
Ketika ditanya oleh ayah mertuanya tentang kejadian di kapal saat bulan madu Adaire dan dirinya. Hati Arsen berdebar kencang, jantungnya berpacu lebih cepat.
Pertanyaan yang mengandung kecurigaan itu, membuat Arsen tersedak fakta bahwa dirinya juga terlibat dengan insiden pembunuhan Adaire. Meski tidak secara langsung dan semua itu melalui tangan Adara. Orang yang memberi racun dan menusuk Adaire dengan belati adalah adiknya sendiri.
Mengapa ayah mertua menanyakan tentang ini?
"Arsen, kenapa kau diam saja? Apa Adaire benar-benar terjatuh dari kapal atau Adara mencelakainya?" tanya Duke Geraldine sambil memperhatikan pria yang sedang melamun itu.
Glek
Arsen menelan saliva, dia masih dengan pikirannya. Harus bagaimana dia menjawab pertanyaan Duke Geraldine, ayah mertuanya itu. "Ayah, Adaire benar-benar jatuh sendiri saat dia sedang naik ke atas dek kapal," jawab Arsen tanpa gugup sama sekali.
Begini lebih baik, jika aku bicara tentang kematian Adaire disebabkan oleh Adara saja. Aku yang akan diancam dan namaku akan dibawa-bawa. Lebih baik cari aman untuk menutupi semuanya, sambil berharap bahwa ayah mertuaku tidak curiga lagi.
"Benarkah begitu?" tanya Duke Geraldine masih ragu dengan apa yang dikatakan Arsen.
"Iya ayah, itu benar. Tapi, kenapa ayah tiba-tiba menanyakannya lagi?" tanya Arsen dengan suara yang sopan.
"Setelah semua yang terjadi, terutama soal Adara. Dia telah banyak mencekal Adaire, bagaimana bisa aku tidak curiga padanya yang mungkin bisa melakukan hal lebih dari itu," jelas Duke Geraldine jujur.
Yah, tidak mungkin juga Adara akan sampai membunuh Adaire. Tapi, kenapa aku merasa Arsen berbohong padaku?
"Ayah, aku mengenal Adara. Mungkin sikap Adara memang sedikit kekanakan dan keterlaluan, tapi rasanya tak mungkin kalau Adara sampai membunuh," Arsen membela istrinya untuk mengamankan posisinya juga.
"Tidak mungkin bagaimana? Dia bahkan meracuni Adaire selama hidupnya, berusaha berkali-kali mencelakainya. Masih ada kemungkinan untuk itu semua," ucap Duke Geraldine yang juga galau karena kenyataan tentang Adara yang jahat pada Adaire. Bukan jahat lagi, tapi sudah berbuat kriminal.
"Saya mohon ayah, putri ayah satu-satunya adalah Adara. Adara juga adakah istri saya, saya mohon agar ayah membebaskan Adara!" pinta Arsen sambil membungkukkan setengah badannya didepan Duke Geraldine.
Setelah Adara bebas, aku akan segera bercerai darinya. Dan aku tidak akan ada hubungan apa-apa lagi dengannya.
"Pihak istana sudah ikut campur, aku tidak bisa berbuat banyak," jawab Duke Geraldine bingung.
__ADS_1
Arsen dan Duke Geraldine heran karena pihak istana dari fraksi putra mahkota ikut campur dalam kasus ini. Bahkan mereka juga ikut campur dalam pencarian jasad Adaire. Mengapa pihak putra mahkota ikut campur? Padahal Adaire tidak pernah sekalipun melihat wajah putra mahkota atau mengenalnya. Karena Adaire selalu berada didalam rumah mengurung dirinya dari dunia luar.
Setiap ada undangan pesta, sebisa mungkin Adaire menghindarinya. Adaire yang selalu tidak percaya diri, tidak pernah keluar rumah kecuali ada keperluan mendesak. Dia malu dengan keadaan tubuhnya.
Setelah pembicaraan itu selesai, Duke Geraldine meminta Arsen untuk mencari Liliana dan membawa gadis itu pulang. Lalu setelahnya Arsen harus ikut bersamanya untuk mencari cara meringankan hukuman Adara. Meski begitu juga, Adara adalah anak Duke Geraldine satu-satunya. Dia tidak mau kehilangan satu anak lagi, setelah dia kehilangan Adaire untuk selamanya.
"Arsen kau carilah Liliana, lalu antar dia pulang. Dia sedang sakit, kemudian kembalilah kemari." titah Duke Geraldine pada Arsen.
"Baik ayah," jawab Arsen patuh, sambil berjalan keluar dari ruangan itu.
Duke Geraldine menghela napas, dia terlihat galau. "Adaire, apa kau akan memaafkan ayah kalau ayah meringankan hukuman adikmu? Adaire.. "
...*****...
Di dalam ruangan rawat istana, Laura terlihat kesal melihat Max yang berhasil membawa mangkuk berisi obat herbal itu. Dia membuka resleting baju bagian belakang Liliana. Hanya ada Max dan Laura yang bersama Liliana disana.
"Kak, apa kakak yakin kalau kakak yang akan mengoleskan obatnya?" tanya Laura pada kakaknya.
Kejam sekali wanita itu, aku akan menyakitinya lebih dari dia menyakitimu. Beraninya dia membuatmu terluka, ini pasti sangat sakit. Hati Max miris melihat luka di punggung Liliana.
"Memangnya aku tidak boleh melihat temanku," jawab Laura sebal. Laura melihat punggung Liliana yang berdarah, bekas cambukan dimana-mana. "Orang kejam macam apa yang tega melakukan ini pada seorang wanita baik?" tanya Laura ikutan kesal pada orang yang memberikan luka dalam dipunggung gadis cantik itu.
Max tiba-tiba menyeringai. Laura heran melihat kakaknya seperti itu, "Kakak, kenapa wajahmu begitu? Kau seperti akan membunuh orang saja?" tanya Laura merinding.
"Laura, kau ingin membantu Liliana kan?" Mac melirik ke arah adiknya.
"Apa?"tanya Laura tak mengerti.
"Orang yang melakukan ini padanya, harus mendapat ganjarannya kan?" Max tersenyum sinis.
"Tentu saja,"
__ADS_1
Max berbisik pada Laura, wanita itu mengangguk-angguk saja. "Baik kak, kalau begitu aku pergi dulu ya. Ingat janji kakak!"
Max mengangguk.
Laura tersenyum, kemudian dia pergi dari ruangan itu meninggalkan Max dan Liliana berdua disana. Max melihat Liliana yang sedang tertidur itu. "Pasti tidak nyaman tidur seperti itu,"
Setelah selesai mengoleskan obat untuk Liliana. Max kembali menarik resleting gaun yang dikenakan Liliana pelan-pelan. "Dasar tidak waspada, dia bahkan tidak sadar kalau ada seseorang yang menyentuh dia. Apa saat si bajingan itu menyentuhnya, dia juga tidak sadar seperti ini?"
Entah apa yang merasuki pria itu, Max tergiur saat melihat leher jenjang nan cantik milik Liliana. Max menyingkirkan rambut merah yang panjang itu, kini leher cantiknya terlihat jelas. Max pun membenamkan bibirnya pada leher Liliana. Mengecupnya dengan lembut.
Sadar akan benda kenyal yang menyentuh lehernya itu, Liliana membuka matanya. "Si-siapa yang berani?"
Liliana membalikkan tubuhnya, dia ingin melihat siapa yang berani menciumnya disaat dia sedang tidur. Max berada tepat dibelakangnya, dia langsung menyerang wanita itu dengan ciuman rakus dibibir. Tangan Max mendekap pelan tubuh Liliana.
"Hmphh... haahhhh!" Liliana mendesah dan mengerang, dia menerima ciuman itu bahkan tangannya diam tidak berontak sama sekali.
Kenapa aku tidak bisa menolaknya? Mengapa?
Aku tau kau mencintaiku juga, Liliana. ucap Max dalam hatinya yakin.
Mereka tenggelam dalam ciuman penuh kasih itu, keduanya bergerak mengikuti alur yang ada. Mungkinkah alasan Liliana tidak menolak Max karena dia ada rasa?
Tak lama kemudian, Max melepaskan pagutan bibirnya dari Liliana. Mereka berdua terduduk diatas ranjang pasien. "Haahhhh... haahhh. Kau sudah menciumku dua kali! Tanpa izin," ucap Liliana sambil menundukkan kepalanya dengan wajah merah.
Tangan Max menggenggam tangan cantik gadis itu, "Bukan yang kedua, tapi ketiga. Kau bahkan tidak menolak yang ketiga dan menerimanya. Apa itu artinya kau mencintaiku juga bukan?" Max menatap wanita itu dengan penuh harapan.
"A-aku," Liliana berpaling dengan bingung.
Sementara Max menantikan jawaban dari Liliana.
...----****----...
__ADS_1