
...🍁🍁🍁...
Tangan Max terkepal kuat, rasanya dia tidak percaya bahwa Aiden adalah dalang dibalik semuanya.
"Kau tidak bohong padaku kan? Kalau dia yang melakukan semua ini, apa artinya dia ingat semua yang terjadi di masa lalu?" Tanya Max seraya menatap Brieta dengan tajamnya.
Brieta mengangguk yakin, sembari tersenyum. "Benar, dia ingat semuanya."
"Hah? Tidak mungkin...jika dia ingat masa lalu, harusnya aku bisa tahu! Apa aku bodoh?" Gumam Max kesal sendiri.
Jika benar dia yang melakukan semua ini dan membuatku melakukan perjanjian dengan iblis. Tapi...apa tujuannya sampai dia sejauh ini?.
"Anda tidak bodoh, anda hanya baik yang mulia. Anda sangat baik, sampai anda bisa dicurangi seperti ini. Raja Gallahan, dia tidak sepolos kelihatannya..."
"Aku tidak bisa mempercayai perkataanmu begitu saja. Aku harus punya bukti agar aku bisa percaya perkataanmu ini." Seperti apa yang telah diduga oleh Brieta, bawa Max bukan orang yang mudah percaya kepada orang lain hanya berdasarkan ucapan saja. Dia butuh sebuah fakta yang tepat di depan mata untuk melihat seperti apa busuknya Aiden.
Brieta menunjukkan smirknya. "Baik, saya akan membuktikannya. Saya akan bertaruh lagi dengan anda yang mulia, apa yang mulia berani?"
"Baiklah." Max menyanggupi apa yang dikatakan oleh wanita tua itu.
"Kali ini saya akan meminta sesuatu jika taruhan saya menang."
"Apa itu?"
"Saya mau yang mulia, menyerahkan kalung permata berwarna merah yang ada di dalam saku baju yang mulia." Ucap Brieta seraya melirik ke arah saku baju yang dipakai oleh Max.
Sontak saja ucapan Brieta, mengundang reaksi yang sangat tidak baik dari Max. Itu karena Brieta mau minta kalung milik Liliana, kalung yang pernah dia berikan kepada Liliana sebagai hadiah pertama mereka menjalin hubungan di masa lalu. "Kau! Kau jangan bersikap kurang ajar lagi kepadaku! Apa kau sudah tidak sayang nyawamu?" Tanya Max dengan suara yang meninggi seraya menatap tajam dan murka kepada wanita tua itu.
"Maafkan saya yang mulia, saya tahu kalau benda itu sangat berharga untuk yang mulia. Saya bukan memintanya untuk memilikinya, Saya hanya ingin meminjamnya untuk memulihkan kekuatan saya." Brieta pun menjelaskan bahwa dia tidak bermaksud untuk mengambil kalung itu dan hanya ingin meminjamnya.
__ADS_1
Perlahan nafas dan emosi Max mulai mereda setelah mendengar penjelasan dari Brieta. "Baiklah, kau boleh meminjamnya."
"Jadi yang mulia setuju dengan taruhan saya, kan?" Wanita tua itu mengulang pertanyaannya lagi.
Jawaban dari Max hanyalah anggukan saja. "Yang mulia, malam ini nona Liliana akan hadir dalam festival di kota dan dia tidak akan langsung pergi ke kerajaan Gallahan. Disanalah anda sebuah kebenaran tentang raja Rayden." Ungkapnya lagi memberitahu.
"Baiklah."
Max tidak ikut campur dalam urusan Liliana dan Aiden kali ini, sebab dia percaya kepada Brieta bahwa Liliana dan dia akan bertemu lagi. Kemudian Max pun memutuskan untuk kembali ke istana kerajaan yang sudah lama tidak dia kunjungi.
Di masa sekarang, Raja Alberto sudah tiada karena sebuah penyakit. Sedangkan dulu, Raja Alberto meninggal karena serangan dari Lucifer. Dan di masa sekarang Ratu Freya yang memegang kekuasaan tertinggi. Semua orang yang mati di masa lalu, tidak ada di masa kini contohnya seperti sosok Adaire.
"Kau sudah kembali, putra mahkota?" Sambut Ratu Freya dengan tatapan mata dingin melihat ke arah Max yang sedang membekukan badannya seraya memberi hormat.
"Hormat saya pada Ibunda."
"Sungguh, kasih sayang Ibunda tiada tara kepada saya. Tapi, maafkan saya... karena saya tidak bisa menerima kebaikan dari yang mulia Ratu."
"Mengapa kau menolak niat baikku ini? Aku harus tahu alasannya." Ratu menatap tajam ke arah Max.
Dalam kehidupan ini, sejujurnya Max tidak ingin jadi raja. Dia ingin menjadi pria biasa yang bahagia dengan orang yang dicintainya. Namun ternyata masa lalu dan masa depan yang satu ini tidak berubah, karena Max tetaplah memiliki darah biru dan mengharuskannya untuk menjadi seorang raja. Dia bisa saja menolak posisi raja, akan tetapi jika ia menolak maka Ratu Freya yang jahat akan semakin menguasai kerajaan Istvan.
"Saya hanya ingin diberikan waktu istirahat saja selama beberapa hari, tidak perlu ada pesta perayaan dan sebagainya." Ucap Max sambil mendongak ke arah Ratu Freya.
"Hem... baiklah kalau kau memang tidak mau menerima pesta yang akan aku buat ini. Aku tidak akan memaksamu, tapi nanti saat pesta penobatanmu sebagai raja negeri ini... kau tidak boleh menolak."
"Saya paham Baginda Ratu." Jawab Max sambil tersenyum tipis.
"Ya, aku setujui untuk kau beristirahat selama beberapa hari." Ratu Freya memberikan izin kepada Max untuk beristirahat selama beberapa hari.
__ADS_1
Mengapa anak ini terlihat begitu tenang, setelah dia kembali dari medan perang? Tabiatnya tidak seperti dulu yang selalu menetapku dengan tatapan penuh permusuhan.
Freya keheranan lantaran sikap Max yang tidak seperti biasanya, selalu menentang berkata kasar kepadanya. Tapi sikap Max saat ini terlihat begitu tenang dan tidak banyak bicara. Freya berpikir negatif, bahwa Max bersikap seperti ini untuk mengelabuinya saja.
"Terima kasih atas kebaikan hati yang mulia. Kalau begitu, saya pamit undur diri." Kata Max sambil menundukkan kepalanya. Lalu dia pergi meninggalkan sang ratu yang masih duduk di singgasana.
Ratu Freya menatap Max dengan tajam, ia masih sama seperti dulu menyimpan rasa tidak suka kepada anak tirinya itu. "Lihat saja Maximillian, setelah kau menjadi raja... Aku akan segera menggulingkanmu dari singgasana dengan cara yang tidak hormat."
Sebenarnya, Freya sempat kebingungan karena dia tidak mempunyai anak laki-laki untuk menjadi pewaris kerajaan Istvan dan akhirnya dia tidak mempunyai pilihan lain selain menerima Max sebagai penerus dari kerajaan itu. Dia hanya punya Laura, seorang putri.
****
Siang itu, Max masuk ke dalam kamarnya dan merebahkan diri didalam bathtub air hangat yang sudah disiapkan para dayang istana. Sembari berendam, Max memikirkan perkataan Brieta tentang dalang dibalik semua ini adalah Aiden, sosok yang mencari keuntungan dari semua ini.
"Aku tau dia menyukai Liliana, tapi aku tidak percaya kalau dia akan melakukan hal seperti ini...dan sejauh ini. Baiklah, aku akan datang ke festival malam ini untuk membuktikannya. Apakah Brieta benar atau salah?"
Lalu tibalah malam itu, dimana festival di pusat kota dilaksanakan. Terlihat Aiden dan Liliana berdua saja tanpa pengawal di sekitar mereka.
Sayang sekali aku tidak bisa langsung kembali ke Gallahan, padahal aku ingin segera membawanya pergi dari sini agar dia tidak bisa bertemu lagi dengan Raja Istvan.
"Tuan, ayo kita jalan-jalan sebentar! Pasti akan sangat menyenangkan!" Kata Liliana seraya mengajak Aiden berkeliling di sekitar sana.
"Ya, aku dengar ada taman bernama Sakesfir. Disana sangat indah dan banyak orang, mari kita kesana."
"Sakesfir?" Liliana bergumam dan tiba-tiba ia terdiam. Nama Sakesfir itu tiba-tiba saja yang membuatnya terpaku.
Tunggu, aku seperti pernah mendengarnya.
...****...
__ADS_1