
...πππ...
Seperti biasanya, Raiden selalu dekat dengan Rose ketika minta diajari pelajaran politik. Karakter Aiden dan Rose (Putra Eugene dan Laura) memang hampir sama, mereka pendiam dan selalu menggeluti buku-buku.
Kini di rumah kaca, tampak dua orang anak sedang duduk di atas kursi. Mereka berdua terlihat serius dengan pelajarannya. Rose mengajarkan Aiden mata pelajaran yang menurut anak itu susah.
"Nah...ini begini Aiden dan ini begini."
Aiden hanya mengangguk pelan, wajahnya datar seperti biasa. Ya, memang begitulah sifat alami Aiden. Kalem, dingin, kadang tidak berekspresi. Bahkan senyum pun jarang, dapat dihitung berapa kali dia tersenyum dalam sehari.
Anak laki-laki itu, menulis sesuatu di atas kertas dengan alat tulis setelah mengoleskan tinta lebih dulu.
"Kak Rose,"
"Ya, Aiden?"
"Aku tidak bisa yang satu ini," ucap Aiden sambil menyodorkan kertas ke arah Rose.
"Oh...baiklah."
Ketika Rose mendekat pada Aiden untuk melihat kertas itu, tiba-tiba saja Aiden menoleh ke arahnya. Bibirnya tak sengaja menempel pada pipi Rose.
Cup!
"A-aku minta maaf kak." ucap Aiden merasa bersalah.
Rose memegang pipinya sekilas. "Ehm...tidak apa-apa. Mari kita lanjutkan." Rose tersenyum lembut, lalu dia menepuk kepala Aiden.
__ADS_1
Mereka pun kembali belajar disana, tak lama kemudian Raja dan Ratu, juga kedua anak kembar mereka datang ke rumah kaca.
"Salam yang mulia Ratu, yang mulia Raja..." ucap Rose sopan, sambil membukukan badannya. Rose terlihat sangat anggun, sama seperti ibunya Putri Laura.
"Panggil bibi dan paman saja seperti biasa." ucap Liliana pada keponakannya itu.
"Baiklah bibi,"
Aiden juga turut memberi hormat pada ibu dan ayahnya. Dia sangat datar, hingga membuat Max kesal.
"Kau ini...sopanlah kepada ayah ibumu, berikan kami senyuman ramah. Kau ini sebenarnya mirip siapa?" tegur Max pada putra sulungnya.
"Bukankah Aiden mirip dengan anda, yang mulia." Sindir Liliana pada suaminya. "Oh ya sudahlah, Aiden...ini sudah waktunya bagimu untuk pergi ke kerajaan Gallahan."
Aiden tercekat menatap ibunya. "Apakah nenek sudah datang, Bu?"
Max yang bicara kali ini. "Iya, Aiden...kalau kau tidak mau pergi sekarang, maka--"
Entah kenapa raut wajah Rose terlihat pucat, dia seperti tak senang dengan kepergian Aiden. Baginya Aiden adalah adik yang dia sayangi, hanya dia yang mengerti Aiden.
Hari itu adalah hari kepergian Aiden menuju ke kerajaan Gallahan, dia dijemput oleh ibu suri Gallahan. Kedua saudaranya, terlihat sedih meski pada sehari-seharinya mereka selalu cuek pada Aiden.
Liliana dan Max juga sebenarnya berat harus melepaskan anak sulung mereka pergi, tapi ini yang terbaik untuk semua orang dan juga dua kerajaan. Demi menghindari pertumpahan darah sesama saudara.
"Kakak...kakak jangan lupa mengirim surat pada kami ya kak!" Selena memegang tangan kakaknya, matanya berkaca-kaca.
Aiden membalas genggaman tangan Selena, lalu mengulas senyum sendu. Dia memeluk adik bungsunya itu. "Kau harus sehat selalu, jangan membantah ucapan ayah ibu, jangan naik ke atas pohon dan jangan tidur sembarangan." pesannya pada Selena, ya yang satu ini memang agak barbar.
__ADS_1
Selena melepas pelukan kakaknya, dia tidak tahan dengan suasana itu dan menangis. Padahal Selena biasanya tidak menangis walau bertengkar dengan Derek. "Hiks..hiks..."
"Derek...kau harus patuhi ibu dan ayah, jagalah Selena, adik kita." pesan Aiden pada Derek.
Derek juga menangis sama halnya seperti Selena, dia sayang sekali pada kakaknya itu. Aiden memang masih muda, tapi dia bersikap seperti orang dewasa. Ia pun memeluk kedua adiknya dengan penuh kasih sayang. Melampiaskan rindu yang mungkin nanti akan menyiksanya.
"Huahhh....kakak..." Selena dan Derik kompak menangis.
Liliana, Max, Laura, Eugene dan Rose juga sedih dengan kepergian Aiden. Mereka pun melepas kepergian Aiden dengan senyum getir. Berharap bahwa suatu saat nanti Aiden akan menjadi seseorang yang berkuasa dan dapat diandalkan.
Malam itu, malam yang hening tanpa Aiden. Liliana dan Max berada di kamar mereka. Wanita itu terlihat merenung, memikirkan putranya. "Sayang..." tangan Max melingkar ditubuh Liliana.
"Belum apa-apa aku sudah rindu dengan anak kita." ucapnya lirih.
"Anak kita tidak pergi kemana-mana, dia hanya melakukan kewajibannya sebagai seorang pewaris," ucap Max sambil mencium leher Liliana dengan lembut.
"Iya aku tau, tapi aku pasti kesepian. Biasanya aku melihat ketiga anak kita dan sekarang hanya dua." Liliana tersenyum sendu.
"Kalau kau kesepian, bagaimana kalau kita buat anak lagi?" tawar Max seraya menggoda istrinya.
Liliana tersenyum lebar, lalu dia tertawa mendengar tawaran dari suaminya. Ya, itu hanya bercanda saja sebab Max tidak pernah mau Liliana hamil lagi. Cukup tiga kali saja Liliana merasakan sakit karena melahirkan bayi kembar 3 mereka, tidak boleh ada lagi rasa sakit.
Hanya boleh ada rasa bahagia, tidak boleh ada penderitaan lagi. Jangan ada tangisan, hanya boleh ada senyuman kebahagiaan.
"Aku mencintaimu, Maximillian Gallan Istvan." bisik Liliana pada suaminya.
"Aku juga sangat mencintaimu," balas Max seraya tersenyum, lalu memeluk istrinya dengan lembut.
__ADS_1
...#TAMAT#...
Hai Readers, maafkan bila endingnya kurang memuaskanβΊοΈβΊοΈ terimakasih kepada kalian semua yang sudah setia menunggu,membaca novel ini dari awal sampai akhir. πππ jangan lupa mampir ke novel baruku ya,π