Second Life Liliana

Second Life Liliana
Bab 170. Apa kau sakit?


__ADS_3

...🍁🍁🍁...


"Selamanya dia tidak akan pernah menjadi milikmu karena cinta tau kemana dia harus pulang."


Deg!


Aiden yang baru saja keluar dari ruangan yang ada di dalam penginapan itu, tiba-tiba saja berdebar ketika mendengar suara si wanita tua yang dia dengar di restoran tempatnya makan siang tadi. Mengapa si wanita tua itu berada di mana-mana? Pikirnya dalam hati.


Dan mengapa si wanita tua itu selalu mengatakan hal-hal yang menyindirnya. Aiden benar-benar tidak paham dan pada akhirnya dia pun kesal. "Kau! Kenapa kau ada di sini? Apa mungkin kau mengikuti aku?" tanyanya sarkas pada Brieta.


"Tuan, saya mohon jangan terlalu percaya diri. Saya tidak mengikuti anda, saya hanya membacakan puisi saja."


"Omong kosong! Kau bukannya membaca puisi tapi kau telah menyinggung perasaanku, lalu kenapa kau berada di sekitarku terus? Kau... apa ada yang kau inginkan dariku?" Tanyanya sarkas lagi, dengan mata melotot pada Brieta.


Brieta tersenyum tipis, "Saya tidak menginginkan apa-apa dari tuan."


"Lalu kenapa kau terus berkeliaran di sekitarku dan menyakiti mataku ini?!" Seru Aiden kesal.


Aiden yang sudah kesal pada Max dan Liliana, kini melampiaskan kekesalannya kepada wanita tua yang tidak bersalah itu.


"Kenapa saya harus mengikuti anda? Saya memang kesini untuk menginap." Brieta tersenyum menyeringai lagi, seolah mengejek Aiden.


"Hei! Wanita tua, kesabaranku sudah habis!" Aiden menunjukkan jarinya pada wajah Brieta.


Dan pada akhirnya terjadilah keributan antara Aiden dan Brieta yang memberikan waktu pada Liliana Max untuk berduaan di dalam kamar.


Sepertinya Brieta memang sengaja membuat masalah, untuk menciptakan suasana berdua antara Max dan Liliana.


****


"Tuan...apa kau baik-baik saja?" Tanya Liliana sambil mengompres badan Max yang masih terasa panas.


Dalam hati ia bertanya-tanya, kenapa ia sangat peduli pada orang asing yang kini berada dihadapannya.


Max masih membisu, dia masih merasakan sakit dan panas di sekujur tubuhnya. Namun aneh, saat dirinya berada didekat Liliana. Panas itu mulai mereda dan dia tidak berubah menjadi iblis setengah ular.

__ADS_1


"Tuan...apa tuan sudah bisa bicara?"


"Kau...bisakah kau pegang tanganku?" Pinta Max dengan nafasnya yang masih terengah-engah. Wajah Max peluh keringat yang basah, matanya menatap Liliana dengan nanar.


Seharusnya dan normalnya, Liliana menolak permintaan Max. Tapi anehnya Liliana tidak sanggup menolak permintaan Max, termasuk ciuman yang terjadi malam itu. Seperti ada ikatan kuat diantara mereka berdua.


Tangan Liliana menggenggam tangan Max perlahan-lahan, kemudian menyelipkan jari-jarinya pada jari besar Max dan menggenggamnya dengan erat.


Tangannya masih terasa panas, tapi ini sudah lebih baik dari yang tadi.


Max tersenyum di wajah pucatnya itu, dia membalas genggaman erat tangan Liliana padanya. "Apa tuan sudah merasa lebih baik?" Tanya Liliana sembari melihat wajah pucat pria itu.


Apa ini alasan Brieta memintaku untuk membawa Liliana kembali? Karena dia bisa menenangkan segel iblis yang berada didalam tubuhku? Aku...menjadi tenang karena sentuhannya walau tubuhku masih terasa sakit.


"Tuan, aku bertanya padamu. Tolong jawab!" Ujarnya lagi karena merasa diabaikan.


"Aku...sudah baik-baik saja. Terimakasih karena kau masih mau membantuku, walau aku sudah bersikap kasar padamu."


"Ya, tidak apa-apa. Aku juga tidak tau kenapa aku masih peduli pada pria yang jelas-jelas bersikap kasar padaku dan sikapnya selalu berubah-ubah seperti ombak di pantai." Oceh Liliana mengutarakan kekesalannya pada Max.


Max menyunggingkan senyuman manis dibibirnya. "Kau lebih cerewet dari yang dulu, mungkin karena dulu kau banyak tertekan tinggal di istana. Maafkan aku," gumam Max tanpa sadar mengatakan itu.


"Ah? Aku tidak bilang apa-apa." Sangkalnya.


Sial! Kenapa bisa keceplosan?. Max panik.


"Bohong! Jelas-jelas aku mendengar semuanya, tentang istana dan--tuan apa mungkin kau mengenalku sebelumnya?" Tanya Liliana pada pria itu.


"Tidak sama sekali."


"Tuan--"


"Aku bilang aku tidak mengenalmu sebelumnya, aku pikir kau mirip dengan seseorang yang ku kenal."


Sontak saja ucapan Max membuat Liliana salah paham. "Jadi kau selalu tampak bingung padaku karena aku mirip dengan seseorang yang kau kenal?"

__ADS_1


Apa mungkin kekasihnya? Atau istrinya? Jadi aku hanya mirip dengannya saja.


Lagi-lagi Max menciptakan masalah baru dengan mengatakan tentang seseorang yang mirip dengannya pada Liliana. Namun, dia mencoba menjelaskan kepada Liliana agar gadis itu tidak salah paham. "Tidak! Bukan begitu maksudku, aku tidak pernah menganggap sebagai orang lain...karena kau tetaplah kau!"


Lily, aku harus bagaimana? Aku bingung, kalau berdekatan denganmu apakah ini akan baik? Lalu haruskah aku ingkari janjiku? Bahkan di dalam kehidupan kali ini, aku masih ingin memilikimu. Tapi... apakah aku bisa menjagamu dan mencegah kematianmu?


Liliana tidak berbicara atau menanggapi Apa yang dijelaskan oleh Max kepadanya. Keningnya berkerut, dia sedang mencerna apa yang baru saja dia dengar. Gadis itu pun melepas genggaman tangannya dari Max dan beranjak pergi dari sana.


Ketika Liliana baru beberapa langkah menuju ke pintu, tiba-tiba saja Max mengerang. Dia terduduk dan matanya berubah menjadi merah menyala. "Rrrrrrrr....."


Liliana terbelalak melihat sosok Max seperti itu. "Astaga! Tuan, kenapa kau..."


Max yang sudah berada didalam kendali segelnya. Berjalan mendekati Liliana yang berada didekat pintu. Alangkah terkejutnya Liliana saat dia melihat mulut Max terbuka lebar dan ada gigi taring seperti dracula.


"Hah! Tuan, kau kenapa? Tuan!" Mata Liliana melebar, ia gelisah dan takut melihat sosok Max yang berbeda itu. Apalagi ketika Max menyandarkannya ke pintu. "Tuan.. apa yang akan kau lakukan?"


Max menatap Liliana dipenuhi hawa n*fsu yang membara. Mulutnya menganga menunjukkan taringnya dan kini terlihat sisik sisik di kulitnya yang awalnya putih dan bersih itu. "Tu-tuan..."


HUP!


"Aaahhhhh!!" Pekik Liliana terkejut, dia tak menyangka bahwa Max akan mengigit lehernya dan menghisap darahnya. "Lepas... lepaskan--ughh.. sakit..." Perlahan air mata jatuh membasahi pipi Liliana.


Setelah beberapa saat kemudian, Liliana jatuh terduduk dengan lemas. Mulut Max berlumuran darahnya dan Max kembali seperti sedia kala. "Nona Liliana!" Matanya melebar menatap gadis itu.


Kesadaran Max kembali ketika melihat Liliana terduduk dengan kondisi leher berdarah. "Ughh...."


"Kau...kau baik-baik saja...maafkan aku, maafkan aku!" Max membantu Liliana berdiri, kemudian dia menggendong Liliana sampai ke atas ranjang.


Maximilian, apa yang sudah kau lakukan kepadanya?!


Max mengobati Liliana dengan tangannya sendiri, dia merasa bersalah telah membuat Liliana terluka. Namun setelah meminum darah Liliana, dia merasa lebih baik bahkan panas ditubuhnya mereda.


Sedari tadi Max terus meminta maaf pada Liliana dan gadis itu sedari tadi juga hanya bungkam. Hingga akhirnya dia buka mulut juga. "Tuan...apa kau sakit? Apa penyakitmu sehingga kau seperti itu?"


Sakit? Liliana pikir aku memiliki sebuah penyakit?

__ADS_1


Max menatap sedih pada Liliana. Haruskah ia mengatakan segalanya tentang masa lalu? Ataukah dia memilih bungkam lagi?


...****...


__ADS_2