Second Life Liliana

Second Life Liliana
Bab 97. Penobatan Putri mahkota (1)


__ADS_3

Liliana melihat adik iparnya dengan cemas, gadis itu terlihat pucat bahkan mual-mual tidak terkendali.


"Yang mulia, apa anda baik-baik saja?" Tanya Annie pelayan setianya.


"Uwekkk..uwekkk.."


Kenapa aku tidak bisa mengendalikan rasa mualku ini? Oh...tidak...kepalaku sangat pusing. Laura memegang kepalanya.


"Putri Laura, apa kau baik-baik saja?" Tanya Liliana pada gadis itu.


"Yang mulia putri mahkota, tolong...maafkan saya, parfum anda membuat saya mual." Laura menyadari bahwa rasa mualnya itu dipicu oleh wangi parfum Liliana yang belum lama disemprotkan oleh Daisy.


Liliana berjalan mundur, "A-Apa itu karena harum parfumku? Baiklah..aku akan menjauh. Daisy, panggilkan tabib istana!" Titah Liliana pada Daisy untuk memanggil tabib istana.


"Baik yang mulia," jawab Daisy patuh.


"Tidak perlu! Aku baik-baik saja, sepertinya aku hanya masuk angin." Kata Laura sambil tersenyum. Keadaannya sudah lebih baik dari sebelumnya setelah Liliana menjauh.


"Tapi putri Laura, alangkah baiknya jika kau memeriksakan kondisimu lebih dulu pada tabib istana."


"Tidak perlu kakak ipar, aku sungguh baik-baik saja. Oh ya, acaranya sudah mau mulai...kakak memintaku untuk menjemput kakak ipar," Laura kembali tersenyum ceria seperti sebelumnya.


Annie terlihat seperti sedang berfikir, "Kenapa akhir-akhir ini yang mulia merasa mual dan tidak enak badan? Apa benar yang mulia baik-baik saja?" Annie mencemaskan putri yang dia layani itu.


"Baiklah, kalau kau merasakan tidak nyaman. Bicaralah padaku ya?" Kata Liliana perhatian dengan adik iparnya itu.


Putri Laura, apa yang akan terjadi padamu setelah ini jika kau tau apa yang akan aku dan Maximilian lakukan pada Baginda Ratu? Apa kau akan memusuhiku?


"Baik yang mulia putri mahkota," jawab Laura sopan.


Ya Tuhan.. ada apa dengan kepalaku ini?


Laura berjalan bersama dengan Liliana menuju ke aula istana. Dimana semua orang menunggu kehadirannya, di pesta penobatan Liliana sebagai putri mahkota. Mereka juga bersama Eugene dan pengawal Laura yang bersama Mihael.


Eugene terus memperhatikan Laura yang terlihat pucat. Dia sangat cemas dengan kekasihnya itu. Dalam hatinya Eugene bertanya-tanya apakah Laura baik-baik saja?

__ADS_1


Didepan pintu aula istana, Max dengan jubah kebesarannya terlihat sedang menunggu seseorang. Liliana tersenyum melihat suaminya itu.


"Apa kau sedang menunggu seseorang?" Tanya Liliana seraya menggoda suaminya itu.


Max mengulurkan tangannya pada Liliana, "Ya, aku sedang menunggu Ratu penguasa hatiku. Wanita tercantik di kekaisaran ini," Max mengambil tangan Liliana, dia mencium punggung tangan gadis cantik itu.


"Sepertinya yang mulia putra mahkota senang sekali menggoda. Aku harap tidak ada wanita lain yang kau goda seperti ini," ucap Liliana sambil tersenyum.


"Oh ada beberapa wanita yang pernah mendapatkan gombalan ini dari yang mulia," ucap Blackey yang tiba-tiba muncul disebelah Liliana.


Karena Liliana dan Max sudah berbagi darah dan kekuatan yang sama. Jadi Liliana juga bisa melihat Blackey.


"Oh, benarkah itu blackey?" Liliana menoleh ke arah burung gagak hitam itu.


"I-itu tidak benar. Blackey, jangan bicara sembarangan kau!" Max menatap tajam ke arah burung ajaib miliknya itu.


"Yang mulia,anda tidak boleh berbohong. Anda sudah berjanji pada putri mahkota untuk selalu jujur," ucap Blackey sambil melihat ke arah Liliana.


"Blackey, kau berani ya?" Max gemas melihat Blackey si burung yang banyak bicara itu.


Berapa banyak wanita yang pernah dia kencani? Ya...harusnya aku tidak berfikir bahwa aku adalah satu-satunya. Pasti banyak wanita diluar sana sebelum aku.


Saliva si putra mahkota itu naik turun, dia memalingkan matanya ke arah lain. Pertanda dia sedang mencari alasan.


"Dulu yang mulia putra mahkota selalu pergi ke tempat pe-"


Hup!


Max menjentikkan jarinya, dia menutup mulut Blackey dengan sihirnya. "Haha.. sudah cukup bicaranya, kita harus segera pergi ke aula."


"Apa kalian mencium bau gosong di sekitar sini?" Tanya Laura pada pelayan dan pengawal yang berada dibelakangnya. Dia menyindir Liliana yang sedang cemburu.


Eugene, Daisy, Annie dan Mihael menahan tawa saat melihat Liliana yang menatap tajam pada Max dan Max ketakutan melihat Liliana yang berwajah kesal itu.


"Baiklah yang mulia, sepertinya setelah acara ini kita harus bicara satu sama lain." Liliana menggandeng tangan suaminya, dia harus segera cepat masuk ke aula istana untuk menghadiri pestanya.

__ADS_1


"Entah kita bisa membicarakan ini, kau tau kan malam ini akan menjadi malam yang panjang dan melelahkan?" Max menoleh ke arah istrinya sambil tersenyum.


"Benar, mari kita bertempur.." ucap Liliana sambil tersenyum. Keduanya bertatapan penuh tekad seolah akan menghadapi medan pertempuran. Ya, mereka memang akan bertempur untuk membongkar kejahatan ratu didepan semua orang.


Begitu pintu aula terbuka, Liliana dan Max berjalan berdampingan masuk ke dalam sana. "Yang mulia putri mahkota,yang mulia putra mahkota dan yang mulia putri Laura memasuki aula!" Ucap seorang pengawal memberitahukan kehadiran mereka.


Di dalam aula istana, terlihat banyak bangsawan yang hadir. Termasuk Julia dan nona bangsawan yang sempat menjadi kandidat putri mahkota.


"Woah, putri mahkota terlihat sangat cantik. Tak lama lagi dia akan mendapatkan mahkota itu," ucap Arina kagum dengan sosok Liliana yang berkharisma dan cantik.


"Benar, putri mahkota sangat cocok dan serasi dengan putri mahkota. Keduanya sama-sama kuat dan cerdas," kata Keira ikut mengagumi Liliana.


"Iya, dia sangat cantik.. aku idolanya!" Shopia angkat bicara, menunjukkan kekagumannya pada Liliana yang sedang berjalan menuju ke singgasana Raja bersama putra mahkota.


"Mau kuat dan cerdas, tetap saja dia berasal dari rakyat biasa. Darah tidak bisa menipu, kalian lihat saja...dia pasti akan membuat keluarga kerajaan malu," ucap Julia tiba-tiba pada ketiga nona bangsawan itu.


"Ada apa nona Julia? Apa kau iri karena yang mulia putri mahkota yang terpilih menjadi putri mahkota dan kau tidak?" Tanya Keira sambil menatap sarkas pada Julia.


"Oh, kenapa aku harus iri? Aku hanya mengatakan fakta saja, kursi putri mahkota tidak cocok untuk seorang gadis yang berasal dari kalangan bawah dan berstatus anak angkat, cih!" Julia tetap nyinyir pada Liliana yang sudah menjadi putri mahkota.


"Nona Julia anda harus berhati-hati dengan kata-kata anda. Jangan lupa, sekarang status putri mahkota lebih tinggi dari kita semua termasuk dari dirimu. Jika orang istana mendengar tentang ini...mungkin mereka tidak akan tinggal diam," kata Arina mengingatkan Julia dengan sinis.


"Cih!" Julia memalingkan wajah seolah-olah dia tidak mau mendengar ucapan Arina dan Keira. Mendengar banyak orang yang memuji Liliana membuat hati dan telinganya panas.


Liliana dan putra mahkota kerajaan itu telah sampai depan sang Raja. Keduanya memberi hormat dengan sopan dan elegan. Disisi lain Duke Geraldine dan para tuan bangsawan lainnya menyaksikan semua itu.


"Hormat kami kepada baginda Raja dan Baginda Ratu," ucap Liliana dan Max bersamaan.


Raja turun dari singgasananya, dia tersenyum lalu membawakan mahkota putri mahkota. Raja memakaikan Liliana mahkota itu. "Berdirilah putri mahkota, ucapkan sumpah setiamu pada keluarga kerajaan dan rakyat diseluruh negeri ini.." titah Raja pada Liliana.


Pelan-pelan Liliana berdiri dan menatap ke arah sang Raja dengan pandangan sopan. Sementara disisi lain, sang Ratu terlihat sinis seperti biasanya pada Liliana dan Max.


...----****----...


Hai Readers 🙏😍 mumpung ini hari Senin bolehkan author minta vote, kopi, atau giftnya?

__ADS_1


🥺


__ADS_2