Second Life Liliana

Second Life Liliana
Bab 109. Lucis Ferre?


__ADS_3

Pagi itu Liliana, Adrian, Brietta dan Bianca pergi ke pusat kota dengan penyamaran. Karena koneksinya dengan Max saat sumpah pernikahan, Liliana jadi bisa menggunakan sedikit sihir yang dimilki suaminya.


"Ternyata punya sihir itu menyenangkan ya," gumam Liliana sambil tersenyum. Dia baru saja mengubah rambut Adrian, Brietta dan Bianca dengan sihirnya. Gadis itu merasa bangga karena ini pertama kali dia menggunakan sihir yang diberikan suaminya.


"Yang mulia, anda jangan senang dulu. Anda tidak boleh menggunakan kekuatan sihir itu terlalu sering, tubuh yang mulia pada dasarnya tidak memiliki sihir. Maka akan berbahaya bagi yang mulia untuk menggunakan sihir terlalu sering." Jelas Brietta mengingatkan.


"Baiklah...aku tau. Terimakasih sudah menginginkanku." Liliana tersenyum pada Brietta.


"Tapi..yang mulia, kenapa hanya saya satu-satunya pria disini?" Tanya Adrian keheranan karena disana, pria hanya ada dia saja.


"Kenapa? Bukankah itu bagus sir Adrian, kau jadi yang paling tampan disini?" Goda Liliana pada Adrian.


Adrian tersenyum malu mendengarnya.


"Benar, kau juga menjadi satu-satunya kstaria untuk kami." Tambah Bianca sambil tersenyum pada Adrian.


"Ya baiklah," jawab Adrian sambil menghela napas.


"Sir Adrian, ini pujian!" Liliana tersenyum ramah.


"Terimakasih yang mulia,"


Mereka pun masuk ke sebuah gang sempit di dekat ibu kota, untuk menelusuri tentang penjualan budak. Disana tampak sepi dan tidak menunjukkan tanda-tanda ada orang.


"Sepertinya kita terlalu buru-buru. Apa mereka sudah menyadari pergerakan kita?" Tanya Liliana dengan kening berkerut.


"Benar yang mulia, ini terlalui sepi. Namun, ditempat ini lah anak-anak dan wanita menghilang secara misterius." Ucap Adrian menjelaskan.


Liliana terlihat seperti sedang berfikir.


Lebih aku bergerak sendiri dulu,menjadi umpan mereka dan aku bisa tau siapa yang sudah melakukan ini?


"Lebih baik kalian bertiga, pergi dulu dari sini!" Titah Liliana pada tiga orang yang ikut dengannya itu.


"Yang mulia, apa maksud anda?" Tanya Bianca pada sang putri mahkota itu.


"Aku ada sebuah rencana, kalian dengarkan!" Liliana meminta ketiga orang itu berkumpul disekitarnya.


Kemudian dia membisikkan sesuatu pada mereka bertiga. Sebuah rencana yang cukup ekstrim untuk mengetahui siapa dalang dibalik menghilangnya para wanita dan anak-anak.


"Yang mulia! Saya tidak setuju, ini terlalu berbahaya untuk anda!" Ujar Bianca cemas dengan keadaan Liliana nantinya.


"Bianca, apa kau berani menentang otoritasku?" Gadis itu bertanya sambil menatap dengan tajam pada Bianca.


"Maksud hamba bukan seperti itu, yang mulia."


"Aku paham kau cemas padaku, tapi aku tidak merasa cemas pada diriku sendiri. Karena apa? Karena kalian ada bersamaku, jika terjadi sesuatu padaku, bukankah kalian akan datang menolong? Lalu, kalian tenang saja. Aku kan punya sihir." Liliana menatap ketiga orang itu sambil tersenyum seraya menenangkan mereka.


"Baiklah yang mulia, anda harus berhati-hati." Kata Brietta sambil menghela napas.


"Ya, aku pasti akan berhati-hati. Kalian bersiaplah di posisi kalian masing-masing. Aku akan memulai drama," Liliana tersenyum penuh tekad, dia bersiap untuk menemukan dalang dibalik semuanya.


Bianca, Brietta dan Adrian mengangguk dengan semangat yang sama. Mereka bersembunyi dan berada didalam posisi yang sudah disepakati bersama.


Liliana mengubah penampilannya menjadi lusuh, rambutnya yang berwarna merah sebelumnya itu diubah menjadi warna hitam oleh sihir. Rencananya Liliana akan berpura-pura menjadi seorang wanita yang tersesat untuk memancing para penculik itu.


Benar saja, saat Liliana berjalan sendirian disana. Ada seorang pria bertudung hitam dengan mata berwarna merah datang menghampirinya.


"Nona, apa kau tersesat?" Tanya pria itu pada Liliana dengan seringai dibibirnya.

__ADS_1


Liliana menatap mata pria misterius itu, dia terkejut karena pria didepannya memiliki mata seperti mata Maximilian.


Kenapa matanya mirip seperti Maxim? Dan kenapa aku merasa aura aneh dari pria ini, mendadak.. sekujur tubuhku menjadi dingin, bulu kudukku berdiri.


"Tuan...aku..."


Kenapa aku kehilangan kata-kata saat melihat dirinya?


"Aku akan menunjukkan padamu jalan keluar," ucap Pria itu sambil mengulurkan tangannya untuk membantu Liliana yang jatuh terduduk.


Gadis itu menelan salivanya, dia merasa terancam didekat pria bertudung hitam itu. "Apa tuan mau menolong saya?" Tanya Liliana sambil membalas uluran tangan pria itu.


"Tentu saja, mana mungkin aku membiarkan gadis secantik nona berada dalam bahaya." Jelas pria itu.


"Terimakasih tuan, tapi saya ingin tau siapa nama tuan?" Tanya Liliana pada pria itu sambil menatapnya dengan mata sok polos.


"Ingat nama ini baik-baik nona, karena saya hanya memberitahukan nama asli saya pada nona. Nama saya Lucis Ferre." Bisik Lucis Ferre pada Liliana sambil tersenyum.


Liliana terdiam sejenak, dia merasa tidak asing saat mendengar nama Lucis Ferre itu. Pria tampan, gagah dan tampak menawan itu menatap Liliana dengan tajam. Dia juga terlihat menggoda dengan senyuman dibibirnya. Liliana pun teringat dengan salah satu kitab yang dia baca, Lucis yang artinya cahaya dan Ferre yang maksudnya sebagai pembawa. Atau di satukan menjadi Lucifer, dia merupakan pimpinan tertinggi dari semua iblis yang ada. Nama Lucifer merujuk pada nama Bintang Fajar yang ada di Alkitab karena memang Lucifer diambil dari bahasa Latin.


Bukankah namanya berasal dari nama iblis? Ah, tidak mungkin. Ini si pasti kebetulan saja.


"Jadi, siapa nama nona?" Tanya Lucis pada Liliana.


"Nama saya Anna." Jawab Liliana sambil tersenyum.


Ya, namaku memang Anna... Liliana.


Diatas gedung tepat di gang sempit itu, Adrian dan Bianca masih sibuk mengawasi Liliana. Sementara Brietta sedang mengawasi didepan gang itu, dia berjaga-jaga takutnya ada anak-anak dan wanita yang lewat disana.


Lucis mengajak Liliana pergi ke sebuah tempat di ruang bawah tanah. Adrian dan Bianca panik karena tiba-tiba saja Liliana dan Lucis menghilang dari pandangan mereka.


"Sial! Pasti pria itu memakai sihir. Bisa mati aku, jika yang mulia putra mahkota sampai tau putri mahkota menghilang!" Gerutu Adrian panik.


"Saya akan panggil Brietta," kata Bianca.


Liliana dan Lucis tiba di sebuah ruang bawah tanah yang gelap gulita. Liliana terlihat tenang meski dia tau kalau Lucis menggunakan sihir padanya.


"Nona...kenapa nona mau diajak oleh saya kemari?" Tanya Lucis.


"Karena saya tidak punya siapa-siapa selain tuan, saya tersesat dan saya sebatang kara." Ucap Liliana dengan wajah memelas.


Pria ini, dia bisa sihir. Jelas dia bukan manusia biasa!


"Oh begitu ya?"


Hem, menarik. Dia terlihat tenang meski dalam bahaya.


Lucis membuka tudung hitamnya dan Liliana akhirnya bisa melihat wajah Lucis. Wajah pria itu memiliki sedikit kemiripan dengan Max.


"Kenapa nona Anna?" Lucis melirik ke arah Liliana yang terperangah saat melihat wajah Lucis.


"Sa-saya.."


Kenapa pria ini memiliki kemiripan dengan Maxim?


Tiba-tiba saja Lucis menjentikkan jarinya, lalu tangannya membelai rambut hitam panjang Liliana. Rambut hitam itu pun berubah kembali ke warna aslinya, warna merah.


"Kau.." Gadis itu tersentak kaget melihat rambutnya kembali berubah seperti semula. Lucis mematahkan sihir yang dia gunakan.

__ADS_1


"Kau sangat cantik, selama ini aku hanya bisa melihatmu dari kejauhan." Ucap Lucis sambil memegang rambut panjang Liliana.


"Kau...siapa kau sebenarnya?" Tanya Liliana dengan mata melebar menatap pria itu.


"Tenang saja, aku tidak akan menyakitimu. Yang mulia putri mahkota." Lucis tersenyum menyeringai.


Liliana semakin terkejut mendengar ucapan Lucis, karena pria itu tau identitas Liliana.


"Kau...siapa kau sebenarnya?!" Suara Liliana mulai meninggi.


"Bukankah aku sudah bilang. Aku adalah Lucis Ferre. Dan kau disini untuk menyelamatkan mereka bukan?"


Tiba-tiba saja ruangan itu berubah menjadi lautan darah, Liliana melihat beberapa orang yang terlihat seperti manusia tapi bukan manusia itu terpenjara dibalik jeruji besi.


Gigi mereka bertaring, bibir mereka penuh dengan darah. Beberapa dari mereka kebanyakan adalah anak-anak dan perempuan. Liliana terperangah, dia tak pernah melihat mahluk seperti ini.


"Arrghhhhhhhhhh..."


Mereka semua mengerang dan tampan menyeramkan. Sebenarnya mereka ini makhluk apa? Ini bukan penjualan manusia..bukan..orang yang didepanku ini juga bukan manusia.


"Siapa kau sebenarnya? Dan kenapa mereka bisa jadi seperti ini?" Liliana bertanya-tanya.


"Tidak penting apa yang membuat mereka seperti ini, yang paling penting bagaimana agar keselamatan bangsa manusia bisa terjamin dan tidak berada dalam bahaya,"


"Apa maksudmu?"


Bangsa manusia? Kenapa dia mengatakan hal seperti itu? Apa dia bukan manusia? Apa dia benar-benar Raja Iblis Lucifer?


"Menikahlah denganku, lalu berikan aku keturunan. Lalu aku akan biarkan bangsa manusia hidup dalam damai," ucap Lucis sambil menatap tajam ke arah Liliana. Dia memandang gadis itu penuh n*fsu.


Liliana mendongak kaget dengan apa yang diucapkan Lucis, "APA?!"


Sementara di luar sana, Brietta, Bianca dan Adrian sedang sibuk mencarinya. Brietta tidak bisa melacak Liliana dengan sihirnya.


"Nyonya Brietta!" Ujar Bianca panik.


"Saya tetap tidak bisa melakukannya, sihir yang menutupi yang mulia putri mahkota begitu kuat. Saya tidak menembusnya."


...*****...


Di wilayah Utara, Max dan kedua kstaria seniornya yang sedang dalam perjalanan mencari Raja iblis, tiba-tiba saja jantungnya berdegup sangat kencang tanpa alasan.


Deg!


Lili!


Batin Maximilian memangil nama istrinya yang sedang berada jauh darinya. Tangannya yang kekar memegang dadanya.


"Yang mulia, ada apa?" Tanya Eugene pada Maximilian yang tiba-tiba diam saja.


"Belum lama aku merasakan Liliana memakai sihir, tapi sihirku itu dipatahkan beberapa saat kemudian dengan mudahnya. Apa terjadi sesuatu padanya?" Gumam Max cemas. "Blackey!"


Max memanggil burung spirit nya itu, Blackey pun keluar dari pedangnya setelah sekian lama dia beristirahat di dalam sana. "Hormat saya yang mulia," ucap Blackey sampai mengepakkan sayapnya sambil menundukkan badan.


"Periksa keadaan putri mahkota, sekarang juga! Dimana dia berada dan apa yang sedang dia lakukan? Aku harus tau!" Titah Maximilian pada burung gagak hitam itu.


"Baik yang mulia.." jawab Blackey patuh.


Blackey terbang dengan kecepatan tinggi. Seolah burung itu menghilang dalam sekejap mata.

__ADS_1


...----****----...


__ADS_2