Second Life Liliana

Second Life Liliana
Bab 24. Si Gila


__ADS_3

...🍀🍀🍀...


Nicholas, Anya dan beberapa penjaga di mansion itu terkejut melihat Adara berteriak ketakutan. Gadis berambut pirang itu menjatuhkan kotak besar yang dia pegang sebelumnya. Kepala manusia menggelinding terjatuh dari sana, terlihat juga jari-jari manusia dan organ seperti jantung didalam kotak itu.


"Nona!" Pekik Anya tercengang melihat kepala manusia menggelinding ke arahnya.


Adara sangat syok, matanya membulat melihat pemandangan seram sekaligus menjijikkan itu. Adara menutup mulutnya yang ternganga, dia menahan rasa mual dari dalam tubuhnya.


Pria itu.. bukankah dia adalah..


BRUGH!


Tubuh Adara ambruk, dia tak kuat melihatnya lagi. Nicholas menangkup tubuh Adara yang tidak sadarkan diri. "Nona! Nona Adara!" Anya panik melihat nona nya tidak sadarkan diri.


Tabib segera datang ke mansion Geraldine, begitu ada panggilan dari kepala pelayan bahwa Adara jatuh pingsan. Gadis itu terbaring lemah di atas ranjang kamarnya yang mewah. Selain tabib yang datang, Duke Geraldine dan Arsen juga segera pulang ke rumahnya begitu mendengar dari Jackson tentang Adara.


Dia mencemaskan putrinya yang jatuh pingsan. Tabib memeriksa Adara dan mengatakan bahwa gadis itu baik-baik saja. Dia hanya mengalami syok karena melihat hal yang mengerikan. "Hal mengerikan apa itu?" tanya Arsen sambil memegang tangan Adara.


"Mohon izin berbicara tuan Count, ada seseorang yang mengirimkan sebuah paket pada nona Adara," ucap Nicholas.


Arsen mendongakkan kepalanya ke arah Nicholas, dia menatap pria itu dengan tajam. Meminta Nicholas menjelaskan lebih detail tentang apa yang terjadi pada istrinya. Nicholas pun menjelaskan bahwa ada yang mengirim paket untuk Adara, paket berisi kepala, jari manusia dan jantung manusia. Arsen dan Duke Geraldine tercengang mendengarnya.


Duke Geraldine langsung mengintrogasi semua pengawal dikediamannya. Hal itu sampai menimbulkan keributan disana.


"Siapa yang mengirimkan itu?" tanya Duke Geraldine dengan tegas kepada para pengawal di kediamannya.


"Kami tidak tahu Duke," jawab ketua ksatria kediaman Duke tegas.


"Cari tau kepala siapa itu dan siapa yang mengirimkan lelucon seperti itu kepada putriku!" Duke Geraldine berkata dengan suara yang menggelegar, memancarkan kemarahan. Dia ingin si pengirim paket itu ditemukan dan dia ingin tau apa maksudnya paket itu dikirim pada Adara.


"Baik Duke!" Para ksatria itu patuh.


Setelah itu para kstaria bergerak untuk mencari tau tentang kepala manusia itu dan siapa dalang dibalik semua ini. Duke jadi teringat keselamatan Liliana, dia menanyakan keberadaan Liliana.


Tepat saat dia menanyakan Liliana, Daisy datang bersama dengan kereta barang ke mansion Geraldine. Daisy terlihat acak-acakan dan dia menangis.

__ADS_1


"Tuan Duke...saya mohon, tolong nona Liliana..tolong nona.." Daisy menangis seraya meminta Duke Geraldine untuk menolong Liliana. Wanita paruh baya itu sudah bersusah payah sampai kembali ke mansion Geraldine. Untuk meminta bantuan pada semua orang disana.


"Daisy, jelaskan padaku apa yang terjadi pada Liliana?" Duke Geraldine membantu Daisy yang berlutut di depannya.


"Nona..ada orang-orang jahat yang membawa nona. Mereka menculik dan menyerang nona, tolong nona.. tuan," Daisy memohon dengan setulus hatinya, dia memegang tangan Duke Geraldine.


"APA?" Duke Geraldine terpana mendengarnya.


Dia langsung pergi bersama para prajuritnya untuk menyelamatkan Liliana di hutan yang disebutkan oleh Daisy.


****


Rumah Almoore 🍁


Liliana sudah terbangun dari pingsannya, dia terbangun ditempat yang asing baginya. Begitu terbangun, Liliana menangis tanpa suara. Dia bersyukur karena dia masih hidup dan tidak mati lagi. Dia takut dengan kematian yang pernah dialaminya ketika dia masih menjadi Adaire.


Liliana bertanya-tanya bagaimana bisa dia ada disana dan siapa yang menolong dirinya. Apakah adalah Almoore, pria paruh baya yang berada di rumah terpencil itu?


"Nona cantik, apa anda baik-baik saja?" tanya Almoore seraya memberikan segelas air minum pada Liliana.


Gadis itu tersenyum dan mengambil gelas berisi air, dia langsung meneguknya pelan-pelan. Liliana berusaha mempertahankan ketenangannya, namun kedua matanya menunjukkan kewaspadaan.


Dimana aku? Kenapa aku bisa ada disini? Apakah dia adalah komplotan dari mereka juga? Kau tidak boleh memercayai siapapun Liliana.


Almoore memerhatikan gerak-gerik Liliana, dia tersenyum tipis. Gadis ini terlihat sangat waspada, bahkan dia tidak meminumnya. Dia sangat berhati-hati.


"Nona, saya bukan orang jahat."


"Eh, apa?" Liliana mendongak ke arah Almoore dengan pandangan waspada.


"Saya tidak akan berani macam-macam pada nona, nona tenang saja. Jika saya berani berbuat sesuatu pada nona, saya pasti akan mati konyol. Saya tidak mau hal itu terjadi, jadi tenanglah nona.." Almoore tersenyum lebar pada Liliana.


Ya aku bisa dibunuh oleh yang mulia seperti orang-orang itu.


"Se-sebenarnya apa yang tuan katakan?" Gadis itu terlihat bingung.

__ADS_1


"Sebenarnya yang-"


Belum sempat menyelesaikan kata-katanya, Max membuka pintu kamar itu dan menghampiri Liliana seperti sedang menyergap. Liliana mengernyitkan dahinya melihat Max.


Max menatap tajam ke arah Almoore, hingga membuat pria paruh baya yang sedang duduk itu langsung beranjak bangun. Dia tidak nyaman dengan tatapan tajam yang ditujukan padanya.


Kenapa mereka berduaan di dalam kamar? Si pria tua ini.. dia tidak mengatakan yang macam-macam kan?


"Si gila? Kau lagi?" ucapnya sembari beranjak dari ranjang kayu itu.


PFut.. apa aku salah dengar? Nona ini memanggil yang mulia dengan sebutan si gila?


"Si gila? Nona beraninya anda mengatakan hal kasar seperti itu pada yang mu-"


BUK!


Sebuah tepukan mendarat di punggung Almoore dan menghentikannya untuk bicara lebih banyak. Almoore akhirnya mengerti bahwa Max tidak ingin Liliana tahu identitas Max adalah putra mahkota. Dan sepertinya Liliana belum tahu bahwa Max adalah seorang putra mahkota.


"Haha, apa yang kau katakan tuan Almoore?" Max tertawa canggung sambil menepuk punggung Almoore cukup keras.


"Tuan Almoore?" gumam Almoore terperangah mendengar ucapan lembut dan sopan dari Max. Padahal sebelumnya si putra mahkota itu selalu memanggil dirinya dengan panggilan pria tua, lajang seumur hidup atau apalah itu. Di depan Liliana dia berusaha terlihat baik.


Liliana mencoba memahami apa yang sedang terjadi di depannya itu. Apa yang kedua pria itu lakukan? Dia tampak bingung.


"Yang mu-, maksud saya tuan..hehe..nona cantik sudah siuman. Nona cantik, dialah yang membawa anda kemari."


"Ternyata benar-benar kau yang menyelamatkanku, apa ini kebetulan atau memang kau mengikuti ku lagi?" tanya Liliana sambil menyilangkan kedua tangannya ke dada. Tatapannya selalu tampak waspada.


Max berjalan mendekati Liliana dan mendekatkan wajahnya pada gadis itu. Liliana kaget dengan tingkah Max. Pria itu menyentuh kening Liliana dengan keningnya. "Kau sudah tidak demam lagi, syukurlah.." ucapnya lega.


"Apa yang kau lakukan?" Wanita itu marah ketika Max menyentuhnya.


Liliana langsung mendorong Max menjauh darinya, tanpa berbasa-basi dia berterimakasih pada Almoore yang sudah mengobatinya. Dia pun pamit pergi dari sana, dipikirannya hanya ada satu. Yaitu balas dendam pada Adara yang sudah mencoba menghancurkan dirinya lagi.


Aku harus kembali, Adara aku tidak akan mati dua kali. Kalaupun ada yang harus mati, kau yang harus mati duluan.

__ADS_1


...---***---...


Readers..maaf author telat up, besok dilanjutkan lagi ya 🤧🤧 karena sinyal ngajak perang disini. Berhubung besok hari Senin, boleh gak author minta vote dan gift nya?


__ADS_2