Second Life Liliana

Second Life Liliana
Bab 103. Jangan pergi


__ADS_3

Setelah mendengar ucapan Ratu padanya, Liliana terdiam dan tenggelam dalam lamunannya.


Apa Max akan melakukan itu? Apakah dia akan memiliki wanita lain selain diriku? Tidak, dia tidak akan begitu.. dia sudah janji padaku, pada dewa dan pada ayahku.


Liliana memegang dadanya, dia mencoba menepis apa yang akan terjadi padanya jika Max benar-benar memiliki wanita lain sebagai selir. Seperti ayahnya sang Raja yang memiliki 3 orang istri, demi kepentingan politik.


Jika Max menjadi Raja, akankah dia seperti itu? Akankah hatinya tetap pada Liliana seorang? Apakah politik akan mengubah suaminya di masa depan? Beberapa pertanyaan keraguan di kepalanya itu.


Tidak, kau tidak boleh meragukan perasaan Max padamu. Dia tidak akan melakukan itu.. tidak akan.


"Putri mahkota, apa kau baik-baik saja?" Tanya Max sambil menatap istrinya yang melamun itu dengan cemas.


"Ah.. aku.."


"Dari tadi kau terus menggelengkan kepala dan melamun. Apa kau.."


Saat Max akan menyentuh pipi istrinya, Liliana malah menghindar dan memalingkan wajahnya. "Aku baik-baik saja yang mulia,"


Kenapa aku menghindar dari Max?


"Lily, ada apa?" Max menatap istrinya dengan cemas.


Kenapa Lily menghindariku?


"Aku akan kembali ke ruang kerjaku," jawab Liliana sambil tersenyum pahit.


"Lily, apa ada yang dikatakan Ratu kepadamu?" Tanya Max menebak setelah melihat sebelumnya Ratu sempat mendekati Liliana dan bicara padanya.


"Tidak apa-apa, Ratu hanya mengucapkan salam perpisahan saja." Ucap Liliana dan lagi-lagi dia tersenyum tipis.


"Lily,"


"Aku mohon pamit yang mulia," ucap Liliana sambil membungkukkan setengah badannya dengan hormat.


Ada apa dengan Lily? Dia terlihat sedih, apa dia begini karena terlalu lelah dengan banyaknya pekerjaan yang menumpuk?


Setelah itu Liliana meninggalkan Max disana dengan wajah bingung. Niat hati ingin menyusul wanita dan bicara dengannya, namun Eugene datang mengatakan bahwa ada sesuatu yang darurat.


"Ada apa Eugene?" Tanya Max sambil menoleh ke arah pengawal setianya itu.


"Yang mulia, baru saja saya menerima informasi dari penjaga perbatasan bagian Utara kerajaan kita. Bahwa ada penyerangan monster pada desa disana,"


"Monster? Apa maksudmu?" Max terperangah mendengar berita kurang mengenakan dari Eugene.

__ADS_1


Belum lama Eugene memberitahukan berita itu kepada Max. Dia sudah dipanggil oleh Baginda Raja tentang masalah monster ini.


"Hamba menghadap pada yang mulia," ucap Max sambil membungkukkan setengah badannya.


"Apa kau sudah tau tentang penyerangan dibagian Utara?" Tanya Raja pada anaknya itu.


"Iya, aku sudah tau ayah."


"Kau dan pasukanmu, pergilah ke Utara dan lihat ada apa disana. Apakah penyerangan monster itu benar-benar terjadi atau hanya isu belaka?"


"Yang mulia.. saya.."


Bagaimana ini? Kalau aku pergi kesana, aku tidak tahu kapan akan kembali. Padahal aku ingin berbulan madu bersama Lily.


"Kenapa apa kau mau menolak? Kau mau berlibur dengan putri mahkota?" Tanya Raja pada Max.


"Jadi Ayah sudah tau kalau aku akan mengambil libur?"


"Benar. Setelah ini aku janji akan memberikan libur untukmu dan putri mahkota,"


"Ayah harus menepati janji ayah," ucap Max sambil menatap tajam pada ayahnya.


"Janji seorang Raja, harus ditepati!" Kata Raja serius.


Sementara itu, disisi lain Eugene menemui Laura di istananya. Dia mengatakan kepergiannya ke Utara.


"Apa kau akan benar-benar pergi ke Utara?" Tanya Laura terperangah.


"Iya yang mulia, saya dan putra mahkota akan pergi." Jawab Eugene dengan wajah sedih.


"Bisakah kau jangan pergi? Tidak bisakah kau disini saja? Bukankah banyak prajurit yang ikut, kenapa kau juga harus ikut?" Laura merengek pada Eugene, dia tak mau ayah dari bayinya itu pergi ke tempat yang mungkin akan menjadi medan pertempuran.


"Maafkan saya yang mulia, saya harus tetap pergi. Yang mulia tau kan, kalau saya adalah kstaria putra mahkota. Saya harus ikut kemanapun yang mulia putra mahkota pergi,"


Laura terlihat sedih, dia enggan untuk merelakan Eugene pergi meski ia tau bahwa Eugene akan kembali.


"Yang mulia.. maafkan saya karena saya tidak bisa-"


Laura memeluk Eugene dengan erat, "Kau boleh pergi, tapi kau harus kembali. Setelah kau kembali aku akan memberitahukan sesuatu yang penting padamu."


"Yang mulia? Apa itu?"


"Jangan bertanya sekarang, aku akan menjawabnya nanti. Maka dari itu, cepatlah kembali Eugene... kami menunggumu," Laura tersenyum pada Eugene.

__ADS_1


Setelah kau kembali, aku ingin kita menikah. Aku ingin, kau, aku dan bayi kita hidup bersama.


Eugene terperangah mendengar kata "Kami," yang keluar dari bibir Laura.


"Kau harus kembali, kalau kau ingin mendengar kabar bahagia!" Laura membelai pipi kstaria pengawal putra mahkota itu dengan lembut.


"Saya akan segera kembali yang mulia," Eugene mencium kening Laura dengan penuh kasih sayang. "Saya mencintai anda yang mulia,"


"Aku mencintaimu Eugene, kami mencintaimu... kembalilah dengan selamat." Laura dan Eugene berpelukan sebelum Eugene pergi ke daerah Utara kerajaan itu.


Tanpa mereka sadari ada seorang pria yang memperhatikan mereka. Dia pun segera pergi ke istana dingin dan diam-diam bertemu Ratu.


"Kabar apa yang kau bawa Kyle?" Tanya Ratu yang kini hanya duduk di sofa biasa, bukan sofa mewah yang biasanya dia duduki.


"Saya melihat putri Laura bersama sir Eugene.. mereka sedang bermesraan. Sir Eugene akan pergi ke Utara,"


"Sepertinya hubungan mereka semakin dekat, aku tidak bisa diam saja membiarkan hal ini terjadi!" Ratu terlihat marah, dia merasa bahwa anaknya serius menjalin hubungan dengan Eugene.


Putriku dan kstaria rendahan? Aku pikir Laura hanya main-main saja. Ternyata dia benar-benar serius dengannya. Salahku yang membiarkan ini sebelumnya.


"Yang mulia, saya juga ingin memberitahukan kabar lain dari percakapan mereka yang menurut saya terasa aneh."


"Katakan!" Ujar Ratu.


"Putri Laura mengatakan pada sir Eugene, bahwa tuan putri bilang bahwa kami akan memberitahukan kabar baik setelah sir Eugene kembali." Jelas Kyle pada Ratu


"Kami?"


Ratu berfikir keras, selama ini dia selalu mendapatkan laporan dari orang-orang disekitarnya bahwa Laura sering sakit dan mual di pagi hari.


Apa mungkin putriku sedang hamil? Anak pria itu? Kstaria rendahan itu! Kenapa aku bisa tidak tahu? Beraninya dia menyentuh putriku?


Insting ratu yang begitu kuat, membuat dia bisa menebak apa yang terjadi dengan cepat.


"Yang mulia.." Kyle terheran-heran melihat wajah Ratu yang murka.


"Haahhh...Kyle, pastikan kau ikut ke Utara bersama kstaria putra mahkota." Ucap Ratu pada Kyle.


"Saya? Ikut kesana yang mulia?" Kyle menunjuk pada dirinya sendiri.


"Kau hanya perlu memperhatikan gerak-gerik sir Eugene. Kalau perlu, bunuhlah dia!" Titah Ratu pada Kyle.


"Membunuhnya?" Kyle ternganga mendengar ucapan Ratu.

__ADS_1


...🍁🍁🍁...


__ADS_2