
Liliana tercengang mendengarnya, dia menohok menatap pria itu tak percaya. "Apa kepalamu terbentur? Sepertinya aku hanya memukul perutmu saja."
"Kau jangan salah paham dulu ya, ini hanya pernikahan kontrak saja! Aku membutuhkan pasangan dan hanya kau yang bisa."
Benar, hanya wanita ini yang bisa kusentuh. Maka dia bisa menjadi pasangan kontrakku. Agar ibunda tidak menjodohkanku dengan wanita lain lagi.
"Aku tidak peduli dengan urusanmu, tuan. Lebih baik kau cari pengantin yang lain." Liliana berbicara dengan cueknya.
Pria ini sudah gila atau bagaimana? Mengajakku menikah kontrak?
"Tapi hanya kau yang bisa."
"Maaf, aku menolak." kata Liliana tegas.
Ish, wanita ini sangat jual mahal. Gerutu Aiden didalam hatinya.
"Aku akan membayarmu, berapapun yang kau mau akan aku berikan. Apapun yang kau minta, akan aku kabulkan. Kontrak ini hanya berjalan selama dua bulan saja!" Aiden membujuk Liliana agar mau menikah kontrak dengannya.
Sial sekali! Semua wanita diluar sana menginginkanku dan dia malah jual mahal padaku. Aku bahkan harus membujuknya seperti ini.
"Aku tidak bisa." Liliana menolak permintaan yang menurutnya sangat aneh itu.
Dia mengusir Aiden dan Dorman dari rumahnya dengan tidak hormat. Dorman menggerutu kesal karena Rajanya diperlakukan seperti itu oleh Liliana yang menurutnya adalah wanita biasa alias rakyat jelata.
"Berani sekali dia memperlakukan yang mulia seperti ini! Dia pikir siapa dia!" Seru Dorman sambil mendengus kesal, dia meletakkan tangannya dipinggang. Matanya menatap tajam ke arah pintu rumah itu.
"Dorman, bagaimana menurutmu wanita itu?"
"Apa?" Dorman melihat ke arah Aiden dengan kening berkerut.
"Apakah ibuku akan percaya jika aku memperkenalkannya sebagai calon istriku?" tanya Aiden bersungguh-sungguh.
"Yang mulia, apa anda serius ingin menjadikan wanita bar-bar dan jutek itu sebagai istri yang mulia?" Dorman mendongak tak percaya dengan ucapan Rajanya.
"Tentu saja aku serius, tapi hanya menikah kontrak saja." jawab Aiden sambil tersenyum.
"Yang mulia, jika yang mulia ibu suri tau tentang identitas wanita liar itu...tentu saja ibu suri tidak akan menerima wanita itu menjadi bagian dari keluarga kerajaan."
"Itu benar, tapi jika aku bilang aku mencintainya dan kami saling mencintai...maka ibuku tidak akan melarang. Asalkan yang dibawa adalah seorang wanita!" gumam Aiden sambil tersenyum.
Ibunda selalu khawatir dengan pernikahanku, jika aku membawa wanita ini ke istana dan memperkenalkannya, maka ibunda tidak akan menolak. Asalkan aku menikah dengan seorang wanita.
"Yang mulia benar juga,"
"Dorman, aku ingin tau tentang identitasnya. Dari keluarga mana dia berasal dan bagaimana kepribadiannya."
"Baik, yang mulia." sebagai seorang bawahan, Dorman hanya bisa patuh pada perintah atasannya.
Kenapa aku merasa kalau yang mulia tertarik pada wanita bar-bar itu.
Selama satu bulan itu, Aiden selalu menganggu Liliana. Dia selalu berada ditempat dimana Liliana berada. Aiden tidak kembali ke istananya karena dia ingin menyelidiki tentang Liliana lebih dalam.
Liliana kesal karena terus didekati oleh Aiden, bahkan pekerjaannya sebagai ketua serikat dagang terbesar di seluruh kerajaan, terhambat karena Aiden terus mengikutinya.
"Ini sangat menyebalkan, kenapa kau terus mengikutiku? Apa kau pengangguran?" tanya Liliana pada Aiden sebal.
Anda salah nona, yang mulia adalah orang yang paling tidak menganggur di negeri ini! Dia adalah orang yang paling sibuk, tapi karena nona dia meninggalkan semua pekerjaannya. Dorman gemas ingin bicara seperti itu, namun sayangnya dia hanya bisa bicara dalam hati.
"Kalau kau ingin aku pergi, marilah setujui permintaanku! Kita menikah kontrak, kau tidak akan rugi menikah kontrak denganku?"
"Aku kan sudah bilang, aku tidak mau!" Liliana kesal sampai menggebrak meja yang ada didepannya.
"Nona, tenanglah...tabib bilang kalau nona harus menjaga emosi nona." bisik Andreas pada Liliana.
__ADS_1
Astaga! Benar juga, aku harus sabar dan menahan emosiku karena di dalam sini ada bayiku.
Tak lama kemudian, seorang pelayan membawakan pesanan Liliana dan Aiden. Aiden memesan makanan yang banyak untuk Liliana, dia melakukan upaya untuk membujuk Liliana. "Kau masih belum menyerah?" tanya Liliana sambil mengambil sendok.
"Aku adalah orang yang akan selalu mendapatkan apa yang ku mau, jadi aku tidak akan menyerah."
Wanita tangguh sepertimu, mana mungkin aku lepaskan begitu saja.
"Sebenarnya aku-"
Ucapan Liliana terputus karena dia mendengar seseorang di rumah makan itu yang membicarakan tentang Raja Istvan yang akan datang ke pulau itu. Liliana terdiam dan mendengarkan percakapan mereka.
"Hey, apa kau sudah dengar berita itu?" tanya seorang pria pada temannya.
"Apa?"
"Katanya Baginda raja dari kerajaan Istvan akan segera datang kemari."
"Benarkah? Ke pulau ini?" tanya temannya sambil menatap pria yang ada didepannya.
"Aku dengar, Raja Istvan juga akan pergi bersama calon istrinya."
Deg!
Calon istri? Siapa?
Andreas dan Liliana tersentak kaget mendengar percakapan itu. Dorman dan Aiden terheran-heran melihat Liliana dan Andreas yang tiba-tiba terdiam.
Aiden yang tadinya tidak tertarik soal Raja Istvan, jadi ikut mendengarkan percakapan orang-orang itu karena Liliana juga mendengarkannya.
"Siapa calon istrinya? Bukankah katanya dia akan melajang seumur hidupnya?" tanya seorang pria paruh baya pada temannya.
"Sepertinya itu bohong, buktinya ada di surat kabar ini..."
"Hey tuan, apa yang kau-"
Liliana masih dianggap sebagai pria karena penampilannya yang seperti pria. Liliana melihat surat kabar itu, entah apa yang ia baca disana. Matanya menjadi berkaca-kaca, dadanya menjadi sesak.
"Nona..." Andreas berbisik pada Liliana.
Yang mulia Raja akan segera menikahi nona Julia?
Andreas melihat isi berita itu, dia terkejut karena isinya mengatakan bahwa Max dan Julia akan menikah. Julia digadang-gadang sebagai calon Ratu kerajaan Istvan.
"Ini..." tangan Liliana gemetar saat membacanya.
Liliana kau harus tenang, pada akhirnya ini akan terjadi. Yang namanya cinta dan perasaan bisa berubah dengan mudahnya.
Telinga dan hatinya semakin panas, tatkala orang-orang itu mulai membicarakan tentang mantan putri mahkota yang dilengserkan oleh Max dan diceraikan dengan tidak hormat.
"Kasihan sekali ya mantan putri mahkota yang dulu, dia diceraikan dengan tidak hormat. Bahkan sekarang tidak ada yang tau keberadaannya," jelas seorang pria bertopi.
"Ya, aku rasa dia malu karena Baginda raja mencampakkannya."
"Baginda raja bahkan memilih wanita yang sederajat dengannya."
Max, akan menikah lagi dengan nona Julia?
Sakit hati Liliana mendengar semua ucapan yang menusuk hatinya. Dia menyimpan kembali surat kabar itu ke atas meja.
Wanita itu berjalan meninggalkan restoran itu dengan hati yang hancur. Andreas mengikuti nonanya dengan cemas. "Nona!"
Aiden dan Dorman menatap Liliana dengan kebingungan. Apa yang terjadi pada wanita itu? Kemudian Aiden meminta Dorman untuk membungkus semua makanan yang ada di meja dan membawanya ke rumah Liliana.
__ADS_1
Aiden mengikuti Liliana, sekilas dia melihat wanita itu terlihat sedih seperti akan menangis. Aiden bertanya-tanya apa yang membuat Liliana menangis.
"Nona, apa nona baik-baik saja?" Andreas menanyakan keadaan nonanya.
"Aku baik-baik saja, mari kita kembali." Liliana menahan air matanya, ia mengajak Andreas untuk kembali ke rumah.
Liliana yang berjalan sambil melamun, tidak melihat ada kereta yang lewat ke arahnya. Andreas akan menarik tubuhnya, namun Aiden mendahuluinya.
Dia yang menarik tubuh Liliana lebih dulu, hingga mereka berdua terjatuh ke tanah. "Hey! Apa kau sudah gila? Tidak lihat apa, ada orang disini?" Aiden melempari kereta yang lewat cepat itu dengan batu.
"Nona! Apa anda baik-baik saja?" tanya Andreas sambil menghampiri Liliana dengan cemas.
"Ugghhhh... sakit...sakit sekali.." Liliana memegang perutnya, dia merintih kesakitan.
"Apa kau baik-baik saja?" Aiden bertanya dengan cemas, apalagi saat dia melihat tubuhnya berdarah. Tanpa banyak bicara dia menggendong Liliana yang kesakitan itu. "Dimana tempat pengobatan terdekat?"
"Ada disana tuan," jawab Andreas.
Aiden dan Andreas membawa Liliana ke tempat pengobatan terdekat disana. Dia langsung diperiksa oleh tabib. Tabib itu mengatakan bahwa Liliana mengalami pendarahan karena terjatuh, namun untungnya bayi didalam kandungan Liliana masih selamat.
Degg!
Aiden tercengang mendengarnya, dia tidak menyangka bahwa Liliana ternyata sedang hamil. "Ternyata kau sedang hamil?"
"Karena kau sudah tau, kau bisa pergi meninggalkan aku kan?" Liliana mengusir Aiden dari hidupnya.
Apa mungkin dia diperkosa oleh seseorang? Atau dicampakkan oleh kekasihnya? Makanya dia menangis seperti tadi saat mendengar kisah mantan putri mahkota kerajaan Istvan.
Wajah wanita itu terlihat pucat, dia beranjak dari tempat tidurnya. Dia berjalan keluar dari tempat pengobatan itu, Aiden masih mengikutinya.
"Kenapa kau masih ada disini? Bukankah harusnya kau sudah pergi?" tanya Liliana keheranan.
"Aku tidak akan menjauhimu hanya karena kau sedang hamil." kata Aiden.
Aku malah semakin penasaran denganmu.
"Tapi, kau sudah menyerah kan atas penawaranmu itu padaku?"
"Tidak juga," jawab Aiden sambil berpikir.
"Haahhh.. Andreas, ayo kembali."
"Ya, nona." jawab Andreas patuh.
Dia membantu Liliana berjalan dengan memapahnya, keadaan gadis itu masih lemas karena belum lama dia pendarahan. Dorman pun datang membawa makanan yang dia bungkus. Aiden memintanya memberikan makanan itu pada Liliana.
Wajah Aiden terlihat kecewa karena dia tau bahwa Liliana sedang hamil. Informasi yang dia dapatkan dari Dorman juga tidak lengkap seperti ada yang disembunyikan oleh Liliana.
Di rumahnya malam itu, Liliana sedang sendirian di balkon kamarnya. Dia memegang kalung permata berwarna merah pemberian Max di hari pertama mereka resmi menjadi pasangan kekasih.
"Apa kau benar-benar akan menikah dengannya yang mulia? Apakah kau sudah melupakan diriku?" Liliana memandangi langit hitam itu sambil menangis, dia sangat rindu pada Max.
*****
Di istana kerajaan Istvan, Max sendiri swwang berada di dekat taman istana. Laura yang sedang berjalan-jalan bersama Eugene melihat Max dari kejauhan.
"Suamiku, lihatlah kakakku...dia pasti sedang memikirkan lagi kakak ipar. Apa menurutmu dia akan menikah dengan nona Julia dengan keadaan seperti itu?"
"Ya, sudah pasti berita itu tidak benar dan yang menyebarkannya pasti pihak..." Eugene tidak berani bicara lebih banyak lagi tentang ibu mertuanya.
"Ya, aku tau pasti ibuku dibalik semua ini." jawab Laura mengakuinya.
Kenapa ibu tidak pernah bisa berubah?
__ADS_1
...*****...