
...🍀🍀🍀...
Ketika semua orang bahagia dengan kabar kehamilan Laura. Freya lah satu-satunya orang yang tidak bahagia dengan kabar baik itu. Dia tak sudi anaknya hamil oleh Eugene, pria yang di matanya masih memiliki status rendah. Sebab di berasal dari kalangan biasa.
Namun didepan semua orang, Freya berusaha memaksakan sebuah senyuman di bibirnya. Entah apa rencana jahat yang akan direncanakannya kali ini.
"Sayang, selamat ya menantuku....khirnya kau memberiku seorang cucu." Sambut Freya pada Eugene memberi selamat.
"Iya ibu..." jawab Eugene bingung.
Tentu saja Eugene, Max dan Liliana tidak langsung percaya dengan wajah ramah dari Freya. Mereka merasa aneh, sebab Freya sangat menentang hubungan Eugene dan Laura.
Hem, ada apa ini? Mengapa dia terlihat baik?
Liliana menatap ke arah Freya dengan tajam, dia curiga dengan sikap Freya saat ini. Sikap yang berpura-pura. Tak lama kemudian, Laura mulai sadarkan diri. Ia merasakan tangan hangat yang menggenggamnya. Kemudian dia melihat ada tabib, Max, Liliana bahkan ibunya juga.
"Kenapa kalian semua ada di sini? Apa yang terjadi?" tanya Laura bingung, sambil memegang kepalanya.
"Istriku, syukurlah kau sudah siuman. Ya Tuhan... terima kasih..." Eugene menangis haru, tangannya memegang perut datar Laura.
Laura mengerutkan kening, dia bingung dengan apa yang terjadi di hadapannya ini. Mengapa semua orang menangis haru dan tersenyum bahagia?
"Selamat ya putri Laura, kau dan pangeran Eugene akan segera menjadi orang tua." akhirnya Liliana angkat bicara, memberitahukan segala kebingungan Laura.
"A-apa?" Laura tercengang.
"Nak, kau sedang mengandung sekarang...selamat ya sayang." Freya memandang Laura dengan tatapan berbinar-binar, tapi Liliana tidak merasa tatapan itu tulus.
"Selamat yang mulia putri, yang mulia pangeran...yang mulia putri sedang hamil dan usia kandungannya menginjak satu bulan," tutur Chris yang juga turut tersenyum bahagia.
"Aku hamil?!" Laura langsung duduk diatas ranjang, matanya berbinar-binar seakan tak percaya dengan berita yang didengarnya ini.
Bahwa ada kupu-kupu yang berada di rahimnya. Sontak gadis itu memegang perutnya, Eugene juga sama. Dia begitu bahagia dengan berita ini. Dia akan menjadi seorang ayah.
"Kalau begitu, kalian beristirahatlah. Terutama kau putri Laura, kalau nggak segera menjadi seorang ibu dan harus bisa menjaga anakmu baik-baik, kesehatanmu itu penting." jelas Max perhatian.
"Ah ya...dan untukmu pangeran Eugene, kau harus menjaga istri dan calon anak yang berada di dalam sana." Lanjut Liliana mengingatkan kepada Eugene untuk selalu menjaga istri dan calon anak mereka.
Kemudian semua orang pergi meninggalkan kamar itu, kecuali Freya. Freya memberikan banyak perhatian dan terlihat bahagia ketika mendengar berita putrinya yang sedang hamil itu.
"Menantuku, kau tidak boleh membiarkan istrimu sampai kelelahan...kau harus menjaga calon cucu ibu." ucap Freya sambil mengelus perut Laura.
"Iya ibu, saya akan selalu menjaga istri dan calon anak saya. Maafkan saya sudah membuat ibu kecewa." ucap Eugene meminta maaf atas perlakuannya sebelumnya.
"Tidak apa-apa nak, yang terpenting sekarang adalah kesehatan calon cucu dan anakku. Kau jagalah baik-baik mereka!" Freya tersenyum, dia menepuk bahu Eugene dengan lembut.
Laura tersenyum senang, Dia merasa bahwa keramahan ibunya ini adalah bentuk perubahan sikapnya menjadi lebih baik. Dengan polosnya dia percaya akan hal itu. Eugene juga percaya bahwa Freya berubah.
#Namun di kamar Liliana dan Max#
Liliana berbincang dengan suaminya tentang perilaku Freya yang aneh. Max juga sepemikiran dengan istrinya, pasti ada sesuatu di balik sikap Freya ini. Tidak mungkin tiba-tiba saja wanita yang selalu menentang hubungan anaknya itu, sikapnya menjadi baik.
"Apa kau percaya ibumu menjadi baik?" tanya Liliana sambil melepaskan jubahnya.
"Ibuku? Hah? Siapa yang kau panggil begitu?!" Max langsung mendelik tajam ke arah istrinya.
__ADS_1
"Hehe...baiklah aku tidak akan begitu."
Tiba-tiba saja Max memeluk Liliana dari belakang. "Dia tidak mungkin berubah begitu saja, pasti ada udang di balik batu. Aku yakin itu." ucapnya.
"Ternyata kau se pemikiran denganku. Yang mulia, kita harus meningkatkan pencegahan di sekitar Putri Laura."
"Penjagaan apa?" Max mendudukkan Liliana di pangkuannya, tangannya memainkan rambut merah sang istri.
"Aku yakin ibu suri akan melakukan sesuatu untuk menggugurkan kandungan itu."
"Hah? Apa kau yakin?" Max mendongak.
Liliana mengangguk."Ya, melihat sifatnya di masa lalu udah di masa sekarang yang tidak pernah berubah...aku yakin dia mampu melakukan hal itu."
"Hem... tapi bayi itu adalah cucunya, mana mungkin dia akan mencelakai cucunya sendiri?"
"Iya juga, tapi entah kenapa aku memiliki firasat seperti itu." Liliana mendesah, menghela nafas panjang. Dia yakin bahwa Freya mampu melakukan hal sekeji itu untuk memisahkan Laura dan Eugene.
"Semoga saja itu tidak benar. Aku akan memerintahkan pengawal untuk mengawalnya lebih ketat lagi." ucap Max sambil tersenyum.
****
Setelah itu Max dan Liliana melakukan tugas mereka sebagai raja dan ratu di negeri itu. Mereka sangat sibuk dengan pekerjaan yang menumpuk, kegiatan sosialita yang menanti Liliana untuk dihadirinya.
Selama Liliana dan Max sibuk dengan urusan mereka, Freya memanfaatkan kesempatan ini untuk mencelakai Laura. Lebih tepatnya mencelakai bayi yang ada di dalam kandungannya. Dia mendekati Laura dan suaminya, untuk meraih kepercayaan mereka. Dan benar, dia berhasil mendapatkan kepercayaan dari pasangan suami istri itu dengan perhatian palsunya.
Laura dan Eugene sama sekali tidak mencurigai sikap Freya yang berubah itu, mereka menganggap bahwa perubahan Freya adalah salah satu dari bentuk kasih sayangnya kepada calon cucunya yang belum lahir. Selama itu pula, Eugene selalu memanjakan istrinya dan mengabulkan semua permohonannya.
Suatu siang, Freya mengajak anak dan menantunya untuk makan siang bersama sambil membicarakan sesuatu yang katanya sangat penting.
"Laura putriku dan Eugene menantuku, ibu ingin membicarakan sesuatu yang penting pada kalian." ucap Freya seraya menatap kepada anak dan menantunya secara bergantian.
"Ibu sudah bicara dengan raja dan ratu, bahwa ibu ingin kalian mengadakan pesta syukuran untuk menyambut calon anak kalian."
Eugene dan Laura saling melirik saat mendengar kata pesta itu. "Pesta?"
Bicara soal pesta, Eugene dan Laura sudah sepakat sebelumnya bahwa mereka tidak ingin ada pesta besar-besaran untuk calon anak mereka. Baginya sudah cukup mengundang keluarga terdekat saja, untuk acara syukuran.
Namun Freya tidak mau acara syukuran calon cucunya itu diadakan biasa saja. Dia ingin semua orang tahu tentang kehadiran calon cucunya, ya begitulah alasannya ketika dia ditanya oleh Laura. Kenapa dia ingin merayakan pesta syukuran itu secara besar-besaran dan mengundang banyak orang?
"Apa Baginda Ratu dan Baginda raja sudah menyetujui permintaan Ibu ini?" tanya Laura.
Freya menganggukan kepalanya dan menjawab ya. Dia memang sudah bicara pada Max dan Liliana sebelumnya tentang pesta syukuran ini, mereka sama sekali tidak menentang malah mereka senang dan sangat setuju akan diadakannya pesta besar-besaran.
"Baiklah, kami terserah pada ibu saja. Kami akan melakukan apa yang Ibu inginkan." ucap Laura seraya menatap suaminya, suaminya mengangguk dan tersenyum.
Freya tersenyum lalu menyeruput teh yang ada di dalam cangkir dengan hati-hati.
Maafkan ibu, Laura...ibu tidak mau kamu mengandung benih dari rakyat jelata. Di dalam pesta itu, ibu akan melenyapkan bayimu. Karena hanya berada dalam keramaian, barulah ibu bisa melakukannya.
Sejak saat Liliana dan Max curiga tentang sikap Freya yang berubah. Max langsung memerintahkan beberapa pengawal untuk melakukan pencegahan ketat kepada Laura. Berkali-kali Freya dan orang-orangnya berusaha untuk mencelakai Laura, namun ia selalu gagal karena Laura selalu dalam penjagaan ketat pengawal itu.
Freya pun merencanakan sesuatu yang berbahaya saat pesta syukuran nanti. Dimana banyak semua orang yang datang dan dia akan mengkambinghitamkan seseorang di sana.
******
__ADS_1
Tibalah hari dimana pesta syukuran kehamilan Laura di lakukan. Banyak para tamu undangan yang hadir di sana, kebanyakan dari kalangan bangsawan. Suasana aula istana pun menjadi ramai.
"Terima kasih Baginda ratu, kau sudah membuat pesta besar-besaran untuk putri Laura." kata Freya seraya tersenyum.
"Tidak usah terima kasih kepadaku Ibu suri, aku memang berniat merencanakan hal ini." Liliana tersenyum, hingga kedua lesung pipinya terlihat.
Apa yang kau rencanakan disini Freya? Apa tujuanmu?
Liliana masih berusaha menerka apa yang direncanakan oleh Freya di pesta besar-besaran ini. Dia berusaha untuk sedekat mungkin dengan Laura agar bisa menjaganya.
Di tengah-tengah keramaian itu, Liliana malah terpisah dari Laura karena banyak yang menyapanya sebagai Ratu baru di negeri itu. Maka dari itu, Liliana memerintahkan kepada Eugene dan Annie untuk selalu berada di dekat Laura.
Disisi lain Max juga sibuk berbincang dengan para bangsawan dan menteri-menteri yang hadir. Dia di masa lalu tidak akan pernah mau berinteraksi seperti ini dengan orang banyak, namun di dalam kehidupan ini dia memutuskan untuk memperbanyak koneksinya dan relasinya. Mencoba membuka komunikasi dengan orang-orang di sekitarnya. Ia ingin dikenal sebagai raja yang baik kepada rakyat dan juga keluarganya.
Sementara itu Freya yang tadinya selalu menempel pada Laura, tiba-tiba saja pergi meninggalkan Laura bersama Eugene, Annie dan pengawal.
Freya pergi menyapa teman-temannya, kemudian terlihat Dorothy, dayang pribadi ibu suri Gallahan yang kini menjadi dayang pribadi Liliana. Sedang membawakan dua gelas minuman ke arah Laura. Diam-diam Freya tersenyum menyeringai melihatnya.
"Tuan putri, ini untuk tuan putri dan pangeran Eugene dari yang mulia Ratu." ucap Dorothy sambil menyodorkan dua gelas minuman berwarna merah dan oranye itu pada Eugene dan Laura.
"Terima kasih Dorothy," jawab Laura dan Eugene kompak.
Laura mengambil gelas berwarna merah, dari kejauhan Freya melihat itu dan tersenyum. Namun saat Laura akan meminumnya, Liliana datang menghampiri Laura dan mengambil minuman itu dari tangan Laura.
Kenapa Ratu ada disana?!. Freya panik.
"Maaf, tapi minuman yang ini untukku... Dorothy, kau ambilkan lagi yang lain. Ambilkan saja susu, ibu hamil tak boleh minum yang seperti ini." ucap Liliana yang sudah memegang gelas itu, dia meminta Dorothy mengambilkan susu saja untuk Laura.
"Baik yang mulia." jawab Dorothy lalu dia pergi dari sana.
"Ya...benar juga, ibu hamil tak boleh banyak minum minuman begini. Terima kasih yang mulia Ratu." ucap Eugene sambil tersenyum.
"Sama-sama."
Liliana pun meneguk minuman itu karena dia haus, dia tidak mengira bahwa ada sesuatu di dalam minuman itu. Belum terjadi apapun padanya hingga saat dia bersabda dengan Max, dia merasa ada sesuatu di dalam tubuhnya.
"Kau sangat cantik malam ini, istriku." puji pria itu pada istrinya.
"Kau juga sangat tampan, Maximillian..." ucap Liliana sambil memegang tangan Max, dia tersenyum.
Uh.. apa ini seperti ada sesuatu yang mau keluar dari perutku? Sa...sakit...
"Lily, are you okay?" tanya Max melihat istrinya terdiam dengan wajah pucat.
"Aku...aku....ughh..." Liliana memegang tangan Max dengan erat. Kemudian dia muntah darah, dari gaunnya juga mengucur darah segar.
"Lily! LILY! Apa yang terjadi?" Max memegang tangan Liliana, dia panik melihat istrinya kesakitan seperti itu.
"Ohok...ohok...." matanya yang sendu menatap Max.
Freya...kau benar-benar Kejam dan aku bodoh tidak menyangka rencanamu sejahat ini.
Liliana jatuh tak sadarkan diri di pangkuan suaminya. Atensi semua orang juga tertuju pada Max dan Liliana. Mereka panik melihat Liliana seperti di racun.
"Istriku! Apa yang terjadi?!" Max menggendong istrinya dengan panik. Kemudian dia memerintahkan agar semua orang yang ada di pesta tidak boleh pulang dan pengawal disuruh menutup semua akses keluar istana.
__ADS_1
Dia pun membawa Liliana ke kamarnya untuk dirawat oleh tabib. Pria itu sangat mencemaskan keadaan istrinya. Sementara itu Freya berdecih karena rencananya gagal.
...****...