
...🍁🍁🍁...
Lucifer dan Max saling menatap satu sama lain, sekilas memang wajah mereka mirip terutama pada bagian mata. Semua orang akan tau bahwa mereka saudara hanya dalam sekali lihat.
"Kau mau memberi selamat untuk apa?!" tanya Max curiga.
"Selamat karena kau akan segera menikah dengan wanita pujaanmu." ucapnya sambil tersenyum.
"Hah?" Alis pria itu menaut ke atas, dia tidak percaya bahwa tujuan Lucifer untuk memberikannya selamat saja. "Apa kau pikir aku akan percaya? Raja dari segala iblis datang menemuiku untuk memberiku selamat?" Max tak percaya.
"Lalu kau ingin aku melakukan apa? Menghancurkan dunia?"
"Tidak!"
"Aku kesini hanya untuk itu saja. Jika aku akan menghancurkan dunia, aku pasti sudah menyerangmu sekarang. Tapi ini bukan waktunya," ucap Lucifer sambil tersenyum smirk.
"Oh begitu ya? Lalu apa kau mengingat masa lalu juga?" Tanyanya tajam.
"Tentu. Apa kau lupa bahwa kita terhubung oleh ikatan darah? Apapun yang di pikiranmu, aku tau." ucap Lucifer.
"Hem..."
Mengapa dia tiba-tiba bersikap seperti ini?. Kening Max berkerut menatap si Raja iblis itu.
Tangan Lucifer memperlihatkan sebuah cahaya merah. Lalu dia melemparkan sesuatu pada Max. "Hadiah untuk Liliana tersayangmu itu,"
Max menangkap sesuatu di tangannya, dia melihat sebuah gelang bercahaya merah. "Apa ini?"
"Bodoh, itu gelang!" tukas pria seraya tersenyum.
"Maksudnya kenapa kau berikan ini untuk Lily?" Tanya Max sekali lagi.
"Kelak Raja iblis Utara akan kembali dan--" Lucifer tidak melanjutkan ucapannya. Dia terlihat meragu.
"Dan apa?"
"Pakaikan saja gelang itu padanya, aku tidak berniat jahat. Gelang itu adalah perlindungan untuknya, jika kau tak percaya padaku. Maka tanyakan saja pada wanita tua itu." kata Lucifer sambil tersenyum dingin.
"Jelaskan apa maksudnya perlindungan--"
Sebelum rasa penasarannya terjawab, Lucifer sudah menghilang dari sana tanpa pamit. Membuat Max kebingungan dengan apa yang dilakukan dan dikatakan Lucifer padanya.
"Perlindungan apa? Apa maksudnya? Lily..." Max menyimpan gelang itu di dalam saku bajunya.
Dia pun kembali menemui Liliana, gerak-gerik Lucifer lah yang membuatnya was-was. Ia melihat Liliana masih tertidur pulas dengan Blackey yang masih berjaga di dekat jendela. Gadis itu dalam keadaan baik-baik saja, ia menghela nafas lega. "Haahhhh..." diusapnya wajah gadis itu dengan tangannya. "Selamat tidur sayangku," ucap pria itu lalu mengecup keningnya.
Kau akan baik-baik saja kan? Kita akan baik-baik saja kan? Kita pasti akan berakhir bahagia kali ini.
*****
__ADS_1
Keesokan harinya, pagi itu Liliana terbangun dalam keadaan bugar. Namun dia keheranan sebab baju yang dia kenakan masih sama seperti semalam. "Ah...kenapa aku masih mengenakan pakaian ini? Eh...bukankah semalam aku masih berada di atap bersama Maxim? Kenapa aku bisa berada disini? Apa aku ketiduran, ya?"
Liliana terduduk diatas ranjangnya, tiba-tiba saja terdengar suara ketukan pintu dari luar kamarnya. "Yang mulia, apa anda sudah bangun?"
"Sudah, masuklah!" ujar Liliana pada dayang setianya itu.
Pagi itu Liliana mandi di dalam bak mandi besar ditemani oleh datangnya. Dia sudah berdandan dan memakai gaun indah. Hari ini adalah hari selesai calon suami untuknya. Sebenarnya dia malas sekali menyaksikan semua ini, tapi ibu suri lah yang membuat rencana ini. Niatnya langsung memilih Max, tapi tidak semudah itu.
Liliana, ibu suri, Dorman dan Dorothy berjalan bersama menuju ke tempat panahan. Mereka akan menyaksikan keempat calon kandidat calon suami Liliana itu berkompetisi. Adu kehebatan dan setiap adu kehebatan, mereka akan mendapatkan poin setiap mengikuti kompetisi dan poin terbanyak adalah pemenangnya.
"Hoam..." Liliana menguap, menandakan wanita itu malas dengan semua yang ada di depannya itu.
Ih...malas sekali aku harus melihat hal seperti ini. Pujaan hatiku kan sudah jelas siapa.
"Liliana, kau harus melihat kompetisinya baik-baik dan menilai secara perspektif!" ujar ibu suri tegas.
"Oh ibu, apakah harus melakukan seperti ini? Aku kan sudah mendapatkan tambatan hatiku, Bu?" ucap gadis cantik itu dengan bibir mengerucut.
"Ya ibu tau, tapi bukankah bagus begini? Kita bisa bersenang-senang, sambil melihat pria yang kau cintai." Ibu suri tersenyum, tatapannya membara penuh semangat melihat kompetisi itu.
"Hahaha tampaknya ibu menikmatinya, baiklah bu." Liliana tersenyum, dia senang melihat ibunya bahagia.
Dorman berdiri didepan para semua kandidat, dia menjadi tutor alias pembawa acara dalam acara tersebut. "Baiklah, kedua duke, pangeran dan yang mulia Raja...saya akan menyampaikan hal penting dalam kompetisi kali ini. Kompetisi hari ini adalah kompetisi memanah, setiap peserta mendapatkan kesempatan 3 kali untuk menembak panah. Dan poinnya akan di catat oleh saya sendiri, tuan putri dan juga yang mulia ibu suri akan menjadi jurinya secara langsung. Nah...adapun peraturan yang paling penting dalam kompetisi ini, tidak boleh ada kecurangan!"
Setelah membeberkan panjang lebar tentang peraturan kompetisi memanah, Dorman menyatakan bahwa kompetisi memanah sudah di mulai. Dari mulai kedua duke, Pangeran William lalu Max. Kedua duke itu berhasil memperoleh nilai 9,9,8.
Nilai yang cukup bagus dan mendekati sempurna. Setelah itu giliran pangeran William yang akan memanah. Sinar dan kilat permusuhan tertuju pada Max seorang. Dia merasa bahwa Max adalah saingan terberatnya.
Pangeran William menarik anak panahnya, dia mulai fokus memanah.
Jleb!
Panah itu tepat sasaran untuk percobaan pertama.
"10, sempurna!!" ujar Dorman berseru.
Liliana dan ibu suri melihat itu dari kejauhan. "Lily, bagaimana menurutmu dengan pangeran William?"
"Ibu...hanya Raja Maximillian yang terbaik. Tidak ada yang lain." jawab Liliana tegas.
Ibu suri tersenyum mendengar keteguhan Liliana yang sudah jelas hanya ada Maximillian saja di dalam hidupnya. Jadi untuk apa dia menanyakannya lagi. Seperti apa yang dikatakan oleh Aiden dalam suratnya, bahwa Liliana dan Maximillian diciptakan untuk saling bersama.
Aiden kau benar, mereka memang terlahir untuk bersama. Kau sungguh mulia nak, kau menyatukan dua orang yang saling mencintai. Semoga kau tenang di alam sana nak, kau pasti berada di surga, kan?
Ibu suri tiba-tiba teringat dengan putranya Aiden yang telah tiada. Dia sedih kehilangan putranya, namun Tuhan telah memberikannya lagi seorang putri. Walau sebentar lagi putrinya itu akan menjadi istri dari seseorang dan akan dibawa pergi darinya.
-----____
Pangeran berhasil meraih nilai 10,10 dan 9. Nilai sempurna. Dia terlihat sombong didepan Max, karena mendapat banyak tepukan tangan dari semua orang yang ada di sana.
__ADS_1
"Kau tidak akan menang." bisik William saat melewati Max.
Max tersenyum sinis, dia mengejek pria itu dalam hati. Dia tidak tahu siapa yang di lawan dan diejeknya itu.
'Wah, yang mulia...berani sekali dia meremehkan anda!'
Blackey yang berbicara melalui telepatinya, dia kesal dengan keangkuhan
"Sudahlah, biarkan saja dia sombong dulu." Max santai saja menanggapi William. Dia mengambil busur dan anak panah yang sudah disediakan.
'Tapi saya kesal sekali yang mulia, dia tidak tahu saja siapa yang dia hadapi! Yang mulia kan pria paling hebat di dunia ini.'
"Tidak apa-apa, kita lihat saja siapa yang menang nantinya. Dia hanya akan berakhir sia-sia."
Tanpa Max sadari, beberapa dayang istana terpesona melihat kegagahan dan ketampanan Max. Tidak heran dia adalah seorang Raja yang dihormati semua orang, memang dia sangat sempurna.
"Kyaakk! Raja Istvan benar-benar tampan,"
"Benar! Dibalik baju itu, tubuhnya pasti sangat hot."
"Wow...wow...aku harap yang mulia Raja Istvan yang akan mendapatkan tuan putri!"
Liliana tersenyum mendengar itu. 'Memang priaku itu hebat, dia sempurna' Liliana membanggakan Max di dalam hatinya.
Saat akan melepaskan anak panahnya, Max merasa ada yang aneh di busur panah itu.
"Hiss..."
Aneh? Kenapa tanganku perih saat memegangnya?
"Yang mulia! Bawahan si pangeran kampret itu, sudah melakukan sesuatu pada busur panahnya." kata Blackey dalam mode telepati.
"Oh...jadi begitu ya?" Terlihat seringai di wajahnya.
Tanpa peduli tangannya yang akan terluka, Max tetap memakai busur panah itu. Entah dia sengaja atau tidak, saat menembak busur panah itu. Tangan Max berdarah dan darah itu mengucur.
"10!" ujar Dorman.
Liliana tercekat melihat kekasihnya terluka, terlihat di wajahnya kecemasan. Saat Liliana akan beranjak dari tempat duduknya, ibu suri menahannya untuk tidak pergi. "Lilyana, kau mau pergi kemana? Kompetisinya belum selesai!"
"Ibu, aku harus--" matanya memicing melihat darah segar mengucur di telapak tangan Max.
"Duduklah dulu, kita tunggu sampai selesai."
"Tapi ibu..."
"Liliana, dia akan baik-baik saja." ucap ibu suri seraya menenangkannya.
Liliana kembali duduk, dia menghela nafas berat dan membuangnya kasar. "Kenapa tangan Maxim bisa terluka begitu?!" gumammya resah. Sementara Max tetap melanjutkan kompetisinya.
__ADS_1
...*****...