Second Life Liliana

Second Life Liliana
Bab 224. Kelahiran si kembar dan kilas balik


__ADS_3

...🍀🍀🍀...


Bayi mungil itu tampak putih bersih tanpa ada darah, benar-benar ajaib. Bayi laki-laki itu bercahaya, ia hanya menangis sebentar kemudian dia menjadi tenang begitu mata polosnya melirik pada sang mama. Bayi tersebut berada dalam pelukan Brieta.


"Selamat yang mulia Ratu, yang mulia Raja...bayinya laki-laki...wajahnya secerah matahari." ucap Brieta tersenyum, memberikan selamat pada pasangan kerajaan itu.


"Bayi kita, sayang..." ucap Max pada istrinya dengan bangga. Liliana mengangguk seraya tersenyum.


Disisi lain, black wolf yang masih tidak berdaya, meneteskan air mata melihat pemandangan itu apalagi melihat bayi mungil Liliana dan Max.


Sebenarnya Max merasa sangat kasihan kepada istrinya karena dia harus melahirkan dalam kondisi seperti ini dan juga berada di tempat yang sangat tidak nyaman untuk melahirkan. Hutan larangan! Semoga tidak ada hal buruk karena Liliana melahirkan anak-anak mereka disini.


"Yang mulia, saya minta tolong...carikan kain atau daun, untuk menutupi mulia pangeran." ujar Brieta pada Max.


"Aku punya kain...aku membawanya di tas kecilku,"


Max mengeluarkan kain yang tidak begitu panjang dari dalam tas kecilnya. Kemudian Brieta menggunakan sihir itu untuk memperlebar kain tersebut supaya si bayi bisa di tutupi oleh kainnya.


Tak lama kemudian, Liliana kembali menjerit kesakitan sambil memegangi perutnya. Kali ini dia pasti kan melahirkan anaknya yang kedua. "Uhh...sakit,"


"Yang mulia, tolong gendong dulu yang mulia pangeran. Saya akan membantu yang mulia Ratu untuk melahirkan," ucap Brieta seraya menyerahkan bayi yang baru lahir itu kepada ayahnya.


"Tapi aku belum bisa--" Max tergagap, ia belum pernah menggendong bayi sebelumnya. Brieta memaksa Max menggendong bayinya, pria itu terlihat kaku tapi dia mencoba sebaik mungkin menggendong bayinya.


Dia menatap wajah anaknya yang terlihat tampan dan bercahaya itu, ia melihat kedua bola matanya yang berwarna biru. "Matamu mirip ibumu, tapi wajahmu tampan seperti aku." gumam Max seraya tersenyum bahagia melihat putra pertamanya itu.


Sedangkan Brieta, sedang membantu Liliana melahirkan bayi keduanya. Persalinan itu tak berlangsung lama seperti persalinan anak pertama. Bayi kedua Liliana dan Max juga adalah seorang pria, tampan, memiliki kulit putih bersih sama seperti kakaknya.


"Terima kasih sayang, terima kasih sudah melahirkan anak-anak kita dan kau juga selamat." Max mencium kening istrinya penuh kasih sayang, dia melihat dua bayi mungil itu dengan penuh rasa haru. Hingga dia tak menyadari bahwa air matanya jatuh menetes.


"Iya yang mulia," jawab Liliana seraya tersenyum, dia menatap suaminya dan sama-sama menangis juga.


"Kalau begitu, ayo kita pergi dari sini." ucap Max mengajak istrinya, Brieta dan kedua anak kembarnya untuk segera pergi dari sana karena tempat itu tidak aman dan tidak nyaman.


Akan tetapi saat Liliana digendong oleh Max, dia kembali merintih kesakitan. "Aaakhh...Maxim...sakit...sakit sekali."


"Kenapa sayang? Apa yang sakit?" tanya Max sambil menunjukkan raut wajah cemasnya itu


"Sepertinya aku akan melahirkan lagi, ahhh..."


"APA?!"


"Kelahiran sang bulan, yang mulia." celetuk Brieta sambil tersenyum.


Ternyata ramalan dalam pertapaanku benar.


Kembali Brieta membantu Liliana dalam persalinannya untuk yang ketiga kalinya. Proses kelahiran Lilliana yang ketiga ini melalui proses yang lama, berbeda dengan kelahiran dua anak kembarnya yang lain.


"Selamat yang mulia, bayinya perempuan..."


Dia perwujudan dari sang Dewi bulan. batin Brieta tersenyum bahagia melihat bayi yang cantik nan rupawan itu. Matanya cerah berwarna hitam kelam, mata yang sama dengan bola mata sang Raja.


"Putriku?" Mata Max berbinar-binar melihat sosok putrinya yang cantik itu. "Dia mirip denganmu sayang." ucapnya lagi.


"Syukurlah... anak-anakku sehat dan selamat." Liliana memandangi ketiga anaknya dengan tatapan sendu. Dia terlihat lelah, keringat telah membanjiri tubuh dan wajahnya. Bibirnya pucat pasi, ia merasakan suhu tubuhnya meningkat dan seluruh tubuh merasakan sakit.


Tiba-tiba saja wanita itu terkulai lemas, dengan mata tertutup. Ia tak sadarkan diri. Max dan Brieta panik melihatnya, "ISTRIKU! Lily!!"


Brieta yang sedang menggendong salah satu bayi kembar Max dan Liliana, satu tangannya memeriksa kondisi Liliana. "Yang mulia, kita harus segera membawa yang mulia ke luar dari hutan larangan ini! Saya tidak bisa menggunakan sihir penyembuhan disini, keadaan yang mulia Ratu kritis." ucap Brieta seraya menatap Max.


"Baiklah, kita akan keluar dari sini...tapi--"


"Aku akan membantu," suara seorang pria membuat atensi Max dan Brieta tertuju pada sosok pria yang terluka dengan mahkota di tengah kepalanya, pria itu berdiri di mulut gua.


"Kau siapa?!" tanya Max waspada.


"Tidak penting menjelaskan siapa aku pada kalian, tapi yang jelas kita harus membawa Ratu Liliana pergi dari hutan ini."


Dalam keadaan terluka, pria itu merubah dirinya menjadi burung yang besar dan membuat Max, Brieta takjub melihatnya. Mereka tak punya pilihan lain selain menerima bantuan dari orang asing ini.


Max, Brieta, ketiga bayi kembar dan juga Liliana yang tidak sadarkan diri itu berada diatas punggung burung. Dia mengepakkan sayapnya terbang meninggalkan hutan larangan.


"Kau pasti punya alasan kenapa kau menyelamatkan kami," ucap Max pada burung itu.


"Ada dan aku akan meminta sesuatu nanti." jawab si burung itu.


Burung besar itu berhasil membawa Max, Brieta, ketiga bayi kembar dan Liliana keluar dari hutan larangan. Dia mengantar mereka ke sebuah desa tak jauh dari sana untuk meminta pertolongan. Liliana langsung dibawa ke sebuah rumah sakit megah disana, bersama Brieta juga.


Kini Max dan pria aneh itu sedang berbicara di depan rumah sakit.


"Kalau kau butuh sesuatu datanglah ke kerajaan Istvan! Carilah aku, aku adalah Raja Istvan... Maximillian Gallan Istvan."


"Lalu apakah anda akan mengabulkan permintaan saya? Apapun?" tanya pria aneh itu.


"Tentu saja, karena kau sudah menyelamatkan kami. Maka aku harus berterima kasih." Kata Max bersungguh-sungguh.


"Maka...aku akan menagih janjiku nanti."


Dalam sekejap pria itu terbang lalu menghilang bahkan sebelum Max tau namanya. Max bertanya-tanya siapa pria aneh itu, tapi dia mengedepankan dulu masalah Liliana sebelum memikirkan si pria aneh.


Liliana ditangani oleh tabib disana dengan cepat dan kondisinya kembali stabil. Namun dia belum bisa pergi meninggalkan rumah sakit itu karena keadaannya yang masih lemah.


Keesokan harinya Liliana membuka mata, ia mendengar suara bayi yang begitu nyaring ditelinganya, tapi membahagiakan. Liliana menoleh ke arah seorang pria yang sedang menggendong bayi sambil menyodorkan botol berisi susu pada mulut bayi mungil itu.


"Owaa...owaaaakkk..."


"Sayang, jangan menangis. Ibumu pasti akan segera siuman, nah ayo cantik...minum dulu susunya ya?" bujuk Max pada putrinya dengan lembut.


Raut wajah yang teduh dan hangat itu, ditunjukkan oleh Max untuk putrinya. Sementara dua bayi laki-lakinya yang lain masih tertidur pulas di dalam keranjang bayi.

__ADS_1


Saking sibuknya mengurus bayi perempuannya, dia tidak sadar bahwa Liliana sudah siuman. Tiba-tiba saja Lilliana teringat saat dia bertemu dengan Max untuk pertama kalinya, sosok pria itu sekarang terlihat berbeda dengan dulu.


#FLASHBACK


Di club diamond madam Morena....


"Bangunlah manis, aku tau kau sudah bangun dari tadi," ucap Madam Morena sambil duduk di sudut ranjang, tempat Liliana tertidur.


Liliana langsung beranjak bangun dari ranjang itu, dia berusaha setenang mungkin menghadapi madam Morena. "Ternyata madam cukup pintar juga ya," gadis itu tersenyum lebar.


Aku dapat kesempatan kedua untuk hidup, aku tidak boleh menyia-nyiakan nya. Aku harus keluar dari sini!


"Bukan cukup pintar, tapi aku memang pintar!" Madam Morena tersenyum lebar. Dia mendekati Liliana dan memegang wajahnya."Dengan kecantikan mu, kau akan menjadi primadona di tempat ini, namamu Liliana ya?" Madam Morena memegang dagu Liliana, dia terkesan dengan wajah cantik yang dimiliki gadis itu.


Padahal dia hanya gadis miskin, tapi wajahnya sangat cantik.


"Iya, nama saya Liliana." jawab Liliana.


"Baiklah Lily, apa kau sudah tau apa tugasmu disini?" tanya Morena.


"Saya tidak tau," jawab Liliana dengan wajah pura-pura polos.


"Kau akan dapat bayaran mahal, hanya perlu temani saja seorang pria kaya malam ini. Kalau kau mencoba kabur dari sini, aku akan membuatmu tidak bisa menggunakan kaki dan tanganmu lagi. Apa kau paham, Lily?" Madam Morena tersenyum, tapi matanya menatap tajam dan mengancam Liliana.


"Baik, saya akan patuh. Kebetulan saya juga memang butuh uang, tapi saya ingin uang mukanya sekarang," Liliana melihat ke arah wanita menor itu dengan tatapan tak berdaya.


Ya, aku butuh uang untuk kabur dari sini. Untuk balas dendam, aku harus punya uang! Uang adalah kekuatan!


Madam Morena tersentak kaget, baru kali ini dia melihat seorang wanita pemberani yang dibawa ketempat pelacuran. Biasanya wanita yang dibawa kesana akan menangis, mencoba kabur, memohon dipulangkan, bahkan sampai menyerang penjaga yang ada disana. Tapi Liliana berbeda, dia wanita yang cukup tenang dan tidak takut apapun.


Wanita pemilik tempat pelacuran itu memberikan sejumlah koin emas untuk Liliana. Tak lama setelah itu Liliana menunggu pria yang datang ke kamarnya, dia sudah bersiap dengan senjata tusuk rambut untuk menyerang pria itu.


"Aku penasaran, siapa pria brengsek yang akan menjadi sasaran kemarahan ku! Semua pria memang brengsek, sama seperti Arsen!" Liliana duduk di ranjang nya. Terlintas ingatan sebelum kematian nya, dia sangat marah karena pengkhianatan Arsen dan Adara.


Kata siapa Tuhan tidak tidak sayang padaku? Tuhan masih bersamaku dan tidak meninggalkan ku.Terimakasih Tuhan, aku akan mengubah takdir ku di dalam kehidupan kedua di dalam tubuh ini. Akan aku buat mereka yang menyakiti ku menangis darah!


CEKRET!


Pintu kamar itu terbuka, terlihat seorang pria bertopeng, tubuh tegap dan kulit putih sudah berdiri di depan Liliana. Liliana mendongak melihat ke arah pria itu, matanya merah menyala. Dia menutup pintu kamar itu, mendekati Liliana yang duduk di ranjang.


"Sayang sekali gadis cantik seperti mu harus terjebak ditempat ini dan melayani pria hidung belang," ucap pria itu sambil tersenyum pada Liliana. Senyuman yang mengejek.


"Saya juga benar-benar sial karena terjebak di tempat ini lalu bertemu pria hidung belang seperti anda!" Liliana tersenyum sinis membalas perkataan pria itu, kemudian mulai menyerang si bertopeng dengan tusuk rambutnya.


Gerakan pria itu lebih cepat Liliana, dia menangkis serangan Liliana dan memeluk wanita itu untuk tetap diam. "Lepaskan aku! Dasar pria mesum!" Teriak Liliana sambil berusaha melepaskan dirinya dari pelukan pria itu.


"Aku dengar kau masih perawan, apa kau baru ditempat ini nona Lily?" bisik pria itu ke telinga Liliana. Napas nya berhembus di leher Liliana, membuat wajah wanita itu memerah.


Tak lama setelah itu terdengar keributan di luar, terdengar suara orang-orang berlarian."Jangan kabur! Kalian sudah dikepung!"


Liliana tersentak kaget mendengar suara ribut-ribut itu. Dia berusaha berontak kabur dari sana. "Nona, apa kau mau kabur?"


"Bukan urusanmu!" Liliana ketus.


Liliana terkejut karena pria itu bisa melompat dari lantai 3, membawanya dengan selamat.


"Kau sudah gila! Kita bisa saja mati!" Gerutu Liliana kesal.


"Tapi kita tidak mati kan? Aku sudah menyelamatkan mu, apa kau tidak akan berterimakasih?" tanya pria bertopeng itu.


Benar juga, kalau aku tidak dibawa kabur olehnya.. aku pasti sudah ditangkap pengawal pemerintah itu.


"Kau punya cermin, tidak?" tanya Liliana dengan nada ketusnya.


"Cermin?" Pria bertopeng itu memberikan cermin kecil pada Liliana. Dengan cepat gadis itu bercermin dan melihat wajahnya.


Seperti apa kata madam Morena, aku memang sangat cantik.


"Bagus, aku benar-benar cantik! Aku akan mengubah takdir ku sebagai gadis jelek!" Liliana terpesona pada wajahnya sendiri.


Adara, Arsen, kalian tunggu saja!


Liliana berterimakasih pada pria bertopeng dan memberikan cermin itu kembali kepada pemilik nya. "Aku harap kita tidak akan pernah bertemu lagi tuan bertopeng aneh," Liliana berkata dengan nada ketus.


Gadis yang aneh, dan juga cantik.


Wanita itu pergi begitu saja meninggalkan si pria bertopeng disana sendirian. Tak lama setelah itu, beberapa pria berpakaian rapi memberikan hormat kepadanya.


"Yang mulia putra mahkota, semua nya telah selesai,"


Pria itu membuka topengnya, terlihat wajah nya yang tampan dengan rambut hitam yang mempesona. "Kerja bagus,"


*****


Kemudian saat Liliana menerima cinta Max. Ketika mereka resmi bersama menjadi pasangan kekasih.


Gadis itu berada didalam dekapan tubuh kekar Max, dia bingung dengan kata-kata ambigu yang diucapkan pria itu kepadanya.


Bahwa, "Aku mencintaimu.. sungguh, tapi aku juga tidak ingin membatasi kebebasanmu"


"Yang mulia.."


"Aku ingin kau menjadi milikku tapi aku tidak mau kau hidup dengan status yang tidak kau inginkan," ucapnya sambil memeluk Liliana.


Liliana tercekat, hatinya berdebar. Dia akhirnya menangkap maksud dari ucapan sedih si putra mahkota kerajaan Istvan itu padanya. Dia ingin bersama Liliana ,tapi dia tidak mau Liliana menjadi putri mahkota dan terkurung di istana. Dia tau bahwa Liliana tidak akan setuju dengan menjadi ibu negara.


Aku terlahir sebagai putra mahkota negeri ini dan aku tidak bisa melepaskan takdirku.


Gadis itu mendorong tubuh kekar yang mendekapnya. "Yang mulia memang benar, saya memang tidak mau menjadi putri mahkota. Saya tidak mau hidup terkekang didalam istana, saya menginginkan cinta seperti orang biasa pada umumnya. Dan saya.. belum percaya sepenuhnya pada anda," Liliana mengatakan isi hatinya dengan jujur pada Max.

__ADS_1


Penolakannya terhadap posisi putri mahkota dan keinginannya untuk menjalin cinta dengan orang biasa. Max terlihat bimbang, dia sedih mendengar ucapan Liliana.


"Lily, apa kau tidak mencintaiku?" tanya Max sambil membelai pipi gadis cantik itu dengan lembut.


"Lalu apa kau mencintaiku?" Liliana malah bertanya balik.


Max mendesah, "Bukankah itu sudah jelas, aku bahkan selalu menunjukkannya padamu. Aku sering mengucapkan kata cinta untukmu. Apa kau mencintaiku? Kau tak pernah menjawabku.."


"Jika aku mengatakan cinta pada yang mulia, apakah kau bisa menjamin kalau suatu saat nanti kau akan tetap mencintaiku?" tanya Liliana berharap.


"Kau masih belum percaya pada perasaanku, apa yang aku lakukan belum cukup untuk membuatmu yakin?" Max memegang kedua tangan Liliana. "Aku mencintaimu Liliana, hanya kau satu-satunya wanita yang aku cinta sekarang dan selamanya,"


"Baiklah, aku akui aku memang mencintaimu. Tapi setelah itu apa? Apakah kita akan berhubungan? Bertunangan lalu menikah? Apa kita bisa seperti itu? Kau ibaratkan langit dan aku hanya tanah di bumi, kita tidak akan bisa bersatu yang mulia.."


Akhirnya Liliana jujur dengan perasaannya pada Max, terlepas dari status Max sebagai putra mahkota. Dia memang mencintai Max layaknya perasaan wanita pada pria.


Max tersenyum bahagia karena perasaan antara dia dan Liliana telah terucap dibibir satu sama lain. Namun yang jadi masalahnya adalah status diantara mereka berdua.


"Kita saling mencintai, tentu saja kita bisa bersatu!"


"Dengan cara seperti apa? Apakah aku harus menjadi putri mahkota? Aku tidak bisa melakukan semua itu, ayah tidak akan setuju. Kau juga tidak bisa menyerahkan kedudukanmu untuk wanita seperti ku! Jadi, mari kita lupakan perasaan sesaat ini dan jangan pernah-"


Max menutup mulut yang sedang bicara itu dengan mulutnya. Max mengecup lembut bibir merah delima milik Liliana.


"Yang mulia..." Liliana terkejut karena lagi-lagi bibitnya dicuri oleh Max.


"Jangan pernah mengatakan hal yang bisa membuatmu menyesal di kemudian hari, aku tau kau tidak akan bisa menjauh dariku. Kau kan mencintaiku?" Max tersenyum sambil membelai rambut panjang wanita cantik itu.


"Kau selalu saja percaya diri," ucap Liliana sambil menatap Max.


"Yang penting semuanya sudah jelas, kau mencintaiku dan aku mencintaimu. Kita jalani saja hubungan ini ya, jangan pikirkan dulu masa depan.." ucap Max seraya meminta mereka menjalin hubungan dulu.


Ya benar, setidaknya kalau aku dan Lily memiliki hubungan resmi sebagai kekasih. Aku pasti bisa sedikit mengatur dirinya.


"Yang mulia..." lirih Liliana kebingungan.


Max meletakkan jari telunjuknya pada bibit Liliana, "Sshh.. aku tidak menerima penolakan. Kalau kau menolakku, aku akan menghukum mu!"


"Menghukum ku? Dengan cara apa?" tanya Liliana.


Max mencium pipi Liliana dengan cepat. Kedua mata gadis itu melebar akibat serangan tiba-tiba dari Max. "Yang mulia kenapa anda selalu saja menyerang ku begini!"


"Hehe, kau mau hukuman yang mana? Di pipi, kening, hidung, bibir, atau..."


Hup!


Liliana membekap mulut mesum pria itu yang pikirannya sudah menjalar kemana-mana. "Hentikan ucapan anda! Bagaimana bisa putra mahkota berkata dan bersikap mesum?"


"Didepanmu aku ingin menjadi pria biasa bernama Maximilian dan bukan putra mahkota. Jadi, aku akan bertindak apa adanya bukan ad apanya di depanmu saja. Dan aku tidak mesum ya! Aku hanya gila karena aku sudah jatuh terlalu dalam akan cintamu," Max tersenyum sambil menatap nanar wanita didepannya itu.


Wajah wanita itu memerah, dia tersipu malu dengan gombalan Max. Hatinya dibuat berdebar-debar untuk kesekian kalinya. Dia memalingkan wajah dan matanya dari Max yang sedang menatap dirinya penuh cinta.


"Liliana.."


Mungkin ini saat yang tepat untuk memberikannya.


"A-apa?"


"Tutup matamu sebentar,"


Max menyuruhnya menutup mata, tapi Liliana malah membuka matanya lebar-lebar. Max tersenyum dan meminta Liliana menutup matanya sebentar saja. Gadis itu pun mengingatkan agar Max tidak macam-macam kepadanya.


"Aku akan melakukannya dengan cepat, kau juga harus segera pergi ke istana."


"Melakukannya dengan cepat? Melakukan apa?" Liliana menatap Max dengan bingung dan penuh pertanyaan.


"Tutup matamu dulu, aku janji tidak akan macam-macam.." pinta Max dengan suara lembutnya.


Liliana menurut, dia memejamkan kedua matanya. Beberapa detik kemudian, Max meminta Liliana membuka matanya kembali. "Bukalah,"


Pelan-pelan Liliana membuka matanya. "Apa?"


"Sudah kuduga, akan sangat cocok untukmu!" Max menatap leher cantik Liliana, disana terpasang kalung berbentuk hati dengan warna merah. Kalung itu tampak berkilau dan indah dipandang mata. "Cocok dengan warna rambutmu dan karaktermu yang pemberani," ucap Max memuji kekasihnya itu.


"A-apa ini?" Liliana merasa takjub dengan kalung berwarna merah yang dipakainya itu.


"Tanda cintaku padamu, aku selalu ingin memberikannya. Dan hari ini kita sudah resmi menjadi pasangan kekasih, jadi aku berikan padamu sekarang.." Max terlihat bahagia setelah Liliana memakai kalung pemberiannya.


"Kekasih? Aku belum setuju untuk menjadi kekasihmu,"


"Kau sudah menyatakan cinta, jadi kita sepakat untuk berada dalam hubungan kekasih. Lily, untuk sementara waktu kita jalani dulu hubungan ini! Jangan pikiran dulu status kita, aku ingin semua mengalir apa adanya.. aku ingin kau menganggapku sebagai Maximilian kekasihmu, bukan putra mahkota.."


Melihat pria itu memohon kepadanya, Liliana tak bisa berkata tidak. Dia mengangguk setuju dan menerima saran dari Max. "Baiklah, kita jalani dulu hubungan ini. Anggap saja sebagai percobaan, jika takdir dan keadaan memang berpihak pada kita..maka jalani seterusnya. Jika sebaliknya, maka kita harus terima untuk putus!" ujar Liliana tegas. Dia tidak mau menjalin hubungan tanpa komitmen.


Ya Tuhan, apa keputusanku ini benar?


Max tersenyum lembut, "Baiklah kekasihku," jawabnya santai.


Haha.. kau sudah ada dalam genggamanku. Bagaimana bisa kau lari? Mau putus denganku? Kau bahkan tidak boleh bermimpi,


Max pun berpamitan setelah perasaannya tersampaikan dan perasaan Liliana juga sudah dia dengar. "Ingatlah satu hal saat di istana nanti, jangan pernah melawan ratu. Kalau dia atau gadis bangsawan lain macam-macam padamu, kau harus lapor padaku!"


#END FLASHBACK


Kini pria itu sudah menjadi seorang ayah dan dia adalah suamiku.


"Cup cup sayang...jangan menangis."


"Maxim..." lirihnya.

__ADS_1


"Istriku! Kau sudah sadar?" Mata Max membulat melihat sang istri sudah siuman. Dia mendekati Liliana dengan tersirat senyuman mengembang di bibirnya.


...*****...


__ADS_2