Second Life Liliana

Second Life Liliana
Bab 147. Kalian tidak boleh membawanya (End)


__ADS_3

...🍁🍁🍁...


Ibu suri terlihat bingung, dia sudah janji didepan dayangnya untuk menerima seperti apapun wanita yang disukai anaknya, namun keadaan Liliana tidak sesuai ekspektasinya.


"Tidak masalah jika dia sudah pernah menikah, tapi dia sedang hamil anak pria lain..." gumam Ibu suri yang terlihat kecewa saat dia mengetahui keadaan Liana yang sedang hamil.


Ibu suri melirik ke arah Emma. "Emma, aku harus bagaimana? Aku sangat senang mendengar kalau putraku jatuh cinta pada seorang wanita, tapi kenapa harus wanita yang sedang hamil? Apa yang harus aku lakukan Emma?" tanya Ibu suri kebingungan.


"Yang mulia, masalah perasaan dan hati seseorang tidak bisa dikendalikan. Kita tidak tahu kepada siapa dan pada orang seperti apa kita akan jatuh cinta, begitulah perasaan Baginda Raja saat melihat nona Liliana. Baginda raja hanya tahu rasa cinta, tanpa peduli dengan latar belakang dan seperti apa Nona Liliana. Lebih baik, masalah ini...yang mulia ibu suri bicarakan dengan Baginda Raja secara langsung." jelas Emma memberikan saran kepada sang Ibu suri.


"Haaahhh.... terimakasih atas sarannya Emma. Tapi sebelum aku bertemu dengan anakku, sepertinya aku harus menemui Nona Liliana terlebih dahulu. Aku harus berterima kasih kepadanya karena dia sudah menyelamatkanku." kata Ibu suri sambil menghela nafas panjang.


Ibu suri dan Emma berjalan kembali ke arah tenda itu, saat akan memasuki tenda pengobatan, ibu suri tiba-tiba menghentikan langkahnya. Dia melihat Duke Geraldine dan Liliana sedang bicara, rasanya tidak sopan jika dia datang tiba-tiba menyela pembicaraan antara ayah dan anak itu. Hingga tanpa sengaja, ibu suri mendengarkan pembicaraan mereka.


"Lily, yang mulia Raja sudah tau kalau kau sedang hamil anaknya. Apa yang akan kau lakukan sekarang? Katanya dia akan membawamu kembali ke kerajaan Istvan dan menikahimu lagi."


Mata Liliana gemetar saat mendengar ucapan ayahnya. Wajahnya pucat pasi, air matanya mengalir. "Aku...aku tidak mau kembali, ayah..aku tidak mau, aku ingin bahagia." ucap Liliana sambil mengepalkan tangannya, air mata itu menetes jatuh.


"Apa kau tidak akan memberikan yang mulia Raja kesempatan satu kali lagi?" tanya Duke Geraldine yang sebenarnya juga ingin Liliana berpisah dari mantan suaminya itu. Tapi, dia tidak mau terkesan sebagai orang tua yang memaksakan kehendak anaknya.


"Terlalu sulit jalan yang harus aku lalui untuk kembali bersamanya ayah."


"Baguslah, jika kau sudah mengambil keputusan. Ayah akan mendukungmu, lagipula ayah tidak suka dengan sikap Baginda Raja...jika dia memang ingin bersamamu lagi, harusnya dia menyingkirkan semua rintangan yang ada. Tapi dia tidak melakukannya dan masih tetap membiarkan wanita itu berada disampingnya." Duke Geraldine mendukung penuh keputusan anaknya untuk tidak rujuk dengan mantan suaminya.


"Apa ayah tidak marah padaku karena aku mengambil keputusan ini?" tanya Liliana sambil menatap ayahnya.


"Tidak nak." Duke Geraldine mengelus kepala anaknya dengan penuh kasih sayang.


"Ayah tidak keberatan menerima aku dan anakku, mengurus kami berdua?" tanya Liliana sambil menangis mengadu pada ayahnya.

__ADS_1


Duke Geraldine memeluk Liliana, dia mengatakan bahwa dia sama sekali tidak keberatan meski harus bersama dengan anak-anak dan cucu-cucunya seumur hidup. Kenapa dia mengatakan itu? Karena Adara juga sama keadaannya dengan Liliana, dia sedang hamil tanpa suami.


Liliana menangis di pelukan ayahnya, didalam hatinya dia memang masih sangat mencintai Maximillian. Namun, di bagian hatinya yang lain dia sangat terluka dan tak sanggup bila harus bersama dengannya lagi, jika dia yang harus berjuang sendiri.


Ibu suri Gallahan, merasa kasihan pada Liliana setelah dia mendengar percakapan ayah dan anak itu. Liliana tidak seburuk yang dia pikirkan meski statusnya adalah janda yang diceraikan oleh Raja.


"Yang mulia, apa yang mulia tidak jadi akan masuk ke dalam?" tanya Emma melihat ibu suri yang diam saja.


"Emma, kita kembali dulu saja. Lalu, tolong panggilkan Fred... suruh dia segera menghadap kepadaku." ucap ibu suri dengan wajah serius.


"Ya, yang mulia..." Emma menundukkan kepalanya.


*****


Setelah kejadian itu, Liliana dijaga ketat oleh pengawal kerajaan Istvan. Wanita itu seperti tahanan rumah, bahkan Aiden saja kesulitan menemuinya. Dia terpenjara didalam rumahnya sendiri selama beberapa hari.


Di istana kerajaan Gallahan, Aiden baru saja selesai menyelesaikan pekerjaannya di ruang kerja. Tepat saat itu, Max meminta pertemuan dengan sang Raja Gallahan.


"Saya ingin berpamitan pada yang mulia Raja, hari ini saya dan semua perwakilan dari kerajaan Istvan, akan segara kembali ke negeri kami. Terimakasih atas perhatian dan sambutan dari anda selama kami berada disini. Aku harap persahabatan kita bisa tetap terus terjalin dengan baik." jelas Max sambil tersenyum formal dan ramah.


"Sama-sama, ini sudah seharusnya saya lakukan sebagai pemimpin negara dalam menjamu tamu. Justru saya yang merasa tersanjung karena Baginda Raja Istvan dan juga perwakilan dari negeri Istvan bersedia untuk mengunjungi kerajaan kecil ini." Aiden bicara dengan merendah dan sopan.


"Negara ini memiliki pemimpin yang baik, saya sangat nyaman selama berada disini. Apalagi saat saya kembali bertemu dengan orang yang saya cintai." Max menyunggingkan senyuman manis dibibirnya.


Aiden terdiam saat melihat senyuman itu. Dia tau apa yang dimaksud oleh Max adalah menemukan Liliana. "Oh...begitu ya."


"Yang mulia, saya juga akan membawanya kembali ke negeri Istvan." Max menatap tajam ke arah Aiden.


Aiden terkejut, dia langsung menggebrak meja.

__ADS_1


BRAK!!


"Kenapa anda harus membawanya?!!" tanya Aiden dengan suara yang keras. Aiden seperti tidak senang dengan kata-kata Max padanya yang akan membawa Liliana pergi dari sana.


"Kenapa anda bertanya kenapa? Tentu saja karena dia adalah orang yang saya cintai dan dia sedang mengandung anak kami. Kenapa yang mulia Raja Gallahan seperti sedang marah?" Max tersenyum sinis, dia menatap tajam ke arah Aiden.


"Anda tidak bisa membawa nona Liliana pergi dari negeri ini!" Aiden menolak dengan tegas pada ucapan Max.


Kedua pria itu sama-sama beranjak dari kursinya, matanya saling menatap tajam seperti ada api berkobar diantara keduanya.


"Kenapa tidak bisa? Atas dasar apa kau melarangku membawa dia?!" tanya Max dengan suara meninggi penuh kemarahan.


Suara Max yang meninggi membuat semua pengawal dari Istvan dan Gallahan disana bergerak maju, seperti waspada. "Karena aku adalah raja negri ini, nona Liliana adalah warga negeri ini...jadi aku berhak memutuskan dia boleh pergi atau tidak!" Aiden menegaskan keputusannya.


Ibu mengatakan padaku bahwa aku harus melindungi Liliana dari pria ini, karena dia sudah banyak menyakitinya dan Liliana juga tidak mau kembali bersama dengannya.


"Ini adalah keputusan pribadimu saja kan? Kau...beraninya kau menyukai wanitaku."


"Benar, aku memang menyukainya. Lalu, kenapa? Dia juga sudah bukan istrimu lagi kan?" Aiden tersenyum sinis menantang Max.


Kedua raja itu bersitegang seperti akan berperang saja. Mereka menatap penuh kemarahan satu sama lain.


Sementara itu Liliana sedang berada di rumahnya dengan penjagaan ketat dari pengawal kerajaan Istvan. Dia berada dikamarnya sepanjang hari, hingga datanglah Doris mengantarkan secangkir teh hangat dan cemilan untuk wanita hamil itu.


"Nona, silahkan.."


Ayo minum dan makanlah, lalu kau akan mati Liliana.


"Terimakasih Doris." ucap Liliana sambil tersenyum, dia mengambil cangkir teh itu dan berniat meminumnya.

__ADS_1


...*****...


...🍁End season 1🍁...


__ADS_2