Second Life Liliana

Second Life Liliana
Bab 139. Bertemu lagi


__ADS_3

...🍁🍁🍁...


Aiden menatap wanita cantik itu dengan penuh perasaan dan tatapan yang dalam. Dia menyingkap rambut Liliana yang terurai wajahnya. Tatapan Aiden beralih pada bibir merah sensual milik Liliana.


"Tuan Aiden...ma-maaf..."


Glek!


Salivanya naik turun saat melihat Liliana, jantungnya berdegup dengan cepat seperti genderang yang mau perang. Hatinya telah jatuh untuk wanita itu, wanita yang sedang hamil anak pria lain dan belum bisa melupakan masa lalunya.


Setiap dia menatap diriku dengan matanya yang polos. Setiap aku melihat bibirnya yang cantik itu bicara, setiap aku mendengar suara indahnya. Aku ingin melahapnya bibir yang cantik itu, aku ingin memeluk tubuh mungilnya, ada hasrat yang mulai tumbuh didalam hatiku dan hasrat ini semakin besar. Aku yakin...aku telah jatuh cinta. Aku ingin dia menjadi milikku, hanya milikku seorang.


"Tuan Aiden?" Liliana menatap pria itu dengan keheranan.


Ada apa dengannya? Mengapa dia malah melamun?


Melihat Aiden terus menatapnya dan melamun, membuat Liliana terheran-heran, ada apa dengan pria yang ada di depannya itu. Setelah rambutnya kembali dirapikan, Liliana memutuskan untuk melangkah pergi dari sana meninggalkan Aiden yang berdiri mematung.


Ketika sedang berjalan, telapak tangan yang besar memegang tangan Liliana, menahan langkahnya. "Tuan Aiden..."


"Nona Bella, tawaranku masih berlaku. Apa kau mau menikah denganku? Hanya pernikahan kontrak saja, bukan sungguhan."


Tidak apa hanya pernikahan kontrak tanpa cinta, rasa bisa tumbuh seiring berjalannya waktu. Itulah yang selalu dikatakan ibunda kepadaku.


Aiden lagi-lagi membahas soal pernikahan kontrak yang selalu dia bicarakan sejak awal pertemuan mereka. Liliana menepis tangan Aiden dan meminta maaf padanya karena dia tidak bisa menerima permintaan Aiden, dengan kata lain menolak Aiden.


"Maaf tuan Aiden, aku tidak bisa... bukankah aku sudah mengatakan padamu alasannya. Bagiku pernikahan bukan main-main, pernikahan harus didasari oleh rasa cinta dan juga logika agar keduanya sinkron secara bersamaan. Dan kita tidak memiliki keduanya tuan Aiden, aku harap kau mengerti... kita sudah menjalin hubungan pertemanan, bagiku itu sudah cukup."


"Bella, aku paham kau trauma akan cinta dan tidak percaya cinta. Tapi, selama kita menikah kontrak, aku akan selalu setia padamu. Kau bisa percaya padaku."


"Maaf, aku tetap menolak. Kau juga tau kan kalau aku sedang hamil, mana mungkin kau menikah dengan wanita hamil. Keluargamu juga tidak akan setuju, jadi jangan gila." Liliana tersenyum menyeringai.


Benteng pertahanannya di hati Liliana sangat sulit untuk diruntuhkan. Bukannya sulit diruntuhkan, mungkin itu karena masih ada seseorang yang bermukim didalam hatinya. Tentu saja itu adalah ayah dari bayinya, siapa lagi.


Pria itu tertawa kecil, "Haha...baiklah, tidak apa-apa. Kenapa kau selalu menolak ku seperti ini? Aku kan sakit hati!" Aiden memegang dadanya, dia memasang wajah memelas.


Ya, mungkin memang perlu waktu.


"Apa wajah seperti itu adalah wajah sakit hati? Dasar kau!" Liliana tersenyum pada Aiden.


"Haha..." Aiden tersenyum sembari tertawa melihat gadis itu tersenyum.


Oh ya, bagaimana kalau dia tau aku adalah Raja? Apakah dia akan marah kepadaku? Kenapa aku baru memikirkan nya?


Hari sudah mau gelap, Aiden mengantar Liliana kembali ke rumahnya. Liliana berterimakasih pada Aiden karena pria itu sudah mengajaknya jalan-jalan walau tidak menangkap penjahat seperti rencana pada awalnya, dia juga berterimakasih karena Aiden mau mendengarkan ceritanya.


"Ya sudah, kalau begitu kau pergilah."


"Hem..."


Aiden terdiam dengan wajah resah, dia masih berdiri didepan pintu rumah itu. Liliana melihat Aiden yang resah. "Ada apa?"


"Aku memiliki undangan ke istana Gallahan dan aku tidak punya partner di pesta itu...jadi..."


"Pesta apa?"

__ADS_1


"Pesta penyambutan kedatangan Raja Istvan." jelas Aiden pada Liliana.


"Apa?" Liliana terperangah mendengar kata Raja Istvan di sebut.


Benar juga, Maximillian akan datang ke pulau ini besok. Jadi mereka mengadakan pesta untuk menyambutnya. Aku penasaran, aku ingin melihatnya...apakah dia bersama wanita itu atau tidak.


"Bella, apa kau mau pergi denganku ke pesta itu?" tanya Aiden sekali lagi padanya. Aiden berencana untuk mengungkapkan identitasnya disana.


"Aku ingin...tapi apakah orang biasa sepertiku bisa datang kesana?" Tanya Liliana ragu-ragu, sebab pesta itu pasti akan dihadiri bangsawan kelas atas. Sedangkan di kerajaan itu, posisi Liliana hanyalah rakyat biasa dan identitas tersembunyinya sebagai pemimpin serikat dagang.


Jika aku datang kesana, aku juga akan bertemu dengan ayah.


"Kau bisa pergi, aku kan punya undangannya. Jadi, kau mau pergi denganku kan?"


Liliana mengangguk setuju. Aiden pun mengatakan bahwa dia akan mengirimkan sesuatu untuk dikenakan Liliana di pesta itu. Aiden kembali ke istananya dengan perasaan bahagia, karena liliana sudah setuju untuk ikut dengannya.


Aiden berjalan di lorong istana menuju ke kamarnya, disanalah dia berpapasan dengan ibundanya bersama dayangnya yang bernama Emma.


"Apa yang membuatmu senyum-senyum begitu, yang mulia Raja?" tanya Ibu suri yang melihat anaknya berseri-seri.


Baru pertama kali aku melihatnya seperti


"Oh...ibunda, hormat pada ibunda." Aiden menundukkan kepalanya dengan hormat didepan ibunya. "Maafkan aku ibunda, karena aku baru kembali ke istana."


Selama satu bulan itu, Aiden lebih banyak menghabiskan waktunya untuk menginap diluar bersama Dorman dan jarang kembali ke istana.


"Oh anakku...kau tidak usah bersikap begitu formal pada ibumu ini. Jadi, bagaimana wanita itu? Apa dia cantik?"


"Hah?" Aiden langsung tercekat, dia menatap Dorman dengan curiga.


"Bukan saya yang mulia!" Dorman menggelengkan kepalanya.


Dorman menganggukkan kepalanya, dia bukan orang yang melaporkan kegiatan Aiden pada ibu suri. Aiden menghela nafas, semuanya akan menjadi ruwet saat ibunya tau tentang wanita. Dia akan heboh pada saat seperti ini.


"Jadi...bagaimana dengan wanita itu? Seperti apa dia dan apakah kau-"


"Ibu! Cukup...mari kita bicara di tempat lain."


"Jadi kau benar-benar menjalin hubungan dengan seorang wanita? Astaga... terimakasih Tuhan... terimakasih dewa...engkau telah mengabulkan doa seorang ibu yang ingin anaknya bahagia ini!" Ibu suri tersenyum bahagia, dia memeluk anaknya itu dengan kegirangan.


Ya ampun, aku tahu semuanya akan menjadi seperti ini.


Aiden hanya menghela nafas, membiarkan sang Ibu memeluknya dengan erat untuk mengekspresikan rasa bahagianya. Kemudian, Aiden mengajak ibunya pergi ke ruang peristirahatan di istananya, agar mereka bisa berbicara lebih leluasa.


Tentu saja Ibu suri menerima ajakan anaknya itu, dia sangat ingin tahu tentang siapa gadis yang telah mencuri hati anaknya itu. Siapa gadis spesial yang sudah membuat anaknya tidak alergi lagi terhadap wanita.


*****


Di rumah Liliana, wanita itu terlihat sedang berada di balkonnya. Seorang pelayan wanita yang dipekerjakannya, membawakan dia secangkir susu vanila yang hangat. "Nona, silakan minum susunya, supaya Nona dan anak yang ada di dalam kandungan nona sehat dan kuat." kata Doris sambil tersenyum ramah.


"Terimakasih Doris, aku memang sangat membutuhkan susu hangat saat ini." Liliana tersenyum lembut sembari mengambil cangkir di atas nampan itu. Dia menyeruput susu hangat dari cangkir itu dengan hati-hati.


Doris meninggalkan nonanya di balkon sendirian. Liliana terdiam dan merenung cukup lama disana, berharap hari besok akan segera tiba. Karena pada hari itu Liliana akan melihat mantan suaminya dan sekaligus orang yang sangat dia cintai.


"Apa besok kita akan bertemu Maxim? Nak, apa yang harus ibu lakukan bila nanti ibu bertemu dengan ayahmu...haruskah ibu lari? Haruskah ibu mengatakan padanya bahwa dirimu ada didalam sini?" Liliana mengelus perut datarnya itu, dia bingung dengan apa yang akan terjadi keesokkan harinya.

__ADS_1


****


Sementara itu Max dan rombongannya masih berada di atas kapal pesiar. Mereka dalam perjalanan ke pulau Jarvara. Pada malam itu, Max sedang menikmati semilir angin malam di dekat dek kapal.


"Yang mulia," Adrian mendekati Max yang sedang sendirian disana.


"Adrian... menurutmu, apa aku akan menemukan Lily disana?" Max bertanya-tanya sambil melihat pulau Jarvara yang jaraknya sudah mulai dekat itu.


"Saya yakin, jika yang mulia raja dan nona Liliana memang berjodoh. Dimana pun kalian berada dan apapun yang kalian lakukan, kalian pasti akan bertemu sejauh apapun jarak memisahkan. Bagaimana pun caranya, pasti dipertemukan." jelas Adrian bijaksana.


"Woah...kau menjadi lebih bijaksana setelah menikah. Aku iri padamu, kau memiliki keluarga yang bahagia dan orang-orang yang kau cintai berada di sampingmu." ucap Max sambil tersenyum pahit. Dia sempat berpikir ingin seperti Adrian, dia hanya orang biasa dan tidak punya kekuasaan.


Nyatanya, walau dia memiliki kekuatan dan kekuasaan. Itu tidak membuat dia bisa mendapatkan apapun yang dia mau. Liliana saja pergi meninggalkan dirinya.


Ketika sedang mengobrol dengan Adrian, Julia tiba-tiba saja datang menghampiri mereka berdua. Julia membawakan secangkir teh untuk Max. "Yang mulia, di luar sangat dingin...alangkah lebih baik jika anda segera masuk ke dalam dan meminum teh buatan saya." Julia tersenyum ramah sambil menyodorkan teh kepada sang Raja.


Sekalian aku akan menghangatkan tubuhmu juga. Ucapan itu hanya ada dalam hati Julia saja.


Raja Istvan itu tidak menjawab perkataan Julia, dia mengacuhkan Julia begitu saja dan pergi dari sana. Para pengawal yang melihat Julia diacuhkan itu, menertawakannya diam-diam.


"Sial! Lagi-lagi aku di permalukan. Padahal aku sudah naik ke atas ranjang Raja, namun tetap saja aku diremehkan oleh mereka semua. Diriku yang tanpa status ini, sepertinya akan tetap di injak-injak oleh mereka." Julia terlihat kesal dan sedih karena Max masih tidak melihat dirinya setelah semua upaya dan usaha yang telah dia lakukan untuk mendekati pria itu, sama sekali tidak ampuh.


*****


Keesokan harinya, Max dan rombongannya telah sampai ke pulau Jarvara. Dia menunggangi kuda dan dibelakangnya ada iring-iringan kereta.


Liliana dan Andreas berada didalam kerumunan warga melihat kedatangan rombongan kerajaan Istvan. Dia menatap Max yang duduk diatas kuda, disana juga ada Duke Geraldine dan Duke Norton.


"Nona, yang mulia Duke..." Andreas berbisik sambil melihat ke arah Duke Geraldine.


"Iya, itu adalah ayah." Liliana melihat ke arah ayahnya yang tampak gagah menunggangi kuda.


Max pergi sendiri tanpa nona Julia? Kenapa wanita itu tidak kelihatan?


Jantungnya kembali berdegup kencang saat melihat Max ditengah-tengah jalan itu. Dia menatap pria itu dari kejauhan penuh kerinduan, sambil memegang perutnya.


"Nona..." Andreas terlihat cemas melihat nonanya seperti akan menangis.


"Aku baik-baik saja."


"Lihat! Apa nona itu adalah calon ratu kerajaan Istvan?" tunjuk seorang warga pada sebuah kereta emas.


"Bukankah dia sangat cantik?"


"Kalau yang mulia raja membawanya, maka benar dia adalah wanita yang penting...mungkin sebentar lagi dia akan menjadi Ratu." kata seorang warga disana berpendapat.


Liliana melihat ke arah kereta itu, disana ada Julia yang sedang melambaikan tangannya pada semua orang sambil tersenyum ramah. "Nona!" Andreas tercengang tak percaya bahwa Julia benar-benar ikut kesana.


Jadi ini jawabanmu yang mulia, kau benar-benar sudah melupakanku. Liliana sakit hati, apalagi ketika dia mendengar ucapan semua orang tentang Julia dan Max.


"Kita kembali Andreas." Liliana membalikkan tubuhnya.


"Tapi kita belum bertemu dengan yang mulia Duke,"


"Kau tunggulah disini, aku akan kembali sendirian. Beritahu pada ayahku untuk pergi diam-diam ke rumah." ucap Liliana sambil menaikan tudungnya.

__ADS_1


"Baik nona."


...****...


__ADS_2