
...🍁🍁🍁...
Tatapan semua orang tertuju pada Liliana dan Aiden yang sedang berhadapan. Liliana kini berada dalam situasi yang rumit, lagi-lagi dia akan merasakan kegalauan luar biasa.
Terlebih lagi saat dia mendengar kasak-kusuk dibelakangnya, yang mengatakan bahwa Aiden adalah Raja. Dia tau nama Raja negeri itu adalah Rayden, tapi dia tidak menyangka bahwa Rayden adalah Aiden yang dia kenal.
Aiden bukanlah seorang bangsawan biasa, tapi dia adalah seorang Raja. Tangannya terkepal geram, padahal tadinya Liliana merasa lega ada Aiden disana. Kini raut wajahnya berubah menjadi muram.
"Ja-jadi kau adalah..." Liliana menatap Aiden dengan wajah kesal.
"Bell, mari kita bicara." Aiden mengajak wanita itu bicara, sebelum kemarahan Liliana meledak disana.
Sebelum Aiden memegang tangan Liliana, Max sudah lebih dulu menarik tangan Liliana. Dia menatap wanita itu dengan tajam.
Keduanya sama-sama menatap dengan mata melebar. Rasa yang pernah ada itu kembali hadir tatkala dua mata itu bertatapan, Max yakin bahwa dia tidak salah lihat. Wanita yang berada didekat Aiden itu adalah mantan istrinya.
Lily, dia adalah Lily...aku yakin. Kedua matanya, ini adalah dia.
Apa Max mengenaliku? Tidak mungkin, aku sudah menggunakan gelang sihir.
"Maafkan aku Baginda Raja Gallahan, aku pinjam wanita ini sebentar!" kata Max tegas.
Tanpa mendengar jawaban dari Aiden, Max membawa Liliana pergi dari sana. Julia dan semua orang keheranan melihat semua itu. Aiden bahkan dibuat membeku dan bertanya-tanya, kenapa Max membawa Liliana pergi dari sana?
Max dan Liliana berada di taman belakang kerajaan Gallahan, sesampainya disana Liliana langsung melepaskan genggaman tangan Max dengan menipisnya.
"Maafkan saya tuan, kenapa anda menarik tangan saya seperti ini? Apa kita saling mengenal, sehingga anda berani memegang tangan saya?!" Liliana berpura-pura tidak mengenal pria itu.
"Kau tidak mengenalku? Heh! Mustahil!" Max menatap tajam ke arah Liliana. Dia melepaskan gelang sihir yang dipakai wanita itu.
Barulah rambut aslinya terlihat, rambut merah yang indah tergerai panjang. Liliana terkejut karena Max melepaskan sihirnya dengan mudah, dia tidak bisa tertipu oleh penyamaran Liliana.
"Kau..." Liliana menatap tajam pada Max, ada rindu didalam tatapannya itu.
"Berapa lagi kau akan bersembunyi dariku? Apa sampai aku menjadi gila sungguhan? Apa kau tau betapa lama aku mencarimu? Bagaimana aku tanpamu?!" Max memegang tangan Liliana dengan erat, dia menumpahkan semua emosinya.
Liliana melepaskan tangannya dari Max, "Sepertinya kau bahagia tanpaku, tidak usah emosional seperti ini. Jangan sok menderita!"
"Tidak, aku sama sekali tidak bahagia tanpamu!"
Setiap kali aku menutup mata, aku selalu takut...takut akan memimpikanmu dan saat aku bangun dari tidurku. Hatiku akan terasa sakit, karena bertemu denganmu hanyalah mimpiku saja.
"Bohong! Aku lihat kau baik-baik saja, tidak seperti aku."
"Baik-baik saja bagaimana?"
"Kau bahkan datang ke pesta ini bersama wanita lain, kau juga berdansa dengannya. Apanya yang tidak baik-baik saja?!" Liliana mengutarakan perasaannya dengan apa yang dia lihat secara objektif.
Aku pikir jika kita berbicara satu sama lain, keadaan akan membaik. Tapi aku salah...kami malah semakin bertengkar.
"Itu tidak seperti apa yang terlihat! Aku dan dia hanya datang sebagai partner biasa, dia pergi denganku atas permintaan ibu suri Freya!"
__ADS_1
Liliana tidak mau menerima alasan apapun, fakta yang ada didepannya sudah cukup membuktikan bahwa dia dan Max memang sudah di jalan yang berbeda. Takdir asmara Liliana dengan keluarga kerajaan, sepertinya menang tidak berjodoh.
"Kau bisa saja menolaknya, tapi kau tidak menolak? Statusmu adalah Raja Istvan, aku pergi darimu untuk memperkuat posisimu... seharusnya dengan posisimu saat ini, kau bisa membuat perintah apapun! Kau bisa melakukan apapun, tapi kau tidak melakukannya. Kau terus melukaiku, lagi dan lagi... membuatku salah paham berulang kali. Sekarang aku sadar kalau keputusanku untuk pergi darimu, memang benar."
Wanita itu memudalkan amarahnya pada Max yang selalu terlihat bersama Julia. Apa yang Max lakukan memang bisa membuat siapapun salah paham.
Setelah mengatakan semua yang ada didalam hatinya, Liliana melangkah pergi darisana. Max menahannya pergi, dia langsung memegang wajah Liliana, menatapnya penuh kerinduan. Kemudian, dia membenamkan bibirnya pada bibir merah Liliana.
Keduanya berciuman, Liliana yang niatnya ingin menolak ciuman itu malah menerimanya. Dia menangis sambil memegang erat tangan Max yang merengkuh wajahnya.
Aku ingin menghentikan semua ini, tapi tubuhku tidak mendengarkanku.
Liliana balas mencium Max, kedua mulut mereka terbuka. Lidah mereka bersahutan satu sama lain, menyesap manis dan indahnya pertautan ciuman penuh rindu. Keduanya sama-sama tenggelam dalam rindu, entah berapa lama bibir mereka menempel.
"Haahhh..." keduanya sama-sama bernafas lega ketika bibir mereka tak bersentuhan lagi
"Yang mulia, hentikan semua ini...aku tidak bisa!"
Max menolak untuk melepaskan pelukannya dari Liliana, padahal dia ingin pergi dari sana. "Kau masih mencintaiku, aku juga mencintaimu. Kita saling mencintai, Lily...kenapa kita harus berpisah? Kenapa kita tidak bersama saja? Ayo...kembalilah denganku, mari kita menikah kembali dan hidup bahagia seperti sebelumnya, ya?" Max menangis penuh kerinduan, dia memegang punggung tangan Liliana dan menempelkan tangan itu pada kedua pipinya.
Sejujurnya Liliana memang luluh dan melemah melihat tatapan Max kepadanya, permohonan dengan suara rendah itu membuat Liliana kebingungan harus bagaimana menghadapinya. Jika dia kembali, akan banyak masalah yang terjadi dan juga rasa sakit hatinya belum hilang.
Meski hanya salah paham, hatinya masih terasa perih karena Max selalu terlihat bersama Julia. Bahkan mereka berdua berdansa bersama, Liliana juga tidak tau apa yang mereka lakukan selama dia tidak ada.
Pelan-pelan Liliana melepaskan kedua telapak tangan yang menyentuh pipinya itu. "Maafkan aku, aku tidak bisa..."
"Apa? Ah...jika ini masalahnya adalah wanita itu, aku tidak akan menikahinya! Rencananya aku akan menjodohkan dia dengan pria lain negara ini, Lily kau harus percaya kepadaku!" Max mengatupkan kedua tangannya seraya memohon agar Liliana kembali bersamanya.
"Jadi kau akan tetap menolakku?"
"Benar, aku menolakmu."
"Meskipun aku menyingkirkan wanita itu?"
"Aku tak peduli, urusanmu dan dia." kata Liliana cuek sambil menahan tangisnya.
"Setidaknya berikan aku kesempatan untuk hubungan kita, tolong jangan memperumit semua ini." Kata Max memohon.
"Aku tidak pernah memperumit masalah, hanya saja terlalu banyak luka yang aku alami jika kita bersama...jadi, tolong lepaskan aku." ucap Liliana bersungguh-sungguh.
Padahal kau sendiri yang cepat mengambil keputusan untuk menceraikanku waktu itu, lalu kenapa sekarang kau seperti ini?
"Kau...Lily, aku tak akan menyerah meski kau menyerah! Tidak akan!" seru Max sambil menatap wanita itu dengan penuh cinta.
Percakapan mereka harus berakhir, ketika Duke Geraldine datang untuk bicara dengan Liliana, setelah sekian lama mereka tidak bertemu. Max juga kembali ke pesta karena semua orang sudah mencarinya.
"Bagaimana nak? Apa kau sudah bicara dengan yang mulia Raja? Keputusan apa yang kau ambil?" tanya Duke Geraldine pada putrinya.
"Iya, aku tidak akan kembali padanya. Sepertinya sudah tidak ada jalan kembali bagi kami, ayah." ucap Liliana sambil menghela nafas.
"Baiklah, jika itu memang keputusanmu. Ayah akan selalu mendukungmu. Lalu tentang anak kalian, bagaimana?" tanya Duke Geraldine pada Liliana.
__ADS_1
"Aku tidak mengatakannya."
"Kenapa? Baginda Raja adalah ayah dari anak ini, tidak seharusnya kau menyembunyikannya nak..."
"Aku tau, tapi-"
Liliana melihat ada jubah merah di dekat semak-semak, disana ada orang yang mendengarkan percakapan mereka. "Siapapun kau! Keluarlah! Karena aku sudah melihatmu." ujar Liliana pada orang dibalik semak-semak itu.
Orang itu menunjukkan dirinya. "Haaahh.... akhirnya aku ketahuan juga."
Duke Geraldine dan Liliana tercengang melihat pria itu. Duke Geraldine langsung membungkukkan badannya dengan penuh hormat didepan Raja Gallahan.
"Baginda raja!" pekik Duke Geraldine terkejut.
"Ah...tidak perlu seperti itu Duke. Aku minta maaf, aku tidak bermaksud menguping. Tapi, apakah aku bisa bicara dengan nona ini sebentar?" Aiden tersenyum ramah pada Duke Geraldine.
Aiden melihat rambut asli Liliana yang bewarna merah itu, dia terpana dan tak percaya bahwa Liliana adalah mantan ratu yang terbuang.
Lily? Bagaimana dia bisa mengenal Raja Gallahan? Sebaiknya aku tanyakan nanti saja. Duke Geraldine terlihat bingung, bagaimana bisa anaknya kenal dengan raja negeri Gallahan itu.
"Ayah, tidak apa-apa. Aku akan akan bicara dengan yang mulia,"
Ya, dia berhutang penjelasan padaku.
Duke Geraldine mengerti, dia pergi meninggalkan Liliana dan Aiden berdua ditaman itu. Aiden menatap tajam ke arah Liliana dan wanita itu bersikap formal padanya.
"Salam yang mulia Raja Rayden Arihen Gallahan."
"Hahhh...baiklah nona Bella Stewart? Atau harus kupanggil Bella Geraldine." sindir Aiden pada Liliana.
"Liliana Eissa Geraldine, itulah nama asli saya." kata Liliana memperkenalkan dirinya dengan jujur.
"Jadi, kau menipuku dengan nama Bella selama ini?" Aiden mendesah kesal.
"Bukankah anda juga menipu saya yang mulia." Liliana membalikkan perkataan Aiden kepadanya.
Aiden selalu merasa Liliana selalu bersikap elegan dan sikapnya terkadang menunjukkan bahwa dia bukan dari kalangan bawah. Nyatanya malam ini, beberapa fakta terungkap. Ada pertemuan tidak terduga dan ada rahasia identitas yang terkuak.
"Jadi...kau adalah putri Duke Geraldine? Mantan ratu kerajaan Istvan yang terbuang itu?"
Liliana langsung tercekat mendengar ucapan Aiden yang agak menusuk kedalam hatinya. "Ma-maafkan aku, aku telah berkata kasar."
"Tidak apa-apa lagi pula itu memang benar."
"Kenapa kau terlihat tenang? Padahal aku sudah membohongimu!" Aiden melihat Liliana tenang-tenang saja ketika identitas Aiden terungkap.
"Saya memang terkejut, tapi hanya sedikit..Itu karena saya sudah mengalami penipuan ini sebelumnya." kata Liliana sambil tersenyum.
"Hey! Aku juga ditipu olehmu,"
"Baiklah, kita impas." ucap Liliana tak mau memperpanjang masalah.
__ADS_1
...****...