
Hukuman MATI.
Ya mungkin hukuman itulah yang pantas untuk Freya, wanita yang selalu membuat masalah di dalam kehidupan orang-orang istana bahkan pada anaknya sendiri. Dia mencoba membunuh janin yang ada didalam kandungannya.
Semua orang tersentak kaget mendengar keputusan Raja. Tidak ada bantahan dari Liliana juga, tampaknya wanita itu setuju dengan hukuman yang dilimpahkan pada Freya.
"Hah! Hukuman mati? Bagaimana bisa kau mengatakan tentang hukuman mati padaku? Memangnya apa kesalahanku sehingga kau berani memberikan hukuman MATI?" Freya mendelik sinis, dia pun menunjukkan sifat aslinya.
"Rupanya kau masih tidak sadar diri, baiklah! Pilihlah hukumanmu sendiri, mau mati digantung atau mati dipenggal!"
Hukuman pilihan yang diberikan Max kepadanya, sama-sama kejam. Ya, semuanya tentang kematian. Kini Freya seperti berada di jurang, dia tidak bisa kembali dan dia juga tidak mau pergi.
Max dan Liliana sudah tidak bisa mentolerir lagi perbuatan Freya. Apalagi yang dia lakukan pada Laura, putrinya sendiri. Jika manusia seperti Freya dibiarkan hidup di dunia ini, dia hanya akan mengacau dan mencelakakan orang lain.
"Yang mulia Raja, tunggu!"
Atensi semua orang tertuju kepada Laura dan suaminya yang sedang berjalan menuju ke depan sana. Laura menghampiri ibunya, dayang dan dua orang kepercayaan Freya, yang saat ini sedang dihakimi oleh semua orang.
Freya menatap Laura, terlihat raut wajahnya yang lega saat melihat putrinya disana. Pikirnya Laura akan menyelamatkan dirinya dari hukuman.
"Putri Laura, jika kau di sini untuk menghentikan hukuman ibumu...maaf, aku tidak bisa mengabulkan permintaanmu."
"Tidak kakak, aku tidak akan menghentikannya."
Sungguh! Hati Freya seperti dihantam oleh benda berat, dia tidak menyangka bahwa putrinya akan mengatakan seperti itu. Laura sama sekali tidak berniat untuk menolong ibunya.
"Laura...baguslah kau datang, kau kesini untuk menolong ibu, kan?"
Bibir Laura gemetar, matanya berkaca-kaca menatap ibunya. Eugene berada disampingnya dan berusaha untuk menopang tubuh istrinya.
"Yang mulia Raja, yang mulia Ratu...mohon izinkan aku untuk bicara dengan ibuku untuk yang terakhir kalinya."
A-apa maksud Laura? Apa dia tidak mau menolongku?
Freya terbelalak mendengar ucapan Laura.
"Baik." jawab Max.
Max memegang tangan istrinya yang masih lemah. Mereka bersiap untuk mendengarkan apa yang akan Laura katakan pada Freya.
"Laura, kau tega pada ibu nak? Apa kau tidak sayang pada ibumu ini? Eugene menantuku tersayang, Apa kau akan membiarkan Ibu mertuamu ini dihukum mati?"
Freya mulai melancarkan aksi memelasnya untuk mendapatkan simpati dari semua orang, terutama dari Laura dan Eugene.
"Ibu... kejahatan ibu sudah tidak bisa di maafkan lagi, ibu sudah benar-benar..."
"Laura...ibu hanya ingin kau bahagia, ibu melakukan semua ini karena Ibu tidak ingin kau menganut anak dari pria rendahan itu!"
Ya kini Freya mengakui semua tindakannya ini adalah karena Eugene, dia tidak ingin anaknya mengandung anak Eugene. Laura kecewa sangat pada ibunya.
"Laura, ibu tau kau kecewa pada ibu. Tapi ibu melakukan semua ini demi kebaikanmu juga! Laura, tidak ada seorang ibu di dunia ini yang tidak menyayangi putrinya... semua ibu di dunia ini ingin anaknya bahagia. Dan itulah yang ibu lakukan padamu saat ini, Ibu tidak sudi kok mengandung anak dari pria liar itu."
Sakit hati!
Itulah yang dirasakan oleh Laura dan Eugene saat mendengar ucapan Freya. Jadi selama ini saya berpura-pura baik di depan mereka untuk menutupi niat busuknya.
"Ibu, ibu hampir membunuh cucu ibu...ibu sudah mencelakai Ratu. Ibu... bisakah Ibu minta maaf dan menyesali semua perbuatan ibu?" Pinta Laura dengan suaranya yang lirih.
"Tidak! Aku tidak akan pernah menyesali semua yang aku lakukan, apalagi untuk kebaikanmu Laura."
"Baiklah, kalau mau ibu begitu...maka jalanilah hukuman ibu."
"Laura! Apa kau mau menjadi anak durhaka? Kau tidak sayang pada ibumu ini?" Freya mendelik tajam.
"Ibu, sungguh aku sangat menyayangimu. Tidak ada seorang anak di dunia ini yang tidak menyayangi ibunya, aku sayang pada ibu...tapi ibu lah yang tidak bisa diberitahukan jalan kebenaran, ibu lah yang tidak mau aku sayangi. Semuanya sudah cukup ibu! Cukup, hubungan anak dan ibu di antara kita sudah berakhir!"
Bagai petir yang menggelegar, Freya tercengang dan hatinya terluka mendengar ucapan Laura. Tanpa sadar ini buliran air mata telah jatuh membasahi pipinya.
"Kau tega pada ibumu ini? Kau TEGA!" Teriak Freya.
"Ibu, kaulah yang tega padaku. Kau yang sudah berbuat banyak kejahatan dan kau juga sudah menyembunyikan fakta besar dariku. Fakta menyakitkan tentang siapa ayah kandungku!"
Freya juga semua orang yang mendengar hal itu tercengang, fakta tentang ayah kandungnya?
Laura menangis, dia meminta ibunya untuk mengatakan kepadanya tentang siapa ayah kandung Laura. Cukup berlama-lama dalam perbincangan, akhirnya Freya mengatakan kepada Laura bahwa ayah kandung Laura bukanlah sang raja, melainkan pengawal raja yang bernama Harold. Sakit hati Laura mendengar hal itu.
Kemudian Freya pun di hukum mati dengan cara digantung. Sedih, memang hati Laura merasakannya. Namun apa boleh buat? Ibunya sudah terlalu banyak melakukan kesalahan yang sulit untuk dimaafkan.
Sebelum Freya di hukum mati bersama para antek-anteknya, dia meminta permohonan terakhir kepada Raja. "Yang mulia, saya ingin meminta sesuatu."
Max melirik tanpa bicara sepatah katapun pada ibu tirinya itu.
"Saya ingin agar yang mulia tidak mengusir putri saya dan saya ingin putri dan cucu saya mendapatkan perlakuan sebagai anggota keluarga kerajaan!" tegasnya pada Max, dengan mata berkaca-kaca.
Kalau aku mati, pasti Laura akan mendapat imbasnya juga. Aku tidak boleh membawa Laura ke neraka bersamaku, dia harus bahagia dan hidup lama.
"Ibu! Aku tidak pantas mendapatkan itu, aku bukan anak kandung mendiang Raja!" sergah Laura sambil menangis.
Ibu, apakah ibu benar-benar menyayangiku Bu?
"Baik, selamanya dia akan menjadi adikku dan mendapatkan perlakuan yang semestinya. Hanya itu sajakah yang kau inginkan?" Max setuju dengan permintaan Freya.
__ADS_1
Freya melirik ke arah Eugene dengan tajam. "Eugene...kau harus jaga Putriku baik-baik. Kalau kau berani mengambil istri lain dan menyakiti perasaan putriku. Aku akan menghantuimu di alam sana! Kau harus tepati janjimu!"
"Ya ibu, saya akan menjaga janji saya pada Laura. Saya akan mencintainya dan hanya dia saja yang saya nikahi, ibu tidak usah khawatir."
Mendengar jawaban dari Eugene, Freya menahan tangis. Dia pergi ke tengah-tengah tepat ada gantungan disana. Air matanya mengalir deras.
Ya, mungkin ini memang akhir untukku. Orang jahat sepertiku memang pantas musnah dari muka bumi ini.
"Oh ya Ratu Liliana, aku harap kau masih bisa mengandung." ucap Freya pada Liliana yang membuat wanita itu tercengang saat mendengarnya.
Beberapa saat kemudian, Freya menutup matanya, kini lehernya sudah berada di tiang gantungan. Lehernya di ikat, kemudian dia digantung disana sampai akhirnya dia menghembuskan nafasnya yang terakhir.
Semua rakyat menyaksikan hukuman itu dan merasa ngeri. Disini Max dan kerajaan Istvan membuktikan bahwa hukum kerajaan itu tak pandang bulu, siapapun akan dihukum meski keluarga kerajaan sekalipun.
Laura menangis terisak di pelukan suaminya, ya walaupun ibunya banyak berbuat jahat. Namun tidak ada seorang anak di dunia ini yang tidak sedih melihat ibunya tiada, apalagi di depan matanya. "Ibu...ibu...hiks..."
Eugene memeluk istrinya, berusaha menenangkan sedikit luka hati Laura.
Selamat tinggal Freya...
Selamat tinggal....
Selamat tinggal ibu, semoga Tuhan mengampuni semua dosamu. Semoga Tuhan mengampuni dosa ibu. Aku sayang ibu, aku akan hidup dengan baik Bu...
Liliana dan Max juga merasa bersalah pada Laura, tapi ini semua mereka lakukan demi kebaikan bersama. Jika Freya tetap dibiarkan hidup, maka kejadian buruk di masa lalu akan terulang atau bahkan lebih buruk lagi.
Mereka menatap Laura dengan sendu. "Yang mulia..."
Hati Liliana masih kepikiran dengan ucapan terakhir Freya padanya. Apa maksudnya Freya berkata begitu?
*****
1 Minggu setelah kepergian Freya, Laura sudah mulai menguatkan hatinya dengan bantuan Eugene. Mereka diberikan liburan keluar istana oleh Max dan Liliana untuk menenangkan diri dan mereka belum kembali ke istana sampai saat ini.
Selama satu minggu itu, Liliana masih memulihkan kondisinya dan sekarang keadaannya sudah membaik dan Liliana akan segera memulai kegiatan sosialnya. Sebenarnya saat ini dia masih kepikiran dengan ucapan Freya yang sangat mengganggunya.
"Ada apa Ratuku?" Max membelai dagu gadis itu.
"Yang mulia, apa yang dimaksud dengan ucapan ibu suri itu?"
"Lily, mengapa kau masih membicarakan ucapannya yang tidak penting itu? Lebih baik kau lupakan saja!"
Aku tidak menyangka bahwa Liliana masih akan mengingat ucapan itu, kupikir dia sudah melupakannya.
"Dia bicara seperti itu dan aku terganggu, apa maksudnya aku tidak bisa hamil?" Liliana mulai berpikir negatif.
"A-apa yang kau katakan? Sudahlah, lebih baik kita makan siang bersama ya?" ajak Max lalu mengecup kening istrinya dengan lembut. Ia mencoba mengalihkan perhatian Liliana.
Mereka pun pergi makan siang bersama, namun Liliana masih saja resah dengan pikiran negatifnya itu.
*****
Sementara itu Laura sedang berada di daerah pegunungan, dia melihat pemandangan disekitarnya. Tiba-tiba saja dia teringat beberapa kenangan tentang ibunya. Ingatan yang tidak pernah terjadi dalam kehidupannya yang sekarang.
#FLASHBACK
Ratu berlutut didepan Raja, lagi-lagi dia menyangkal semua bukti dan fakta yang nyata didepannya itu.
"Yang mulia.. saya mohon, yang mulia!" Pinta sang Ratu sambil memelas pada suaminya itu.
"Pengawal! Bawa Ratu ke penjara!" Raja memerintahkan pengawalnya membawa Ratu, tanpa melihat ke arah istrinya.
"Baik!" jawab para pengawal patuh.
"Mohon, ikut dengan kami yang mulia Ratu!" kata seorang pengawal.
"Tidak! Aku tidak mau! Aku ini Ratu, siapa yang berani menyentuhku?!" Ratu kembali berdiri, di memegang tangan Raja. Wanita cantik berambut perak itu mulai meneteskan air matanya. "Yang mulia, ini semua tidak benar.. anda percaya pada saya kan?"
"Benar atau tidaknya, biar hukum yang menentukan itu.. Ratuku." Raja menatap tajam ke arah Ratu, entah dia bersungguh-sungguh atau berpura-pura didepan semua orang. Raja terlihat dingin dan tidak peduli pada Ratu.
Ratu menahan amarah saat dia melihat sikap Raja kepadanya. Mendengar ucapan Raja yang dingin, membuat Ratu sedih.
Di ranjang saja kau sangat baik padaku, kenapa sekarang kau sangat dingin?
Laura yang melihat ibunya akan diseret ke penjara, tentu tidak diam saja. Walaupun Ratu hanya memanfaatkan Laura untuk kepentingan politiknya dan sering berlaku tak adil padanya. Namun Ratu tetaplah ibu kandungnya, ibu yang telah melahirkannya.
Gadis itu maju ke tengah aula, menghampiri ayahnya sang Raja. "Ayah! Aku mohon pada ayah, jangan membawa Ibunda kepenjara. Ibunda.. memang terkadang tak bersikap baik, tapi dia tidak mungkin mencelakai putri mahkota." Laura membela ibunya.
Ratu menatap putrinya dengan haru. Tak menyangka bahwa Laura akan membelanya.
"Putriku, kau tenang saja. Jika Ratu terbukti tidak bersalah, dia pasti akan dibebaskan. Ratu akan di interogasi saja dan tidak akan terjadi apa-apa padanya." Jelas Raja bijak pada putrinya. Statusnya sebagai raja, harus mengedepankan keadilan daripada perasaaan.
Melihat sikap Raja yang dingin terhadap Ratu di hadapan semua orang. Membuat Liliana was-was dan berfikir, apakah suatu saat nanti Max juga akan bertindak seperti itu apabila dia melakukan kesalahan?
"Ayah.. aku mohon.." ucap Laura memohon.
Raja tidak mendengar ucapan Laura,"Pengawal, bawa dia ke ruang interogasi!" Ujar Raja pada para pengawalnya.
Ratu diseret dari pesta itu oleh para pengawal. Laura sedih melihat ibunya dibawa pergi oleh pengawal ke penjara istana, tempat interogasi. Semua orang di pesta itu berbisik-bisik membicarakan Ratu yang baru saja dibawa pergi oleh pengawal.
Pesta ini sudah tidak kondusif lagi. Sepertinya aku harus membubarkannya.
__ADS_1
Raja menghela nafas, dia mengatakan pada Max dan orang kepercayaannya untuk membubarkan pesta. Akhirnya pesta itu dibubarkan bahkan sebelum dimulai.
Setelah hampir semua orang bubaran, hanya tersisa tiga nona bangsawan yang ingin memberi salam pada Liliana dari dekat. Sementara Max berbicara dengan Laura ditempat lain, karena Laura mengajaknya bicara.
*****
Kemudian beberapa ingatan muncul lagi dikepalanya, ketika dirinya pingsan.
Didepan istana putri dan putra mahkota, kini Laura berada. Dia bermaksud untuk bicara dengan Liliana meminta pengampunan untuk ibunya.
Laura terlihat sangat pucat, dia juga merasakan pusing dan mual namun tidak separah tadi saat mencium bau parfum Liliana. Eugene yang sedang berjaga disana melihat Laura tengah berdiri didepan kamar Liliana. Didepan kamar itu berdiri dua pengawal yang tidak diketahui namanya.
"Yang mulia, sedang apa anda disini? Ini sudah malam...apa anda tidak beristirahat?" Tanya Eugene pada Laura.
"Ah.. Eugene, aku ingin menemui kakak iparku. Dan aku belum bisa istirahat sebelum bicara dengannya," jelas Laura dengan suara pelan.
Kepalaku sangat pusing. Aku kenapa?
Eugene menatap Laura dengan cemas, "Yang mulia.. saya akan memanggil putri mahkota. Anda duduklah dulu di kursi yang-"
BRUGH!
Tubuh Laura tiba-tiba oleng, dia jatuh pingsan tidak sadarkan diri. Dengan sigap Eugene segera menangkap tubuhnya. "Yang mulia! Yang mulia!" Teriak Eugene panik.
"Yang mulia putri!" Ujar Annie dayang setianya yang juga panik melihat Laura tiba-tiba pingsan.
Mendengar keributan di luar, Liliana langsung keluar dari kamarnya. Dia terkejut melihat Laura yang tidak sadarkan diri berada didalam gendongan Eugene. "Putri Laura! Sir Eugene, apa yang terjadi padanya?!" Tanya Liliana pada Eugene.
"Hamba juga tidak tahu yang mulia, tiba-tiba saja tuan putri.." Eugene juga cemas pada Laura.
Laura, kau kenapa? Apa yang terjadi?
"Sir Eugene, bawa dia ke kamarku! Dan kau Annie, panggilkan tabib istana kemari! Cepat!" Titah Liliana pada Eugene dan Annie.
"Ya, yang mulia putri mahkota!" Jawab Annie dan Eugene kompak.
Annie segera pergi ke ruang pengobatan istana untuk memanggil tabib. Sementara itu, Eugene menggendong Laura dan membawanya ke kamar Liliana karena kamar itu adalah kamar terdekat disana.
"Baringkan dia disini," ucap Liliana seraya menunjuk ke arah ranjangnya.
Tanpa banyak bicara, Eugene membaringkan Laura diatas ranjang empuk itu dengan hati-hati. Wajah pucat Laura terlihat sangat jelas.
Eugene melihat wanita itu dengan cemas dan kening berkerut, alisnya terangkat ke atas.
Laura apa yang terjadi padamu?
KLAK
"Yang mulia putri mahkota, saya sudah bawa tabibnya!" Seru Annie sambil menghampiri Liliana dan Eugene yang masih berada disana.
"Tabib Chris, tolong periksa putri Laura!" Titah Liliana pada Chris, dia juga menatap Laura dengan cemas.
"Baik yang mulia saya akan memeriksanya," ucap Chris patuh sambil duduk tepat di samping ranjang Laura.
Chris memeriksa denyut nadi Laura, pria tua itu berulang kali mengerutkan keningnya. "Tidak mungkin," gumam Chris pelan.
"Kau bilang apa tuan Chris?" Tanya Liliana tak mendengar jelas perkataan Chris.
"Maaf yang mulia, apakah saya boleh bertanya?" Chris menoleh ke arah Liliana.
"Tentu, silahkan."
"Apakah yang mulia tau berapa lama putri seperti ini? Ataukah gejala yang dialami putri sebelumnya?" Tanya Chris penasaran.
"Aku tidak tahu dengan jelas, tapi sebelum acara penobatan. Dia mual-mual saat mencium bau parfumku," ucap Liliana tentang yang dia tau tentang Laura.
Eugene masih disana dan mendengarkan apa yang di bicarakan. Dia menatap Laura dengan cemas dan ingin tau apa yang terjadi padanya.
"Tuan tabib, akhir-akhir ini tuan putri sering mengalami mual-mual di pagi hari. Bahkan nafsu makannya juga berkurang, selain itu yang mulia putri sering mengeluh sakit kepala." Jelas Annie yang tau banyak hal tentang Laura karena dialah orang yang paling dekat Laura.
Chris terdiam menundukkan kepalanya. Tak lama kemudian dia meminta Liliana agar semua orang meninggalkan ruangan itu, karena ada hal pribadi yang ingin disampaikan pada Liliana. Orang luar tidak berhak mendengarnya.
Akhirnya Eugene dan Annie terpaksa pergi keluar dari kamar itu walau mereka ingin tau apa yang akan dikatakan oleh Chris.
"Semoga tuan putri baik-baik saja," ucap Annie berdoa tulus untuk Laura.
Laura, semoga kau baik-baik saja. Eugene melihat ke arah pintu kamar itu dengan cemas.
#END FLASHBACK
Kembali ke masa kini...
"Ingatan apa ini? Apa benar itu masa lalu?" gumam Laura sambil memegang kepalanya.
"Sayang, jangan berada disitu terus...kau akan masuk angin. Masuklah, aku sudah buatkan coklat panas untukmu." Eugene memeluk istrinya dan mengelus perutnya yang masih datar itu.
"Iya sayang, ayo kita masuk." sahut Laura sambil melihat suaminya.
Mau itu masa lalu ataupun masa depan,hidup harus tetap berjalan. Ibu...semoga ibu tenang berada disisi Tuhan disana.
...*****...
__ADS_1
Sorry kalau ada yang bingung, episode ini banyaknya flashback Freya ☺️ sama Laura dan Eugene...