Second Life Liliana

Second Life Liliana
Bab 176. Budak iblis


__ADS_3

...🍁🍁🍁...


Kenapa segelku masih aktif? Aku pikir aku sudah sembuh dengan meminum darah Liliana kemarin? Aku pikir ini semua sudah menghilang?


Max mengerang kesakitan, lehernya seperti akan putus terjerat oleh tali itu. Raja iblis Utara tersenyum lebar, dia senang melihat Max seperti itu.


"Kau masih tidak sadar diri ya? Kau sudah menjadi budakku dan selamanya kau tidak akan bisa melanggar perjanjian kita!"


"Ughhhh....aku tidak mau... menjadi budakmu lagi!" tegas Max yang tidak mau diperbudak lagi oleh iblis itu.


"Mau tidak mau, kau harus menuruti semua perintahku karena segel ini! Kau telah menjual jiwamu kepada iblis sepertiku, maka inilah ganjaran yang harus kau terima!!" Teriak Raja iblis Utara sambil tersenyum sinis.


Putra mahkota kerajaan Istvan itu terlihat udah berdaya di depan raja iblis Utara, Setelah dia kembali memutar waktu kekuatannya hilang setengah dan dia juga tidak sekuat dulu.


Mau tidak mau, Max yang sudah dikuasai oleh segel iblis yang diberikan Raja iblis Utara. Akhirnya berubah menjadi sosok makhluk yang mengerikan, manusia setengah ular.


"Cepat! Cari mangsa sebanyak-banyaknya untuk memuaskan dahagamu, kau tahu kan harus mencari mangsa seperti apa agar rasa hausmu cepat hilang? Ya...carilah manusia untuk kau habisi, Karena aku tahu kau tidak akan puas dengan hewan saja." Ucap Raja iblis Utara terkekeh kekeh melihat ketidakberdayaan putra mahkota kerajaan Istvan tersebut.


Roaaarrrr....


Max mengeram, giginya yang bertaring itu siap untuk mengigit mangsa. Sepenuhnya pria itu sudah dikuasai oleh segel iblis yang ada di dalam tubuhnya.


Dia yang sudah dikuasai oleh iblis, pergi dari sana untuk mencari mangsa. Matanya merah menyala, disertai dengan dahaga dan rasa lapar yang sangat menderita dirinya. Saat itu dia tidak bisa berpikir jernih, dia pergi meninggalkan kerajaan itu untuk mencari mangsa di luar sana.

__ADS_1


Akhirnya untuk kedua kalinya, Max kembali mau memakan manusia. Dia mau makan seorang gadis kecil yang kebetulan sedang jalan sendirian di yang kecil yang sepi. Setelahnya, rasa haus itu tak kunjung hilang.


"Darah...darah....darah....haus...haus.. Aarrgghh!!!"


Max masih belum puas meski dia sudah meminum darah seorang gadis kecil yang tidak bersalah. Rasa haus itu masih menguasai dirinya, akan tak pernah hilang. Ia pun mencari lagi seseorang untuk dia minum darahnya.


Dirinya yang masih setengah ular dan setengah manusia, mencari dan terus mencari mangsa. Beruntungnya, itu masih suasana festival di kota. Hingga gerakan Max tidak terpantau jelas tengah keramaian yang ada.


Suara kembang api, riuh yang menghiasi malam itu. Membuat Max bisa dengan mudah menjalankan aksinya. Dia pun berhasil meminum darah seorang wanita paruh baya yang terlihat sendirian jauh dari keramaian.


Belum cukup dua orang, kini pria itu berubah menjadi lebih ganas. Dia kembali meminum darah seorang pria tua yang ditemuinya di jalan. "Si-siluman!!" Pekik pria tua itu sebelum menghadapi ajalnya.


Max mencabut nyawa pria tua itu dengan brutal. "Pahit...pahit sekali darahnya," mulut Max berlumuran oleh darah korbannya. Setelah itu dia meninggalkan korban-korbannya begitu saja. Tak lama kemudian, Max mulai kembali menjadi dirinya sendiri.


Max meretuki dirinya sendiri yang telah membunuh tiga orang manusia yang tidak bersalah. Kemudian fasilitas di pikirannya seorang wanita tua yang mungkin bisa membantunya untuk melepaskan segel jual jiwa dengan iblis ini.


"Benar...Brieta, aku harus menanyakan ini padanya. Apa aku bisa melepaskan segel ini dari tubuhku? Tapi... dia akan kembali dalam dua hari lagi, bagaimana aku bisa menahan diriku tanpa membunuh seorang manusia. Nyatanya, dengan darah hewan saja sekarang tidak cukup untuk memenuhi rasa hausku. Ya Tuhan, apa ini hukuman untukku? Padahal hanya ingin mencintai dan aku hanya ingin bahagia dengan orang yang aku cintai. Tapi kenapa engkau selalu saja mempersulit diriku untuk bersatu dengannya?"


Pria itu menyesali takdir dan nasibnya yang begitu buruk, bersama dengan orang yang dia cintai saja sangat sulit rasanya. Terdengar sebagai keinginan yang simple, namun sebenarnya sangat sulit.


 


Di tempat lain, Liliana yang berada di kamarnya. Tiba-tiba saja merasakan sesuatu yang menghujam dadanya. Hingga dia merasa sesak dan memegang dadanya. "Ughh.. ya Tuhan, pertanda apa ini? Mengapa dadaku tiba-tiba terasa sesak? Tiba-tiba saja terlintas bayangan tuan Maximilian di dalam benakku. Ya Tuhan, semoga dia baik-baik saja di manapun dia berada."

__ADS_1


Firasat Liliana sendiri, bak seorang istri yang sedang mengkhawatirkan suaminya. Walau berulang kali Max ingin menjauhinya, tapi dia tetap mengkhawatirkan pria itu entah kenapa.


****


Keesokan harinya, Liliana yang tidak tahan menganggur. Akhirnya ia mulai pergi keluar dari penginapan itu dan mencari pekerjaan untuk menyambung hidup. Semua uang koin yang diberikan oleh Max telah dia kembalikan kepada orangnya, walau Aiden juga memberinya uang koin. Dia tidak mau memakai uang pemberian dari pria itu, ya lebih memilih untuk bekerja dan mendapatkan uang dengan caranya sendiri.


Jatah tidur di dalam penginapan itu hanya tinggal dua hari lagi, maka dia harus secepatnya mendapatkan pekerjaan sebelum keluar dari tempat itu. Entah, apa yang akan ia lakukan selanjutnya di kerajaan Istvan. Tempatnya memulai hidup baru.


Liliana pergi mencari pekerjaan sebuah restoran di sekitar dermaga kerajaan itu. Namun tidak ada lowongan pekerjaan untuknya. Hingga akhirnya seorang pria tua menyarankan kepada Liliana untuk pergi saja ke pusat kota dan mencari pekerjaan di sana.


"Nona, kalau kau ingin mencari pekerjaan. Pergilah ke pusat kota. Aku yakin kau akan menemukan pekerjaan yang kau inginkan di sana." Usul pria tua itu padanya.


"Apa begitu tuan? Lalu, apakah pusat kota itu jauh dari sini? Apa saya harus berjalan kaki atau menggunakan kendaraan untuk pergi ke sana?" Tanya Lilliana dengan suara penuh hormat dan ramah padanya.


"Kau perlu menaiki kereta untuk sampai kesana." Ucap pria itu memberitahu. "Dan kudengar ada lowongan pekerjaan di istana, bayarannya 100 koin emas perbulannya." Ucap pria tua itu lagi pada Liliana.


"Oh...baiklah, terimakasih tuan." Ucap Liliana pada pria tua itu seraya membungkukkan setengah badannya untuk berterimakasih pada pria tua itu.


Gadis itu membulatkan tekadnya untuk segera pergi ke pusat kota dengan semangat. Ia bertekad untuk melupakan perasaannya pada Max dan fokus bekerja saja, dia tidak ingin bertemu dengan Max lagi.


Liliana akhirnya pergi menaiki kereta untuk segera pergi ke pusat kota. Tiba-tiba saja pria tua tadi berubah menjadi Brieta. "Hehe, sejauh apapun kau mencoba untuk pergi dari takdirmu. Maka takdirmu akan semakin dekat padamu, kau tidak bisa lari dari takdir. Nona Liliana."


...*****...

__ADS_1


__ADS_2