
...🍁🍁🍁...
Lucifer meluapkan semua amarahnya pada sang Raja dengan melenyapkan semua rakyatnya. Dia mengeluarkan iblis iblis kelas atas untuk menyerang manusia.
"Hentikan ini Lucifer!" Teriak Raja sambil menatap anaknya yang sedang mengeluarkan semua kekuatan sihirnya untuk membangkitkan iblis.
Jika Lucifer meluapkan semua amarahnya lewat iblis iblis itu kepada rakyatku. Maka mereka semua pasti akan musnah.
"Lihatlah ini yang mulia Raja! Kau akan mendapatkan hadiah atas kepulangan anak pertamamu, hahaha..." Lucifer menatap ayahnya dengan mata merah menyala. Dia yang tidak memiliki jiwa dan memiliki hati, tidak peduli dengan hal lain selain emosi dan amarah.
Seperti sifat iblis pada umumnya, yang menyerang dan menghancurkan. Dia sedang melakukan semua itu pada kerajaan Istvan didalam kegelapan malam.
Sebelum fajar menyingsing, Lucifer memiliki misi dan tujuan untuk membumi hanguskan tanah Istvan.
"Lucifer! Mereka tidak bersalah, kau dendam padaku bukan? Kau marah padaku karena aku sudah membuangmu? Jadi, lampiaskan saja amarahmu padaku! Rakyatku tidak bersalah sama sekali." Raja mengajukan pengorbanan demi keselamatan semua orang di negerinya.
"Hahaha.. lucu sekali. Apa kau sedang berusaha bersikap sebagai raja yang baik pada rakyatnya? Padahal kau sendiri bukan orang tua dan keluarga yang baik!" Lucifer tertawa licik. Pria itu mengeluarkan sihir dari dalam tangannya.
Semua iblis dengan bentuk tubuh dan wajah yang aneh, mulai berdatangan dan menyerang orang-orang yang berada didalam istana.
"Yang mulia, apa yang harus kami lakukan?" Tanya Gustaf, bawahan setia Raja.
"Bawa orang-orang ke tempat yang aman." titah sang Raja dengan mata yang sedih.
Putra mahkota dimana kau? Hanya kekuatanmu yang bisa menekan Lucifer.
Gustaf dan para prajurit yang lainnya membawa orang-orang yang selamat ke tempat yang aman. Raja pun mengeluarkan kekuatannya bersama pendeta agung untuk melawan Lucifer. Sementara Brietta pergi menyelamatkan orang-orang yang terluka.
"Kalian tidak akan bisa melawanku meski 2 lawan 1. Tidak akan!" Lucifer mengeluarkan kekuatan luar biasa. Hingga bulan benar-benar tertutup dan tidak ada cahaya sama sekali.
Bahkan pendeta agung tidak bisa menghentikan kegelapan itu. "Yang mulia.."
Tidak mungkin kegelapan akan menang dari cahaya. Raja menatap langit kerajaannya. Setengah istananya yang megah itu sudah hancur oleh Lucifer dan orang-orangnya.
"Semua ini adalah awal dari kehancuranmu Alberto!!" Lucifer tersenyum bahagia melihat pemandangan mengerikan disekitarnya.
Langit kerajaan Istvan benar-benar gelap tanpa cahaya. Sampai orang-orang di kota ketakutan. Dan saat itu Raja tak berdaya di hadapan kemarahan Lucifer, anak kandungnya sekaligus reinkarnasi dari iblis.
__ADS_1
Duke Geraldine yang berada di pusat kota, sedang berusaha menyelamatkan masyarakat yang di serang iblis. "Apa kau tidak apa-apa nak?" Tanya Duke Geraldine pada seorang anak kecil yang sedang bersembunyi di dekat pohon.
Anak perempuan itu mengangguk pelan. "Jangan takut, aku akan membawamu ke tempat yang aman." ucap Duke Geraldine sambil menggendong anak perempuan itu.
"Terimakasih paman," ucap anak perempuan itu sambil memeluk Duke Geraldine.
Kemudian duke Geraldine membawa anak perempuan itu ke tempat yang aman. Melihat anak perempuan itu, membuat Duke Geraldine teringat Adaire dan Adara sewaktu kecil.
#Flashback
Ketika duke baru pulang dari perjalanannya. Dia disambut oleh Adara dan Adaire. Adara lebih dulu memeluk ayahnya. "Ayah.. aku mau digendong." Adara merengek ingin digendong oleh Duke Geraldine.
Duke Geraldine tersenyum, kemudian dia menggendong Adara kecil. Adaire menghampiri ayahnya. "Ayah...aku juga ingin digendong."
"Adaire juga mau?" Duke Geraldine menggendong Adaire dengan satu tangannya yang lain.
Kedua anak perempuan itu tersenyum bahagia karena digendong oleh ayah mereka. "Woah.. ayah sangat kuat." Adara memuji ayahnya sambil memegang otot otot kekar ditangan sang Duke.
"Benar, ayah memang kuat. Ayah adalah pria paling kuat di negeri ini! Ayah adalah kstaria paling hebat!" Kata Adaire sambil tersenyum dan memuji ayahnya.
"Terimakasih putri putri kecil ayah." Duke Geraldine Hemas dengan tingkah kedua anaknya itu.
Duke Geraldine pun membawa kedua anaknya masuk ke dalam rumah dengan hati yang bahagia. Seakan lelahnya hilang begitu saja.
Ada masa-masa dimana ketiganya bersatu seperti keluarga bahagia. Ada juga masa yang menunjukkan bahwa mereka adalah keluarga yang tercerai berai. Karena sikap Duke Geraldine yang selalu pilih kasih pada Adara dan Adaire.
#Endflashback.
"Adara pasti baik-baik saja di istana. Orang-orang disana pasti menolongnya, tapi bagaimana dengan Liliana? Ya Tuhan, tolong lindungi kedua anakku dimanapun mereka berada. Liliana dan yang mulia putra mahkota, semoga kalian baik-baik saja." Duke Geraldine mendoakan keselamatan Liliana dan Max yang saat ini tidak diketahui keberadaannya.
"Yang mulia Duke!" kata seorang prajurit sambil menghampiri Duke Geraldine dengan nafas terengah-engah.
"Ada apa?" Tanya Duke Geraldine para prajurit istana itu.
"Muncul iblis iblis berwujud aneh dan mereka membantai warga!" Ujar prajurit itu memberitahu dengan wajah panik.
Duke Geraldine tercengang mendengarnya, tanpa banyak bicara. Dia bersiap dengan pedangnya, pria bergelar sword master itu bersiap bertarung mati-matian untuk menyelamatkan banyak orang.
__ADS_1
*****
Di gereja tempat Liliana dan Max beristirahat. Terlihat Liliana sedang tertidur di pelukan suaminya, diatas sofa yang empuk. Max memeluk istrinya dengan penuh kasih sayang. Dia belum bisa menutup matanya, hatinya merasa tidak tenang. Dada dan jantungnya terasa sesak, tidak karuan.
"Uhm.. yang mulia..kau belum tidur?" Liliana membuka matanya, dia mendongak ke arah suaminya.
"Iyah, belum. Maaf, apa aku membangunkanmu?" tanya Max, dia beranjak duduk dengan hati-hati sambil memegang kedua tangan Liliana.
"Tidak, bukan karenamu aku terbangun. Aku sedikit haus," jawab Liliana sambil tersenyum menatap suaminya dengan tenang.
Ada apa dengan Maximilian? Dia terlihat resah, apa yang sebenarnya dia pikirkan?
"Kau haus? Aku akan mengambilkanmu air minum," ucap Max yang berdiri dari tempat duduknya.
Liliana memegang tangan Max, menahan suaminya untuk pergi. Dia meminta Max untuk duduk saja, karena dia yang akan mengambil air minum sendiri.
Wanita itu mengambil dua gelas air minum, kemudian dia memberikan salah satu air minum itu pada suaminya. "Minumlah yang mulia,"
Max tidak menjawab, dia mengambil gelas berisi air minum dari tangan sang istri. Kemudian meneguk air itu dengan wajah gelisah. "Katakan padaku, ada apa?" Tanya Liliana sambil menatap suaminya.
"Ada apa bagaimana?"
"Kau terlihat resah, apa ada sesuatu yang menganggumu, yang mulia?" tanya Liliana sambil memegang tangan suaminya.
"Lily...entah kenapa aku merasa jantungku berdebar kencang dan dadaku terasa sangat sesak."
"Kenapa? Apa ada sesuatu yang.."
"Ughhhh...." Max memegang dadanya, pria itu merintih kesakitan.
"Yang mulia, apa yang terjadi?" Tanya Liliana sambil memegang kedua tangan suaminya Dia melihat Max dengan cemas.
Max menutup matanya, sambil memegang dada.
"Lily...kita harus segera kembali. Sekarang juga...ke istana!!" Kata Max tegas.
...----*****----...
__ADS_1