Second Life Liliana

Second Life Liliana
Bab 185. Selamat tinggal Aiden (Tahap Revisi)


__ADS_3

...🍀🍀🍀...


Isak tangis mengiringi kematian Aiden. Sedih, terluka, walaupun Aiden yang telah memisahkan Liliana dan Max. Tapi Aiden lah yang telah berkorban juga untuk selamatkan Liliana dan Max.


Aiden, adalah sahabat yang baik untuk Liliana. Selama mereka berada di kerajaan Gallahan, Aiden selalu menolong Liliana disaat-saat tersulit.


"Selamat jalan Aiden, semoga kau bahagia di sana." Ucap Liliana sambil menatap pria yang sudah tak bernyawa di hadapannya itu.


"Terima kasih Aiden... terimakasih karena kau sudah menyelamatkan kami," ucap Max tulus sambil memegangi tangan Liliana.


Tibalah hari, dimana Aiden di makamkan di kerajaan Gallahan. Liliana dan Max hadir juga di sana.


Dan saat itulah terlintas beberapa kenangan di kepala Liliana tentang Aiden.


#FLASHBACK


Pertemuan Liliana dan Aiden untuk pertama kalinya.


Setelah makan disana, Andreas dan Liliana kembali melanjutkan perjalanan mereka ke tempat tinggal mereka selama berada di pulau Jarvara itu. Sebuah rumah sederhana yang berada di tepi pantai, rumah impian Liliana. Didalam perjalanan pulang, Liliana dan Andreas melihat ada beberapa orang ditengah hutan yang bersiap merampok sebuah kereta.


"Nona! Sepertinya mereka adalah bandit yang selalu berkeliaran dan meresahkan warga itu." ucap Andreas sambil menyiapkan pedangnya.


"Bandit-bandit itu! Mereka sudah menyakiti para wanita di desa ini, tidak cukup dengan merampas harta, memperkosa, mereka juga membunuh. Bejat dan biadab!" Liliana mengepalkan tangannya dengan geram. Dia tak tahan dengan kekejaman para bandit itu sudah banyak meresahkan warga yang tinggal di pesisir pantai.


Liliana keluar dari keretanya, dia menyiapkan pedang untuk menyerang bandit-bandit itu. Mereka mendekati kereta lewat dari arah berlawanan dengan kereta yang dinaiki oleh Liliana.


"Heh! Kalian para sampah masyarakat!" Ujar Liliana pada para bandit itu.


"Nona, kenapa anda bergerak sendiri?" Andreas cemas karena Liliana turun dari kereta lebih dulu.


10 orang pria bertubuh besar itu melirik ke arah Liliana, dari gayanya mereka seperti ingin menganggu Liliana dan Andreas. "Apa kau memanggil kami, tuan?" tanya seorang pria pimpinan bandit itu yang mengira Liliana sebagai pria. Sebab, Liliana memakai celana dan topi untuk menutupi rambut panjangnya.


"Iya, aku memanggil kalian para bandit jalanan! Sampah masyarakat yang harusnya dibuang ke tempat sampah,"


Beberapa orang dari mereka berjalan menghampiri Liliana dan Andreas. Liliana sama sekali tidak terlihat takut, tapi Andreas yang takut. Bukan karena dirinya penakut, tapi dia takut terjadi sesuatu pada Liliana.


"Nona, biar saya yang tangani ini! Nona dibelakang saya saja," Andreas maju ke depan Liliana, bersiap untuk melindunginya.


"Mereka ada 10 orang, bagaimana bisa kau menghadapinya sendiri? Bagaimana kalau kita bagi dua saja, sir Andreas?" Wanita itu menyunggingkan senyuman manisnya.


"Nona! Mengapa anda masih bisa bercanda disaat seperti ini?" tanya Andreas heran.


Nona sedang hamil, tidak boleh terjadi sesuatu padanya dan bayinya.


Liliana terlihat santai, dia bersiap dengan pedangnya. "Aku lawan tujuh, kau tiga saja ya?"


Mereka mendekati Liliana dan Andreas. Liliana menggunakan cara lembut dulu untuk membuat para bandit itu mengakui kejahatan mereka dan rela ditangkap oleh petugas.


"Hahahaha...kau ingin kami menyerahkan diri kami? Apa kau bodoh?" seorang pimpinan bandit itu menertawakan ucapan Liliana yang memintanya dan komplotan itu menyerahkan diri.


"Hahahaha.." Bandit-bandit lainnya juga ikut menertawakan Liliana, dia menganggap ucapan gadis itu adalah lelucon.


"Tidak, aku tidak bodoh...tapi kalianlah yang bodoh."


"Apa? Hey tuan bertubuh kecil! Beraninya kau menantang kami?" seorang pimpinan bandit mendorong-dorong tubuh Liliana dengan jari telunjuknya. "Lebih baik kau minggir sebelum kulitmu yang putih dan tubuh mungilmu itu aku remukan!" ancam pria bertubuh besar itu pada Liliana.


Mata para bandit itu menatap tajam meremehkan ke arah Liliana dan Andreas.


Tanpa mereka sadari, orang didalam kereta itu melihat ke arah Liliana,Andreas dan para bandit. Mereka hanya menonton didalam kereta, tampaknya yang berada didalam kereta itu adalah bangsawan.


"Baginda, apa kita akan tetap menonton disini? Jumlah mereka banyak dan-" ucap seorang pria berkumis yang duduk didalam kereta. Dia cemas melihat Liliana dan Andreas berada di luar sana bersama para bandit.


"Biarkan saja dulu, aku ingin tau bagaimana si kecil itu menghadapinya." ucap pria tampan berambut pirang itu sambil tersenyum tipis.


Heh! Aku ingin lihat bagaimana mereka menghadapi bandit itu.


Liliana tidak punya pilihan lain selain menggunakan cara kasar. Dia meminta Andreas mengurus 3 orang dan dia tujuh orang. Andreas pun protes karena perhitungannya tidak adil.


"Ah kau ini! Masih saja sempat protes! Baiklah, aku 6 kau empat!" kata Liliana bersiap dengan pedangnya.


Hyat!!


Hyatt!!


Terjadilah pertarungan berdarah disana antara para bandit, Liliana dan Andreas. Jumlah 10 lawan 2, sungguh tidak seimbang. Namun, perlahan-lahan dan satu persatu mereka mulai tumbang ditangan Liliana.


"Nona, anda terlalu cepat!" Kata Andreas tegas.


"Kau harus lebih meningkatkan stamina mu," sahut Liliana sambil tersenyum. Dia menikmati menghabisi bandit-bandit itu.


"Nona...saya mohon berhati-hatilah." Kata Andreas yang khawatir dengan kandungan Liliana.


Pertarungan itu dimenangkan oleh Liliana dan Andreas. Setelah pertarungan selesai dan pemimpin bandit itu dilumpuhkan di bawah kaki Liliana. Orang-orang yang berada di dalam kereta, keluar dari kereta mereka dan menghampiri Liliana. Dia bersama dengan para prajuritnya menangkap bandit.


"Tuan, anda sangat terlambat." ucap Liliana pada pria itu sambil tersenyum sinis.


Pria ini sangat licik, dia pasti ingin memasang wajah baik dimata semua orang. Cih! Dia datang disaat kami sudah selesai.


"Maafkan saya tuan, sepertinya anda marah pada saya." ucap pria itu sambil tersenyum ramah.


"Andreas, ayo pergi!" ajak Liliana pada Andreas.


Wanita itu mengacuhkan pria yang sedang bicara dengannya, dia melangkah pergi meninggalkannya. Seseorang disisi pria tampan itu terlihat kesal. "Baginda, bagaimana bisa dia..."


"Sssttt...diam kau! Tidak boleh ada yang tau aku adalah seorang Raja." ucap pria itu pada orang yang ada disampingnya.


Pria yang disebut sebagai Raja itu mendekati Liliana dan Andreas. "Permisi, apakah boleh kita bicara sebentar?"


"Apa kau menghabiskan waktumu untuk bicara saja? Lebih baik kau urus mereka, bukankah tujuanmu kemari ingin menangkap mereka?" Liliana menatap pria itu dengan tajam.


"Oh...saya minta maaf, sepertinya tuan marah pada saya dan sepertinya ada kesalahpahaman."


"Heh! Aku tidak peduli kau siapa, tapi aku benar-benar tidak suka dengan caramu ini! Kalau kau ingin menangkap para bandit, jangan bersembunyi dibelakang orang lain dan menjadikannya umpan. Lain kali, kau tidak boleh menggunakan cara seperti itu!" Kata-kata Liliana terdengar tajam dan sinis pada pria itu.


"Tuan, saya benar-benar.."


Uwekkk...uwekkk...


Liliana tanpa sengaja muntah di baju pria itu. Sontak saja pria itu terkejut melihat ada muntahan dibajunya.

__ADS_1


"Maafkan aku, aku benar-benar tidak seng-"


Uwekkk...uwekkk...


Liliana kembali muntah-muntah, kini muntahannya mengenai sepatu pria itu. Sontak saja si pria itu dan orang-orang yang ada disekitarnya menjadi terkejut.


Astaga! Yang mulia adalah pecinta kebersihan!. Batin seorang pria sambil melihat ke arah pria tampan itu.


Pria yang dipanggilnya sebagai raja itu adalah Raja baru di kerajaan Gallahan yaitu Aiden Arihen Gallahan.


Aiden syok, dia langsung ikut muntah sama seperti Liliana. Orang kepercayaannya yang bernama Dorman, berusaha untuk menenangkan Aiden dari mysophobianya.


Uwekkk...uwekkk...


"Nona, apa anda baik-baik saja?" bisik Andreas pada Liliana sambil memberikan sebotol air minum pada wanita itu.


"Aku sudah tidak apa-apa, tapi kenapa pria itu?" Liliana keheranan melihat Aiden yang muntah-muntah tanpa sebab.


"Kau! Beraninya kau muntah di baju dan sepatuku!" Aiden menunjukkan jarinya pada Liliana.


"Aku minta maaf, aku benar-benar tidak sengaja." kata Liliana sambil mengatupkan kedua tangannya seraya meminta maaf pada Aiden.


"Kau...apa kau tau siapa-"


Aiden tiba-tiba jatuh pingsan, semua orang menjadi panik saat melihatnya. Liliana dan Andreas juga cemas melihat Aiden pingsan.


Beberapa saat kemudian, Aiden membuka matanya. Dia melihat ke atap-atap langit, dia sadar bahwa dia berada di tempat asing.


"Yang mulia, anda sudah siuman? Bagaimana keadaan anda? Apa kepala anda masih sakit?"


"Aku ada dimana, Dorman?" tanya Aiden sambil beranjak duduk di ranjang yang keras itu. Dia. melihat-lihat ke tempat asing itu.


"Kita ada di rumah tuan itu, tuan yang muntah ke baju yang mulia." ucap Dorman menjelaskan secara singkat. Bahwa mereka berada di rumah Liliana.


Aiden menyeringai, dia menaikkan alis dan tampak kesal. "Mana pria itu? Beraninya dia memuntahi aku!" dengusnya kesal.


"Tuan, apa kau sudah sadar?" tanya seseorang yang sedang berjalan ke arah mereka.


Kemarahan Aiden tiba-tiba mereda berubah menjadi terpana saat melihat seorang gadis cantik berambut panjang berwarna perak ada didepannya. Dorman juga heran melihat gadis itu, seingatnya tidak ada wanita disana.


Cantik sekali wanita ini.


Gadis cantik itu adalah Liliana dan dia membawakan nampan berisi dua gelas air dan semangkuk sup di atasnya. "Minumlah ini, mungkin akan meredakan mualnya." ucap Liliana sambil meletakkan nampan itu di atas meja. "Tuan Dorman juga, silahkan diminum. Ada satu gelas untukmu,"


"Maaf, nona siapa ya?" tanya Dorman bingung sambil melihat ke arah Liliana.


Aiden menatap Liliana dan bertanya padanya, "Nona, katakan padaku...dimana pria menyebalkan yang sudah muntah ditubuh ku?"


Datanglah Andreas yang menjawab pertanyaan Aiden, "Nona ini adalah pria menyebalkan yang anda maksud."


"Kau?" Aiden terpana melihat ke arah Liliana. Dia tidak percaya bahwa wanita cantik yang berada didepannya itu adalah pria Badas yang muntah di bajunya. Seseorang yang melawan para bandit itu dengan mudahnya.


"Tuan Andreas, aku akan pergi ke kamarku dulu. Setelah mereka selesai minum dan menghabiskan supnya, kau antarlah mereka pulang." ucap Liliana cuek.


"Baik nona," jawab Andreas patuh.


Ini aneh, kenapa aku tidak merasa jijik saat memegang tangan wanita ini.


Liliana menepis tangan Aiden dengan keras, dia menatap pria itu dengan sinis. "Jangan kurang ajar!"


Aiden melihat kedua telapak tangannya dengan wajah bingung. Kemudian dia beranjak dari tempat tidur dan memeluk Liliana.


Grep!


Dorman dan Andreas tercengang melihatnya.


Yang mulia kan tidak bisa bersentuhan dengan wanita, kenapa yang mulia Raja tiba-tiba memeluk nona itu? Apa yang mulia tidak takut gatal-gatal?


"Kau! Apa yang kau lakukan?" Liliana terlihat kesal.


Aku, aku tidak gatal-gatal atau merasa jijik padanya. Wanita ini dia berbeda. Aiden masih memeluk wanita itu dengan eratnya.


Bugh!


Sebuah bogem mentah mengarah pada perut Aiden dengan keras, hingga pria itu terjengkang jatuh ke lantai. Dorman membantu Rajanya untuk berdiri.


"Uggghh..." Aiden memegang perutnya, dia merintih kesakitan.


"Yang mu...tuan apa kau baik-baik saja?" tanya Dorman cemas.


"Tuan Andreas, kau urus mereka!" Liliana pergi dari kamar itu dengan wajah kesal.


Dia tidak mempedulikan Aiden yang memanggilnya. Aiden kecewa dan kesal karena ada wanita yang berani memukul tubuhnya yang berharga. Dorman dan Andreas merawat Aiden sampai pria itu sudah merasa baikan dan tidak mual-mual lagi.


Setelah hampir dua jam berada di rumah Liliana, Aiden masih berada disana. Dia terus menanyakan tentang Liliana.


"Hey kau! Bisa kau panggilkan nonamu? Bukankah dia harus bertanggungjawab padaku, aku seperti ini karena dirinya dan dia malah meninggalkan aku sendirian disini." gerutu Aiden sebal.


Dia adalah satu-satunya yang tidak membuatku jijik dan gatal-gatal. Bagaimana bisa aku pergi dari sini begitu saja? Siapa tau dia bisa menjadi obatku. Aiden menyilangkan tangannya didada dengan gaya angkuhnya.


Pria ini sudah baik-baik saja, tapi kenapa dia masih berada disini? Apa mungkin dia tertarik pada nona?


"Haahhhh...baiklah tuan, saya akan bicara dengan nona." Andreas menghela nafas panjang.


Ya, aku akan bicara dengan nona supaya dia bisa mengusirmu pergi dari sini.


Kstaria pribadi Liliana itu pergi ke lantai dua rumah itu untuk memanggil Liliana.


Dorman bingung kenapa Rajanya masih berada disana dan menanyakan Liliana. "Yang mulia, kita harus segera kembali ke istana." bisik pria berkumis itu pada Aiden.


"Haruskah aku kesana?" Aiden terlihat malas mendengar kata istana. "Dorman, kemarilah!"


"Ya, yang mulia?" sahur Dorman seraya mendekati Aiden.


Aiden memegang tangan Dorman sekejap, kemudian dia langsung menarik tangannya kembali. Dia membersihkan tangannya dan terlihat jijik. "Ish!"


"Yang mulia, saya pikir penyakit anda sudah sembuh."


"Dorman, kau lihat sendiri kan? Bahwa di dekat gadis itu aku sama sekali tidak merasa jijik ataupun gatal-gatal seperti biasanya jika aku mendekati seorang wanita."

__ADS_1


"Iya itu benar yang mulia."


"Aku pikir aku sudah menemukan obatku, seperti apa kata Saintess, benar kan?" Aiden tersenyum pada Dorman.


Dorman menganggukkan kepalanya, dia teringat ucapan Saintess yang pernah mengatakan bahwa penyakit Aiden terhadap wanita akan sembuh bila dia sudah bertemu dengan seseorang dan dia tidak jijik padanya.


Itulah pertemuan mereka, adapun pertemuan mereka yang paling berkesan untuk Liliana....


Aiden menatap wanita cantik itu dengan penuh perasaan dan tatapan yang dalam. Dia menyingkap rambut Liliana yang terurai wajahnya. Tatapan Aiden beralih pada bibir merah sensual milik Liliana.


"Tuan Aiden...ma-maaf..."


Glek!


Salivanya naik turun saat melihat Liliana, jantungnya berdegup dengan cepat seperti genderang yang mau perang. Hatinya telah jatuh untuk wanita itu, wanita yang sedang hamil anak pria lain dan belum bisa melupakan masa lalunya.


Setiap dia menatap diriku dengan matanya yang polos. Setiap aku melihat bibirnya yang cantik itu bicara, setiap aku mendengar suara indahnya. Aku ingin melahapnya bibir yang cantik itu, aku ingin memeluk tubuh mungilnya, ada hasrat yang mulai tumbuh didalam hatiku dan hasrat ini semakin besar. Aku yakin...aku telah jatuh cinta. Aku ingin dia menjadi milikku, hanya milikku seorang.


"Tuan Aiden?" Liliana menatap pria itu dengan keheranan.


Melihat Aiden terus menatapnya dan melamun, membuat Liliana terheran-heran, ada apa dengan pria yang ada di depannya itu. Setelah rambutnya kembali dirapikan, Liliana memutuskan untuk melangkah pergi dari sana meninggalkan Aiden yang berdiri mematung.


Ketika sedang berjalan, telapak tangan yang besar memegang tangan Liliana, menahan langkahnya. "Tuan Aiden..."


"Nona Bella, tawaranku masih berlaku. Apa kau mau menikah denganku? Hanya pernikahan kontrak saja, bukan sungguhan."


Tidak apa hanya pernikahan kontrak tanpa cinta, rasa bisa tumbuh seiring berjalannya waktu. Itulah yang selalu dikatakan ibunda kepadaku.


Aiden lagi-lagi membahas soal pernikahan kontrak yang selalu dia bicarakan sejak awal pertemuan mereka. Liliana menepis tangan Aiden dan meminta maaf padanya karena dia tidak bisa menerima permintaan Aiden, dengan kata lain menolak Aiden.


"Maaf tuan Aiden, aku tidak bisa... bukankah aku sudah mengatakan padamu alasannya. Bagiku pernikahan bukan main-main, pernikahan harus didasari oleh rasa cinta dan juga logika agar keduanya sinkron secara bersamaan. Dan kita tidak memiliki keduanya tuan Aiden, aku harap kau mengerti... kita sudah menjalin hubungan pertemanan, bagiku itu sudah cukup."


"Bella, aku paham kau trauma akan cinta dan tidak percaya cinta. Tapi, selama kita menikah kontrak, aku akan selalu setia padamu. Kau bisa percaya padaku."


"Maaf, aku tetap menolak. Kau juga tau kan kalau aku sedang hamil, mana mungkin kau menikah dengan wanita hamil. Keluargamu juga tidak akan setuju, jadi jangan gila." Liliana tersenyum menyeringai.


Benteng pertahanannya di hati Liliana sangat sulit untuk diruntuhkan. Bukannya sulit diruntuhkan, mungkin itu karena masih ada seseorang yang bermukim didalam hatinya. Tentu saja itu adalah ayah dari bayinya, siapa lagi.


Pria itu tertawa kecil, "Haha...baiklah, tidak apa-apa. Kenapa kau selalu menolak ku seperti ini? Aku kan sakit hati!" Aiden memegang dadanya, dia memasang wajah memelas.


Ya, mungkin memang perlu waktu.


"Apa wajah seperti itu adalah wajah sakit hati? Dasar kau!" Liliana tersenyum pada Aiden.


"Haha..." Aiden tersenyum sembari tertawa melihat gadis itu tersenyum.


Oh ya, bagaimana kalau dia tau aku adalah Raja? Apakah dia akan marah kepadaku? Kenapa aku baru memikirkan nya?


Hari sudah mau gelap, Aiden mengantar Liliana kembali ke rumahnya. Liliana berterimakasih pada Aiden karena pria itu sudah mengajaknya jalan-jalan walau tidak menangkap penjahat seperti rencana pada awalnya, dia juga berterimakasih karena Aiden mau mendengarkan ceritanya.


Lalu saat Aiden mengetahui tentang masa lalunya dan Max, saat Liliana menolak pria itu.


"Kita sudah tidak ada hutang lagi, jadi...kita tidak usah saling meminta maaf." Liliana membungkukkan setengah badannya dengan sopan didepan Aiden seraya berpamitan padanya.


"Tunggu dulu Bella, ehm...maksudku nona Liliana."


"Ada apa yang mulia?" sahut Liliana pada Raja Gallahan itu.


"Masih ada yang ingin aku bicarakan. Aku masih ada pertanyaan untukmu, bolehkah aku bertanya?" tanya Aiden pada Liliana, meminta izin untuk bertanya padanya.


Didalam pikiran dan hatinya masih ada pertanyaan tentang Liliana, termasuk masa lalunya bersama Maximillian. "Baiklah, silahkan bertanya."


"Apa benar kau adalah mantan putri mahkota kerajaan Istvan?" Aiden bertanya dengan sedikit resah. Entah apa yang membuatnya resah.


"Hem, ya." jawab Liliana sambil tersenyum pahit.


"Lalu...apa anak yang ada didalam kandunganmu, adalah anak dari raja Istvan?" tanya Aiden sambil melihat perut datar Liliana.


"Benar." Liliana menjawab dengan tegas dan tidak berbohong. Dia sudah menduga bahwa Aiden akan menanyakannya, karena Aiden mendengar percakapan antara dia dan ayahnya. "Yang mulia, Baginda Raja Istvan belum tau tentang keberadaan bayi ini...saya harap anda merahasiakannya. Tidak boleh ada satupun orang yang tau."


"Ya, jika kau memintaku menjaga rahasia maka akan aku jaga." Aiden tersenyum pahit. Dia terlihat resah dan terus menghela nafas.


Apa dia memintaku merahasiakan tentang bayinya karena dia tidak mau kembali pada raja Istvan atau karena hal lain? Sial! Aku sangat penasaran.


"Terimakasih...kalau tidak ada yang perlu dibicarakan lagi, saya mohon undur diri yang mulia." Liliana memohon undur diri.


"Nona Liliana, tunggu! Apa kau tidak marah padaku? Aku sudah membohongimu perihal identitasku!"


"Marah? Mungkin sedikit...saya hanya kecewa karena saya pikir kita sudah berteman dekat. Tapi, tidak apa-apa...kita sama-sama menyembunyikan identitas masing-masing, jadi impas kan?"


"Oh begitu ya." bibir Aiden membulat. Aiden terlihat gugup dan tidak banyak bicara seperti biasanya saat dia bersama Liliana.


Aiden, ayo beranilah...ayo bertanya, kenapa kau malah diam saja? Bukankah kau ingin tau bagaimana perasaannya?


"Nona Liliana, maaf...mungkin aku terkesan kurang ajar menanyakan ini. Tapi sesungguhnya ini mengganjal hatiku."


Liliana menatap pria didepannya itu dengan tatapan mata yang tajam. Mengisyaratkan bahwa dia mempersilakan Aiden untuk bertanya padanya. "A-apa mungkin kau akan kembali pada Raja Istvan?"


Mata Liliana melebar. "Yang mulia, apa maksud anda dengan kembali?"


"Kau...memiliki anak dengannya, bukankah itu artinya kalian akan kembali bersama." ucap Aiden berpendapat.


Liliana menaikkan bahunya, alisnya juga ikut terangkat. Wanita itu mendesah, menghela nafas panjang. "Yang mulia, mengapa anda menanyakan hal pribadi saya seperti ini?" suara Liliana terdengar seperti sedang marah.


"Maafkan aku jika aku menyinggungmu, aku hanya penasaran...karena Raja Istvan bersama seorang wanita disampingnya." Aiden merasakan kemarahan dan emosi Liliana kepadanya.


#ENDFLASHBACK


Semua kenangan tentang Aiden membuat Liliana semakin terisak, dia bersandar di bahu Max.


"Maxim..."


"Kita harus bahagia seperti apa yang dikatakannya," ucap Max sambil memeluk Liliana.


Mereka menatap nisan yang cari tempat peristirahatan terakhir Aiden. Mereka sangat berterima kasih kepada Aiden karena dia telah mengorbankan hidupnya untuk bersatunya kembali mereka berdua.


Namun, masalah tidak hanya sampai di situ saja. Masih banyak masalah yang menunggu mereka di masa depan. Apapun masalah itu akan mereka hadapi.


...****...

__ADS_1


__ADS_2