
...🍀🍀🍀...
Daisy bersandar didalam pelukan Liliana, dengan bercucuran air mata. Setelah mendengar fakta tentang Adaire yang ternyata dibunuh oleh Adara.
"Jadi.. itu benar.. nona Adaire.. nona ku yang malang...hiks," Daisy meratapi Adaire yang berakhir tragis ditangan Adara dan Arsen.
Liliana memeluk Daisy, tangannya menepuk-nepuk punggung pelayan setianya itu seraya menenangkannya. Meskipun dia sendiri sedih karena ingatannya tentang kejadian di kapal pesiar itu kembali terlintas dikepalanya.
"Tidak apa-apa, Daisy.. sekarang kau bisa menangis sepuas hatimu, tapi nanti kau tidak boleh menangis lagi," ucap Lily dengan mata berkaca-kaca memeluk wanita paruh baya itu.
"Nona Adaire...nona ku sangat baik, kenapa mereka jahat kepada nona ku.. huuuhuuu.." Daisy menangis terisak-isak didalam pelukan Liliana.
Adrian melihat kesedihan pada dua wanita itu tentang kematian Adaire. Apalagi setelah Adrian mendengar cerita dari Daisy sebelumnya, bahwa Adaire adalah gadis yang baik dan selalu dikucilkan oleh semua orang karena tubuhnya yang gemuk dan wajahnya yang memiliki tompel besar. Adrian juga tidak percaya bahwa Adara yang dikenal lembut akan melakukan hal sekejam itu pada Adaire saudaranya sendiri.
Setelah cukup lama menumpahkan air matanya, Daisy kembali bangkit. Dia menatap Liliana dan berkata bahwa dia akan mengatakan kebenaran ini pada Duke Geraldine.
"Saya tidak bisa membiarkan semua ini.. saya akan beritahukan ini pada yang mulia Duke!" Daisy menyeka air matanya, dia berjalan terburu-buru ingin segera memberitahu Duke Geraldine tentang apa yang dia dengar.
Liliana memegang tangan Daisy, menahan wanita paruh baya itu untuk pergi. "Daisy, jangan.." pinta Lily kepadanya.
"Nona, tolong lepaskan saya! Saya akan memberitahu ini pada yang mulia Duke," ucap Daisy seraya meminta Liliana untuk melepaskannya.
"Daisy dengarkan aku dulu! Jika kau memberitahukan ini pada yang mulia Duke, apakah dia akan percaya begitu saja? Ini soal anaknya membunuh anaknya yang lain, menurutmu apa dia akan percaya dari kata-kata yang diucapkan oleh seorang pelayan tanpa bukti?" tanya Liliana berfikir realitis.
Daisy terdiam mendengar ucapan Liliana, dia merasa ucapan gadis itu ada benarnya juga. Siapa yang akan percaya dengan ucapan pelayan seperti dirinya? Yang ada dia malah akan dihukum berat karena dituduh menyebarkan fitnah pada bangsawan. "Ta-tapi saya tidak bisa membiarkannya begitu saya, saya tidak bisa,"
"Apa yang dikatakan nona Liliana benar, kita tidak bisa seenaknya berbicara tanpa bukti. Apalagi jika itu menyangkut yang mulia Duke, gelar satu tingkat dibawah kaisar. Kita tidak bisa sembarangan." Adrian ikut bicara dan menjelaskan pada Daisy bahwa dirinya akan berada dalam bahaya kalau bicara sembarangan tentang keluarga yang bergelar satu dibawah kaisar. Duke Geraldine adalah gelar tertinggi setelah kaisar.
Liliana mengangguk setuju, dia mengatakan pada Daisy untuk bersabar terlebih dahulu. Dia akan mengungkapkan pembunuhan itu disaat waktu yang tepat dan tempat yang tepat. Dalam hatinya, Liliana ingin menyiksa Adara dan Arsen lebih lama sebelum mengungkapkan semuanya.
"Aku adalah teman Adaire, aku akan mengungkapkan kebenaran tentang kematian! Jadi kumohon Daisy, bersabarlah lebih dulu," ucap Liliana sambil memegang kedua bahu Daisy.
Ini keadilan untukku sendiri. Aku akan pastikan mereka mendapatkan neraka sebelum mereka mati. Kedua mata berwarna birunya memancarkan kemarahan dan dendam yang membara pada kedua pembunuhnya.
"Nona Lily.." lirih Daisy sambil menangis.
Setelah itu mereka kembali ketempat semula tanpa ketahuan oleh orang-orang di rumah itu. Liliana juga menghapus hiasannya yang berpura-pura menjadi hantu Adaire.
__ADS_1
Tiba-tiba saja saat Liliana akan pergi tidur dan berada didalam kamarnya, suara teriakan seorang wanita terdengar melengking keras.
"TIDAK! Aku tidak mau mati! Pergi saja sendiri!"
Liliana tersenyum, dia beranjak dari ranjangnya. "Adara, aku datang!"
Dari dulu kau paling takut dengan hantu, sepertinya kali ini masih sama.
Semua orang yang berada di rumah itu berkumpul didepan kamar Adara, terlihat Adara berteriak-teriak tidak karuan dengan histeris. Disana juga ada Arsen yang sedang berusaha menenangkan Adara. Suara Adara telah menimbulkan kegaduhan hingga membuat semua orang datang ke kamarnya.
"Sayang, apa yang terjadi? Kenapa kau berteriak seperti ini?" tanya Arsen sambil meraih kedua tangan istrinya, seraya menenangkan Adara.
"Dia.. dia masih hidup Arsen! Dia masih hidup, dia ada disini.. dia mengajakku pergi bersamanya!" Teriak Adara panik ketakutan, tubuhnya gemetar hebat. Belum lagi kejadian tadi siang yang membuatnya syok dan kehadiran sosok Adaire membuatnya semakin ketakutan.
"Siapa? Siapa maksudmu?" tanya Arsen pada istrinya.
"Kak Adaire.. dia.. dia datang.." gumam Adara sambil menggigit jarinya.
"Kau bicara apa? Adaire sudah meninggal, sepertinya kau bermimpi,"
Kenapa tiba-tiba Adara membicarakan tentang Adaire? Orang-orang masih berada disini dan mereka bisa curiga.
Semua orang disana yang mendengarnya langsung berbisik-bisik. Kemudian Duke Geraldine dan Liliana masuk ke dalam kamar itu untuk melihat apa yang terjadi disana.
"Ada apa ini Arsen? Adara?" tanya Duke Geraldine dengan mata menatap pasangan suami-istri itu.
"A-ayah.." Arsen gelagapan, tak tahu harus bagaimana menjelaskannya.
"Kenapa Adara berteriak malam-malam begini? Apa kalian bertengkar?" tanya Duke Geraldine menebak apa yang terjadi disana.
"A-ayah, tolong aku ayah.. tolong aku!" Adara menghampiri ayahnya sambil memeluk pria paruh baya yang wajahnya itu. Tangannya gemetar, ingatan tentang sosok hantu itu masih terngiang dikepalanya.
"Ada apa? Apa ada yang menyakitimu lagi?" tanya Duke Geraldine sambil memegang tangan putrinya dengan cemas.
"Aku melihat kak Adaire, aku melihat kak Adaire.. dia.. dia bilang ingin mati bersamaku," Adara menangis tersedu-sedu di pelukan ayahnya.
Duke Geraldine tercekat mendengar nama putrinya yang sudah tiada kembali disebutkan. "Adara, kau ini bicara apa? Kakakmu sudah tiada, kau pasti bermimpi!" bentak Duke Geraldine pada Adara.
__ADS_1
Aku sedang berperang dengan kenyataan pahit tentang Adaire, kenapa Adara malah mengungkitnya?
Ayah, mengapa ayah terlihat marah saat namaku disebut? Apa ayah tidak mau mendengar namaku lagi?
Liliana sedih karena Duke Geraldine terlihat marah ketika nama Adaire disebut.
"Iya ayah sepertinya Adara bermimpi. Adara, ayo kita kembali tidur," Arsen mengajak istrinya kembali tidur. Dia tidak mau Adara berbicara yang macam-macam lagi tentang Adaire dan bisa membongkar rahasia pembunuhan itu.
"Tidak! Kak Adaire akan datang lagi dan dia akan membunuhku!" Teriak Adara histeris.
Tangan Arsen melayang menampar istrinya, barulah Adara diam setelah ditampar oleh suaminya. "Arsen.. kenapa kau memukulku?"
"Ayah, maafkan aku.. aku memukulnya agar dia sadar!" Arsen meminta maaf pada ayah mertuanya karena sudah menampar Adara.
"Arsen, tenangkan istrimu!" titah Duke Geraldine.
"Ya ayah," jawab Arsen patuh, dia membawa Adara ke ranjangnya untuk beristirahat.
Malam itu dan malam-malam berikutnya selalu menjadi malam yang sangat mencekam untuk Adara. Bayangan Adaire selalu menghantui dirinya. Liliana selalu menyempatkan dirinya untuk mengerjai Adara dengan berpura-pura menjadi hantu, dibantu oleh Adrian dan Daisy.
...*****...
Istana kerajaan Istvan, Max sedang berada didalam kamarnya. Dia bersama Pierre yang membawa undangan untuk pesta itu.
"Kau bilang yang mulia Ratu sudah mengirimkan beberapa undangan untuk calon putri mahkota?" tanya Max tidak senang.
"Benar yang mulia," jawab Pierre sambil menundukkan kepalanya.
"Haahhh.. dia masih saja berbuat seenaknya. Aku kan sudah bilang kalau aku sudah punya calonku sendiri," gumam Max kesal pada ibu tirinya yang ikut campur dengan urusannya.
"Apa yang harus saya lakukan yang mulia?" tanya Pierre.
"Tidak apa, karena undangan sudah disebarkan oleh pihak Ratu. Maka biarkan saja wanita-wanita itu datang, karena wanita pilihanku hanya satu!" Max tersenyum teringat seseorang yang membuatnya bahagia.
"Saya mengerti, apa saya harus mengirimkan undangannya langsung?" Pierre tersenyum, dia bersiap menerima perintah.
"Undangan untuknya, aku akan mengantarnya sendiri. Karena dia spesial," ucap Max sambil tersenyum lebar. Dia tak sabar menantikan pesta yang akan segera berlangsung.
__ADS_1
...---****---...