
...๐๐๐...
Max dan beberapa prajurit mulai kewalahan menghadapi semua pasukan iblis yang Tiara habisnya itu.
Mereka berdatangan dari bawah tanah, sebuah lubang besar aneh. Makhluk itu menyerang Max dan pasukannya. Sampai ada beberapa prajurit yang meninggal dan menjadi bagian dari iblis itu.
"Yang mulia, mereka tidak ada habisnya..haahhh..haahh.." Eugene bicara dengan napas terengah-engah. Di wajahnya banyak keringat yang jatuh.
"Suruh pasukan mundur! Aku yang akan menghadapi mereka sendiri.."
"Yang mulia, bagaimana bisa kami melakukan itu?"
"Lakukan saja perintahku!" Teriak Max pada Eugene.
Aku bisa menangani mereka sendiri, tapi para prajurit ini tidak akan bisa. Mereka belum mendapatkan pelatihan yang cukup untuk melawan bangsa iblis.
"Anda.. harus baik-baik saja yang mulia," ucap Eugene sambil menggigit bibir bagian bawahnya. Dia tak rela meninggalkan Max disana sendirian.
"Ya, aku akan baik-baik saja untuk segera menikahkanmu dan putri Laura!" kata Max sambil tersenyum.
Eugene tercekat mendengar ucapan Max,"Baik yang mulia,"
"Sekarang pergilah! Bawa mereka semua pergi ke tempat yang aman!" Titah sang putra mahkota kepada Eugene.
Eugene pun pergi dan melaksanakan perintah Max untuk pergi bersama para prajurit yang selamat ke tempat yang aman. Meski awalnya para prajurit tidak mau pergi dan meninggalkan Max, akhirnya mereka menurut juga karena titah dari sang putra mahkota tidak bisa mereka langgar.
Kyle yang ikut pergi bersama Eugene, merasa ini adalah kesempatan yang tepat untuk membunuhnya selagi kstaria senior itu tidak berada didekat Max.
Namun usahanya selalu gagal dan gagal, karena bamyak orang disekitar Eugene. Hal itu membuat kesempatan membunuh Eugene menjadi tipis.
Setelah menuntaskan urusannya menghabisi iblis, Max kembali ke tempat aman para ksatrianya untuk mengetahui siapa saja yang selamat, berapa orang yang tersisa.
"Hormat kami pada yang mulia putra mahkota!" Kata para prajurit sambil membungkukkan setengah badan mereka penuh hormat.
"Ya," jawab Max singkat. Pria itu melihat pasukan yang tadinya puluhan kini tersisa belasan orang. "Apa kalian hanya segini saja?"
"Izin menjawab yang mulia, hanya tinggal kami saja. Lebih dari setengah dari kstaria menjadi iblis dan yang lainnya telah tiada oleh bangsa iblis." Jelas seorang anggota pasukan ksatria dengan sopan.
Max terlihat cemas dan resah. Dia meminta mereka kembali, namun mereka bersikeras ingin ikut dengan Max. Selama hampir 3 hari mereka berada di desa mati itu, tidak ada satupun orang yang masih hidup. Hanya ada orang mati yang bangkit kembali, alias bangsa manusia yang tergigit menjadi bangsa iblis.
Semakin hari, jumlah pasukan kstaria semakin sedikit. Akhirnya pada hari ketiga, Max memutuskan agar para ksatrianya pergi meninggalkan desa itu dan hanya dia saja yang berada disana.
"Kalian pergilah dari sini, kalian tidak dibutuhkan lagi!" Titah Max pada para ksatrianya.
Mereka tidak akan pernah berakhir sebelum raja iblis penyebab semua ini ditemukan. Aku harus menemukannya agar semua ini segera berakhir. Jika aku melibatkan lagi mereka, sama saja dengan misi bunuh diri. Aku tidak mau kehilangan para prajuritku lagi.
__ADS_1
"Yang mulia, apa maksud yang mulia? Bagaimana bisa kami meninggalkan yang mulia disini?" Tanya seorang prajurit yang enggan pergi.
"Yang mulia, tolong jangan usir kami!"
Para kstaria memohon pada Max untuk tidak diusir oleh pria itu. Namun Max bersikeras meminta mereka untuk pergi, itupun demi keselamatan mereka.
"Apa kalian mau membantah perintahku? Perintah dari putra mahkota kerajaan ini!" Teriak Max marah.
Seorang kstaria "Yang mulia, maksud kami bukan seperti itu."
"Berani, kau menyelaku! Pergi!" Ujar Max sambil menunjukkan jarinya ke luar ruangan itu.
Para prajurit yang kini tersisa 11 orang itu merasa bersalah karena mereka harus meninggalkan Max dan Eugene disana. Tapi keberadaan mereka hanya akan menjadi hambatan dan kesulitan untuk Max saja, karena mereka belum bisa membantu Max lebih banyak untuk melawan iblis.
"Kalau begitu, kami akan kembali ke istana, yang mulia."
"Bagus. Tolong sampaikan juga pada putri mahkota, bahwa dia tidak usah cemas. Aku akan kembali pulang dengan selamat." Ucap Max pada pria prajurit yang akan segera kembali ke istana.
"Saya akan menyampaikannya pada yang mulia putri mahkota, saya harap yang mulia dan sir Eugene akan baik-baik saja dan kembali lagi dengan selamat." Jelas Demian, ketua pasukan 1 istana kerajaan Istvan, berharap bahwa Max dan Eugene akan baik-baik saja.
Max hanya mengangguk pelan. Kemudian dia berbisik pada Eugene agar memintanya mengirim surat.
"Mengapa saya harus mengirim surat yang mulia?" Tanya Eugene terperangah.
"Apa kau tidak khawatir dengan seseorang yang menunggumu di istana? Dia menatap kepergianmu dengan mata yang berkaca-kaca, apa kau tidak mau mengirim surat kepadanya?"
"Saya akan mengirimkan surat, yang mulia." Kata Eugene sambil tersenyum.
"Baiklah, kita suruh para prajurit menunggu sebentar."
Eugene mengangguk pelan, "Apa yang mulia tidak menulis surat untuk putri mahkota?"
"Oh.. itu, untuk apa aku mengirim surat padanya? Aku ingin dia merindukanku, jadi biarkan saja." Max tersenyum, sambil menyilangkan kedua tangannya didada.
"Haha, baiklah yang mulia." Eugene menyunggingkan senyuman.
Eugene menulis surat untuk Laura dan Max menitipkan surat itu pada Demian. Demian dan prajurit segera pergi dari desa itu, lalu kembali ke istana yang menempuh perjalanan selama satu hari satu malam.
"Hey, kenapa kau ada disini? Kau tidak ikut mereka?" Tanya Max keheranan melihat Kyle tidak ikut bersama prajurit lainnya.
Max menatap pria itu dengan curiga, pasalnya Kyle adalah kstaria dibawah Ratu. Dan dia juga memaksakan dirinya untuk ikut kesana. Pasti ada apa-apa dibalik semua sikapnya ini dan pasti ada hubungannya dengan ratu.
"Yang mulia, anda tahu kan kalau saya juga tau cara melawan iblis dan saya bisa melakukannya. Saya juga berada di medan perang selama 12 tahun, saya pasti akan sangat berguna bagi yang mulia putra mahkota dan sir Eugene."
"Tapi dari tadi aku tidak melihatmu melawan satupun iblis itu dan hanya berdiri dibarisan belakang?" Max menyindir Kyle yang sedari tadi diam saja saat para prajurit lainnya sibuk melawan makhluk yang hidup tapi mati itu.
__ADS_1
"Itu karena saya ingin melihat kemampuan para ksatria yang lainnya." Kyle bersilat lidah, beralasan sebanyak mungkin agar pria itu percaya padanya.
Max menaikkan alisnya, matanya menatap sinis pada Kyle."Oh begitu ya? Jika kali ini kau diam saja, lebih baik kau kembali saja dengan prajurit lainnya. Atau... aku bisa membunuhmu saat ini juga," ancam Max dengan sarkas.
Bukan hanya Max yang menatap Kyle dengan sinis, tapi juga Eugene yang curiga kepadanya. Apa tujuan ksatria ratu yang sudah dipecat itu mendekati Max. Eugene mulai berfikir yang bukan-bukan.
Deg!
Kyle menelan ludah, dia merasa tertekan dengan aura dan ancaman yang dilontarkan Max dengan sarkas kepada dirinya. Jantungnya juga ikut berdebar karena tekanan itu.
Memang, wibawa Max sebagai putra mahkota kerajaan Istvan tidak dapat diragukan lagi.
"Ya yang mulia, hamba siap jika harus kehilangan nyawa." Kyle menundukkan kepalanya dengan hormat.
Sialan! Dasar kau putra mahkota sialan! Setelah menuntaskan misi ini, aku akan kembali pada Baginda Ratu.
"Baiklah, jika kau tidak berguna..maka aku akan memenggal kepalamu itu," Max menyunggingkan senyuman sinis, tatapnya juga tajam pada Kyle.
...*****...
4 hari setelah kepergian suaminya ke wilayah Utara, Liliana selalu disibukkan dengan tugasnya sebagai putri mahkota. Dia menghadiri acara sosial, seperti amal, pesat teh dan yang lainnya.
Dia juga meminta Cecil, salah satu datang kepercayaannya untuk menjaga Laura. Entah kenapa Liliana memiliki pikiran seperti itu, dia merasa bahwa Ratu memiliki niat jahat pada Laura walau dia sudah berada di istana dingin.
"Yang mulia, anda memiliki kunjungan." Kata Bianca, sekretaris pribadinya selama dia menjadi putri mahkota.
"Siapa?" Tanya Liliana sambil mendesah, dia baru saja pulang dari acara amal bersama anak-anak yatim piatu di pusat kota. Liliana terlihat banyak pikiran setelah melihat seorang pria misterius disana.
"Yang mulia duke Geraldine yang datang," jawab Bianca.
Liliana langsung beranjak dari tempat duduknya, wajah lelahnya yang tadi seakan hilang begitu saja. "Aku akan menemui ayahku sendiri," ucap Liliana sambil tersenyum.
Gadis itu menyambut ayahnya yang baru saja datang untuk menemuinya. Pintu itu dibuka sendiri oleh Liliana. "Selamat datang, Ayah." Sambutnya hangat dan ramah pada pria paruh baya itu.
"Hormat saya pada yang mulia putri mahkota," ucap Duke Geraldine sopan sambil tersenyum hangat.
Ternyata Liliana bisa diandalkan menjadi putri mahkota calon ratu di negri ini, aku benar-benar tak menyangka. Duke Geraldine kagum kepada anaknya yang kini sudah menjabat sebagai wanita yang statusnya paling tinggi di kerajaan itu dan dia juga bangga karena Liliana dapat mengerjakan tugas dengan baik.
Rasanya aneh mendengar ayah memanggilku dengan bahasa formal seperti ini. Ya walaupun itu hanya di istana dan ketika berhadapan dengan banyak orang... tapi aneh saja.
"Silahkan masuk, Ayah."
Duke Geraldine dan Liliana masuk ke ruang kerja putri mahkota.
...----****----...
__ADS_1
Assalamualaikum Readers, maaf ga author baru bisa up ๐คง 2 hari kemarin sibuk pergi mudik ๐ mohon dimaklumi ya..hehe.. btw, mohon maaf lahir dan batin ya dari author untuk kalian semua, terutama karena up nya cuma 1 dulu ๐คง๐
Makasih atas komen, like kalian๐jangan lupa kasih vote dan giftnya juga.