Second Life Liliana

Second Life Liliana
Bab 69. Gara-gara jas


__ADS_3

...🍀🍀🍀...


Ratu Freya terperangah melihat sosok bayangan hitam hampir menyerang dirinya dengan panah. Dan panah itu bukanlah panah biasa, melainkan panah beracun yang memiliki aliran sihir hitam.


Jika bukan karena Liliana, mungkin Ratu Freya sudah tertusuk panah itu. Lalu, entah apa yang akan terjadi padanya.


Apa aku baru saja diselamatkan olehnya? Hah? Bagaimana bisa kstaria bayangan yang selalu di tempatkan disisiku, kalah cepat darinya? Memalukan!


Ratu kerajaan Istvan itu merasa terusik harga diri dan batinnya karena dia diselamatkan oleh Liliana. Gadis yang akan menjadi target untuk mengancam Max suatu hari nanti. Ternyata targetnya itu bukanlah wanita lemah seperti wanita bangsawan lainnya.


Para pengawal istana dan kstaria penjaga di kerahkan untuk menangkap sosok bayangan hitam yang menyerangnya. Liliana juga turut andil mengejar si bayangan hitam itu, dengan keren dan lincah dia mengangkat gaun panjangnya. Kemudian dia berlari bersama para pengawal istana.


"Wow... benar-benar, nona Liliana bisa bela diri?" tanya Keira sambil menggertak giginya, dia iri dengan Liliana yang keren.


"Hebat..." ucap Arina terpesona pada Liliana. Mulutnya ternganga begitu melihat si gadis berambut merah yang sebelumnya menangkis anak panah dengan belatinya dan gerakan yang cepat.


"Nona Liliana sangat keren," ucap Shopia sambil bertepuk tangan.


Julia juga terdiam melongo, dia tak percaya bahwa Liliana bisa bela diri. Sedangkan dia tidak bisa melakukannya. Pikirannya mulai ke arah negatif, dia takut jika Ratu Freya akan respect pada Liliana.


Tidak bisa! Hanya aku yang bisa menjadi putri mahkota.


Julia mengigit jarinya, dengan gemas. Saat Shopia melihatnya, Julia langsung menyingkirkan wajah irinya dengan wajah memelas dan lemah lembut seperti biasanya.


*****


Para pengawal istana dan Liliana mengikuti si bayangan hitam itu, tapi sayang sekali sosok si hitam menghilang setelah berada di gerbang istana.


"Ah apa-apaan ini? Tidak seru.. rupanya orang itu bermain dengan sihir," gumam Liliana sambil menggelengkan kepalanya.


"Nona, seharusnya anda tidak ikut mengejar sampai sini?" kata seorang pengawal istana yang cemas melihat kondisi Liliana yang acak-acakan. Dari mulai rambut, perhiasan bahkan gaun mahalnya juga robek.


"Astaga.." lirih wanita itu saat menyadari penampilannya berbeda dengan saat pertama kali masuk ke istana. "Daisy dan para pelayan yang lain pasti akan mengomeliku, mahakarya mereka yang indah aku hancurkan begitu saja.. haha semoga saja mereka tidak marah!" gumam gadis itu sambil tertawa-tawa sendiri.


"Nona, ayo kita kembali ke istana!" kata seorang pengawal istana.


"Baiklah tuan, tapi.."


Pengawal istana berambut coklat itu, membuka jasnya dan memakaikan jasnya pada tubuh Liliana. Terutama di bagian roknya yang robek-robek. "Maafkan saya nona.. tapi paha anda.." ucap si pengawal istana itu dengan suara pelan dengan memalingkan matanya.


Liliana malu sendiri, ketika dia menyadari bahwa ada roknya yang robek di bagian paha, hingga bagian tubuh seksinya itu terlihat. Liliana memakai jas itu dan melilitkannya dibagian gaun yang robek.


"Ma-maafkan saya tuan, tidak apa saya pinjam dulu jasnya?" tanya Liliana yang tidak punya pilihan lain selain menerima jas pemberian pengawal istana itu.


"Tidak apa nona," jawab pengawal istana itu tidak keberatan.

__ADS_1


Liliana dan beberapa pengawal istana, kembali ke dalam istana karena mereka tidak berhasil mengejar sosok bayangan hitam yang tiba-tiba menghilang itu. Sudah jelas jika bayangan hitam bisa menggunakan sihir hitam, dilihat dari panah yang sebelumnya di arahkan kepada Ratu Freya.


Begitu Liliana sampai didekat kolam istana bersama para pengawal, Max, Eugene dan Pierre menghampiri Liliana dan para pengawal itu.


"Salam yang mulia.." ucap para pengawal istana seraya memberikan hormat kepada sang putra mahkota.


"Salam yang mulia," ucap Liliana yang juga memberikan hormat pada kekasihnya.


Max menatap tajam ke arah Liliana dan para pengawal itu. Tatapannya tertuju pada jas pengawal yang dipakai oleh Liliana.


Tanpa bicara saja dan hanya gerakan tubuh


ditambah gerakan mata. Max terlihat tidak senang dengan penampilan Liliana saat itu. Max mengambil jas yang dililitkan ditubuh wanitanya, dia melempar jas itu ke sembarang tempat. "Yang mulia apa yang anda,"


Max melepaskan jubah miliknya, lalu melilitkan jubah itu ke tubuh Liliana bagian roknya. Semua pengawal sontak saja terkejut melihatnya.


Apa yang anda pikirkan yang mulia? Mengapa anda memakaikan nona Liliana jubah yang tidak boleh dipakai oleh sembarang orang? Orang-orang yang melihatnya akan berpikir bahwa nona Liliana adalah calon putri mahkota dinegeri ini!. Pierre membatin.


Gadis itu menelan salivanya, dia menatap Max dengan dahi mengerut. Bibir yang mengerucut, wajah cemberut. Matanya memutar-mutar kesana kemari dengan melebar. Max hanya tersenyum melihat kekasihnya itu.


Apa dia tidak mengerti apa yang aku isyaratkan? Dasar bodoh! .Pekik wanita itu didalam hatinya.


"Kau tidak boleh memakai jas kotor, hanya jubahku yang cocok denganmu. Sama dengan warna rambutmu yang artinya berani.." tanpa peduli dimana dan bagaimana, Max menunjukkan kemesraannya didepan publik.


Max menatap tajam pada kekasihnya itu.


Kenapa aku merasa ada hawa dingin disini?. Bulu kuduk Liliana berdiri, entah kenapa dia merasa tatapan Max kepadanya membuat tubuhnya dingin.


Para pengawal sampai terpana, mereka tak habis pikir. Max yang tidak pernah terlihat dekat dengan wanita apalagi tersenyum. Kini dia menunjukkan sosok yang berbeda pada Liana, tidak berdarah dingin seperti Maximilian yang sebelumnya.


"Yang mulia apa yang anda..." ucap gadis itu tak berkutik lagi. Niat hati ingin memukul Max saat itu juga, tapi semua orang sedang melihat ke arah mereka.


Aku kan sudah bilang untuk merahasiakan hubungan kami, tapi kenapa dia malah terang-terangan begini?


Ratu Freya dan keempat nona bangsawan juga melihat itu. Mereka mulai berpikir apakah Max menyukai Liliana. Menyerahkan jubah pada seorang gadis, bisa dianggap tanda kepemilikan seorang pria kepada gadis tersebut.


BRUGH!


Pengawal yang entah siapa namanya, langsung duduk berlutut di depan Max yang sedang memandang kekasihnya dengan tajam. Dia adalah pria yang memakaikan Liliana jasnya.


"Mohon ampuni saya yang mulia putra mahkota!" ucapnya dengan suara bergetar dan tubuh yang bergetar. Wajahnya dibanjiri keringat dingin.


"Apa kesalahanmu?" tanya Max sambil menatap tajam si pria yang sedang berlutut didepannya itu.


"Saya sudah-"

__ADS_1


Gawat, kalau tidak dihentikan.. si gila ini bisa membuat pengawal ini di hukum. Liliana mulai tegang dan kasihan melihat pengawal itu. Dia tidak menyangka kalau Max adalah pria yang pencemburu.


"Aduh duh..ughhh..." Wanita itu merintih kesakitan.


"Nona!" kata Pierre dan Eugene bersamaan.


"Ada apa? Apa kau terluka?" Tatapan tajam Max berubah melunak saat mendengar sang kekasih hati merintih kesakitan.


"Iya saya terluka yang mulia, perut saya berdarah.. ah tidak ,tangan saya yang berdarah!" Seru Liliana sambil memperlihatkan tangannya yang berdarah karena tersabet panah.


"Tanganmu berdarah? Siapa yang membuatmu terluka?" tanya Max sambil memegang tangan wanita itu. Dia bertanya dengan suara meninggi.


"Izin menjawab yang mulia, itu adalah panah ini!" kata seorang pengawal istana sambil menyodorkan panah beracun yang digunakan oleh sosok hitam untuk menyerang ratu.


Max langsung membakar panah itu didepan mata semua orang. "Beraninya satu panah saja melukai keka-"


"Aduh duh.. saya tidak tahan lagi, sepertinya saya akan kehabisan darah!" Lagi-lagi Liliana menyela ucapan Max, kali ini dia memelas agar Max tidak mengatakan hal yang tidak-tidak didepan semua orang.


Si gila ini...tidak cukup dia membuatku menjadi pusat perhatian, dia juga ingin mengumumkan kalau aku adalah kekasihnya? Gila!


Liliana memelototi Max dengan tajam


Max tersenyum melihat raut wajah kekasihnya itu.


Bodoh! Kau tidak pantas menjadi ratu drama.


"Karena salah satu kandidat putri mahkota sedang terluka di hari pertamanya menginjakkan kaki di istana, maka aku sendiri yang akan mengantarnya ke ruang perawatan..' ucap Max dengan suara yang keras. Hingga semua orang disana termasuk Ratu dan keempat nona Bangsawan mendengar ucapannya.


Liliana dan Max pergi menuju ke ruang perawatan istana. Diikuti oleh Eugene dan Pierre dibelakang mereka.


"Melihat sikap putra mahkota terhadap nona Liliana... keliatan sangat berbeda," gumam Keira berpikir.


"Entah ini intuisi ku sebagai wanita atau pendapatku saja, aku merasa jika putra mahkota tertarik pada nona Liliana." kata Arina menyambung.


"Ya.. siapa juga yang tidak akan tertarik pada nona Liliana yang cantik dan pemberani," kata Shopia penuh kekaguman tanpa nada ketus dan itu seperti kedua nona bangsawan yang lain.


"Ya Tuhan, aku tidak percaya ini...Baginda ratu, sepertinya ada yang memanfaatkan insiden ini untuk menarik perhatian putra mahkota," ucap Julia sambil melirik ke arah Ratu seraya memanasinya.


Ketiga nona bangsawan langsung melirik ke arah Julia dan Ratu Freya.


Maximilian si anak sialan itu..apa dia yang merencanakan semua ini?


Ratu Freya mengepalkan tangannya dengan geram. Dia berpikir kalau Max yang sudah mencelakainya.


...*****...

__ADS_1


Hai Readers! Terimakasih untuk komen, like, gift dan vote kalian membantu author semangat ❤️❤️😍 walau sebenarnya author sedih karena komenan masih sepi..😀


Btw, siapa yang mau author buatkan visualnya? Cung ya! Nanti author buatkan 👍


__ADS_2