Second Life Liliana

Second Life Liliana
Bab 68. Kandidat putri mahkota


__ADS_3

Gadis berambut merah itu merasa tertantang dengan wanita-wanita bangsawan yang membicarakan dirinya dan menghina dia secara langsung di depan mata.


Dia jadi teringat masa lalu, dimana dirinya sebagai Adaire selalu diremehkan dan diejek seperti ini. Kali ini dia tidak akan tinggal diam.


"Saya juga tidak mengerti mengapa saya terpilih sebagai kandidat putri mahkota, apa nona-nona yang ada disini bisa menjelaskan?" tanya Liliana dengan wajah memelas.


"Bukankah itu sudah jelas karena kau adalah putri dari keluarga Geraldine?" kata seorang nona bangsawan sambil menatap tajam ke arah Liliana. Dia adalah nona Arina Zaise Fransesco, putri dari Earl Fransesco.


"Seperti apa yang nona-nona ketahui, saya hanyalah anak angkat. Tapi mengapa saya bisa dipilih menjadi kandidat putri mahkota? Bahkan saya dipilih oleh Ratu sendiri, saya juga tidak paham."


Ketiga nona bangsawan itu tercengang mendengarnya. "Apa benar kau dipilih oleh Baginda Ratu?" tanya wanita dengan rambut panjang yang dikepang. Dia adalah salah satu calon kandidat putri mahkota juga, nona Keira Amidya Darrian putri dari count Darrian.


Aku saja harus didaftarkan oleh ayahku untuk menjadi kandidat putri mahkota. Mengapa dia mendapat undangan langsung dari Ratu?. Ucap seorang wanita berambut panjang dalam hatinya merasa iri.


"Kau pasti berbohong kan? Kalau kau dipilih oleh Baginda Ratu, mana buktinya?" tanya seorang wanita berambut pendek sinis. Dia adalah Shopia Lasheira Caravan, putri dari


Marquess Caravan.


"Bukti? Kebetulan saya membawa surat undangannya, mungkin nona-nona bisa memberitahu saya surat ini palsu atau tidak!"


Ingin menjatuhkanku? Kalian tidak akan bisa. Kalian perlu terlahir kembali untuk bisa melawan ku. Dua orang ada didalam tubuh ini, keduanya adalah wanita yang menyimpan amarah dan dendam.


Liliana menunjukkan surat undangan dari Ratu kepada ketiga nona bangsawan itu. Julia juga melihatnya, dia terlihat terkejut karena dia tidak mendapatkan surat undangan dari Ratu seperti yang didapatkan oleh Liliana.


Sial! Kenapa aku tidak mendapatkan surat dari Ratu secara langsung? Apa dia benar-benar sudah dipilih? Tidak, ayah bilang akulah yang akan tetap menjadi putri mahkota. Julia membatin.


"Ini... benar-benar cap dari istana Ratu?" tanya Shopia pada Keira.


"Benar, ini cap dari istana Ratu. Berarti dia tidak berbohong, Ratu memang memilihnya secara langsung!" seru Arina takjub.


"Ya kau benar, pasti ada alasan Baginda Ratu memilih nona ini.."


Ketiga nona bangsawan itu berbicara tentang Liliana sambil berbisik-bisik. Liliana hanya melihat mereka sambil tersenyum. Sementara Julia menatap Liliana dengan iri, namun bibirnya menyunggingkan senyuman seolah dia mendukung Liliana.


"Kalian tidak boleh membicarakan nona Liliana seperti itu, lebih baik kita masuk kedalam. Karena Baginda Ratu, pasti sudah menunggu kita.." ucap Julia dengan senyuman ramahnya untuk para nona bangsawan itu.


"Nona Julia memang selalu rendah hati, padahal nona Julia juga mendapatkan surat dari Ratu.. tapi nona Julia tidak pamer," ucap Arina sambil menatap Liliana dengan sinis.


"Benar, tidak seperti seorang anak angkat yang pamer dengan surat dari Baginda Ratu," ucap Keira sinis.


"Maaf, tapi saya tidak pamer. Kalian kan yang bertanya kepada saya tentang surat undangan itu? Jadi saya hanya menunjukkan saja, mengapa jadi pamer?"Liliana tidak mau kalah dan tidak mau ditindas oleh nona bangsawan itu. Dia berani meralat ucapan nona bangsawan yang menyindirnya.


Mungkin dulu aku akan diam saja diperlakukan seperti ini, melarikan diri lalu menangis sendirian. Tapi, di kehidupan kali ini...aku tidak akan melakukannya.


"Kami tidak mengatakan kau pamer! Jangan terlalu sensitif," ucap Keira kebingungan ketika perkataannya mendapat balasan dari Liliana.

__ADS_1


"Segera minta maaf pada saya, nona Keira dan nona Arina!" ujar Liliana tegas.


"A-apa maksud anda?" tanya Arina gelagapan, matanya memutar kesan kemari.


"Kenapa kami harus minta maaf?"tanya Keira tidak mengerti dan pura-pura tidak tahu.


"Kalian berdua sudah menghina saya. Bukankah seharusnya kalian meminta maaf?" Liliana melirik ke arah dua wanita yang sudah menuduhnya pamer.


"Ka-kami tidak menghina," ucap Arina dengan tubuh gemetar ketakutan.


"I-itu benar! Jadi jangan berlebihan!" kata Keira tidak mau mengaku.


Sementara nona Sophia dan Julia diam saja saat melihatnya.


Wajah memelas yang tadi dipasang Liliana langsung berubah menjadi tajam dan tegas. Apalagi tatapan matanya sangat tajam pada Keira dan Arina.


"Nona Shopia, nona Julia..kalian adalah saksinya? Kalian mendengar kedua nona ini menghina dan menuduh saya pamer, kan?" tanya Liliana dengan tatapan mata tajam pada Julia dan Shopia.


"Benar, nona Arina dan nona Keira... segeralah kalian meminta maaf pada nona Liliana sebelum masalah menjadi panjang," ucap Julia angkat bicara.


Ketika Julia yang bicara, kedua wanita bangsawan itu langsung mau meminta maaf pada Liliana. Hal itu membuktikan bahwa Julia memang ratu yang memiliki otoritas tertinggi didalam dunia sosialita bangsawan kelas atas.


Masalah pun berlalu ketika Keira dan Arina meminta maaf pada Liliana. Didepan Liliana, Julia juga mencari muka. Dia ingin dekat dan bersahabat dengan Liliana. Namun Liliana tau niatan Julia ingin dekat dengannya adalah untuk menghancurkannya, dia melihat hal itu saat Julia sengaja mempermalukannya didepan gerbang istana.


Para kandidat putri mahkota tiba di istana Ratu dan disambut baik oleh para pelayan dan pengawal disana. Mereka disuruh menunggu di meja yang ada didekat taman bunga.


"Oh ya nona Liliana, bolehkah saya bertanya?" Julia menoleh ke arah Liliana yang sedang meneguk air teh didalam cangkirnya dengan hati-hati.


Julia menatap Liliana dengan menelisik setiap pergerakannya. Matanya yang cantik itu terlihat tajam, senyumnya yang menawan itu juga terlihat menyeramkan jika dilihat sekilas. Senyum yang mengandung kelicikan.


Dari pergerakannya dia tidak terlihat seperti rakyat jelata. Tapi seperti bangsawan murni.


"Ya nona Julia? Apa yang ingin anda tanyakan?" tanya Liliana sambil tersenyum. Dia berusaha mempertahankan ketenangannya.


Keira dan Arina menatap Liliana dengan sinis, mereka masih tidak bisa terima harus meminta maaf kepada Liliana yang hanya berstatus sebagai anak angkat Duke Geraldine.


"Maaf, mungkin pertanyaan ini kurang sopan...tapi saya hanya ingin tau kebenarannya. Pertanyaan ini juga mewakili rasa penasaran semua orang," ucap Julia masih dengan senyuman ramahnya.


"Ya, silahkan nona Julia.." Liliana mempersilakan Julia untuk bertanya.


Apa yang ingin dibahasnya?


"Rumor beredar bahwa nona Liliana diangkat menjadi anak angkat yang mulia Duke Geraldine, karena nona adalah sahabat pena mendiang nona Adaire.. apa itu benar?" tanya Julia dengan suara pelan dan berhati-hati.


Liliana terdiam sejenak saat mendengar pertanyaan itu, kemudian dia membenarkannya.

__ADS_1


Keira, Arina dan Shopia juga ikut mendengarkan apa yang dibicarakan oleh Liliana dan Julia. "Jadi sebenarnya nona-" Julia akan bertanya lagi, namun sebuah suara menghentikannya.


"Baginda Ratu telah tiba!" Ujar seorang pria dengan suara lantangnya mengumumkan kedatangan Ratu Freya.


Kelima nona bangsawan itu termasuk Liliana, segera bangkit dari tempat duduk mereka, membungkukkan setengah badan seraya memberi hormat dan sambutan untuk Ratu kerajaan Istvan itu.


"Salam hormat, kepada baginda Ratu!" ucap kelima nona bangsawan itu secara bersamaan.


Ratu Freya menatap satu persatu wajah kandidat calon putri mahkota itu dengan tatapan tajam menelisik. Tatapannya berhenti lama saat dia melihat sosok wanita berambut merah yang memiliki wajah cantik. Dia adalah Liliana.


Apa dia gadis yang disukai oleh putra mahkota ku yang tercinta itu?


"Selamat datang di acara perkenalan calon putri mahkota, jangan tegang..anggap saja rumah sendiri. Silahkan,semuanya duduk!" Ratu Freya berusaha menunjukkan sikap ramahnya didepan kelima nona bangsawan yang salah satunya akan menjadi calon ratu berikutnya di negeri itu.


Kelima nona bangsawan itu duduk dengan rapi, setelah Ratu duduk lebih dulu daripada mereka. Hal ini adalah bentuk tatakrama terhadap orang yang lebih tinggi statusnya dan lebih tua usianya. Hal ini berlaku untuk bangsawan, tidak untuk rakyat biasa.


Ratu Freya tidak datang sendiri, dia datang bersama sekretarisnya sekaligus orang yang sangat dia percayai, yaitu Erasmus. Dia adalah pria yang bertugas sebagai penanggungjawab pemilihan putri mahkota untuk beberapa Minggu ke depan.


Hari itu mereka hanya berkenalan satu sama lain, satu persatu dari mereka memperkenalkan diri didepan Ratu. Saat Keira, Arina dan Shopia memperkenalkan diri mereka di depan Freya. Reaksinya hanya datar dan biasa saja, Freya bereaksi saat kedua putri dari Duke memperkenalkan dirinya.


Freya menilai kedua wanita itu dalam-dalam dan dia melihat Liliana juga Julia adalah yang paling menonjol diantara putri yang lain.


Keduanya sama-sama cantik, memiliki keberanian, ketegasan didalam isyarat tubuh mereka. Namun sayang, hanya ada satu yang akan terpilih.


"Baiklah, cukup untuk perkenalannya. Kali ini tuan Erasmus akan membagikan jadwal ujian untuk para calon putri mahkota. Erasmus, bagikan!" titah Ratu Freya pada pelayan setianya itu.


"Baik yang mulia," jawab Erasmus.


Setelah sesi perkenalan, Erasmus membagikan selebaran yang berisi jadwal ujian calon putri mahkota. Disana berisi berbagai macam ujian yang akan mereka lalui untuk menjadi calon putri mahkota. Dari sinilah mereka akan diseleksi, dimana hanya yang terbaik yang akan terpilih.


Julia tersenyum melihat selebaran itu, tidak seperti yang lain yang hanya menghela napas begitu melihat jadwalnya. Liliana juga memperhatikan raut wajah Julia.


Hmphh.. sudah jelas ini diatur oleh Ratu. Jika Ratu sudah memutuskan putri mahkota adalah nona Julia, mengapa dia mengadakan hal seperti ini?


Ketika kelima nona bangsawan akan pergi dari istana Ratu. Tiba-tiba saja seseorang menembakkan panah ke arah Ratu. Dengan gerakan cepat Liliana menepis panah itu.


SRATT....


TAK!


"Ada penyusup! Tangkap!" Ujar pengawal istana melihat sesosok bayangan hitam diatas atap istana Ratu. Bayangan hitam itu berlari cepat


"Lindungi Baginda Ratu!" teriak Erasmus kepada para penjaga disana.


Ratu terlihat syok, dia juga melihat Liliana dengan kagum karena gadis itu baru saja melindunginya dan dia bisa beladiri. Keempat nona bangsawan terpana melihat Liliana yang lincah.

__ADS_1


...----****---...


__ADS_2