bertindak melewati batas dengan melihat punggungnya. Dia hanya mengoleskan salep di lehernya. "Terimakasih," ucap Liliana sambil memalingkan wajahnya.
"Sekedar pemberitahuan, kau tidak sadarkan diri selama 5 hari," ucap Max sambil tersenyum pahit, dia tidak senang jika mengingat lima hari yang menyedihkan itu.
"Apa? Selama itu?" tanya Liliana tak percaya.
"Aku pergi, nanti aku datang lagi." Max pamit pergi, dia ingin menenangkan dirinya yang baru saja menyatakan cinta pada Liliana. Dan gadis itu juga butuh waktu untuk memahami ucapan Max.
Max menghilang begitu saja dari kamar Liliana. Setelah mencium dan mengutarakan cinta kepadanya. "Aku sudah bilang jangan katakan cinta padaku.. aku mungkin tidak bisa membalas cintamu, seperti yang kau lakukan kepadaku Eugene. Karena cinta di hatiku sudah lenyap oleh semua dendam dan amarah," gumam Liliana.
Aku tidak sadarkan diri selama lima hari. Lalu apa yang terjadi pada Adara?
Tak lama kemudian, Liliana memanggil Daisy yang ada diluar untuk membantunya mengoleskan salep. Bukan Daisy yang datang, melainkan orang lain. Liliana membalikkan tubuhnya dengan punggung yang terbuka tanpa sehelai benang. Dia tidak melihat sosok orang lain dibelakangnya, karena ia mengira sosok itu adalah Daisy.
"Daisy, tolong oleskan salep ke punggungku.. ini sangat perih," ucap Liliana pada seseorang yang sudah berdiri dibelakangnya sambil membawa salep.
Pria itu mengoleskan salep pada punggung Liliana dengan lembut. Dia adalah Arsen yang datang tanpa suara. "Daisy, kenapa aku merasa kalau tanganmu sedikit besar ya?" tanya Liliana pada Daisy.
Kenapa dari tadi Daisy diam saja? Apa dia tidak senang aku kembali siuman?
Arsen tidak menjawab, dia terus mengoleskan salep pada punggung gadis itu. "Daisy.. aku pasti sudah membuatmu cemas. Maafkan aku ya. Tapi apa yang terjadi pada nona Adara?"
GREP!
Liliana mendapatkan pelukan dari tangan kekar seorang pria, pelukan dari belakang. "Dia sudah mendapatkan hukuman," ucap Arsen sambil berbisik ditelinga Liliana.
Deg!
__ADS_1
Mendengar suara pria berbisik ke telinganya, membuat Liliana membalikkan badan untuk melihat siapa orang yang berada dibelakangnya itu. "Tuan.. Count," mata Liliana membulat, dia tercengang melihat Arsen ada dibelakangnya. Dengan cepat dia menutupi tubuh bagian depannya dengan kain. "Syukurlah, kau sudah siuman,"
...----****----...