Second Life Liliana

Second Life Liliana
Bab 58. Pesta (2)


__ADS_3

Raja dan Ratu berjalan ke tengah aula istana, semua tamu langsung memberikan hormat kepada pasangan kerajaan itu. Namun, putra mahkota belum terlihat disana.


"Kenapa hanya ada raja dan ratu? Padahal aku penasaran pada sosok putra mahkota, dia sudah banyak membantuku dibelakang layar. Sampai dia menemukan jenazahku," gumam Liliana berharap melihat sosok putra mahkota yang selalu membantu dirinya.


Kenapa kakak tidak muncul?


Laura keheranan, dia mencari sosok Max kemana-mana. Namun dia tidak ada disana. Hanya ada Raja dan Ratu saja yang sedang berjalan ke singgasana mereka.


"Yang mulia, dimana putra mahkota?" bisik sang Ratu pada Raja.


"Dia bilang katanya dia sakit perut," jawab Raja berbisik.


"Apa? Sakit perut? Alasan macam apa itu? Lalu apa dia akan datang atau tidak, ini kan pesta untuknya yang mulia?" tanya Ratu Freya sambil mendengus kesal.


"Dia akan datang, karena ini adalah pestanya. Kau tenang saja Ratu ku." ucap Raja Alberto menenangkan ratu Freya


"Ya baiklah yang mulia," ucap Ratu Freya sambil menghela napas.


Jika dia tidak datang, bagaimana aku bisa mengumumkan pertunangannya dengan gadis yang ku pilih. Lalu kenapa putra mahkota kerajaan Lostier belum datang juga?


Raja dan Ratu memberikan sambutan kepada para tamu yang hadir disana. Sambil menunggu putra mahkota datang, semua bangsawan terlihat menikmati perjamuan disana.


Laura memanfaatkan situasi itu untuk meminta maaf pada Liliana karena dia sudah berbohong tentang statusnya. "Nona Lily, aku minta maaf karena sebelumnya aku merahasiakan identitas ku. Aku tidak bermaksud berbohong, aku hanya ingin mempunyai teman,"


"Tolong yang mulia jangan meminta maaf kepada saya seperti ini. Saya yang seharusnya meminta maaf karena saya sudah bersikap lancang kepada tuan putri, sebelumnya." Liliana meminta maaf, dia menundukkan kepala didepan Laura dengan sopan.


"Tidak! Bukan nona Liliana yang salah, tapi aku! Aku kan yang sudah berbohong padamu, tolong jangan meminta maaf!" kata Laura merasa tidak enak melihat Liliana menunduk didepannya.


Aku sudah tau kalau akan seperti ini jadinya, jika aku mengungkap identitas ku. Apa aku akan kehilangan teman lagi? Aku bahkan tidak punya teman.


"Tapi yang mulia..." Liliana melihat raut wajah Laura yang sedih. Dia iba melihat Laura yang menunjukkan raut wajah kesepian seperti dia dulu.


"Nona Lily pasti marah padaku kan? Padahal aku berbohong karena aku ingin punya teman, tapi ternyata kebohonganku malah membuatku kehilangan teman lagi. Semua orang menjauhiku karena aku seorang putri," ucap Laura sambil menunduk sedih, wajahnya tampak memelas.


Awalnya aku berfikir tuan putri adalah sosok yang tajam seperti Ratu Freya. Tapi, dia sangat berbeda dengan Ratu.. dia terlihat baik dan polos. Kenapa melihat dia mengingatkan aku pada masa lalu? Dulu aku juga tidak punya teman dan semua orang menjauhiku karena aku gemuk jelek.


"Saya tidak akan melakukan itu yang mulia, saya tidak akan menjauhi yang mulia!" Seru Liliana penuh keyakinan.


"Apa? Benarkah? Apa ini artinya kau masih mau berteman denganku?" Mata Laura berbinar-binar, dia memegang tangan Liliana.


Liliana tersenyum dan menganggukkan kepalanya tanda persetujuan. Dia juga memaafkan Laura yang sudah berbohong tentang identitasnya. "Terimakasih kau masih mau menjadi temanku!" Seru Laura senang.


"Iya yang mulia," jawab Liliana.


Laura memegang tangan gadis itu dengan senyum bahagia. "Nona Liliana sama sekali tidak marah padaku. Dia hanya kaget saja, tapi bagaimana reaksinya nanti pada kakak?"

__ADS_1


"Nona Lily, mari kita makan dan minum dulu. Ayo, kau suka yang manis-manis bukan?" Laura mengajak satu-satunya temannya untuk makan bersama.


"Baiklah yang mulia,"


Ngomong-ngomong dimana Eugene ya? Kenapa dia terlihat? Apa dia bersama putra mahkota?


Liliana menengok kesana-kemari mencari keberadaan Max.


...*****...


Max bukannya sakit perut seperti apa yang dia katakan. Tapi dia sedang membantu Laura untuk membatalkan pertunangannya dengan putra mahkota Lostier. Max, Eugene, Adrian dan Blackey memblokade jalan untuk putra mahkota Lostier.


"Eugene, tampaknya kau sangat bersemangat hari ini. Apa kau memang sedang menantikan momen ini?" tanya Max pada Eugene yang berdiri atas pohon.


"Apa maksud anda yang mulia?" tanya Eugene bersiap menghadang jalan untuk rombongan putra mahkota Lostier.


"Maksud yang mulia, ketua terlihat seperti pria yang sedang cemburu," Adrian bantu menjawab.


Eugene terdiam tak menjawab. Saat mendengar Max akan membantu Laura menghentikan lamaran, Eugene lah yang paling bersemangat berdiri di garis depan.


"Dasar ketua, dingin sekali!" gerutu Adrian sebal melihat Eugene yang tidak menjawab.


Ketika rombongan kerajaan Lostier datang, Max dan bawahannya menghadang mereka seolah mereka akan perampok jalanan. Setelah bertarung beberapa menit dengan Max, rombongan kerajaan Lostier dan juga putra mahkotanya berbalik arah.


"Yang mulia semuanya sudah selesai," ucap Eugene sambil tersenyum tipis.


Syukurlah tuan putri tidak jadi bertunangan dengan pria itu.


"Benar, kau juga senang kan? Putri tidak jadi dilamar oleh putra mahkota yang pengecut itu?" tanya Max sambil melihat raut wajah Eugene yang menunjukkan kepuasan.


"Saya tidak!" Eugene menyangkal.


"Wajah ketua sudah menjelaskan semuanya," Adrian menggoda Eugene.


Eugene melirik sinis pada Adrian. Setelah itu mereka kembali ke pesta yang ada istana. Jantung Max berdegup kencang, dia benar-benar belum siap jika Liliana tau kebenaran tentangnya. Namun kebenaran harus tetap ditegakkan.


Beberapa menit kemudian, Max sampai didepan aula pesta. Eugene berada dibelakangnya, dia pun melangkah masuk ke aula setelah menghela napas panjang.


Seorang pengawal istana mengumumkan kedatangannya. "Yang mulia putra mahkota telah tiba!"


Max berjalan menuju ke tengah aula, wajah tegas dan tampannya menjadi sorotan semua wanita yang hadir disana.


"Apa dia adalah putra mahkota? Ya Tuhan, tampan sekali..."


"Tapi bukankah dia adalah monster di medan perang? Bahkan dia tidak takut memenggal kepala musuh dengan mata terbuka," ucap seorang wanita

__ADS_1


"Monster atau bukan, tuhan menciptakan dia begitu indah..lihatlah wajah tampannya, siapa yang tidak akan tergoda?"


Liliana yang tadinya sedang asik mengobrol dengan Laura, langsung berdiri tegap untuk memberi hormat pada putra mahkota.


"Kakak sudah datang?" gumam Laura yang juga deg degan dengan apa yang akan terjadi selanjutnya.


Gadis berambut merah itu melihat Max ditengah aula, dia hendak memanggil nama Eugene. Namun, suaranya tertahan saat semua orang membungkuk hormat pada sosok Max.


Sosok yang terlihat dingin, berbeda dengan sosok Eugene yang dia kenal. "Hormat pada yang mulia putra mahkota!" ucap Duke Geraldine menyambut kedatangan Max.


Eugene adalah putra mahkota? Apa maksudnya semua ini?


Kedua mata cantik berwarna biru itu melebar, dia sedang berusaha mencerna apa yang terjadi disana. Semua kebohongan Max sudah terbongkar.


"Nona Lily," Laura cemas melihat raut wajah Liliana yang pucat. Wanita cantik itu mematung saat melihat Max.


Astaga! Reaksinya ini..


Max berjalan mendekati Raja dan Ratu, memberikan hormat kepada pasangan kekaisaran itu. "Karena putra mahkota sudah hadir, aku ingin mengumumkan kabar bahagia lainnya!"


Diam-diam Max melirik ke arah Liliana dan Laura yang berada tepat disampingnya bersama kerumunan orang-orang di pesta.


Liliana, aku akan menjelaskan semuanya padamu nanti.


Sang Raja turun dari singgasananya, semua orang menantikan berita bahagia apa lagi yang akan disampaikan oleh Raja. "Nona Julia Amoria Norton, kemarilah!" Raja meminta seorang nona bangsawan untuk menghadap ke arahnya.


Terlihat seorang wanita cantik berambut hitam panjang, dengan gaunnya berwarna merah tampak mempesona. Perhatian semua orang tertuju ke arahnya.


"Hormat saya Baginda Raja!" gadis bernama Julia itu tersenyum seraya membungkukkan badan dan mengangkat sedikit gaunnya, memberi hormat pada sang Raja.


Dahi Max mengernyit, dia tidak paham kenapa Raja memanggil putri dari Duke Norton kesana.


"Hari ini aku mengumumkan bahwa nona Julia Amoria Norton akan menjadi pasangan putra mahkota dimasa depan dan mereka akan bertunangan malam ini!!" ucap Sang raja tegas.


Jedeerrrrr...


Hati Liliana dan Max sama-sama seperti tersambar petir. Mereka terpana dengan apa yang dikatakan sang raja.


Prok prok prok!


Ditengah riuh tepuk tangan dan ucapan m para tamu undangan yang hadir di pesta, Liliana terlihat syok dan membeku. Dia seperti terkena pukulan yang hebat di hatinya.


Ratu Freya tersenyum puas sambil bertepuk tangan melihat Max yang terlihat kesal dan syok.


...----*****-----...

__ADS_1


__ADS_2