Second Life Liliana

Second Life Liliana
Bab 168. Pergi dari hadapanku!


__ADS_3

Mendadak perasaan Max tidak enak saat dia melihat Aiden berada disana. Banyak pertanyaan muncul di kepalanya. Aiden juga merasa tidak nyaman ketika melihat Max disana, apalagi saat Liliana sempat bicara dengannya. Apa mungkin Liliana merasakan sesuatu pada Max?


Niatnya yang tadi ingin pergi dari sana, tidak jadi dia lakukan saat melihat Aiden disana. Max berbalik dan berjalan ke arah Liliana dan Aiden.


Tenang Aiden, kau harus bersikap seperti biasa.


"Nona Liliana, apa kau mengenal pemuda ini?" Tanya Aiden sambil tersenyum lembut seperti biasanya. Aiden menatap Max dengan dalam, berusaha menelisiknya, namun ia masih mempertahankan senyumannya itu.


"A jikaku--"


Max memangkas ucapan Liliana. "Kami tidak saling kenal, tapi nona ini Dia memiliki hutang padaku." Max menjawab asal saja, tanpa menatap Liliana dan terfokus pada Aiden.


Kenapa perasaanku tidak nyaman begini saat ada Raja Gallahan disisi Liliana?


"Huh? Hutang? Aku punya hutang padamu?" Gadis itu tercekat mendengar ucapan Max padanya.


"Dan sepertinya kita harus menyelesaikan hutang itu, nona." Max memegang tangan Liliana.


"Uhh..." Liliana terlihat bingung lantaran Max yang tadinya bersikap cuek kepadanya menjadi tidak cuek lagi.


"Maaf, tapi dia pergi dengan saya...dia juga punya hutang pada saya." Aiden berani menepis tangan Max yang memegang tangan Liliana. Pria itu tersenyum lembut seolah tidak menunjukkan permusuhan.


"Hutang? Tu-tunggu, aku tidak punya hutang pada kalian berdua!" Liliana melirik ke arah Max dan Aiden bergantian.


Liliana berada di tengah-tengah antara kedua pria itu. Pria dengan status tinggi sebagai pemimpin di kerajaan.


"Tuan siapanya nona ini? Apa tuan saudaranya?" Max bertanya pada Aiden dengan suara dinginnya.


"Saya--"


"Dia hanya pria yang tak sengaja aku temui di kapal, dia bukan siapa-siapa!" Liliana langsung memotong perkataan Aiden.


Hati Aiden berdenyut saat Liliana memangkas ucapannya dan mengatakan bahwa dia bukan siapa-siapa.


"Oh begitu, jadi aku boleh kan bicara denganmu nona?" Max melirik ke arah Lioiaha.


"Nona Liliana, tapi aku ingin--"


Liliana memotong ucapan Aiden lalu melihat kearah Max. "Maaf tuan Aiden, aku harus bicara dulu dengan tuan--"


"Maximilian, itu namaku." Max menyahut ucapan Liliana.


Tidak ada kebohongan lagi kali ini, Max berkata jujur soal namanya. Berbeda saat dulu pertama kali Liliana bertemu dengan Max.


Liliana tertegun mendengar Max memperkenalkan dirinya. Ada rasa aneh saat mendengar nama itu. 'Maximillian, dimana ya aku pernah mendengar nama itu?'


"Nona Liliana?" Max dan Aiden memanggil nama Liliana dengan kompak. Itu karena mereka melihat Liliana tiba-tiba saja melamun tanpa sebab.


"Iya, saya akan bicara dengan anda tuan. Kebetulan...ada yang ingin saya bicarakan dengan tuan Maximilian."


Ya, aku harus bicara padanya mengenai uang ini.


"Ayo, kita cari tempat yang tenang untuk berbicara!" Max mengajak Liliana mencari tempat yang tenang untuk mereka bisa bicara.


Gadis itu menganggukkan kepalanya. "Tuan Aiden, setelah ini mungkin tidak akan bertemu lagi. Jadi, saya ucapkan terima kasih kepada tuan Aiden karena kita sempat menjadi teman bicara. Lalu, saya juga ingin meminta maaf atas kelakuan saya yang tidak sopan kepada tuan Aiden."


Miris hati Aiden mendengar ucapan Liliana yang seolah mengisyaratkan sebuah perpisahan dan berkata seolah mereka tidak akan bisa bertemu lagi dan ini terakhir kalinya mereka bertemu. Aiden menangkap ucapan Liliana seperti itu.


Max memperhatikan raut wajah Aiden, entah apa yang dia pikirkan tentangnya.


Tidak! Kenapa malah kalimat perpisahan? Aku tidak ingin berpisah begitu saja darinya.


"Kau tidak punya salah apa-apa padaku. Malah... aku yang harus berterima kasih kepadamu karena kau sudah membuatkanku sup untuk meredakan mabuk laut. Aku masih berharap, kau menerima tawaranku."


Lily membuatkan sup untuknya? Tunggu! Berapa lama mereka sudah bertemu?. Max memperhatikan Aiden dan Liliana yang sedang berbicara berdua.


"Jika saya butuh uang, mungkin saya akan menerima tawaran tuan!" Gadis itu tersenyum ceria seperti biasanya.


"Aku akan berada disana, kalau kau berubah pikiran!" Balas Aiden seraya menunjuk ke sebuah restoran yang tak jauh dari dermaga itu.


"Hahaha...baiklah tuan."


Max dan Liliana berjalan berdampingan, sesekali mata Max dan Aiden saling bertemu dan menyiratkan sebuah pertempuran dalam tatapan. Namun Aiden dengan tenang, dia tetap tersenyum.


Apa masa lalu memang berubah sebanyak ini? Tapi... benarkah pertemuan Liliana dan raja Gallahan adalah sebuah kebetulan semata?


Max bertanya-tanya di dalam hatinya, ia merasa bahwa kehadiran bukanlah sebuah kebetulan dan entah mengapa perasaannya sangat tidak enak. Diluar mereka berdua terlihat tidak saling mengenal, ya karena di masa lalu sekarang belum mempertemukan mereka seperti waktu sebelumnya. Mungkin hanya orang yang punya ingatan saja yang tahu tentang masa lalu, tapi kan Aiden tidak tahu? Pikir Max dalam hatinya.


Nyatanya Max salah besar, Aiden bukan hanya mengingat masa lalu, dia juga yang telah mengubah masa lalu dan masa sekarang. Hanya saja Max tidak tau itu, bahwa Aiden juga terlibat dalam perjanjian jual jiwa yang dilakukannya.


Kini, Max dan Liliana berada di sebuah tempat makan yang tak jauh dari dermaga. Sebelum itu, Max meminta agar Adrian dan Eugene pergi lebih dulu namun tak jauh dari sana.


Suasana diantara Max dan Liliana begitu hening, keduanya sama-sama canggung. Apalagi Liliana yang teringat ciuman panas dan mereka hampir melakukan hubungan intim pada malam itu.


Keheningan itu hanya terjadi sebentar, sampai Max menegur Liliana. "Apa kau mau minum, atau makan sesuatu?"

__ADS_1


"Aku sudah sarapan."


"Itu kan sarapan, ini sudah siang dan waktunya makan siang."


"Iya juga ya...tapi aku tidak lap--"


Kruuukkkk...


Suara memalukan yang entah datang dari mana asalnya, membuat Liliana terpaku dan memegang perutnya.


"PFut..." Max tersenyum sambil menahan tawa.


"Itu bukan suaraku! Sungguh itu--"


Kruuukkkk...


"Ish....sial! Perut sialan!" Gerutu Liliana sambil memegang perutnya, sontak dia menundukkan kepalanya karena malu. Sementara Max susah payah menahan tawanya karena tidak ingin Liliana tersinggung.


"Jangan salahkan perutmu karena dia minta makan. Kau kan selalu bilang kalau manusia tidak boleh mati dalam keadaan perut kosong."


Liliana menelan salivanya, dia terkejut mendengar ucapan Max. "Aku bilang begitu? Kapan?"


Kalimat itu memang tidak asing bagiku tapi kapan aku bicara padanya?


Ah! Aku salah bicara. Aku lupa kalau Lily, hilang ingatan dan tidak akan bisa mengingatku. Max menghindari tatapan Liliana padanya.


"Pelayan! Kemari!" Ujar Max pada seorang pelayan disana, dia mencoba mengalihkan pembicaraan. Seorang wanita menghampiri mereka berdua dan langsung menanyakan apa yang ingin mereka berdua pesan.


Max langsung mengatakan pesanannya dan makanan itu bukan makanan kesukaannya tapi kesukaan Liliana. "Spaghetti bolognese, jangan pakai sayur."


Gadis itu tersentak untuk kesekian kalinya, dia merasa Max sudah mengenalnya sejak lama. "Kenapa kau memesan itu?"


"Karena kau suk--ah... maksudku karena aku suka." Max tergagap, lagi-lagi dia tidak bisa menahan dirinya untuk bersikap seolah tak mengenal Liliana. Jujur, hatinya sangat terluka harus menjaga sikap seperti ini didepan Liliana.


"Kau suka spaghetti?" Tanya Liliana dengan kening berkerut seolah tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh pria itu.


"Iya, aku suka."


"Kebetulan, aku juga suka. Kita pesan dua saja dan minumannya--"


Jus stroberi. Batin Max menjawab.


"Jus stroberi!" Ungkap Liliana sambil tersenyum pada pelayan itu.


"Air biasa saja."


"Baik, tuan dan nona... mohon tunggu sebentar ya!" Ucap si pelayan wanita itu ramah, yang lalu melangkah pergi dari sana.


Max dan Liliana duduk terdiam lagi dalam hening. Dan kali ini Liliana yang bertanya lebih dulu pada Max. "Jadi...namamu adalah Maximillian?"


Pria itu tidak langsung menjawab, ia terlihat ragu. Beberapa detik kemudian ia menjawab.


"Ya, namaku adalah Maximillian..."


"Hem, jadi kau adalah orang Istvan?"


"Benar."


Lagi-lagi anak kecewa dengan jawaban dingin yang keluar dari mulut Max.


Tanggapan pria ini selalu dingin padaku.


"Oh begitu, lalu kenapa kau ingin mengajakku bicara? Kau ingin mengambil semua koin emasmu lagi? Kalau begitu, kau ambil saja...hanya koin emasnya tinggal sisa 680 koin lagi. Nah... untuk 20 poinnya aku akan membayarnya padamu setelah aku mendapatkan pekerjaan."


"Tidak! Aku mengajakmu bicara bukan untuk itu, ada alasan yang lain."


Lily, aku tidak bisa dan aku tidak sanggup... nantinya aku akan melanggar janjiku kalau kau berada di dekatku.


"Alasan yang lain?" Liliana menoleh ke arah Max.


"Ya benar, alasan yang lain."


"Apa?"


"Nanti akan aku katakan, setelah kita makan bersama."


Sementara itu direstoran yang bersebelahan dengan restoran tempat Liliana dan Max berada. Aiden dan Dorman juga tiga pengawal tugas menjaga keselamatan Aiden berada di sana.


"Yang mulia, kalau yang mulia tidak tenang seperti ini... Kenapa yang mulia tidak bergabung saja dengan mereka?" Dorman melihat ada kegelisahan di wajah rajanya itu dan lagi-lagi itu karena Liliana.


Seorang nona dari kalangan rakyat biasa yang bisa membuat sang raja yang hebat menjadi kalang kabut.


"Dorman, kau diam saja! Atau... kau pesan saja makanan untuk kita." Aiden masih fokus menatap dua orang yang duduk di meja yang sama. Yaitu Liliana dan Max. Tangannya mengepal erat,ia menggigit bibir bagian bawahnya. Aiden sangat penasaran dengan apa yang dibicarakan oleh Max dan Liliana.


Jadi... sepertinya mereka sudah bertemu sebelumnya? Liliana sudah bertemu dengannya sebelum dia bertemu denganku. Apa saja yang sudah terjadi di antara mereka? Sial! Kenapa lagi-lagi aku kalah start?

__ADS_1


"Seperti kata pepatah, cinta itu tahu ke mana dia harus pulang dan jodoh pasti akan bertemu walau dipisahkan seperti apapun." Ucap seorang wanita bertudung hitam yang sontak saja membuat Aiden langsung melirik ke arahnya. Ia tersindir dengan ucapan wanita tua itu.


Aiden dan Dorman menatap wanita tua bertudung hitam itu dengan tajam. Rambutnya terlihat memutih, bibirnya menyunggingkan senyuman yang tipis. "Sejak awal, dia bukanlah milikmu...maka kau tidak akan bisa memilikinya seperti apa yang kau inginkan. Mereka sudah ditakdirkan bersama meski ujian berat yang mereka jalani. Malah ujian akan membuat hubungan mereka menjadi semakin kuat dari sebelumnya. Sekuat apapun badai mencoba memisahkan mereka, mereka akan tetap bersama."


Apa maksud wanita tua itu?


Aiden beranjak dari tempat duduknya lalu menghampiri wanita tua bertudung hitam itu, ia terlihat emosi melihatnya. "Apa maksudmu bicara seperti itu?"


"Maaf tuan, saya hanya sedang membaca puisi. Saya tidak mengatakan apa-apa." wanita tua itu menunjukkan buku puisi yang dia baca pada Aiden karena pria itu terlihat tidak percaya padanya.


Aiden langsung menyambar buku yang dipegang oleh si wanita tua itu dan membacanya. Setelah dia mengkonfirmasi isi buku tersebut, ia langsung menyerahkan buku itu kembali kepada pemiliknya.


Wanita tua itu tersenyum, lalu dia menatap Aiden sekilas. Sungguh, Aiden terlihat tidak suka dengan tatapan wanita tua itu yang sinis padanya. "Tuan... jangan pernah berusaha untuk memotong benang takdir dari Tuhan. Karena suatu saat nanti tuan akan merasakan akibatnya." Ucap wanita itu tajam.


Aiden tersentak kaget, matanya membelalak menatap wanita tua itu. "Apa maksudmu?"


"Hehe, tidak apa-apa tuan. Saya hanya membacakan salah satu bait puisi di buku ini, bagaimana? Bagus kan?" Wanita tua itu menunjukkan smirknya.


Aiden tidak menjawab, entah mengapa dia kesal dengan apa yang dikatakan si wanita tua yang aneh itu. Aiden kembali duduk di tempat duduknya dengan kesal.


"Yang mulia, apa perlu saya lakukan sesuatu kepada wanita tua itu?" Tanya Dorman


"Tidak usah! Pergilah dari sini dan pesan makanan saja!" Ujar Aiden sambil geram menahan emosinya.


Wanita tua itu.... sangat menyebalkan.


****


Setelah Max melihat Liana selesai menghabiskan makanannya, dia langsung memulai pembicaraan mereka. "Nona Liliana."


"Ah tunggu dulu! Ini uangmu, tuan." Liliana memotong perkataan Max yang belum selesai, ia mengeluarkan kantong kain berisi uang koin yang diberikan padanya oleh Max sebelumnya. Ia meletakkan kantong kain itu ke atas meja.


"Tidak! Itu untukmu saja, tapi--"


"Tapi apa tuan?"


"Pergilah dari negeri ini, pergi dari hadapanku dan jangan pernah muncul di depanku!"


Hati Liliana bak tersambar petir, rasanya sakit sekali hatinya mendengar Max meminta dirinya untuk pergi. "Tapi...salah ku apa tuan? Kenapa tuan meminta aku untuk pergi?" Liliana langsung bicara tidak formal pada Max. Terlihat di bawah matanya ada air yang berlinang bersiap untuk turun.


Max hampir luluh melihat wanita yang dia cintai hampir menangis, namun dia kembali teringat dengan janji kepada dirinya sendiri dan juga Liliana. Bahwa dia tidak akan membiarkan terjadi sesuatu pada gadis itu dan menjauhinya adalah jalan yang terbaik.


"Kenapa kau tidak menjawab pertanyaanku? Sikapmu... sangat aneh, apa kau tahu? Kau membolak balikan hatiku, kau menolongku, bersikap baik kepadaku, kau memeluk bahkan menciumku! Terkadang kau bersikap hangat lalu sedetik kemudian kau bersikap dingin... apa sebenarnya maumu? Lalu sekarang kau suruh aku menjauhimu, tidak muncul di hadapanmu. Sebenarnya kesalahan apa yang telah kuperbuat?"


Max tertohok mendengar keluh kesah Liliana terhadapnya, ia tidak menyangka bahwa wanita itu begitu marah ketika disuruh menjauhinya. Kemudian, air mata pun jatuh tak tertahankan. Entah apa yang membuat wanita itu begitu terbawa perasaan pada pria yang bahkan baru saja dia kenal.


"Nona--"


"Kau ingin aku pergi, kan? Baik, aku juga tidak mau bertemu dengan pria berkepribadian ganda seperti dirimu! Jangan pernah menyuruhku untuk pergi dari negeri ini... karena aku baru saja sampai ke sini. Tapi aku janji aku tidak akan berada di tempat di mana kau berada, dan meskipun aku bertemu denganmu atau bahkan melihatmu. Aku...akan segera menjauh dari hadapanmu!"


Liliana langsung berdiri dari tempat duduknya dengan kesal. Max juga ikut beranjak dari tempat duduknya, ia menyerahkan sebuah sapu tangan untuk Liliana. "Kau--"


"Tidak usah! Aku tidak butuh perhatianmu itu..." Liliana menepis tangan Max dan bukan sapu tangan yang sedang dipegangnya itu.


Aku sungguh tidak mengerti dengan pria ini, hanya dengan satu kata saja dia bisa membuat hatiku sakit. Memangnya dia siapa untukku?


"Nona Liliana..."


Liliana pergi meninggalkan Max sendirian di sana. Max menatap kepergian wanita itu dengan sedih, tangan semula terulur itu kini kembali ke tempatnya. "Maaf Lily, dalam kehidupan kali ini aku tidak akan mengganggumu dan aku pikir ini memang yang terbaik untuk kita berdua. Aku sudah berjanji akan menjagamu dari jauh karena aku tahu bahagiamu bukan denganku." Gumam Max dengan wajah sedihnya.


"Anda sangat bodoh yang mulia!"


Max tersentak kaget begitu dia mendengar suara yang tidak asing tepat di belakangnya. Max menoleh ke arah suara itu. Rupanya disana ada wanita tua yang tadi berada di dalam restoran tempat Aiden berada.


"Kau...Brieta??" Matanya lebar menatap Brietta. Sosok peramal yang dulu telah banyak membantunya dan Liliana


Mengapa Brieta bisa mengenaliku? Bukankah seharusnya dia tidak kenal aku karena di masa sekarang kita tidak saling mengenal bahkan tidak bertemu.


"Benar, ini saya Brieta...yang mulia Raja, ah atau sekarang harus saya panggil yang mulia putra mahkota." Brietta menurunkan tudungnya.


"Kau... bagaimana bisa kau--" Max tergagap, ia tak menyangka bahwa si peramal itu ingat masa lalu dan masa sekarang sama seperti dirinya.


"Anda benar-benar bodoh yang mulia, anda telah lakukan kesalahan dengan kembali ke masa lalu. Anda hanya akan membuat semuanya menjadi buruk, karena masa lalu yang dulu sekarang telah berubah banyak. Saya benar kan yang mulia?" Brieta sarkas.


Dari nada suaranya Brieta terdengar marah, seolah ia tidak suka dengan apa yang dilakukan Max dengan memutar waktu demi Liliana.


"Sepertinya kita harus bicara, Brieta."


"Haahh... baiklah yang mulia, saya juga memang ingin bicara dengan yang mulia. Banyak yang ingin saya bicarakan, akan tetapi sekarang lebih baik yang mulia kejar dulu nona Liliana!"


"Apa?"


"Jangan biarkan dia jatuh ke pelukan orang lain, atau aku akan menyesal seumur hidupmu lagi."


...****...

__ADS_1


__ADS_2