
Anak laki-laki yang tak tampak seperti manusia itu, jalan dengan tubuh membungkuk. Dia berlari dengan cepat menghampiri Max. Para prajurit yang diperintahkan untuk mundur, malah mendekat maju untuk melindungi Max.
"Aku bilang mundur!" Teriak Max yang sudah bersiap dengan pedangnya.
"Arrghhhhhhhhhh!!!" suara anak laki-laki itu melengking menyeramkan.
Anak laki-laki itu seperti akan menerkam Max, dengan cepat Max menebas lehernya. Kepalanya menggelinding ke bawah dengan berlumuran darah.
SRAT!!
Para prajurit itu bingung melihat kepala anak laki-laki itu masih bergerak-gerak bahkan matanya masih berputar. Bahkan mulutnya masih bersuara, meski telah terpisah dari tubuhnya.
Bulu kuduk para prajurit itu berdiri melihatnya. Mereka belum pernah melihat makhluk seperti ini. Tapi Max sama sekali tidak takut dengan mahluk itu, wajahnya tetap tenang saat menghadapi bahaya didepan mata.
Kyle memperhatikan Max, dia berpendapat dalam hatinya bahwa Max memang pantas menjadi raja dibandingkan siapapun di kerajaan Istvan.
"Eugene, minyak tanah!" Titah Max pada Eugene.
"Baik yang mulia," ucap Eugene patuh.
Ksatria tingkat atas itu mengambil minyak tanah dan korek api. Dia menyerahkan kedua benda itu pada Max. Dengan cepat Max segera membakar tubuh dan kepala si anak laki-laki itu.
Dia bisa saja menggunakan sihir api, namun dia tidak menggunakannya dengan alasan hemat tenaga. Kekuatannya hanya untuk keadaan sangat darurat, bahkan untuk kekuatan teleportasi juga.
Wush~~
Anak laki-laki itu terbakar hangus, disaat bersamaan. Max membersihkan darah yang terciprat ke wajahnya dengan sapu tangan.
__ADS_1
"Sial! Bagaimana bisa dia ada disini?" Gumam Max sambil melihat ke arah mayat yang baru dan dibakar hangus olehnya itu.
"Yang mulia, makhluk apa ini?" Tanya Kyle yang tidak bisa mengendalikan rasa penasarannya.
"Kita cari tempat yang aman dulu, baru bicara." Kata Max dengan wajah datarnya.
Aura dan Kharisma pria itu memang tidak bisa diragukan. Di medan perang dia menjadi monster yang tak takut mati, dia selalu serius jika sedang berada dalam pertempuran. Ketika didepan Liliana saja dia seperti kucing besar yang jinak.
Max dan para prajurit beristirahat di sebuah rumah mewah yang kosong tak berpenghuni. Disana mereka beristirahat lebih dulu.
"Yang mulia apa mereka ada makhluk itu?" Tanya Eugene pada Max.
"Benar, dilihat dari ciri-cirinya sepertinya begitu." Max mengambil botol minum lalu meneguk minumannya.
"Saya pikir mahluk itu hanya mitos," gumam Eugene sambil mendesah tak percaya.
"Mereka sepertinya adalah bangsa yang ada didalam mitos, iblis yang menghisap darah manusia untuk memperbanyak keturunannya. Setelah mereka menggigit manusia, maka manusia itu akan mati atau menjadi iblis." Jelas Max.
Prajurit-prajurit itu tercengang mendengarnya, mereka tak percaya bahwa bangsa iblis yang hanya ada dalam mitos dan selalu diceritakan nenek moyang mereka ternyata benar-benar ada.
Mereka yang biasanya bertarung dengan manusia, saat ini mereka harus berhadapan dengan makhluk yang bukan manusia.
Ketika Max sedang menjelaskan tentang bangsa iblis, tiba-tiba saja ada sesuatu menarik kaki seorang prajurit.
"Arrghhhhhhhhhh!"
"Kakiku!" Prajurit itu panik saat dia merasakan ada gigi tajam yang menggigit kakinya.
__ADS_1
Beberapa prajurit disana berusaha menolong teman mereka, namun cengkraman seseorang yang berada dibawah tanah itu terlalu kuat. Akhirnya Max turun tangan dan menolong prajurit itu.
Tangannya mengeluarkan api dan membakar tangan iblis itu. Alangkah kagetnya Max dan semua prajurit disana, ketika cahaya dari api itu memperlihatkan sebuah lubang besar di bawah tanah yang dipenuhi makhluk sejenis iblis itu berusaha merangkak ke atas.
"Astaga! Yang mulia, lihat mereka!" Seru seorang prajurit panik.
"Sial! Mereka pasti semua penduduk desa yang sudah menjadi iblis! Semuanya mundur!" Teriak putra mahkota kerajaan Istvan itu pada semua prajurit.
Para prajurit di latih untuk menghabisi manusia dimedan perang, mereka belum dilatih untuk menghabisi iblis. Yang ada, mereka semua akan mati.
Prajurit-prajurit itu patuh pada perintah Max, mereka berjalan mundur, karena mereka tak tau bagaimana cara menghadapi bangsa iblis ini.
Hanya Eugene dan Max yang sudah terlatih berada lama di medan perang yang tau cara membunuh bangsa iblis. Max menggunakan kekuatan apinya untuk membuat iblis iblis itu terbakar.
"AHHHh!"
Saat Max dan Eugene sibuk menghadapi bahaya didepan, Kyle malah diam saja dan fokus memperhatikan Eugene. Dia mencari waktu yang pas untuk membunuhnya.
Padahal semua prajurit sedang sibuk membantu Max dan Eugene sebisa mereka, Kyle malah bersantai dibelakang menghindar dari bahaya. Dia tak peduli dengan ksatria lainnya.
Ini membosankan. Aku harus cari cara untuk membunuh sir Eugene, lalu segara pulang dari sini.
"Penggal kepalanya! Lalu bakar! Cepat!" Teriak Eugene pada Prajurit-prajurit yang lain.
"Kita tidak boleh membiarkan kepalanya sampai tersambung dengan badan, dan jangan sampai tergigit!" Ujar Max sambil menebas leher para manusi yang sudah menjadi iblis itu. Mereka naik dari lubang itu ke permukaan.
...----****----...
__ADS_1