
"Berikan satu undangan pada gadis yang disukai oleh Aiden,"
Aku ingin lihat seperti apa wanita hebat yang sudah meluluhkan hati anakku itu.
"Baiklah yang mulia, saya akan bicara dulu dengan Baginda raja perihal ini,"ucap Dorman sambil menundukkan kepalanya.
"Tidak! Jangan kau bicarakan ini dengan dia, ini antara kita berdua saja. Jangan beritahu dia tentang ini, tolong kasihanilah seorang ibu yang ingin anaknya bahagia! Aku mohon padamu, tuan Dorman!" Ibu suri memohon pada Dorman untuk merahasiakan hal ini dari Aiden.
Dorman tidak bisa berbuat apa-apa karena dia hanyalah seorang bawahan. Apalagi sangat tidak sopan membuat anggota keluarga kerajaan memohon kepadanya. "Saya pantas mati, yang mulia!" Dorman menundukkan kepalanya seraya memohon ampunan.
Ibu suri tersenyum, "Aku akan terima pengampunan mu, asalkan kau memberikan surat undangan pada wanita itu." Ibu suri menang dari Dorman dan Dorman telah kalah darinya. Dorman hanya bisa patuh pada perintah sang ibu suri.
Hingga keesokan harinya, sepucuk surat undangan tiba ke tempat Liliana beserta pengawal yang menjemputnya. Andreas yang menyerahkan surat itu, surat dengan stempel kerajaan Gallahan.
"Surat undangan pertandingan persahabatan?! Yang benar saja!" Liliana tampak terkejut, saat dia membaca isi suratnya.
Raja Rayden, apa yang dia lakukan dengan mengirimkan surat ini? Bagaimana pun juga dia adalah Raja, aku tak bisa menentangnya. Baiklah, aku hanya perlu datang sebentar saja.
"Nona, apa hari ini kita akan datang kesana?" tanya Andreas pada Liliana.
"Ini adalah undangan dari Raja, bagaimana aku bisa menolaknya? Aku akan bersiap-siap, kau juga bersiaplah." ucap Liliana sambil tersenyum.
Doris membantu Liliana untuk bersiap-siap, dia memakai gaun sederhana dan menggunakan penampilan aslinya dengan rambut merah karena semua orang sudah tau tentangnya. Tapi yang Liliana tidak tau adalah tentang surat undangan ke acara pertandingan persahabatan. Surat itu bukan dari Aiden, melainkan dari ibu Suri.
Setelah menghabiskan waktu setengah jam untuk mandi dan bersiap dengan pakaian rapi. Liliana dan Andreas, juga salah satu pengawal yang dikirimkan ibu suri mengawal Liliana sampai ke pertandingan persahabatan yang diadakan di pinggir pantai.
Naas, begitu Liliana datang dia malah disambut sarkas oleh Julia dan dua nona bangsawan dari kerajaan Gallahan yang sudah menjadi temannya.
"Salam kepada mantan yang mulia putri mahkota," ucap seorang wanita bangsawan meledek sambil tertawa kecil. Nona berambut cokelat yang ada disampingnya juga ikut tertawa.
Liliana menatap kedua wanita itu dengan tajam dan memperhatikan tingkahnya.
Siapa mereka berdua? Sikapnya sungguh tidak sopan.
"Hey nona nona, janganlah begitu...tidak sopan mengejek nona Liliana seperti ini." kata Julia sambil tersenyum sinis memandang ke arah Liliana.
Ternyata wanita ini masih hidup, aku pikir dia sudah mati. Mengapa dia ada disini? Apa dia berniat untuk mengambil Raja Maximillian dariku?
"Aku kenal siapa kau, namun aku tidak kenal dengan kalian berdua. Mengapa kalian berkata seperti itu kepadaku? Benar-benar tidak sopan, apa nona di kerajaan Gallahan bersikap seperti ini?" tanya Liliana tidak diam saja saat dia diejek oleh nona nona yang tidak dia kenal.
Kedua nona bangsawan itu menunjukkan tatapan ketidaksenangan mereka ketika mendengar Liliana bicara.
"I-itu...."
Obrolan mereka terputus karena kehadiran Aiden disana. Para nona itu segera membungkuk hormat didepan sang Raja, termasuk Liliana.
"Hormat kepada yang mulia Raja." ucap ke empat nona itu serempak.
Tatapan Aiden tertuju pada Liliana dengan kening berkerut, dalam hati dia bertanya-tanya mengapa gadis itu ada disana. Aiden pun meminta semua orang pergi, lantaran dia ingin bicara dengan Liliana.
Ketiga gadis itu membicarakan Liliana dibelakang. "Apa kalian dengar? Barusan yang mulia Raja mengatakan bahwa yang mulia ingin bicara dengan gadis itu?"
"Aku kan sudah bilang, kalau wanita itu adalah wanita penggoda. Dia sangat senang menggoda pria." kata Julia memanas-manasi.
__ADS_1
Kedua wanita itu percaya saja dengan apa yang diucapkan Julia. Mereka memberitahu Julia bahwa dia harus waspada karena ada Liliana yang akan mengancam posisinya sebagai wanitanya raja. Padahal status Julia saja tidak jelas di mata Max ataupun semua orang di kerajaan Istvan.
*****
"Kenapa kau ada disini?" tanya Aiden pada Liliana.
Liliana tercekat. "Kenapa yang mulia bertanya seperti ini pada saya? Bukankah yang mulia yang memberikan undangan kepada saya?"
"Hah? Aku?" Aiden menunjuk pada dirinya sendiri. Dia tak pernah mengirimkan undangan apapun pada Liliana.
Liliana menunjukkan surat undangan yang diterimanya dari salah satu pengawal istana kepada Aiden. Aiden tercengang, dia sama sekali tidak benar-benar mengirimkan undangan padanya.
Namun, di undangan itu tertera cap istana perak. Dia sudah bisa menebak bahwa ibunya yang melakukan semua ini. "Yang mulia? Kenapa anda diam saja? Atau undangan ini salah alamat? Ah, lebih baik saya pulang saja..."
Aiden memegang tangan Liliana. "Tidak! Jangan pergi! Kalau kau sudah kemari, jangan pergi dulu...bukankah kau sangat suka melihat pertandingan panahan? Akan ada pertandingan panahan disini, pasti akan menyenangkan bukan?"
Bagus juga kalau Liliana ada disini, aku bisa semangat untuk melakukan pertandingan persahabatan ini.
"Panahan? Benarkah ada?" Liliana menepis tangan Aiden dengan perlahan. Matanya berbinar-binar mendengar pertandingan panahan yang akan di adakan disana.
Liliana sangat tertarik dengan kompetisi panahan. Ditempat itu dia juga bisa bertemu dengan ayahnya. "Iya, benar ada...jadi kau akan tetap tinggal disini, kan?" tanya Aiden berharap.
"Ya, saya akan tetap tinggal." Liliana tersenyum manis.
Aiden menatap wanita itu dengan penuh perasaan, dia benar-benar sudah jatuh cinta padanya. Ketika dua orang itu sedang asyik mengobrol sambil tersenyum, Max menatap mereka dari kejauhan dengan tatapan terluka.
"Yang mulia, bukankah itu nona Liliana? Mengapa dia ada disini?" tanya Adrian yang juga terkejut melihat Liliana berada disana bersama Aiden.
Katanya cuma teman, pria dan wanita mana bisa berteman. Kau menolak ajakan ku bertemu tadi pagi, tapi kau datang kemari...bagus sekali Liliana, kau sukses membalasku. Aku cemburu! Sangat!
Max mengangkat panahnya, dia yang sudah buta oleh rasa cemburu mengarahkan panahnya kepada Aiden. Panah itu melesat ke arah Aiden, Liliana melihat anak panahnya dan menangkap anak panah itu dengan tangannya.
Adrian terkejut dengan tindakan Max, dia tidak tahu bahwa Raja nya akan melakukan hal seperti itu karena marah. "Yang mulia, apa yang anda lakukan? Anda...."
Max terdiam, dia hanya mendengus kesal sambil bergumam. "Sial!"
SLING!!
"Yang mulia, apa anda baik-baik saja?" tanya Liliana pada Aiden yang hampir saja terkena anak panah.
Apa dia sudah gila? Apa dia berniat untuk perang dengan negeri Gallahan?
"Aku tidak apa-apa, apa kau baik-baik saja?" tanya Aiden yang malah mencemaskan keadaan Liliana.
Max menghampiri Aiden dan Liliana yang berada di pinggir tempat pertandingan itu. "Yang mulia Raja Gallahan, maafkan aku...aku benar-benar tidak sengaja." ucap Max sambil menatap ke arah Aiden dengan wajah menyesal.
Liliana menatap tajam pada mantan suaminya itu, kemudian tatapannya beralih pada Aiden. "Yang mulia, lengan kanan anda..." ucap Liliana cemas melihat ada goresan di lengan kanan Aiden bekas anak panah itu.
"Aku baik-baik saja, ini hanya luka kecil." jawab Aiden sambil tersenyum.
Max menatap keduanya dengan tajam, dia merasa diabaikan oleh Liliana dan Aiden yang ada disana. Hatinya kesal melihat Liliana menatap Aiden dengan cemas.
Pengawal Aiden yang melihat semua itu langsung menghampiri Aiden dan membawanya untuk di obati. Max meminta maaf sekali lagi karena panah yang salah sasaran itu.
__ADS_1
"Apa anda mau membunuhku? Atau anda sudah gila yang mulia?" tanya Liliana sarkas.
"Menurutmu aku gila? Ya, anggap saja aku begitu! Aku gila ketika wanitaku sedang menatap pria lain dan mencemaskannya." Max tidak menyembunyikan rasa cemburunya didepan Liliana dan langsung mengakuinya.
"Siapa yang anda panggil wanitaku? Kita sudah berakhir yang mulia." ucap Liliana yang berjalan pergi meninggalkan pria itu disana.
Dia menemui sang ayah yang duduk tak jauh dari sana. Max menatap Liliana dengan tatapan sedih tak berdaya, kenapa keadaan menjadi rumit diantara mereka hanya karena perceraian? Satu keputusan yang diambil Max secara sepihak, telah melukai Liliana sangat dalam.
******
Acara pertandingan persahabatan pun dimulai. Para bangsawan kerajaan Gallahan dan kerajaan Istvan berpartisipasi dalam acara itu. Ada kompetisi mengunggah kuda, memanah, berburu, sparing dan lain sebagainya.
Acara itu diadakan untuk menumbuhkan rasa persahabatan antar dua negeri yang akan menjalin hubungan kerja sama yang erat. Ketika semua orang sedang sibuk bersiap-siap untuk pertandingan menunggang kuda, Ibu suri malah sibuk mencari-cari gadis yang disukai putranya.
"Kau yakin dia orangnya, Dorman?" tanya Ibu suri pada Dorman.
"Benar, nona yang sedang berdiri disana adalah orangnya." jawab Dorman.
"Oh....dia sangat cantik, tidak heran Aiden jatuh hati padanya." Ibu suri terpana melihat Liliana sedang berdiri didekat pagar pembatas, dia bersama sang ayah yang akan mengikuti kompetisi berkuda.
Ibu suri melangkah mendekati Liliana bersama Emma, dayangnya. Dia berjalan mendekati Liliana untuk menyapa wanita itu, namun tanpa dia sadari ada seekor kuda melaju kencang ke arahnya.
Julia tersenyum, dia mengira bahwa kuda itu melaju ke arah Liliana. Namun disana ada ibu suri yang sedang berjalan ke arahnya. "Tunggu...ini tidak seperti yang aku pikirkan." Gumam Julia.
Liliana mendengar suara kuda yang keras dan berlari ke arah ibu suri. "Nyonya! Hati-hati!" Liliana berlari ke arah Ibu suri untuk menyelamatkannya. Dia belum tau bahwa ibu suri adalah ibu Aiden.
"A-apa?" Ibu suri kebingungan.
Liliana mendekati ibu suri dengan cepat, dia mendorong ibu suri untuk melindunginya. Naas! Kuda menabrak, mengamuk dan menyerang wanita hamil itu dengan keras hingga Liliana jatuh tersungkur ke tanah.
Semua orang panik melihat itu dan segera menghampiri ibu suri lebih dulu. Sementara Liliana tergelatak ditanah sambil memegang perutnya dan merintih kesakitan.
"Yang mulia, apa anda baik-baik saja?" tanya Emma sambil membantu ibu suri berdiri. Ibu suri gemetar syok, melihat apa yang terjadi.
"Tolong selamatkan dia!" Ujar ibu suri panik melihat kondisi Liliana.
"Aaahhhh....sakit...anakku..." Liliana merintih kesakitan.
Max yang baru saja turun dari kuda, mendengar ucapan Liliana tentang anak. Hatinya bertanya-tanya siapa anak itu? Apa maksudnya anak?
Saat Aiden datang dan akan menggendong Liliana, Max lebih dulu menggendongnya. "Uggghh... sakit..."Liliana tidak peduli dengan siapa yang menggendongnya saat itu, karena dia berada dalam keadaan setengah sadar.
"Dimana ruang perawatan?!" tanya Max pada Aiden dengan suara yang buru-buru, dia sangat cemas pada Liliana. Apalagi saat melihat darah mengucur di kakinya.
"Disebelah sana." jawab Aiden yang sebenarnya kesal melihat Max menggendong Liliana lebih dulu.
Duke Geraldine juga tidak bisa melarang Max menggendong anaknya, karena saat ini keadaan sedang darurat.
Tanpa banyak bicara, Max membawa Liliana ke kemah tempat perawatan disana. "Tenanglah kau akan baik-baik saja...Lily." ucap Max lembut seraya memenangkan Liliana.
"Yang mulia... sebenarnya aku ha-"
Liliana tidak sempat menyelesaikan ucapannya karena dia jatuh tidak sadarkan diri.
__ADS_1
"Lily!!"
...****...