Second Life Liliana

Second Life Liliana
Bab 160. Wanita rumah bordil


__ADS_3

...🍀🍀🍀...


Aku tak percaya, kau hidup...kau hidup...kau benar-benar Lilyku.


Bayangan kematian Liliana dan anak yang ada didalam kandungannya membuat Max teringat masa lalu menyakitkan.


Max menatap dan membelai wajah Liliana dengan penuh kerinduan. Liliana bisa melihat air mata yang mengalir dari kedua bola matanya yang berwarna hitam itu, tersirat ada kesedihan dalam tatapannya. Walaupun wajah Max berada dibalik topeng, dia masih bisa melihatnya kalau pria itu tampan.


Liliana merasa aneh. Mengapa ia tak bisa menghentikan ataupun menolak sentuhan Max padanya? Dia juga bingung, kenapa tiba-tiba dia merasa sedih.


Aneh sekali, kenapa aku melihat kesedihan dimatanya ya? Kenapa juga aku membiarkan dia menyentuh wajahku? Harusnya saat ini aku marah, tapi kenapa aku tidak bisa?


Ada rasa yang tak bisa dijelaskan oleh logika dan hati yang merasakannya. Liliana tak bisa menghindari sentuhan dari pria itu padanya. Seketika hatinya luluh melihat air mata Max, pria yang tidak dikenalnya itu.


"Tu--an..." akhirnya Liliana membuka mulutnya untuk bicara.


Max masih belum fokus, dia masih tenggelam dalam rasa rindunya. Tangannya masih membelai pipi Liliana, tak beranjak dari sana. Selama pria itu tak melakukan hal yang lebih, Liliana membiarkannya saja.


"Tuan, anda mau cerita apa pada saya? Siapa tau saya bisa meringankan beban di hati tuan?" Tanya Liliana pada Max. "Ya...walaupun saya tidak bisa membantu, setidaknya saya bisa menjadi pendengar yang baik untuk tuan!"


Sepertinya tuan ini memiliki masalah hidup yang berat.


Tak lama kemudian, Max tersadar dari lamunannya. Dia melepaskan tangannya yang semula membelai pipi Liliana. "Maaf...aku tidak bermaksud untuk--"


"Tuan, kenapa tuan menangis? Apa tuan menangis karena merasa berdosa kepada istri dan anak tuan?"


Tadinya pria itu bersedih, lalu dia menyeka air matanya karena mendengar pertanyaan polos dari Liliana. "Hah? Apa maksudmu?"


"Tuan... seharusnya kau tidak usah datang kemari kalau kau merasa bersalah pada anak dan istrimu."


"Tunggu....tunggu-- darimana kau berpikir seperti itu? Aku? Punya anak dan istri?" Max menunjuk pada dirinya sendiri.


Dengan polosnya wanita itu menganggukkan kepala. "Lalu kenapa tuan menangis saat datang kemari kalau bukan karena tuan merasa berdosa? Buang-buang uang saja!"


"PFut...." Max menahan tawanya.


"Kenapa tuan malah tertawa?"


"Kau semakin lucu saja," Gumam Max yang lalu tersenyum tipis pada Liliana.


Kenapa melihat senyuman tuan ini, aku merasa aneh?. Liliana memegang dadanya yang sesak.


"Lalu tuan, untuk apa tuan kemari? Tuan sudah membeli satu malam untuk mengobrol bersama saya dengan harga yang sangat mahal, bahkan saya hanya di jual dengan harga 700 koin emas." Liliana jadi banyak bicara dan tanpa sadar malah mengatakan curahan hatinya pada Max.

__ADS_1


"Kau dijual seharga 700 koin emas? Siapa yang menjualmu?!" Max langsung bicara dan menghadap ke arah Liliana.


Apa pria brengsek itu?


"Ayahku...walaupun aku tidak tahu apakah dia benar ayahku apa bukan. Karena dia sangat jahat padaku." Bibir Liliana mengerucut saat menceritakan ayahnya.


"Jahat? Jahat bagaimana?" Tanya Max semakin penasaran dengan cerita Liliana selama dia tidak menemuinya.


"Ayah selalu--ah sudahlah, jangan dibahas lagi. Kenapa malah aku yang bercerita? Harusnya tuan yang bercerita dan aku yang mendengarkan."


"Tidak, aku ingin mendengar ceritamu juga. Kumohon ceritakan padaku." Pinta Max sambil tersenyum tipis.


"Ta-tapi saya disini bukan untuk bercerita pada tuan!"


Tuan ini kelihatannya sangat baik. Dia bahkan tidak berbuat mesum padaku.


"Tidak apa-apa, cerita saja. Aku mau dengar ceritamu."


"Sebenarnya saya---"


Kruuukkkk...


Kruuukkkk...


Max tersenyum gemas melihat tingkah polos Liliana yang masih sama seperti dulu. Kemudian pria itu beranjak dari atas ranjang, dia mengambil satu porsi makanan yang sudah disiapkan untuk dirinya. Lalu dia memberikan makanan itu pada Liliana. "Makanlah."


"Saya tidak lapar."


Kruuukkkk...


"Haha, itu suara...itu suara hewan di atap!" Liliana tertawa canggung, dia menunjuk ke arah atap sambil tersenyum.


Perut ini benar-benar tidak bisa diajak kompromi. Liliana masih memukul mukul perutnya.


"Benar, itu suara ayam berkokok." Pria itu tersenyum tipis, lalu dia duduk kembali disamping Liliana.


"Apa tuan sedang mengejek saya?" Gadis itu menatap ke arah Max dengan tajam.


"Aku tidak mengejek. Hem...tapi lebih baik kau makan dulu, aku kan ingin mengobrol denganmu."


Sikap Lily yang sekarang benar-benar polos. Tapi dia tetaplah Lily-ku.


"Tapi saya---"

__ADS_1


"Kita makan berdua ya?" Ajak Max pada Liliana.


Entah kenapa mendengar kata makan berdua, membuat suasana terasa romantis. Lalu mereka berdua pun bicara sambil makan bersama, tadinya Liliana menolak tapi dia tak tahan lapar. "Oh ya, aku mau tanya."


"Ya?"


"Apa kau pernah bertemu pria lain sebelum bertemu denganku di tempat ini?" Tanya Max pada Liliana sekedar berbasa-basi. Padahal dia sudah tau kalau Liliana baru masuk ke tempat itu.


"Tidak, bapak adalah yang pertama. Saya kan orang baru disini."


"Oh begitu ya? Apakah mereka ada melukaimu? Apa mereka menyiksamu?" Tanya Max lagi.


Huh! Awas saja kalau si madam menor itu berani menyakitimu.


"Tidak, malah mereka sangat menjagaku dengan baik. Ya itu pasti karena mereka tidak mau aku terluka, aku kan primadona disini! Hehe."


"Kau tampak senang tinggal disini?" Max menangkap bahwa Liliana senang tinggal di club' diamond itu.


"Tidak! Mana mungkin aku suka tinggal disini, tempat kotor yang melayani banyak pria hidung belang. Sejujurnya...tuan, aku juga ingin pergi dari sini, tapi tuan jangan bilang siapa-siapa ya." Jelas Liliana pada Max.


"Baiklah, aku tidak akan memberitahu siapapun. Kalau kau tidak suka tinggal disini, lalu kenapa kau masih berada disini?"


"Aku hanya menunggu waktu yang tepat untuk keluar. Setelah dapat uang, aku akan kabur! Ya, begitulah."


"Apa kau mau kabur denganku?"


"Eh?" Liliana mendongakkan kepalanya. Dia menatap Max yang katanya mengajak pergi.


"Aku bisa membawamu ke kota, tempat yang aman dan kau tidak akan dikejar-kejar oleh ayahmu lagi. Itupun kalau kau mau."


"Aku--aku bahkan tidak mengenalmu, aku tidak tahu kau orang baik atau orang jahat. Jadi, mana mungkin aku ikut denganmu." Liliana tersenyum, dia menjawab dengan jujur dan secara terang-terangan kalau dia tidak mau ikut bersama Max.


Max terdiam sejenak, benar juga. Mana mungkin Liliana mau ikut dengannya, sekarang mereka tidak saling kenal. Lalu Max juga sudah berjanji tidak akan menganggu Liliana lagi dan membiarkannya hidup bahagia.


Ketika mereka berdua sudah selesai makan, tiba-tiba terdengar suara gaduh dari luar. "Tangkap semua orang yang ada disini! Mereka yang tertangkap akan di hukum sangat berat!" teriak seseorang dari luar.


Liliana langsung panik. "Bagaimana ini? Apakah itu adalah petugas dari kota---atau?".


"Nona, ayo kita melarikan diri!" Max yang memasang wajah panik, mengulurkan tangannya untuk membawa Liliana kabur dari sana.


Liliana lagi-lagi merasakan Dejavu, seperti pernah terjadi hal ini sebelumnya. Wanita itu menatap Max dalam-dalam.


...****...

__ADS_1


__ADS_2