
...🍀🍀🍀...
"Kau mau bawa Liliana kemana?!" Max panik melihat Duke Geraldine membawa Liliana dan mengerahkan para prajurit kediaman Geraldine yang ikut dengannya, untuk mengawalnya.
"Saya akan membawa putri saya kembali kembali ke kerajaan Istvan, saya akan memberikan pemakaman kepada putri saya."
"Tidak! Tidak ada pemakaman,"
"Yang mulia Raja, saya tidak ingin berdebat dengan anda!"
"Tidak ada pemakaman karena Liliana masih hidup," Max tetap menyangkal semua fakta didepan matanya.
"YANG MULIA!" Duke Geraldine menatap raja Istvan itu dengan tetapan yang tajam dan emosi.
Saat itu dia tidak peduli dengan siapa dia berhadapan, dia hanya ingin memberikan pemakaman terbaik untuk putrinya. Kembali ke negeri asal mereka.
"Aku yang akan membawanya!" Seru Max tegas.
Pendeta agung, aku harus menemukannya. Dia pasti bisa melakukan sesuatu. Tiba-tiba di pikirannya sosok pendeta agung yang mungkin bisa menjadi harapan agar Liliana bisa kembali hidup.
"Tidak yang mulia, anda tidak bisa." Duke Geraldine menggelengkan kepala, menolak permintaan Max.
"Kau....melawan perintah seorang Raja! Serahkan dia padaku," Max menautkan alisnya ke atas. Dia
"Yang mulia, saya mohon belas kasih anda. Saya hanyalah seorang ayah yang ingin memberikan pemakaman terbaik untuk putrinya, tolong jangan halangi saya!" Duke Geraldine melembut, dia memohon pada Raja Istvan itu untuk membawa Liliana pergi.
Namun, pria itu tidak mau mendengarkannya. Dia berhasil merebut Liliana dari tangan sang Duke. Semua prajurit melihatnya dan akhirnya terjadi keributan lah di sana.
"Yang mulia!" Duke Geraldine teriak kepada pria yang sudah mengambil jenazah putrinya itu.
"Maafkan aku Duke, aku akan membawanya!" Max yang sudah menggendong Liliana ala bridal, segera menghilang dari sana menggunakan sihir teleportasinya.
Padahal sudah sangat lama dia tidak bisa melakukan teleportasi dan sebagian dari mereka beranggapan bahwa Raja sudah tidak bisa menggunakannya karena dia telah menghabiskan tenaganya untuk menyegel bangsa iblis. Namun, nyatanya dia masih bisa melakukannya.
Sihir yang tidak bisa digunakan oleh sembarang orang, hanya Max saja keturunan kerajaan yang bisa melakukannya. Duke Geraldine dan juga kstaria lainnya tidak bisa mengejar ataupun tahu di mana keberadaan Max saat ini.
Dia menghilang bersama jenazah Liliana dan membuat Adrian juga para ksatria kebingungan. "Bagaimana ini? Yang mulia menghilang!"
"Yang mulia Raja..." gumam Duke Geraldine dengan tangan erat yang terkepal.
Kemana kau membawa Liliana?
Saat Duke Geraldine dan para prajurit akan mencari oleh Max. Prajurit kerajaan Gallahan dan Raja Rayden datang ke rumah Liliana setelah dia melihat Max yang pergi begitu saja tanpa pamit dari istananya. Aiden melihat semua orang berkumpul disana dengan wajah cemas dan wajah panik terutama Duke Geraldine.
Begitu Aiden sampai disana, Duke Geraldine dan Duke Norton berada dibarisan terdepan, lalu mereka memberikan hormat. "Hormat kami kepada matahari kekaisaran Gallahan,"
"Kalian....bangunlah. Ada apa dengan wajah kalian? Kenapa semua orang berkumpul didepan rumah?" Aiden bertanya sambil menatap semua orang disana dengan tajam.
Wajah tampannya sangat berwibawa.
Semua orang terdiam, tidak ada yang berani menjawab dan malah saling melirik satu sama lain. Melihat reaksi semua orang membuat Aiden merasa ada sesuatu yang salah. "Aku sedang bertanya apa yang terjadi, kenapa kalian tidak menjawab?"
__ADS_1
Seorang pria sambil duduk berlutut didepan Aiden, dia adalah Duke Norton. "Izin menjawab yang mulia. Nona Liliana dan bayi didalam kandungannya telah meninggal dunia."
Syukurlah, anakku berhasil melenyapkannya.
Aiden tercengang mendengarnya, kedua matanya melebar.
"Apa katamu?" tanya Aiden dengan suara kecil, seolah tak percaya dengan apa yang disampaikan Duke Norton.
"Nona Liliana dan bayinya meninggal dunia, lalu yang mulia Raja membawanya pergi dengan sihir teleportasi." Jelas Duke Norton pada Raja itu.
Liliana meninggal? Tidak, tidak mungkin.
Tubuh Aiden terhuyung, oleng dan Dorman yang berdiri dibelakang, menopang tubuhnya. "Yang mulia, apa anda baik-baik saja?" Dorman mencemaskan keadaan Rajanya itu.
"Dorman...ini tidak benar kan? Aku hanya salah dengar, kan?" Aiden melirik ke arah Dorman, berharap bahwa berita yang didengarnya ini salah.
"Yang mulia...yang mulia tidak salah dengar dengar. Duke Norton mengatakan bahwa nona Liliana telah tiada." Pengawal pribadi alias orang kepercayaan Raja Gallahan itu menjelaskannya lagi.
Hancur hati Aiden mendengarnya, namun dia tak percaya begitu saja karena dia tidak melihatnya langsung. Tapi saat Aiden melihat raut wajah Duke Geraldine, membuatnya terpaksa harus membenarkan kematian Liliana.
Aiden mencoba berpikir rasional dibalik kesedihannya, dia mendekati Duke Geraldine. AYAH yang sedang berduka itu. Dia menepuk bahu Duke Geraldine.
"Duke, aku akan membantumu menemukan keberadaan Raja Istvan dan putrimu yang dibawa bersamanya. Kau tenang saja," Aiden menenangkan pria itu.
"Yang mulia," Duke Geraldine menatap Raja itu dengan mata berkaca-kaca, lalu dia menundukkan kepalanya. "Terima kasih yang mulia Raja, sungguh kebaikan anda seluas samudra."
Seandainya Lily, bertemu dengan Raja Gallahan lebih dulu daripada dia bertemu dengan Raja Istvan. Mungkin ini semua tidak akan terjadi pada Lily.
Aiden hanya tersenyum, lalu dia menoleh ke arah Dorman. "Dorman!"
"Panggil Abartia, ke istana sekarang juga! Bilang, ini permintaan dari temannya, Rayden." ucap Aiden tegas.
Semua orang disana tercengang begitu mendengar nama Abartia disebut. Abartia adalah penyihir agung yang terkenal hebat dan dia hanya satu-satunya di dunia. Tidak sembarang orang bisa bertemu dengannya, namun Aiden mengenal Abartia dan bicara seolah-olah dia bisa bertemu Abartia dengan mudah. Bahkan dia menyebutkan bahwa dirinya adalah teman Abartia.
"Yang mulia..." Duke Geraldine menelan ludah.
"Tenang saja, keberadaan putrimu akan segera ditemukan dengan bantuan Abartia." Aiden tersenyum seraya menenangkan Duke Geraldine.
Duke hanya ingin satu, dia ingin Liliana kembali padanya, lalu dia akan menguburkan Liliana, membawanya kembali ke negri Istvan.
"Terima kasih yang mulia,"
"Tidak usah berterimakasih, aku melakukan ini untuk putrimu."
Tanpa ragu Aiden mengatakan secara tidak langsung dia menyukai Liliana. "Duke, mari kita pergi ke istana dulu. Kalian juga, ikut ke istana." Aiden menatap semua orang disana dengan tajam.
Tidak adanya Raja Istvan, membuat mereka harus mengikuti perintah dari posisi tertinggi, yaitu Raja Gallahan.
Mereka pun ikut ke istana Gallahan. Sesampainya disana, Aiden langsung menemui ibunya dengan wajah sedih. "Nak, apa yang terjadi?"
"Ibu..." lirih Aiden dengan mata yang sayu menatap ibunya.
__ADS_1
Melihat raut wajah putranya yang tidak baik, ibu suri meminta semua orang pergi dari ruangannya, termasuk Emma si pelayan setianya. "Kalian semua keluarlah dan tutup pintunya. Tidak boleh ada yang masuk kesini, sebelum aku bicara dengan Baginda Raja." Kata Ibu suri tegas.
Tanpa bicara, semua pengawal dan Emma keluar dari ruangan itu. Mereka menutup pintu rapat-rapat.
"Ibu..."
Ibu suri mendekati putranya, dia melihat air mata berlinang "Ada apa nak? Mengapa ada air di matamu?"
Ibu suri tidak pernah melihat anaknya menangis dan sedih. Aiden selalu tegar dan kuat dalam setiap keadaan. Aiden tidak menjawab ibunya, dia hanya memegang tangan ibunya.
"Ada apa nak? Apa kau sudah bertemu dengan dia?" Tanya Ibu suri dengan kening berkerut. Dia yang dimaksud disini adalah Liliana.
"Ibu...tolong katakan padaku, ini tidak benar. Ini tidak mungkin," Aiden bicara dengan bulir air mata yang jatuh membasahi pipinya. Air yang sudah dia tahan sedari tadi.
"Apa maksudmu nak?"
Ada apa dengan Aiden? Apa gadis itu menolaknya?
Tangisan Aiden semakin banyak. "Tolong...katakan saja tidak mungkin Bu..."
"Iya nak, itu tidak mungkin." Ibu suri menuruti keinginan anaknya untuk mengucapkan kata tidak mungkin. "Aiden." Ibu suri memanggil anaknya dengan nama panggilan.
"Ibu...katanya dia sudah tiada, itu tidak mungkin kan? Tidak, Bu!" Aiden memeluk ibunya, dia menumpahkan semua air mata kesedihannya disana.
*****
Disebuah gua yang tidak tahu dimana asalnya, Max yang membawa Liliana terdampar disana. "Sial! Sihir teleportasi ku belum sempurna," Max yang berniat pergi ke kuil suci di kerajaan Istvan untuk bertemu pendeta agung. Kini malah terdampar entah disana bersama jasad wanita yang dia cintai.
Max memeluk erat wanita yang sudah tidak bernyawa itu, dia menatap Liliana. "Kau tenang saja, aku akan lakukan apapun meski harus menyerahkan semua yang kumiliki, sekalipun menjual jiwaku! Asal kau bisa kembali hidup, akan aku lakukan apapun."
Pria itu sudah bertekad akan melakukan segalanya untuk menghidupkan kembali Liliana. Meski dia harus mati, dia rela asal wanita itu bisa kembali hidup. Kalau bisa dengan anaknya juga.
Malam itu didalam kedinginan udara malam, Max sudah seperti pria tidak waras yang tidur bersama mayat berlumuran darah dengan wajah pucat dan tubuh dingin. Dia menyalakan api untuk menghangatkan diri dengan satu jarinya.
"Lily, kau tenang saja... tubuhmu akan kembali menghangat, aku sudah menyalakan api unggun dan ditambah lagi aku akan memelukmu, agar kau semakin hangat." Max menatap wanita itu, tangannya membelai rambut panjang Liliana.
Baju Liliana sudah diganti dengan baju yang bersih, tidak berlumuran darah seperti tadi. Liliana memakai gaun tidur berwarna merah. Max menggunakan sedikit sihirnya untuk membuat gaun itu dan memakaikannya pada tubuh tak bernyawa, Liliana.
Max memeluk Liliana dengan erat, bersamaan api unggun yang berada tak jauh darinya dan wanita itu. "Ayo kita tidur Lily, besok kita harus pergi menemui pendeta agung. Kau harus beristirahat, setelah ini kita akan hidup bahagia, kau aku dan anak kita. Sungguh aku tidak sabar menunggu anak kita lahir ke dunia..." Max tersenyum tipis.
Dia pun tertidur pulas sambil memeluk raga yang tidak bernyawa itu.
Suasana itu semakin dingin, tatkala malam yang semakin larut. Max membuka matanya perlahan-lahan saat dia menyadari tangannya ringan, padahal sebelumnya tangan itu berat karena ada Liana disana.
"Lily? Kau dimana?"
Max beranjak bangun dan duduk. Dia melihat sosok wanita berambut merah, tengah duduk di sampingnya dengan posisi membelakangi.
"Lily...."
Max menepuk pundak wanita itu tanpa ragu ataupun rasa takut. Dia membalikkan badannya, dia menatap Max dengan tatapan dingin dan senyuman tipis dibibirnya. "Yang mulia, tolong...jangan lakukan apa-apa lagi. Ini sudah cukup!"
__ADS_1
"Lily..." Mata Max melebar melihat sosok wanita itu mengatakan hal yang tidak dia pahami.
...*****...