
...🍀🍀🍀...
Rasa sakit dan mulas semakin terasa pada perutnya, seakan ada yang akan keluar dari sana. "Ya Tuhan...apa harus sekarang? Dalam keadaan seperti ini...urgh...."
Disisi lain, si serigala hitam itu berhasil membunuh si ular besar. Walah ia sendiri sampai terkapar tidak berdaya. Dengan langkahnya yang gontai, si serigala hitam mendekati Liliana. Dia menatap sendu pada Liliana yang kesakitan.
"Aku baik-baik saja... sepertinya aku akan melahirkan," tanpa rasa takut Liliana memegangi tangan serigala hitam itu. Dia seakan-akan paham dengan apa yang tersirat pada raut wajah monster serigala (Black wolf) .
"Kau juga terluka parah ya? Terima kasih sudah menyelamatkan ku, maaf karena aku sudah---akhhhh---"
Rasa sakit di perut itu sudah tak bisa ditahannya lagi, ia jatuh ke tanah sambil memegangi perutnya. Dapat ia rasakan ada sesuatu yang basah mengalir ke pangkal pahanya.
Air ketuban? Tidak! Ini belum waktunya, masih satu bulan lagi untukku melahirkan.
Black wolf menggendong Liliana ala bridal, ia bermaksud menolongnya. Walau tidak bicara, Lilliana sudah tau niatnya. Bahkan ia menolong Liliana dari siluman ular raksasa itu. Dia merasa black wolf tidak bermaksud jahat kepadanya.
Baru melangkah beberapa langkah kembali ke dalam gua, sesuatu menyerang monster itu. Hingga dia membaringkan Liliana di atas batu. Liliana tidak fokus, sebab dia merasakan sakit perut yang luar biasa.
"Beraninya kau menyentuh istriku!" Bentak pria itu emosi.
Max dia yang menyerang black wolf dengan pedang segelnya. Pedang tersebut mengeluarkan sinar yang luar biasa. Max tidak sendirian, dia bersama dengan Brieta. Dengan bantuan Brieta lah, Max bisa menemukan lokasi Liliana dengan cepat.
__ADS_1
Brieta menghampiri Liliana yang sedang duduk diatas batu, sementara Max sibuk bertarung dengan makhluk itu.
"Yang mulia Ratu, apa anda baik-baik saja?" tanya Brieta yang cemas melihat Liliana memegang perutnya, sembari meringis kesakitan.
"A-aku....katakan padanya--jangan sakiti mahluk itu-- jangan--" nafas Liliana tersengal-sengal. Walau dalam keadaan setengah sadar, Liliana tidak mau black wolf dibunuh oleh Max sebab ia tau kalau Max akan membunuhnya.
Astaga! Darah!. Brieta terkejut melihat ada darah di kaki Liliana yang mengalir deras.
"Yang mulia! Tolong hentikan, yang mulia Ratu akan segera melahirkan!" teriak Brieta berupaya untuk menghentikan Max..
"Aahhh....ukhhh...."
Rupanya si Raja Istvan itu tak mendengar ucapannya, pada akhirnya Brieta menggunakan sihirnya untuk menghentikan pertarungan dua makhluk ciptaan Tuhan yang berbeda jenis itu.
Akhirnya Max mendengarkannya, dia pergi menghampiri Brieta dan istrinya diseberang sana. Sementara si black wolf dalam keadaan lemah karena serangan dari ular raksasa dan ditambah lagi dengan serangan Max padanya.
"Apa maksudmu Brieta? Istriku akan melahirkan??!" tanya Max sambil memegangi tangan istrinya. Max heran karena perkiraan Liliana melahirkan adalah 1 bulan lagi.
"Aahhh...Maxim, ini sakit sekali...AKHHH..." Liliana menatap suaminya dengan tatapan mata penuh kesakitan, tangannya bahkan memegang kuat tangan sang suami yang kokoh itu.
"Sayang, kau--" ucap Max sambil menatap istrinya dengan panik.
__ADS_1
"Yang mulia, ini sudah waktunya. Kita harus mencari tempat yang teduh!"
Dengan sigap Max menggendong istrinya ala bridal. Liliana masih merintih kesakitan, rasanya seperti ada yang mau keluar dari tubuhnya. "Aaakhh...sakit..."
"Sayang, kau tenanglah...dan maafkan aku karena diriku tak bisa berbagi rasa sakit yang sama denganmu.Aku hanya bisa menguatkanmu," ucapnya sambil memegang tangan Liliana, tangan yang satunya menyeka keringat di wajah calon ibu dari anaknya itu.
Dia merasa bersalah karena tidak bisa berbagi rasa sakit yang dialami oleh istrinya saat ini. Dengan keadaan yang seadanya, Brieta membantu Liliana melahirkan bayi kembarnya. Disisi lain sang suami memegang erat tangan sang istri, dia sedih melihat istrinya kesakitan.
Mengejan sampai beberapa kali, berjuang melawan maut. Dalam hati ia merapalkan doa kepada Tuhan, agar istri dan anaknya selamat. Ia berjanji dalam hatinya, tidak akan mau Liliana hamil lagi karena rasa sakitnya, ia tidak tega.
"Terus yang mulia, dorong!" ujar Brieta memandu Liliana, sambil melihat kepala bayi sudah terlihat dibawah sana.
"Kau pasti bisa sayang, kau pasti bisa!" Max memberikan semangat pada istrinya.
"Aaaaaaakkkkkkhhhhhh..."
Liliana mengeram panjang, mendorong dirinya sekuat tenaga hingga beberapa saat kemudian...
"Owaa...owa...."
Terdengar suara tangisan bayi.
__ADS_1
...****...